Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
orang bodoh ternyata


__ADS_3

sore itu, Marwah menuju ke rumah Cakra, sesampainya di rumah itu Marwah tak menyangka rumah itu begitu bagus dan mewah


"ah sialan, ternyata Shafa dapat rejeki nomplok ternyata dengan menikahi mas Cakra, kenapa ayah membawa ku pergi, jika tidak pasti aku yang sekarang menjadi istri mas Cakra, dan tinggal di rumah mewah ini," gumam Marwah yang berjalan masuk.


dia pun sampai di depan pintu, dia menekan bel dan seorang wanita membuka pintunya, "iya mau cari siapa?"


Marwah kaget melihat wanita cantik yang keluar dari dalam rumah, "ah aku kakak sepupu dari Shafa, apa dia ada di rumah?"


"oh nyonya besar, silahkan masuk biar saya panggilkan sebentar," kata Nita mempersilahkan.


Marwah pun duduk di ruang tamu, dia bahkan bisa melihat foto pernikahan antara Cakra dan Shafa yang tergantung dengan ukuran sangat besar di dinding.


"sayang kamu dimana, bisa tolong bantu aku," panggil Cakra yang baru selesai mandi.


mendengar panggilan itu Marwah menghampiri pria itu, "aku bisa, ada apa mas?" tanya Marwah dengan nada menggoda.


Cakra melihat wanita itu, "kenapa kamu disini, jika kamu seorang tamu, duduk di depan, lagi pula aku mencari istriku," ketus Cakra.


bahkan Cakra memilih kembali ke dalam kamar khusus yang menyimpan barang-barang mereka.


"aduh sekarang kamu masih bisa berkata seperti itu, tapi sebentar lagi kamu akan mengemis padamu, ingat itu," kata Marwah yang merasa kesal.


"mbak disini, kenapa tak menunggu di ruang tamu, ada keperluan apa mbak kok main kesini tak bilang-bilang," tanya Shafa yang dari belakang rumah.


"memang kalau mau main harus izin kamu dulu ya, kita itu saudara, lagi pula aku mau melihat bagaimana adik ku ini hidup," kata wanita itu tersenyum pura-pura baik.


"ah seperti itu," jawab Shafa yang merasa bingung karena dia dan Marwah dari kecil tak pernah akur.


"kenapa, kamu tak suka melihat ku datang kesini," kata Marwah yang sekarang duduk sambil menyilangkan kakinya.


"bukan seperti itu, aku hanya kaget karena tiba-tiba mbak datang, padahal dari kecil itu tak pernah baik dan berteman," kata Shafa.


"oh... ternyata kamu pendendam ya, padahal aku sudah mengira jika kamu gadis baik pasti sudah memaafkan salahku dulu," kata Marwah dengan nada suara mengejek.


"bagaimana bisa dia memaafkan mu, atau lebih baik balas saja, setidaknya kalian impas bukan," kata Cakra yang sudah keluar dengan pakaian serba hitam.

__ADS_1


"mas ..."


"itu benar sayang, dia pernah menyiram mu dengan air keras bukan, bagaimana jika kamu membalasnya, dan saat dia kecil dia pernah melukai wajah mu, sekarang coba lukai wajahnya, kita anut hukum kesetaraan, baru kamu bisa bilang kamu di maafkan," kata Cakra dingin menantang wanita di depannya itu.


"kamu ingin melawan wanita, ternyata kamu pengecut ya," kata Marwah.


"siapa yang bilang aku.yang akan melawan mu, tentu kamu bukan jelas ku untuk melawan wanita jahat seperti mu, sayang jika kamu terus seperti ini, aku jamin dia tak akan pernah sadar diri," kata Cakra memancing istrinya.


"kamu tak akan melihatnya berani melawan ku, karena dia itu anak dari seorang perebut pria orang lain, dan seperti ibunya, sekarang dia juga terus merebut pria yang aku sukai, termasuk kamu mas," kata Marwah yang berjalan mendekat kearah Cakra dengan menggoda.


tapi tanpa tak di duga, Shafa melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Marwah.


