Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
pulang kampung


__ADS_3

pak Soleh tak menyukai hal seperti itu, "kenapa kalian percaya pemuda itu," katanya.


"bagaimana kalau aku bilang, jika dia adalah putra terbaik ku, menantu ku dan juga putra yang ku sayangi dan ku besarkan dengan tangan ku sendiri," kata ayah Arkan yang berdiri bersama dengan ustadz Haris.


"kalian datang?" kata Cakra melihat ayah dan adiknya itu.


"iya mas, karena kami datang setelah tau semua yang terjadi, dan ayah ingin kembali tinggal di desa tempat kelahirannya," kata ustadz Haris.


"baiklah, kalau begitu," kata Cakra tersenyum.


"tentu kami percaya dengan anda," kata semua warga.


Cakra pun berlari memeluk ayah Arkan, "bagaimana kabar mu le,"


"Alhamdulillah baik ayah, dan kalian datang di waktu yang tepat, karena Shafa sedang hamil buah cinta kami," kata Cakra.


"aduh jadi aku benar-benar tak punya kesempatan ya?" kata ustadz Haris.


"kamu mau aku bunuh huh," kata Cakra dan ustadz Haris berpelukan.


sedang di rumah Shafa sedang duduk bersama dengan mami Tasya.


"mami akan tinggal disini?"


"iya sayang, mami ingin dekat semua keluarga, dan karena ayah juga ingin menghabiskan hari-harinya bersama dengan saudaranya, terlebih Haris juga akan lebih baik saat bisa mengamalkan ilmunya bukan," kata wanita itu.


"iya mami, dan sekarang aku bisa memeluk mami sesering yang aku mau," kata Shafa manja.


"aduh-aduh kamu ini kok semakin manja, bagaimana dengan yang disini? apa sudah jadi atau masih proses?"


"masih sekitar enam bulan lagi untuknya bisa bersama kita semua, dan ini akan jadi hadiah untuk kami,"


"ya kamu benar sayang, jadi jaga kesehatan mu ya, dan jangan terlalu lelah." kata mami Tasya.


mereka terus berbincang bersama, saat sebuah telpon masuk kedalam ponsel miliknya.


"loh ibu Riya tumben menelpon,"gumamnya yang mengangkat telpon itu.


"assalamualaikum Bu, ada apa?"


"waalaikum salam Shafa, aku bisa minta tolong, ayah mu masuk rumah sakit karena muntah darah, aku tak mengerti dengan apa yang terjadi, dan bisakah meminta Cakra datang," mohon wanita itu.


"baiklah, tolong kasih tau dimana rumah sakit dan kamarnya, kami akan segera kesana," kata Shafa yang ikut panik.

__ADS_1


"terima kasih ya nduk," kata wanita itu sebelum menutup telponnya.


"ada apa Shafa?"


"ayah Aryan masuk rumah sakit, dan mas Cakra di minta segera datang ke sana untuk melihatnya," kata Shafa.


"baiklah, lekas telpon suami mu," kata mami Tasya


Cakra menjawab telpon dari istrinya itu, dan kaget mendengar tentang kondisi dari Aryan.


"baiklah sayang, kita bertemu di rumah sakit," kata Cakra yang langsung berangkat bersama dengan keluarganya.


Shafa pergi dengan mami Tasya dengan mengunakan mobil yang di kemudikan oleh wanita itu sendiri.


sesampainya di rumah sakit, terlihat sosok Riya yang sedang menangis di luar ruang UGD.


"ada apa Riya, bagaimana Aryan bisa seperti ini?" tanya naki Tasya.


"mbak .... aku juga tak tau, tapi setelah kejadian Anand, mas Aryan terus begong dan hari ini saat dia sedang main dengan anak-anak dia muntah darah, kemudian tak sadarkan diri," tangis Riya.


mami Tasya sudah menganggap Riya seperti putrinya sendiri, jadi dia tau kesedihan dari gadis itu.


"yang sabar ya, semoga ayah dan Cakra bisa membantu, dan juga Haris," kata mami Tasya.


