
Ki Cakra benar-benar menjamu warga desa, pukul empat pagi semua acara selesai.
dan pukul enam pagi rumahnya sudah bersih karena para warga membantu membereskan.
"hari ini kita libur, karena aku ingin istirahat," kata Ki Cakra.
"iya Ki tenang, kemarin saya juga sudah memberi pengumuman, jadi di jamin semua orang mengerti, dan kami semua pamit mau jalan-jalan ya Ki," pamit Sukri.
"baiklah, pergi dan jangan lupa jika pulang bawa bandeng tanpa duri yang banyak dan otak-otak bandeng masing-masing tiga ratus," pesan Ki Cakra.
"Ki Cakra kok ya tau saja, kami mau kemana, baiklah Ki nanti kami akan membawakan apa yang ki Cakra minta," kata Sukri.
Ki Cakra pun memilih mandi junub dan setelah bersih dia memilih tidur, karena tubuhnya begitu lelah.
mau sesakti apapun dia, dia tetap manusia yang butuh istirahat terlebih seminggu ini dia sudah menggunakan semua kekuatannya berlebihan.
rombongan anak buah Ki Cakra pergi dengan mobil elf, untuk menuju ke daerah tujuan wisata mereka.
pukul sebelas siang, ustadz sepuh tak bisa menghubungi Ki Cakra, dia merasa khawatir jika pria itu hilang lagi.
"Shafa, Ibra kemarilah!" panggil ustadz sepuh pada kedua anaknya.
"inggeh Abi, ada apa?"
"sekarang datang ke rumah Ki Cakra dan lihat pria itu ada di rumah atau tidak, dan jangan sampai dia hilang lagi, mengerti," perintah ustadz sepuh.
"baik Abi, kami pamit," jawab keduanya.
mereka langsung menuju ke rumah milik Ki Cakra dan saat sampai terlihat begitu sepi.
bahkan para anak buah Ki Cakra juga tak ada di rumah, mereka pun masuk kedalam rumah itu.
sesampainya di pekarangan rumah, mereka membawa semua makanan yang di siapkan oleh Shafa.
mereka berdua Masuk kedalam rumah yang nampak sepi, "assalamualaikum..."
"huwek..."
mendengar itu Shafa langsung lari ke kamar Ki Cakra, ternyata pria itu sedang ada di kamar mandi dan sedang muntah.
"mas Cakra kenapa?" tanya shafa.
"keluar Shafa, ini menjijikkan," kata Ki Cakra.
ternyata hari ini adalah weton dari Ki Cakra dan pria itu akan kehilangan kekuatannya untuk sehari dan kondisinya akan sangat lemah.
setelah memuntahkan semua isi perutnya, pria itu terlihat lemah dan hampir jatuh, reflek Shafa menopang tubuh Ki Cakra dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Ibra bantu aku," panggil Shafa.
keduanya saling membantu dan membawa Ki Cakra tidur di ranjang, Shafa mengambil konpres untuk membantu pria itu merasa nyaman.
"mas Cakra sudah makan?" tanya Shafa.
"aku malas, lidahku pahit," sahutnya.
Shafa menghela nafas, "Ibra tunggu di sini, mbak mau membuatkan bubur untuk mas Cakra ya,"
"iya mbak," jawab pemuda itu.
Shafa mengambil sedikit nasi yang tadi dia bawa, dia mencampurkannya dengan kuah sayur sop dan ayam.
setelah jadi, dan merasa semuanya sudah sempurna, dia pun membawa bubur itu ke kamar tidur.
Ibra sedang memijat kaki Cakra, "kenapa mas tak bilang jika masih manusia, setidaknya karena Abi kami datang kesini," kata Shafa duduk di tepi ranjang.
"aku sedang sakit, tapi kamu malah mengomel," kata Ki Cakra.
sebelum menyuapi pria itu, Shafa mengantikan kompres dengan yang baru.
"makan sedikit saja, kemudian minum jamu kunyit setelah itu," kata Shafa.
"lidahku pahit,"
"aku mohon mas, makanlah sedikit saja," kata Shafa memohon.
dia pun menerima suapan dari gadis itu, sedang Ibra tetap fokus memijat kaki pria itu.
"kenapa kalian sebaik ini, padahal aku yang membuat keluarga kita hancur," lirih Ki Cakra.
"bukan hanya mas Cakra, bahkan Abi hampir membunuh satu desa karena mereka melindungi orang yang ingin membunuh mbak Shafa, tapi karena mendapatkan donor dari mbak Lily, mbak Shafa selamat," kata Ibra.
