
akhirnya wanita itu memilih pilihan tak terduga dengan membuat suaminya itu pergi dari rumah.
bukan untuk berobat, tapi di buang tanpa di urus di sebuah hutan yang jauh dari perkampungan warga.
tapi anehnya,malam itu Mbah rante masih juga berkeliaran, dan tetap tak mau menjawab pertanyaan dari Cakra.
Shafa menunggu suaminya pulang, yang sedang berjalan-jalan malam bersama dua orang anak buahnya.
karena malam ini dia tak bisa tidur sendirian, pasalnya hawa rumah itu tiba-tiba tak enak.
Shafa mengambil ponselnya dan segera menghubungi Cakra, "assalamualaikum mas, tolong pulang, hawa di rumah sangat tak enak,"
"waalaikum salam sayang,baik kami pulang," kata pria itu.
Shafa merasa ada sesuatu yang mengincarnya, hawa itu semakin tak enak dan rasanya semakin dekat.
Shafa merasa ada yang sedang mengawasinya dengan sangat tajam tapi meski dia bisa melihat hal ghaib tapi kali ini tak bisa.
karena terus menerus merasa di ancam, dia langsung lari keluar rumah, ternyata di luar ada sosok yang menyeringai senang melihat Shafa.
"akhirnya, kamu keluar gadis sialan ... kamu yang membuatku kehilangan Ki Cakra, jadi sekarang janin mu yang istimewa itu harus menanggung akibatnya," kata sosok sundel bolong itu yang ingin merobek perut dari Shafa
tanpa di duga, sebuah rantai yang terbakar api begitu membara, menahan tangan dan tubuh sosok sundel bolong itu.
"akhirnya... kamu berani menampakkan diri dan kamu harus ikut bersama ku, karena teror yang kamu buat terlalu berbahaya," kata Mbah rante.
"tidak, lepaskan aku tak mau di paksa begini," kata pria itu menangis sedih.
"aku tak peduli dengan itu, tapi sekali kamu menyakiti anak cucu ku, aku akan membuatmu terbakar selamanya di neraka."
akhirnya Mbah rante membawa sosok sundel bolong yang selama ini bersama Mela pergi.
Cakra baru sampai rumah setelah berlari kecil, pasalnya mereka baru saja lari dari ujung desa.
"apa yang terjadi sayang?"
"hanya sedikit masalah tapi semuanya sudah berakhir," kata Shafa
"baiklah kalau begitu ayo masuk dan istirahat, mas juga sudah selesai melakukan perjalanan malam ini," kata Cakra tersenyum.
Shafa akan tidur jika suaminya itu tidur, pukul satu dini pagi, terdengar sesuatu derap langkah kaki yang begitu terasa.
__ADS_1
tapi yang tau cuma Cakra diapun hanya pria itu meninggalkan istrinya untuk melihat.
dia sudah di ruang tamu rumahnya dan melihat keluar jendela, dan terlihat ada pengusung jenazah lewat.
dan jika biasanya di keranda itu tak ada mayat atau hanya di tutup kain hijau.
tapi kali ini berbeda, terlihat ada sosok jenazah di dalamnya dan anehnya tak di tutupi di sesuatu
Cakra juga tak keluar, dia hanya mengintip saja, pengusung jenazah itu pun lewat begitu saja.
keesokan harinya, suasana desa cukup dingin karena dari subuh sudah hujan cukup lebat.
Cakra dan istrinya pin masih berpelukan erat di balik selimut tebal mereka.
"mas ..."
"emm.. tolong diam sayang," bisik Cakra.
"ih... kamu menyebalkan, ini sudah pagi, kita harus mengikuti acara di yayasan," kata Shafa mengingatkan.
"tapi mas mas masih ingin bersamamu seperti ini, lagi pula masih hujan di luar, jadi tenang saja,"jawab Cakra.
sedang keenam orang kepercayaan Cakra sudah mulai berangkat menuju ke tempat kerja masing-masing.
ya hari ini ada pelantikan pengurus yayasan yang baru, dan Cakra akan masuk kedalam jajaran pengurus itu.
karena dia adalah orang yang sudah di gadang-gadang menjadi penerus di tempat itu.
meski awalnya Cakra menolak karena ada Ibra, tapi dia tak bisa terus menghindar.
meski hanya jadi penanggung jawab untuk urusan tak berurusan langsung dengan yayasannya secara menyeluruh itu sudah membuat ustadz sepuh senang.
