
ustadz Haris berlari saat mendapatkan kabar jika Shafa masuk rumah sakit.
"pakde, umi, bagaimana keadaan Shafa?" tanya pria itu sangat khawatir.
"dokter masih memeriksanya?" jawab ustadz sepuh.
"semoga dia tak mengalami masalah, karena selama ini sudah baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba semua terjadi," kata umi Kalila.
"tenang umi, mungkin Shafa hanya kelelahan, karena tadi dia kebanyakan gerak dan tak mau diam, saat acara pelatihan kepemimpinan." kata ustadz Haris.
sedang di padepokan, Ki Cakra sedang melihat Mela yang sedang istirahat.
dia melihat ada garis aneh di dada wanita itu, dia pun menyentuh bekas luka itu.
"ini apa? bukankah kemarin tak ada," gumamnya.
Mela bangun karena sentuhan pria itu, "hentikan Ki, tubuh ku rasanya tubuh ku lemas sekali," gumamnya.
"iya maaf, tapi aku ingin tanya, apa luka ini dari kehidupan mu yang lalu, atau terluka barusan," tanya Ki Cakra penasaran.
"aku juga tak tau, iya kok ada luka ya, padahal kemarin tak ada," kata wanita itu melihat dirinya di cermin.
Ki Cakra mencoba melihat masa lalu dari Mela, tapi semuanya hanya hitam tak kelihatan apa-apa.
"ah sialan, sebenarnya kamu mengalami apa setelah kematian mu, kenapa tak melihat apa-apa," marah Ki Cakra.
"sudahlah Ki, aku baik-baik saja, tolong jangan marah ya, lebih baik temani aku tidur ya Ki,"
"baiklah tidurlah sayang, aku akan menemanimu," kata pria itu yang tidur sambil memeluk Mela.
tak butuh waktu lama wanita itu pun tidur terlelap, sedang Ki Cakra melakukan ngrogo Sukmo untuk menemui seseorang.
dia datang dengan sosoknya yang lima tahun lalu sebelum dia memutuskan untuk menjadi dirinya saat ini.
dia sedang berjalan tanpa arah di halaman pondok pesantren Miftahul Jannah.
ustadz Harun yang melihat dan menyadari jika itu sebuah arwah, "assalamualaikum... anda sedang mencari sesuatu mas?"
__ADS_1
"waalaikum salam, aku mencari ustadz Faraz," jawab pria itu dingin.
"ustadz sepuh sedang ada di rumah sakit, karena mbak Shafa sedang kambuh, jadi mereka semua ada di sana, apa anda butuh sesuatu?"
"kalau begitu aku pamit, assalamualaikum..."
sosok itu pergi, Ki Cakra menuju ke rumah sakit yang di maksud eh ustadz Harun.
sedang banyak santri yang melihat pria itu bicara sendiri, tapi itu tak aneh karena ustadz Harun terkenal memiliki Indra ke-enam.
sosok Ki Cakra sampai di rumah sakit,langkah kakinya terdengar oleh Shafa.
dia membuka mata, "mas Adit..."
semua orang menoleh, umi Kalila tak bisa melihat siapapun, begitu pun dengan ustadz Haris.
tapi Shafa yang begitu lemah menunjuk sang Abi, ustadz sepuh yang sadar pun mengangguk.
dokter memeriksa kondisi Shafa karena kondisinya yang tak baik, ustadz sepuh keluar dari ruangan rawat putrinya itu.
"ada apa mencariku? bukankah kamu ingin memutuskan semua hubungan persaudaraan kita, kamu merasa paling terluka sedang kami tidak," kata ustadz sepuh berbalik dan melihat sosok pria yang susah menghilang selama ini.
"tidak ada, memang kenapa bukankah jamu tak peduli dengannya,bahkan saat dia di makamkan, kamu lebih memilih membalas dengan dari pada mengantarkan dia ke peristirahatan terakhirnya," marah ustadz sepuh.
"bicara dengan ku menang tak ada gunanya," marah Ki Cakra.
"kalau begitu jangan muncul di depan ku lagi, karena aku tak ingin melihatmu," kata ustadz sepuh.
"aku tak mengira ustadz yang dulu terkenal bisa jatuh sejauh ini, itu men-ji-jik-kan bukan ustadz Sarfaraz," kata Ki Cakra tersenyum.
"sedang kamu menyebut dirimu apa, kamu terus membantu orang dengan ilmu hitam mu,kamu melukai semua orang yang menyayangimu, kamu melukai kami Aditama...."
"aku tak mengenalnya lagi, aku sudah membunuhnya, dan setelah semua beres aku akan pergi meninggalkan semua yang aku miliki," kata pria itu dengan santai.
dia pun menghilang dari hadapan pria itu, Ki Cakra kembali ke tubuhnya.
dia memeluk wanita di depannya itu, dan mencium kening wanita itu, "aku akan membuat mu bahagia, maafkan aku..." lirihnya.
__ADS_1
keesokan harinya, Shafa sudah bangun dan merasakan jika tubuhnya mulai kembali merasakan baik-baik saja dan fresh.
dia sedang makan jeruk Bali kesukaannya, "umi tidak pulang, kan kasihan Aziz di rumah sendirian?"
"tidak apa-apa, dia itu banyak yang jaga, kamu lupa dia itu kesayangan semua orang," kata umi Kalila tersenyum
sedang Shafa ikut tersenyum saja, tiba-tiba pintu di ketuk dan gadis itu panik dan segera memakai cadar miliknya.
"assalamualaikum,"
"waalaikum salam, Haris datang ternyata, wah bawa apa itu?" tanya umi Kalila.
"ini ada buah kesukaan Shafa dan bubur untuk gadis itu, karena saya harus segera kembali ke Mesir umi,"
"benarkah, apa mami mu sudah mencari mu nak?" tanya wanita itu merasa sedih.
"iya umi, ya maklum mami sangat khawatir saat aku terlalu lama jauh darinya, terlebih beliau selalu sendiri di rumah,"
"memang papi kemana?" tanya Shafa
"sudah ya umi, saya pamit, Shafa jaga dirimu ya, karena setelah ini tak ada yang akan menganggu mu," kata pria itu yang langsung pergi.
dia tak ingin membawanya dimana ayahnya, seperti halnya dengan Adit yang menghilang, ayah dari ustadz Haris juga tak tau keberadaannya.
di padepokan Ki Cakra sedang duduk sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ki Adjisaka dan Ki Bahurekso kemarilah," panggil Ki Cakra mengunakan suara batinnya.
kedua makhluk itu datang, tanpa di duga sosok ki Dwisa juga datang, "aku tak memanggil mu, kenapa kamu datang?" tanya Ki Cakra melihat Ki Dwisa.
"ya sumpek atuh bos, di tubuhmu terlebih kamu kalau sedang Hem... bikin orang harus menahan semuanya, lain kali bilang-bilang dong, memang mau apa sih kok panggil semua khodam mu,"
"aku butuh bantuan kalian semua,dan sepertinya hanya kamu yang bisa jawab Ki karena kamu sudah ikut aku dari lama," kata Ki Cakra.
"emm... gak tau deh, aku mau pulang deh, mau semedi di goa saja," kata Ki Dwisa yang ingin menghilang.
"aduh-aduh nih ular naga merah mau kemana, duduk dulu deh, sebelum ini kuku ku tertancap di tubuhmu Ki Dwisa," ancam sosok Mela yang datang.
__ADS_1
makhluk itu pun terduduk las setelah kedatangan wanita itu, bahkan Mela terus memegang bahu Ki Dwisa.