
ustadz sepuh mengucapkan terimakasih kepada kedua orang yang sudah menyelamatkan menantu dan putrinya.
bahkan paranormal yang sebelumnya melihat kondisi Cakra pun memberikan beberapa ramuan untuk di buat obat agar bisa membantu nantinya.
selama dalam perjalanan menuju ke desa mereka, Shafa terus menggenggam tangan Cakra yang terbaring di ranjang itu.
sebelum pulang ke rumah, mereka mampir ke rumah sakit besar untuk memeriksakan kondisi keduanya.
ternyata Cakra mengalami kelumpuhan sementara, kemungkinan ada cedera jadi dokter menyarankan untuk melakukan terapi.
dan jika kondisi Cakra sudah membaik, operasi untuk membetulkan letak saraf yang terjepit bisa di lakukan.
Shafa tersenyum mendengar itu, "mas dengar, tolong jangan menyuruh ku meninggalkan mu, mas bisa sembuh, aku yakin itu..."
"iya dek," jawab Cakra yang perlahan sudah bisa duduk.
mereka kini menuju ke rumah milik pria itu, semua anak buah Cakra menyambut kedatangan kedua orang itu.
bahkan para istri anak buah Cakra langsung memeluk tubuh dari Shafa, "ibu sudah hilang seminggu, tapi beruntung ibu sehat-sehat saja,"
Shafa kaget, bukankah hanya sehari,ustadz sepuh tersenyum saja, "aku baik-baik saja, kalian tak usah sekhawatir ini,"
"ternyata kamu akhirnya benar-benar menghancurkan keluarga Hadikusumo Cakra," suara berat itu mengejutkan Shafa dan Cakra.
seorang pria yang nampak gagah meski rambutnya sudah mulai memutih, "ayah Arkan," panggil Shafa.
"ayah..." kata Cakra melihat pria yang tengah berdiri memandangnya.
Cakra tak bisa bangkit, tapi saat semua ingin membantunya ustadz sepuh melarangnya dengan gerakan tangan.
dengan sigap, Shafa memeluk tubuh suaminya itu dan memapahnya, "dek jika kamu tak sanggup biarkan saja aku merangkak agar bisa mendekati ayah, jika tidak kamu bisa terluka karena aku," kata Cakra yang sadar jika tubuh Shafa makin kecil.
"tidak boleh, aku akan menjadi kuat demi mas Cakra," kata Shafa yang mengalungkan kedua tangan suaminya di lehernya.
dan berjalan bersama Cakra, melihat hal itu ayah Arkan tersenyum dan langsung mendekati keduanya.
ustadz Haris juga tak mengira jika cinta yang di miliki oleh Shafa pada Adit begitu besar, bahkan rela melakukan apapun untuk pria itu.
"sudah kalian masih belum sepenuhnya sehat, Shafa bisa minta tolong untuk menemui mami di dalam," kata ayah Aryan yang membantu Cakra duduk.
"iya ayah," jawab Shafa yang melepaskan cadarnya.
__ADS_1
saat berjalan masuk kedalam rumah itu, "mami!!" panggil Shafa dengan manja.
mendengar panggilan itu,mami Tasya menoleh dan langsung memeluk gadis yang begitu dia rindukan.
"Shafa putri mami, ya Allah sekarang kamu sudah sedewasa ini, dan sekarang mami sudah sadar dan mengerti semuanya, jadi jangan lepaskan cadar mu ya nak,"
"terima kasih mami," kata Shafa yang kembali berpelukan dengan wanita itu.
Cakra mendapatkan pelukan dari ustadz Haris, "selamat ya mas, aku titip dia, dan aku tak menyangka jika dukun sakti yang hampir membuat satu desa mati, ternyata itu mas Cakra,"
"itu dulu, sekarang aku belajar agama dari awal bersama abi dan Shafa,"
"itu bagus, dan ingat jaga dia ya, karena di hatinya dari dulu hanya ada satu orang yaitu kamu," kata ustadz Haris.
"apa kamu tak apa-apa dek?"