Shafa tak mengatakan pada Cakra tentang kejadian yang dia alami sepenuhnya.
pasalnya dia tak ingin Cakra marah saat tau dia hamil, karena mereka baru menikah dan melakukan hal itu tapi sudah hamil.
dia melihat semua pengurus inti sudah datang, bahkan Aryan juga, dan pria itu nampak begitu kurus dan sedikit tak terurus.
"sayang itu ayah kecil mu kenapa, di usir istrinya hingga jadi begitu?" bisik Cakra.
"hust... mas gak boleh ngomong begitu, mungkin mereka punya alasan sendiri, atau semenjak kematian dari mas anand ayah kecil memang sangat berbeda, dia seakan lupa jika dia masih punya dua anak dari ibu Riya,"
__ADS_1
"ternyata dia tak berubah ya, sudahlah sayang, aku masuk dulu untuk menyapa Abi," pamit Cakra.
ya belakangan ini dia sudah jarang mengunakan kekuatan miliknya, jadi dis benar-benar bersikap seperti orang biasa.
rapat itu di mulai, Shafa di rumah bersama umi Kalila. dia memilih bantu-bantu disana.
"duduk saja Shafa, kamu kenapa malah repot begini?"
"tidak apa-apa umi, aku sudah kebanyakan nganggur, karena di rumah mas cakra benar-benar sangat menjagaku, padahal aku tak melakukan hal berat sedikit pun," kata Shafa.
"ha-ha-ha itu karena suami mu itu sangat mencintai mu nduk, itulah kenapa dia begitu menjaga mu," kata umi Kalila.
"iya umi, tapi kalau boleh tau, dulu saat umi hamil Shafa, itu hamil langsung setelah satu bulan atau menunggu beberapa bulan dulu?"
"aduh kamu kok tanya begitu, yang pasti umi waktu itu kalau gak salah langsung hamil sebulan setelah menikah, memang kenapa nduk,kamu merasakan sesuatu?"
"tidak umi, hanya ingin bertanya saja, aku penasaran soalnya aku pernah membaca buku dan artikel online,"
umi Kalila hanya tersenyum saja, tanpa di duga ada seseorang yang datang ke pondok pesantren.
seorang gadis yang sudah lama tak terdengar kabar beritanya, bahkan keluarga ustadz sepuh sudah seperti kehilangan gadis itu
tapi kali ini dia datang membuat gempar semua orang, pasalnya dia datang dengan mengunakan pakaian yang kurang bahan
"maaf mbak, anda harus sopan jika ingin masuk kedalam area pondok pesantren," kata para keamanan.
"cih... kalian tak tau siapa aku, aku adalah orang yang harusnya di hormati di sini, bukan kalian halangi begini, biarkan aku masuk atau kalian akan tau akibatnya," ancam gadis itu dengan tegas
"tapi setidaknya gubahan jaket dan penutup kepala sebelum masuk," kata ustadz Harun yang menang sekarang fokus mengajar di pondok.
gadis itu menurut dan memakai jilbab ala kadarnya, dan kini dia mengikuti ustadz Harun.
"kamu siapa, aku tak pernah melihat mu sebelumnya, ah jangan-jangan kamu suami dari adik sepupu ku yang alim itu, ternyata selera wanita itu tak jauh beda dengan pakde, uh... membosankan," gerutu wanita itu.
sedang ustadz Harun hanya diam tak menggubrisnya, dan mereka sampai di rumah ustadz sepuh.
ustadz Harun mengetuk pintu dengan sopan, Shafa keluar dan melihat tamu yang datang.
deg...
dia terpaku melihat gadis di samping ustadz Harun yang tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"ada tamu yang ingin bertemu ustadz sepuh dan umi,"