Cakra dan ustadz Haris mulai membaca ayat suci Al-Qur'an untuk melakukan ruqyah.


benar saja, pria itu kembali muntah dan kali ini dia muntah paku yang sudah berkarat berserta darah berbau busuk.


doa terus di baca, hingga akhirnya pria itu muntah gumpalan rambut dan kuku.


"santet, sepertinya dia mengalami hal buruk setelah kematian putranya,"


"apa kamu mengerti tentang kesedihan seorang ayah yang kehilangan putranya," ejek Aryan melihat kakaknya di depannya


"kau menjadi semakin bodoh ya karena bertambah umur, aku bahkan kehilangan putri kesayangan ku, kau tau itu, jadi jangan bicara kamu seolah orang paling sedih," kesal ayah Arkan.


"Aku kira kamu sudah tak mau melihat ku lagi, terlebih setelah semua yang di lakukan oleh anand,"


"ucapan apa itu, bagaimana pun kamu itu adikku, ikatan kira lebih kuat dari sekedar hal itu, jadi jangan mengatakan hal aneh," kata ayah Arkan.


akhirnya dokter kembali memeriksa kondisi dari ayah Aryan, dan Cakra mengambil ular yang ikut keluar saat ruqyah tadi.


dia mengenggam ular itu dan melacak pengirimannya. dia melihat seseorang dari kejauhan tampak tersenyum.

__ADS_1


"sepertinya keluarga kita kembali di incar karena aku mengambil alih paksa yayasan milik keluarga Noviant,"


"aku ingin tau, dan tolong sebutkan nama jika kamu tau siapa dia?"


"Mahendra, seharusnya ayah tau siapa itu,"


"pria brengsek itu sepertinya tak pernah menyerah mengusik keluarga ku," gumam ayah Arkan.


"dia adalah musuh ku dalam bisnis dulu, tapi aku tak menggubris lagi setelah pindah, mungkin masih penasaran dengan tanah yang ayah miliki itulah itu kenapa dia terus mengincar keluarga ku."


"tenang ayah, selama dua putra mu ada di sini, ayah tak perlu takut," kata Cakra tersenyum.


"ya kamu benar Cakra, karena dia putraku ini akan melindungi ku," kata pria itu.


Cakra duduk di samping Shafa dan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya itu.


"sayang..."


"ada apa mas?" tanya Shafa menepuk pipi suaminya itu pelan.


"aku ingin mengajak mu pulang deh, habis aku benar-benar ingin makan udang bakar buatan mu," kata Cakra.


"hus... tunggu sebentar lagi, mas kan tau jika ibu Riya tak punya siapapun yang akan membantunya menjaga ayah Aryan di sini," bisik Shafa.


"ayah dan mami, kami pulang dulu ya, maaf bukannya tak simpati, tapi Shafa juga harus istirahat, dan tak baik jika terlalu lama di rumah sakit, jadi kami mau izin pulang," kata Cakra yang membuat Shafa terkejut.


"ya kamu benar Cakra, ya sudah pulang dan istirahat dan jangan sampai kelelahan, dan jaga kondisimu ya nduk," kata ayah Arkan.


"baiklah ayah, kami pulang dulu," pamit Cakra yang mengajak istrinya itu pergi.


bukan dia tak kasihan pada Riya, tapi Cakra merasa tak nyaman dan dia juga tau jika istrinya itu merasakan hal yang sama.


mereka sampai di rumah bersamaan meski dengan kendaraan yang berbeda.


"mas mandi dulu, biar aku bakar udangnya,"


"tidak boleh, ikut mandi juga, kamu tadi juga dari rumah sakit," kata Cakra menahan istrinya itu dan menariknya ke dalam kamar mandi.


keduanya pun membersihkan diri, dan juga melakukan sedikit olahraga meski tak terlalu lama.


akhirnya kini mereka sedang makan berdua, setelah Cakra dengan telaten membakar sendiri udang yang sudah di bumbui itu.


keduanya makan dari piring yang sama, dan saling menyuapi, itu hanya kegiatan sederhana yang membuat cinta keduanya makin kuat

__ADS_1


__ADS_2