"tentu, karena aku sudah menemukan seseorang yang akan ku perjuangkan," kata ustadz Haris.
"baiklah," jawab Cakra.
akhirnya semua orang masuk kedalam rumah, dia tak masalah jika semua harus berubah, toh rumah mewah ini juga belum sempat di tinggali dulu.
semua sedang berbincang, sedang Cakra berada di kamar dengan shafa, "mas maafkan aku yang lancang, aku sudah membereskan semua barang mbak Lily dan menyimpannya di kamar tamu,"
"terima kasih mas, sudah mau menerima ku," kata Shafa.
ayah Arkan tak lama di desa itu, karena mereka harus segera kembali karena pekerja.
tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, sudah satu bulan berlalu dari kejadian buruk itu.
pagi ini seperti biasa, Shafa membantu Cakra belajar berjalan secara perlahan.
semua pekerjaan juga di kerjakan bersama, mereka terlihat sangat bahagia.
bahkan setiap pagi mereka akan duduk untuk berjemur setelah melakukan belajar jalan.
semua warga juga tak ada yang menganggu Cakra untuk meminta tolong, mereka seakan tak percaya jika kekuatan Cakra masih ada.
"seperti ininya rasanya menjadi orang biasa, dan hidup secara normal," kata Cakra yang sedang berjemur dengan Shafa.
"makanya mas sekarang diam-diam saja meski tetap sakti, jadi kita bisa menikmati waktu bersama seperti ini,"
__ADS_1
"apapun permintaan mu, oh ya hari ini kita mau ngapain ya, tak mungkin kita duduk di rumah saja?"
"sepertinya kita harus ke pondok mas, karena di sana ada pengajian umum rutin yang di adakan, apa mas mau?" tawar Shafa.
"apa kamu tak malu datang bersamaku?"
"malu, pertanyaan apa itu, kita itu suami istri mas, dan tolong jangan merasa begitu rendah diri, bahkan Allah saja membenci orang yang putus asa,"
"iya iya sayang, aduh kamu langsung memberikan ceramah, benar-benar putri seorang ustadz sepuh Pemilik pondok pesantren,"
"mas Cakra, sudah sebaiknya kita masuk dan mandi dulu yuk," ajak Shafa.
"apa, kamu mau memandikan aku sayang, kamu itu tak tau malu ya," goda Cakra.
"apa maksudnya mas, memang selama ini siapa yang memandikan mas, lagi pula aku tak pernah melihatnya, jadi jangan mengatakan hal aneh seperti itu," kata Shafa yang malu
"tapi bagaimana bisa kamu tak melihatnya," tanya Cakra heran
"Kan selalu aku tutupi handuk, dan mas yang menaikan sendiri aku membantu untuk berdiri , masak lupa," kesal Shafa.
"tapi perkataan mu sangat ambigu dek,"
"biarin karena mas sih," kesal Shafa yang kesal.
Cakra menarik Shafa hingga terjatuh di pangkuannya, dia melepaskan cadar istrinya itu.
"bagaimana bisa aku membuat wanita secantik ini menjadi istriku," kata Cakra menggoda istrinya.
"hentikan, aku yang beruntung bisa mendapatkan mas," kata Shafa.
entah siapa yang mulai, bibir keduanya sudah menyatu, Cakra sangat menuntut.
"balas sayang," bisik Cakra.
Shafa pun mengikuti keinginan suaminya, kini mereka sedang berpanggutan mesra.
"ah mas, hentikan..." lirihnya
"ah maaf, apa kamu tak nyaman," tanya Cakra yang merasa bersalah.
"tidak aku hanya merasakan sesuatu di bawah, apa itu sudah normal?" tanya Shafa kaget dan memeluk suaminya.
__ADS_1
"ah sepertinya sebentar lagi kita akan bisa buat anak sayang, ha-ha-ha," kata Cakra tertawa.
"apa, sudah hentikan ucapan itu, sekarang lebih baik ayo kita mandi, karena Abi mau bertemu dengan kita," kata Shafa yang malu.