"boleh aku melihat wajah mu Shafa, apa operasi itu berhasil, aku bisa melihat mata lily di mata mi, tapi bagiku itu tak sempurna," kata pria itu.
Shafa mengeleng pelan, "maaf mas, tapi Abi tak mengizinkan itu, hanya suami ku yang boleh melihat wajahku...." lirih Shafa begitu sedih.
"hei tenang saja, maaf aku memang aneh, sudah jangan di pikirkan, hei jangan sedih."
"yang membuat sedih itu mas Cakra, karena belum move on, ayolah semua sudah berakhir, aku yakin mbak Lily pasti juga mengizinkan," protes Ibra
"dek hentikan ucapan mu, ingat mas Cakra itu lebih tua, yang sopan," tegur Shafa
Ibra pun hanya bisa mendengus kesal, setelah menyuapi Ki Cakra, Shafa mulai memberikan jamu pada pria itu.
dan memintanya istirahat, dia merasa penasaran, kenapa sampai wajah dari Shafa tak boleh di lihat jika memang mendapatkan cangkok dari Lily.
__ADS_1
Shafa dan Ibra menunggu di rumah itu sampai kondisi dari Ki Cakra membaik,
dan saat mereka sholat mereka akan pergi ke mushola di dekat sana, kemudian kembali ke rumah lagi
sore hari, setelah sholat ashar mereka kaget melihat Ki Cakra sudah bisa duduk di ruang tengah.
"apa demamnya sudah turun, mas seharusnya tetap di dalam,"
"tidak apa-apa Shafa, saat nanti adzan magrib berkumandang kekuatan mas kembali lagi, terima kasih kalian merawat ku," kata Ki Cakra.
"lain kali jika mas kenapa-kenapa tolong hubungi kami, bagaimana pun kami ini keluarga mu," tegur gadis itu.
"iya dek, maafkan aku, aku hanya tak ingin merepotkan pakde dan kalian,"
"payah mas ini, kita ini keluarga loh, meski kamu membenci mbak Shafa, tapi aku ini orang yang bisa di andalkan loh," kata Ibra dengan sombong.
mendengar itu, Shafa kesal langsung memukul bahu adiknya, "AAAA.... sakit, ini penganiayaan!!!"
melihat kedua saudara itu membuat Ki Cakra tersenyum tanpa sadar, dan melihat senyum pria itu membuat jantung Shafa tak aman.
"sudahlah, aku akan membuatkan nasi tim dan ayam Hainan untuk mas Cakra," kata Shafa.
"aku juga mau mbak," kata Ibra
"memang enak ya? orang ayam putih kayak tidak di masak begitu?"
"eh mas Cakra tak tau ya, masakan mbak Shafa itu yang paling the best pokoknya, bahkan umi saja kalah" puji Ibra.
"tapi iya juga sih, selama kalian datang bawa makanan, pasti semuanya terasa pas,"
"iya, dulu mbak Shafa pernah di kasih tau sama ibu bagian dapur, katanya, meski kita tak cantik tapi jika bisa membuat suami kenyang perut dan kenyang di ranjang, itu tak akan masalah karena dia tak akan melirik wanita lain saat di luar rumah," kata Shafa yang datang dengan membawa teh panas dan juga camilan.
"itu sebabnya kami berusaha sekuat tenaga untuk belajar memasak?"
"iya, karena aku sadar jika fisik ku bisa menua, tapi aku akan melakukan yang terbaik, tapi aku selalu berdoa semoga aku mendapatkan pria baik yang bisa menerima ku, hingga dia setia tanpa harus aku mengikatnya," kata Shafa tersenyum.
"amiin..."
mereka pun berbincang hangat tanpa sadar hingga petang dan stamina Ki Cakra perlahan mulai normal
mereka bahkan makan bertiga, dan saat akan pamit, para anak buah Ki Cakra datang.
dan tak sengaja karena membawa beberapa ikan segar, lantai jadi kotor serta basah dan Shafa terpleset.
beruntung ki Cakra menahan tubuh Shafa, dan mata mereka bertatapan sangat lama.
dan Shafa bangkit, "terima kasih mas, kami pulang dulu," kata Shafa
__ADS_1
"tunggu dulu dek, bawa olahan bandeng dan minta untuk di bagikan untuk lauk semua santri," kata Ki Cakra.
"inggeh mas, matur Suwon,"