
"pertanyaan apa itu, tentu saja tidak mungkin to Bu, semua akan baik-baik saja, terlebih anda sudah mengikuti semua persyaratan," kata Ki Cakra.
"begitu ya Ki, karena saya tidak mau mati, dan membuat wanita lain memiliki suamiku," kata wanita itu.
"bagaimana kalau di santet saja, kebetulan karena ibu terlihat begitu mencintai suaminya, saya kasih harga separuh saja, dan saya buat para wanita itu tersiksa," kata Ki Cakra menawarkan.
"boleh Ki, tapi jangan buat dia mati, hanya buat luka borok agar aku tau siapa yang selama ini menjadi wanita idaman lain Suamiku, dan buat itu burung suamiku hanya bisa bergerak karena aku," kata wanita itu.
"jangan dong sayang, tidak ada yang lain sayang, kenapa kamu tak percaya padaku sih," kata pria itu panik, karena jika sekali ketahuan dia bisa dalam bahaya besar.
"baiklah Bu, sekarang ibu tolong tidur terlentang di sana, dan bapak silahkan duduk di pojok ya," kata Ki Cakra.
pria itu mulai merapal mantra kuno yang kental dengan Mistin kejawen.
Ki Cakra mengambil daun dan memukulkan di perut wanita itu, kepulan asap masuk kedalam perut wanita itu.
"sakit..." lirih wanita itu terus berusaha menahan semua rasa sakitnya.
tiba-tiba perut wanita itu sedikit membuncit, "wes mari, sekarang kamu sudah hamil dan jaga dirimu baik-baik ya Bu, dan ingat minum ramuan yang saya berikan secara teratur, dan kalian bisa melakukan USG jika tak percaya," kata Ki Cakra.
"iya Ki, dan untuk yang satu lagi," kata wanita itu tak sabar.
"sudah nanti saat pulang kamu juga akan tau siapa selingkuhan dari suamimu, dia akan memiliki luka borok yang parah,"
"iya Ki, ini maharnya," jawab wanita itu.
kedua orang itu pun pergi meninggalkan rumah Ki Cakra, dia dan suaminya sampai di rumah keluarga mereka.
"aduh kalian ini dari mana, itu adek mu Yun, dia sakit aneh," kata ibu wanita itu dengan panik.
"memang Fila sakit apa?" kata Yuni yang melihat kondisi adiknya itu.
dia kaget bukan main,karena tubuh mulus adiknya itu penuh dengan borok yang beraroma busuk, dan juga mengeluarkan belatung.
"sakit ibu... tolong aku," mohon gadis itu.
Yuni terdiam dan melihat suaminya yang juga sudah gemetar, Yuni berbalik dan langsung menampar pria itu.
"dasar pria busuk, ternyata kamu berselingkuh dengan adikku sialan!!"
"itu tak benar, mungkin Ki Cakra salah kirim sayang," mohon pria itu.
__ADS_1
"kalau begitu awas saja, aku akan mengawasi mu jika berani berselingkuh lagi, kamu yang akan ku bunuh," marah Yuni.
sedang Ki Cakra hanya tertawa saja, dia sudah tau jika malam ini akan sangat ramai.
setelah mandi, dia ke kamar dan melihat sosok yang di cintai, "kamu sedang apa?"
"aku sedang mencari resep, kamu mau membawa ku jalan-jalan, aku ingin membeli bahan masakan untuk mencoba beberapa resep," kata Mela memohon.
"tidak bisa tetap di rumah saja, aku tak ingin ada orang lain yang melihat mu, mengerti kan sayang," kata Ki Cakra yang tak ingin wanita miliknya di lihat oleh orang lain.
"baiklah aku mengerti, kalau begitu aku tuliskan saja bahan apa saja yang perlu di beli," jawab Mela yang tak ingin membuat pria yang dia sukai itu terluka.
di rumah sakit, Shafa susah semakin baik, dan dia mungkin lusa bisa di izinkan pulang.
ustadz sepuh sedang berada di pondok untuk mengurus semua, terlebih di pondok juga sedang ada pengajian rutin kamisan.
tak hanya itu, bahkan pria itu teringat ucapan dari Ki Cakra yang menyebut jika pondoknya sudah kehilangan kejayaannya.
tapi semua itu benar, terlebih semua santri yang membantunya selama ini sudah lulus.
Ki Cakra malam ini tak bisa tidur karena malam ini bertepatan dengan malam Jum'at, juga sedang terjadi bulan purnama.
