
Mela membuka jendela kamar utama, dia melihat rembulan bersinar sangat terang.
jika biasanya, dia akan mencari korban pembunuhan dan menghisap dendam yang di miliki.
sekarang dia tak bisa melakukan itu, tapi sekarang tanpa melakukan itu dia tetap memiliki kekuatannya.
"hei kuntilanak merah, sekarang kamu seperti manusia, ayo main," ajak sosok sundel bolong yang biasanya main dengan Mela
"aku tak bisa, memang kenapa bentuk ku aneh? tapi aku menyukainya, karena Ki Cakra itu sangat sempurna tau, apa kamu di bantu untuk punya jodoh, setidaknya yang menikahimu pasti akan kaya raya," kata Mela tersenyum sambil memainkan jarinya yang bisa mengeluarkan api.
"boleh jika ada yang mau, kalau begitu temani Ki Cakra aku mau main dulu kalau begitu," kata sundel bolong itu pergi.
Mela pun bangkit dan melihat sosok Buto yang sedang berjongkok di atas pagar padepokan.
"ternyata makhluk itu yang menjaga padepokan ini," gumam Mela yang menutup jendela.
tak sengaja tadi Edi sempat melihat sosok Mela yang menutup jendela, "eh bujuk buneng... pantes Ki Cakra kesemsem, orang Nyai begitu cantik dan mulus begitu, bahkan bisa di sebut sempurna," gumam pria itu.
"woi di, ngapain di sana, Rene o gok," panggil Wawan.
malam itu tak ada serangan lagi karena dukun yang mengirimkan banaspati malah terkena pada yang mengirimnya.
"sialan, kenapa semua peliharaan pria itu begitu kuat, bahkan kiriman ku bisa kembali seperti ini..." gumamnya hingga muntah darah.
sedang ustadz Rasyid sedang rapat untuk membangun musholla yang rubuh karena tertimpa pohon.
bahkan dia akan membuat bangunan dari pohon itu, dan besok akan di mulai pembangunan itu.
Mela baru akan kembali ke ranjang, saat Ki Cakra terbangun, "kamu dari mana?"
"dari kamar mandi, memang kemana sih Ki, sudah tidurlah lagi," kata Mela menutup mata dari pria itu.
tapi bukannya tidur, Ki Cakra malah tersenyum dengan wajah menyebalkan untuk Mela.
Ki Cakra pun memeluk wanita itu dan kembali tidur dengan memeluknya dengan erat.
keesokan harinya, Ki Cakra sedang sarapan bersama Mela, Susi datang bersama pak Bowo.
"hari ini apa anda tak ingin berkeliling desa Ki, karena saya dengar ada yang ingin membangun mushola lagi setelah hancur tertimpa pohon tumbang," kata pak Bowo.
"tentu saja, kita jalan kaki saja, anggap saja seperti kita olahraga,"
"baik Ki Ageng, tapi apa tak perlu membawa pengawal Ki?" tanya pak Bowo.
"tak usah pak Bowo, aku juga tak akan mati semudah itu," kata Ki Cakra dengan santai.
sedang Mela fokus makan dengan sangat lahap, "ada apa, kamu mau tambah lagi?" tanya Ki Cakra pada Mela.
__ADS_1
"tidak ada, ini sudah kenyang tapi kenapa aura wanita ini begitu gelap, apa kamu menggunakan pelet jiwa?"
"tentu saja, jika tidak bagaimana bisa wanita muda seperti ini mau dengan ku, dan jangan lupa Nyai, bagaimana pun aku adalah murid padepokan ini yang selamat saat penyerangan itu," jawab pria itu.
"ow seperti itu, Ki Cakra bisa tolong pak Bowo, buat wanita itu menutupi auranya, jika tidak pasti akan ketahuan jika wanita itu terkena pelet," kata Mela.
"kenapa minta tolong padaku, kamu juga bisa melakukannya, jadi lakukan sendiri," kata Ki Cakra dengan santai.
Mela bangkit dan mengubah matanya menjadi putih, "ho-ho-ho aku menyukai aroma ini," kata Mela mengisap aura wanita itu.
kemudian dia meniupkan sesuatu yang membuat wanita itu sekarang seperti wanita normal.
"kamu tau aku, dan pria yang berdiri di samping mu itu?" tanya Mela dengan santai
"dia adalah suamiku, suami tampan ku, dan anda adalah Nyai rumah ini, dan itu adalah Ki Ageng Cakra," jawab wanita itu.
"itu lebih baik," jawab Mela yang melangkah ke arah Ki Cakra dan menyatukan dahi mereka.
"aku menyukainya...." gumam Mela.
Ki Cakra menyeringai, "kamu memang yang paling bisa di andalkan cantik,"
"tentu saja Ki, karena kamu juga sudah membuat ku begitu hidup tuan, kamu sempurna," bisik Mela.
