Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
yang pertama 2


__ADS_3

mobil itu sampai di rumah sudah pukul sepuluh malam, tapi yang tak terduga adalah, Shafa membuka pintu dan menyambut kedatangan dari suaminya itu.


"ada apa sayang? kamu belum istirahat?"


"aku masih ingin menunggu mu mas, aku tak bisa istirahat dengan tenang, saat kamu belum pulang," jawab Shafa.


"baiklah, sekarang tolong hangatkan makanan untuk ku yuk, aku lapar dan ingin makan bersamamu," kata Cakra tersenyum pada istrinya itu.


"baiklah mas, mas mandi air hangat dulu, biar aku siapkan masakan untuk mu mas,"


"baik sayang," jawab Cakra mengecup pipi istrinya itu.


Shafa dengan senang hati menghangatkan makanan, Cakra duduk menonton tv.


dia pun datang membawa makanan dan minuman, dia menyuapi Cakra dengan sangat lembut.


Cakra juga menyuapi istrinya itu, dan setelah itu mereka menikmati kebersamaan sederhana itu.


tak lama mereka pun masuk untuk istirahat, karena hati semakin malam.


sekarang Shafa melepaskan jilbabnya dan mulai beristirahat bersama dengan suaminya.


mereka pun tidur dengan nyenyak, keesokan harinya di rumah Edi, Sukri dan Wawan terdengar suara tawa bahagia.


pasalnya istri dari mereka baru tau jika sedang hamil, dan mereka sangat bahagia.


mendengar ribut-ribut, Shafa dan Cakra menghampiri kerumah para anak buahnya.


dan saat mendengar berita bahagia itu, Shafa sangat bahagia dan tak sabar ingin melihat banyak anak kecil di rumahnya.

__ADS_1


"kalian bisa libur kok kalau ingin istirahat, biar nanti saya cari orang lain gak papa kan mas?"


"tentu sayang, tapi cari yang banyak karena setelah ini kamu akan terus hamil anakku," kata Cakra tersenyum.


"kamu ini kenapa sih, bikin malu ih..."


Cakra tersenyum saja, tapi beberapa wanita terlihat sedih karena mereka menikah bersama tapi tak terduga malah hamil bisa berbeda seperti ini.


"aduh jangan sedih gini dong, kita semua sedang berusaha, aku juga loh, jadi kita sama-sama berjuang yuk," kata Shafa membuat mereka kembali bersemangat.


"iya Bu bos," jawab Ani.


tak terasa seminggu sudah terlewati, Cakra sudah beristirahat dengan sangat baik.


Cakra dan Shafa baru selesai sholat subuh berjamaah, setelah itu mereka melakukan sholat Sunnah.


keduanya pun akan melakukan ibadah yang belum di jalankan selama ini.


"sudah mas kita keluar dulu, siapa tau penting," kata gadis itu tersenyum.


Cakra membuka pintu sedikit dan melihat sosok Sukri di sana, "ada apa sih, kamu ganggu ini masih pagi," kesal Cakra pada pria itu.


"maaf pak bos, tapi ada warga yang minta tolong, karena anaknya sudah semalaman hilang dan meski sudah di lakukan dari semalem tak di ketemukan." kata pria itu sedikit ngos-ngosan.


"kalau di culik makhluk halus ya wes di bawa ke alamnya," kata Cakra yang ingin menutup pintunya tapi Cakra menahan nya.


"tapi bos, tolonglah dulu, siapa tau belum, bos kok gak kasihan sih," mohon pria itu


"baiklah kamu menang, sayang ayo ikut," panggil Cakra pada istrinya itu.

__ADS_1


"baiklah, sekalian kita cari sarapan di luar ya,"kata Shafa yang memang meliburkan semua orang hari ini.


karena dia tak ingin di ganggu, tapi tanpa di duga gangguan malah datang dari orang lain.


mereka menuju ke sebuah desa yang tak jauh di sana, sesampainya di rumah bocah yang hilang itu, Cakra hanya bisa menghela nafas.


pasalnya anak yang mereka cari sudah jadi arwah, dan bocah itu terus berada di samping kedua orang tuanya.


"jadi apa yang tejadi?" tanya Cakra yang curiga dari awal.


"kami tak tau, kami pulang dari ladang dan kami tak menemukan anak kami dimana pun setelah kami memanggilnya dan mencarinya?"


"kalian sudah mencarinya di sawah, dek tunjukkan tempat mu di buang, aku akan membantumu menuntut keadilan," kata Cakra pada arwah bocah itu.


bocah itu berjalan pergi, Cakra terus menggenggam tangan istrinya agar Shafa tak mengalami sesuatu yang tak di inginkan terjadi.


mereka sampai di sebuah tumpukan tebon jagung yang di tumpuk menggunung dan siap di bakar.


"ini sawah siapa?" tanya Cakra dingin.


"punya saya mas, ada apa memangnya?" tanya pria itu.


Cakra menunjuk pria itu tapi arwah bocah itu mengeleng, tiba-tiba Shafa melepaskan genggaman tangan dari Cakra.


dan arwah bocah itu masuk kedalam tubuh Shafa, "bukan juragan Widodo, tapi aku di bunuh oleh orang tuaku, karena aku tau jika mereka ingin merampok juragan Widodo yang baru kehilangan anak dan istrinya, itu pun karena orang tua ku yang meracun mereka, hu hu hu hu...." tangis bocah itu begitu pilu.


"orang aneh, kenapa kami ingin membunuh anak kami sendiri," bantah wanita itu.


"karena kalian ingin menguasai harta juragan Widodo, bahkan aku sempat di banting oleh ayah ku sebelum di bunuh, jika tidak percaya bongkar di tumpukan tebon itu, aku di taruh di tumpukan paling bawah, bahkan tubuhku di apit kayu," kata arwah bocah itu.

__ADS_1


Cakra menyentuh tubuh Shafa, otomatis arwah bocah itu keluar begitu saja.


"bongkar semuanya," perintah Cakra yang memeluk tubuh istrinya uang lemas.


__ADS_2