"baiklah, tapi ingat jangan jauh-jauh dari ku, meski kekuatan mu sebagai kuntilanak masih ada, tapi malam ini adalah malam terlemah mu," kata Ki Cakra.
"baiklah ki cakra yang tersayang," kata Mela tersenyum dan berganti baju.
mereka pun mulai pergi berdua untuk menuju ke hutan larangan, bukan berjalan kaki, tapi Ki Cakra melakukan teleportasi.
mereka sudah sampai di depan hutan larangan, dan mulai berjalan bersama masuk kedalam hutan.
di dalam hutan larangan itu, makan ini begitu membuat merinding, pasalnya tak ada suara hewan malam atau bahkan hewan kecil sekalipun.
hutan itu benar-benar sunyi tanpa suara, Ki Cakra dan Mela terus berjalan menyusuri hutan itu.
mereka menemukan beberapa tumbuhan obat yang langka, tapi belum menemukan jamur yang diinginkan.
"sayang jangan jauh-jauh dariku," kata pria itu.
"iya mas, aku hanya di sini untuk mengambil beri ini, bukankah ini juga langka dan bisa di gunakan untuk mengobati orang," kata Mela yang membawa banyak beri-berian itu.
"itu benar, tapi itu lebih tepat untuk stamina dan kesuburan, kita bisa memakannya untuk membuat banyak anak," bisik Ki Cakra membuat Mela malu.
__ADS_1
"huh... dasar dukun mesum, tapi aku menyukainya, tapi tidak di sini," kata Mela tertawa.
tapi saat berbalik dia melihat sosok wanita yang begitu buruk, dan aroma pandan yang begitu menyengat.
"widih Tante Wewe gombel nonggol, halo Tante!!" teriak Mela.
Ki Cakra mengeleng pelan, dan kaget melihat sosok Wewe gombel yang terkenal sering menyerang para dukun yang sedang mencari tumbuhan obat.
yang tidak di sangka itu malah sosok itu melambai dan menyeringai senang dengan sosok seramnya.
"Tante Wewe boleh minta tolong gak, kan kamu nih yang sering sembunyikan jamur purnama itu, kasih tau dong, aku minta tujuh buah saja dong buat obat, masak pelit amat sih, aku capek nih terus berkeliling dari tadi," kata Mela memohon.
"siapa ... dia..."
"aduh Ki Cakra ganteng itu, pria ku kenapa mau jadi manusia juga terus menikah punya suami ganteng?" tawar Mela.
"mau..."
"mau menikah dengan rasa cinta atau menjadi wadah pesugihan?" tawar Ki Cakra.
"lah emang bisa begitu Ki?"
"iya dong, kalau menikah dengan cinta nanti suaminya bisa kaya tanpa memberikan tumbal, tapi jika wadah pesugihan, dia harus memberikan kekayaan dan juga menerima tumbal untuk menjaga perjanjian yang di ikat di awal," kata Ki Cakra mengambil ulat-ulat yang bercahaya di bawah sinar rembulan.
"tumbal..."
"baiklah, nanti jika ada yang ingin mencari pesugihan aku akan memanggilmu, dan tolong datang saat melakukan perjanjian nanti dengan wujud yang cantik ya, karena bisa kabur tuh orang kalau tau wujud aslimu,"
sosok Wewe gombel itu mengangguk dan kini dia melayang menunjukkan letak jamur yang dari tadi di cari Ki Cakra.
mereka memetik tujuh buah saja, sesuai ucapan Mela, dan kini mereka akan pulang saat ada sosok penari yang sedang melakukan pertunjukan.
"lah kita gak bisa pulang nih, nunggu nyai ronggeng ini selesai menari," kata Mela.
"tenang saja, dia tak akan lama, lihatlah para pria yang membawa panggung pertunjukan itu dengan merangkak, itu adalah orang-orang yang dulu mengikuti pesugihan sosoknya, dan kini mereka menjadi sayang yang harus tersiksa sepanjang masa," kata Ki Cakra yang duduk di bawah pohon bersama Mela sambil berpelukan.
mereka santai saja, toh malam nagih panjang, dan dia memagari tubuh mereka agar tak terlihat oleh orang lain.
karena banyak dukun yang baru masuk ke hutan itu saat sudah lewat tengah malam.
tapi itu waktu yang sudah lewat dan tak bisa mencari jamur purnama yang terkenal begitu mujarab itu.
__ADS_1