Ki Cakra dan pak Bowo mulai berjalan menyusuri jalanan kampung.
bocah itu mencium tangan pria itu, "pagi Cahyo, bagaimana kamu sudah lebih baik nak?"
"iya Ki, sekarang aku sudah sehat, ini mau sekolah," jawab bocah kecil ini.
Ki Cakra mengusap kepala Cahyo kemudian di beri uang saku oleh pria itu.
"terima kasih Ki, saya berangkat sekolah dulu," kata bocah itu dengan senang.
pak Bowo melihat sisi baik dari Ki Cakra, "kita lanjut jalan lagi pak,"
"baik Ki Cakra," Jawab pria itu.
mereka melanjutkan perjalanan kaki yang melihat keadaan warga desa, saat melewati sebuah jembatan.
Ki Cakra melihat ada beberapa orang yang sedang mencari ikan di sungai yang sedang cukup deras.
"apa bisa mencari ikan di kondisi seperti ini," kata Ki Cakra berdiri di atas jembatan dan melihat tiga orang itu.
"mau bagaimana lagi Ki, banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari sungai ini, mulai dari tambang pasir dan juga mencari ikan, atau kadang mereka menjadi buruh di sawah, tapi sekarang sawah belum ada pekerjaan Ki," jawab pak Bowo.
"baiklah," jawab Ki Cakra menjentikkan jarinya.
__ADS_1
tiba-tiba jaring ketiga pria itu banyak memperoleh ikan yang berukuran besar.
"Ki Cakra yang melakukannya?"
"anggap saja rezeki mereka untuk keluarga mereka," jawab pria itu yang langsung berjalan lagi.
sedang ketiga pria itu melihat pak Bowo yang berjalan dengan Ki Cakra, "apa Ki Cakra yang membantu, terima kasih," kata mereka dengan senang.
mereka tak mengira jika akan dapat ikan sebanyak itu, bahkan ada sekitar tiga puluh ikan berukuran besar hingga berbagai jenis ikan.
kini mereka Samapi di tempat para santri itu akan mendirikan bangunan musholla.
terlihat mereka begitu kesulitan memotong pohon besar yang menimpa bangunan itu.
"kalian tidak akan bisa memotongnya, percayalah karena kalian tak meminta izin dengan arogan membangun hal yang mengusik mereka, maka dari itu mereka marah," tegur Ki Cakra.
"diamlah, kamu hanya dukun palsu, tak usah menggurui kami, kami hanya percaya dengan Allah bukan manusia sesat seperti mu," kata ustad Rasyid.
"ha-ha-ha kamu yang berilmu cetek berani mengatai ku," kata Ki Cakra yang tiba-tiba membuat pohon itu kembali berdiri.
hal itu membuat para santri pondok pesantren itu terdiam, "ini keajaibannya?"
"tidak, jangan percaya dengan pria setan ini," kata ustad Rasyid mulai tak suka melihat Ki Cakra.
"ha-ha-ha... lihatlah santri yang merasa sakti, kamu kira aku tak tau siapa guru mu, tak ku kira pondok pesantren yang dulu mencetak orang hebat kini hanya mencetak manusia yang tak berguna ini, ternyata ilmu padi yang di tanamkan, tidak di gunakan ternyata, kalian memiliki ilmu sedikit begitu sombong," kata Ki Cakra
"jika berani ayo lawan aku," tantang ustad Rasyid.
pria itu mulai membaca surat Al-fatihah dan salah satu surat untuk memusnahkan jin.
setelah membaca surat Al-Baqarah ayat 1-5, tiba-tiba Ki Cakra menyahut pria itu.
"*Allahu la ilaha illa huw, al-hayyul-qayyum, la ta`khuzuhu sinatuw wa la na`um, lahu ma fis-samawati wa ma fil-ard, man zallazi yasyfa'u 'indahu illa bi`iznih, ya'lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai`im min 'ilmihi illa bima sya`, wasi'a kursiyyuhus-samawati wal-ard, wa la ya`uduhu hifzuhuma, wa huwal-'aliyyul-'azim.
la ikraha fid-din, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur bit-taguti wa yu`mim billahi fa qadistamsaka bil-'urwatil-wusqa lanfisama laha, wallahu sami'un 'alim.
allahu waliyyullazina amanu yukhrijuhum minaz-zulumati ilan-nur, wallazina kafaru auliya`uhumut-tagutu yukhrijunahum minan-nuri ilaz-zulumat, ula`ika as-habun-nar, hum fiha khalidun*.
yang artinya_ Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
mendengar itu, mereka kaget bagaimana bisa dukun itu tahu ayat Al-Qur'an.
"bilang pada pimpinan pondok pesantren kalian, Ki Cakra Hadikusumo menunggunya datang kesini, dan jangan harap bisa membangun mushola di sini sampai dia mau datang ke tempat ku,"
__ADS_1