Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
sambutan


__ADS_3

Ki Cakra dan dua anak buahnya sudah pulang, terlihat ada para orang yang sedang berkumpul di depan rumah mewahnya.


"ada apa ini, kenapa begitu ramai?" tanya Ki Cakra yang mengejutkan semua orang.


"mas Tama... akhirnya kembali," kata semua warga terlihat begitu bahagia.


"maaf mulai sekarang panggil saya Cakra, ada apa kemari, apa kalian semua tak memperbolehkan kami tinggal disini," kata Ki Cakra.


"bukan begitu, kami takut yang tinggal disini bukan Ki Cakra, terlebih pernah ada beberapa orang yang mencoba tinggal di rumah ini," kata pak RW.


"saya bantu lapor pak RT, jadi besok semua datang kita akan buat syukuran kepulangan saya," kata pria itu tersenyum.


warga pun membubarkan diri, mereka tak mengira pria itu sekarang makin terlihat tampan.


tak lama, sebuah mobil mini bus putih datang, seorang pria berpakaian putih turun dari mobil.


"wah ada apa ini, pakde datang bersama keluarga," kata Ki Cakra.


Sukri pamit ke belakang rumah, dan memanggil istrinya untuk membuatkan minuman untuk tamu.


"kamu ingin mengembalikan semua tanah milik mu, selama ini aku mengunakannya atas izin ayah mu, maaf aku lancang kembali, dan juga membawakan makanan untuk mu, makanlah," kata ustadz sepuh.


"tau saja kalau aku belum makan, dan tak memiliki istri," kata Ki Cakra tersenyum.


"kalau begitu carilah, banyak wanita di luaran sana, seperti kamu tak laku saja," gumamnya.


"bukan tak laku, tapi standar ku tinggi," jawab Ki Cakra.


"terserah kamu, nduk tolong siapkan makanan di piring, jika tidak pria ini tak akan makan," kata ustadz sepuh.


"aduh pakde, ini rumah ku loh,"


"memang peduli amat, aku tetap orang paling tua di banding dirimu," kata ustadz sepuh


"iya deh yang tua," kata Ki Cakra tertawa.


ustadz sepuh juga terlihat begitu bahagia, bahkan umi Kalila tak pernah melihat suaminya seperti ini.


"bude kenapa? sepertinya tak pernah melihat pakde tertawa seperti ini," tanya Ki Cakra.


"benar le, setelah kehilangan Lily dan juga dirimu, dia seperti orang lain, bahkan semua urusan pondok di pegang pengurus dan beliau hanya terus berdoa dan mengurus semua yayasan keluarga," kata umi Kalila sedih.


"umi... kenapa seperti ini, Abi baik-baik saja," kata ustadz sepuh.


"tapi lima tahun terakhir kali ini tak baik, bahkan lihatlah putri mu sudah dewasa," kata umi Kalila.

__ADS_1


"maafkan Abi yang selama ini menyebalkan ya," kata ustadz sepuh pada istrinya.


"aduh saya masih di sini loh pakde, lebih baik pulang dan melanjutkan di rumah, siapa tau Shafa dan Ibra akan punya adik lagi," kata Ki Cakra.


saat semua sedang berbincang di ruang tamu, Shafa masuk ke dapur rumah itu.


dia pernah kesini saat kecil tapi saat rumah belum jadi, tapi sekarang rumah itu sangat mewah.


di dapur ada dua orang wanita dan dua pria. "maaf permisi, apa boleh saya pinjam piring untuk menata makanan," tanya gadis bercadar itu dengan lembut.


"owh silahkan mbak, saya ambilkan," kata Nita.


Shafa meletakkan semua rantang yang di bawanya, "apa di sini ada penghuni lain, kata Abi ini di minta untuk membagikan pada semua orang, karena pasti semua belum makan, mengingat semua baru saja pindah,"


"wah benarkah mbak, terima kasih untuk itu, tapi terlebih dulu tolong ambilkan untuk Ki Cakra," kata Wahyu.


"baiklah," kata Shafa.


dia sudah menata semuanya di piring, bahkan dia membuatkan teh kesukaan dari pria itu.


"loh mbak itu tehnya tidak di saring?" tanya Anna kaget melihat itu.


"mas Cakra selalu suka teh seperti ini, kalau begitu saya kedepan dulu, tolong di bagikan dengan yang lain juga ya," kata gadis itu


Shafa menaruh semuanya di meja, Ki Cakra kaget melihat makanan itu di tata rapi.


itu mengingatkan pada sosok almarhumah istrinya. "apa kamu belajar menata makanan seperti ini?"