"aku tak pernah merebut siapapun, begitupun dengan umi, itu kesalahan orang tuamu sendiri, dan jangan berani menyentuh Suamiku," kata Shafa sedikit membentak.


Cakra tak mengira akhirnya, istrinya itu bisa bangkit dan marah seperti ini.


"apa, kamu menyalahkan semua pada ibuku, ibu mu yang tak tau malu, merebut calon suami kakaknya," kata Marwah.


Shafa mengambil jus jeruk dan menyiramkan pada Marwah, "semoga kamu sadar, mereka bahkan berzina hingga ada dirimu, dan membuat kakek meninggal karena malu, jadi siapa yang hina disini, dan jangan pernah menghina umi," kata Shafa.


tapi dua orang menangkap tangannya, "lepaskan .. siapa kalian brengsek!!" marahnya


"bawa pergi, dan pastikan wanita ini menjauh dari rumah ku, dan jika dia berani datang lagi bereskan,"


"baik bos," jawab mereka semua.


"lepaskan tangan kalian dari tubuhku, lepaskan..." teriaknya.


tapi semua tak menggubrisnya, dia sudah di seret dan di masukkan kedalam mobil Jeep, dan di dalam mobil dia di bius.


Marwah tak akan di bawa ke mana, mobil Jeep itu sampai di pondok pesantren milik ustadz sepuh.


"kenapa kalian datang?" tanya ustadz sepuh melihat Sukri, Wawan, dan Gopur datang dengan pakaian serba hitam.


"kamu ingin mengembalikan wanita sialan ini, dia berani datang untuk mencelakai Bu bos, dan kami hanya membiusnya, tapi lain kali dia berani datang lagi, kemungkinan besar dia akan kehilangan nyawanya," kata Gopur dengan marah.

__ADS_1


"ternyata dia tak berubah,Hani, Salha, Sesa bawa wanita ini ke kamar hukuman," perintah ustadz sepuh.


"baik ustadz sepuh,"


para pria anak buah dari menantunya itu pun pergi begitu saja.


karena mereka akan melakukan sesuatu yang akan membuat semua musuh yang menggerogoti harta keluarga Noviant habis.


dan untuk Cakra, dia sadar ada seseorang yang ingin mengirimkan telur pada istrinya.


sekarang Shafa sedang berada di pelukannya, "sayang sekarang ambil wudhu dan baca Al-Qur'an ya, karena ada seseorang yang ingin melukaimu, jadi mas harus menyelesaikannya," pesan Cakra.


"baik mas,"


Shafa mengikuti perintah suaminya, sedang Cakra keluar dan melihat sosok Wewe gombel.


"mau apa datang kesini, kamu tak mengenalku," kata Cakra dingin.


"aku datang karena perintah tuan ku, jadi tak ada urusan dengan mu, minggir dari jalan ku ..." kata sosok makhluk jahat itu.


Cakra tentu tak melakukan itu, dia melemparkan garam kearah makhluk itu dan membuatnya kesakitan.


pasalnya itu bukan garam krosok biasa, itu adalah garam yang sudah di doakan.


mbak Cipto sejati pun terpental hingga semua sesajen dan perlengkapan perdukunan miliknya hancur.


bahkan dia muntah darah di buatnya, "sebenarnya siapa yang ingin di santet oleh wanita sialan itu, kenapa malah menyerang ku!!" kata dukun itu marah.


Cakra hanya melihat sosok itu terbakar hangus, "kalau belum punya ilmu yang mempuni, jangan harap bisa melawan ku,"


dia pun berjalan masuk kedalam rumah, dan melihat istrinya yang masih membaca Al-Qur'an dengan khusyuk.


dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan mengusik istrinya, "pak bos, kami semua sudah siap, apa kita jalan sekarang?" tanya Wawan yang baru pulang.


"baiklah kita jalan sekarang," kata Cakra yang langsung bersiap.

__ADS_1


karena mereka harus mencari sosok pria yang sedang bersembunyi seperti kecoa itu.


__ADS_2