"tidak mas, aku selalu melakukannya dari aku kecil, tolong cicipi dulu apa masakan itu enak," kata Shafa yang kemudian duduk di samping umi Kalila


"tapi tak enak nih, masak aku makan di depan tamu?" kata Ki Cakra.


"tak masalah le," jawab ustadz sepuh.


dia pun mulai makan masakan itu, dan terasa sangat enak meski itu hanya sayur lodeh bung, dan juga Bali telur dan ayam.


pria itu sudah menyelesaikan semua makanannya, dan kemudian minum teh yang sudah di seduhkan juga.


setelah selesai Shafa bangkit dan membawa piring kotor ke belakang, dan dia melihat ke-enam anak buah dari Ki Cakra.


"permisi semuanya," kata Shafa


"iya mbak," jawab Nita.


mereka pun berkenalan, Shafa mengingat wajah mereka semua dan tersenyum di balik cadar.

__ADS_1


"untuk kedepannya, mohon di maklumi jika saya akan merepotkan kalian semua, karena saya ingin dekat dengan mas Cakra lagi," kata Shafa.


"hah..." kaget semua orang


"kalau begitu saya permisi," pamit gadis itu.


Wawan dan Edi tak percaya dengan apa yang di katakan wanita itu, "apa dia gak salah tuh, Ki Cakra itu kan dukun?"


"namanya juga cinta buta bro, mau dukun atau kakek tua juga pasti di perjuangkan, jadi untuk kebahagiaan Ki Cakra sepertinya kita hanya bisa mendukungnya," kata Asep


"ya kamu benar, Ki Cakra juga berhak bahagia dengan wanita yang dia sukai," jawab Sukri.


pasalnya Shafa itu terlihat sangat lembut terlebih pemahaman agama pasti utama.


akhirnya keluarga ustadz sepuh pulang, Ki Cakra mengumpulkan semua anak buahnya dan mengatakan apa yang harus mereka lakukan.


"sekarang semua harta yang aku miliki sudah kembali, tugas kalian membantuku untuk merawat dan menjalankan semua usahaku, dan tentu kalian akan mendapatkan gaji yang pantas, dan untuk pengobatan alternatif tetap jalan, dan ingat aku bukan dukun," kata Ki Cakra.


"baik Ki, tapi bukankah lebih baik jika anda menikah?" tanya Edi.


"tidak ada wanita yang pantas untuk ku," kata Ki Cakra dingin.


"baiklah kalau begitu ki, kami akan menjalankan semua perintah Ki Cakra," jawab mereka semua.


mereka pun kembali ke rumah masing-masing, sedang Ki Cakra membawa busur yang sudah sangat lama tertidur di kotak kayu.


dia berjalan menuju padepokan Hadikusumo, saat akan mengikat tali busur panah itu.


Ki Cakra kesulitan, hingga sebuah tangan mengambil busur itu. seorang gadis berdiri di sampingnya.


penampilannya begitu anggun dengan berpakaian tertutup berwarna hitam.


"busur ini tak akan bisa di ikat jika hati orang itu masih memiliki dendam," katanya yang berhasil mengikat dengan mudah.


"bagaimana pria tua itu mengizinkan putri berharganya berkeliaran sendiri tengah malam begini," kata Ki Cakra melihat sosok Shafa.


"berhenti memanggil aku orang tua, dia tak datang sendiri, kamu jangan lupa sopan santun Cakra, dan aku mengajaknya karena dia bisa membantumu," kata ustadz sepuh.


"baiklah pakde, hentikan Omelan mu itu," kata Ki Cakra yang mulai menarik busur panah itu dan melepaskan ke arah padepokan yang langsung meledak dan rata dengan tanah.


bahkan ledakan itu membuat guncangan yang cukup terasa untuk semua orang.


Shafa berjalan menjauhi pria itu, dan berdiri di samping Abi-nya, "sekarang kamu akan segera bisa melihat musuh mu, dan lihatlah dua pengawas yang menjadi anak buahnya sudah menunjukkan wujudnya," kata ustadz sepuh melihat dua banaspati yang selama ini bersembunyi di padepokan.


"ah itulah kenapa aku menyuruh Bowo yang mati tinggal di kamar itu, ternyata mereka yang mempengaruhi pria itu," kata Ki Cakra yang menarik dua anak panah langsung yang di lepaskan ke arah keduanya dan membuat ledakan api.

__ADS_1


__ADS_2