
Adam berdiri dengan diam disana. Seakan-akan dia pingsan dengan keadaan berdiri. Aku pun mencoba mendekati Adam.
Rupanya benar, Adam tidak menunjukkan reaksi apapun saat aku mendekatinya. Dia tidak sadarkan diri tanpa terbaring.
Tubuhnya pun yang tadinya meningkat pesat, lama kelamaan menyusut dengan perlahan. Muncul suara dari pak Gritz setelah pertarungan itu selesai.
-Adam, Alianne, Matt, Joe, Alice, Alvian dan Xavier kalah. Kalian yang kalah akan dengan cepat menghilang dari Ruangan yang kubuat dan kembali ke dunia nyata. Untuk yang masih bertahan, silahkan melanjutkan permainannya.
Tubuh Adam dan Alianne yang berada di dekatku menghilang seketika.
Tak lama dari pengumuman hal itu, Kroenzi dan Isaak pun datang ke sini.
"Ada apa disini? Aku melihat sebuah ledak..an.."
Kroenzi tampak terkejut ketika melihat suasana tempat ini. Suasana dimana bangunan-bangunan yang runtuh dan hanya menyisakan puing-puingnya.
"Siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?" Isaak bertanya kepadaku.
"Adam dan Alianne. Mereka berdua bertarung sampai tempat ini berubah menjadi seperti yang kau lihat."
"HAH!! Alianne bertarung dengan Adam?"
Sorot wajah Kroenzi terkejut mendengar hal itu.
"Terus, ledakan yang kulihat tadi itu milik siapa?" Isaak bertanya.
"Alianne."
Mereka berdua seperti tak percaya ketika aku menyebut Alianne yang memiliki skill tersebut. Aku mencoba meyakinkan mereka berdua.
"Sejujurnya aku juga tampak tak percaya seperti kalian awal-awal, namun aku melihat pertarungan itu secara langsung dengan jelas. Kalian juga pasti tadi mendengar suara yang terdengar di alat itu bukan?"
"Ya aku mendengarnya, tapi aku tidak tau itu suara siapa. Ketika kami berdua sedang mencoba menerjang ke arah Markas lawan, aku melihat sebuah Ledakan besar terjadi di belakang kami berdua."
"Makanya aku dan Isaak dengan cepat menuju ke arah Ledakan itu terjadi. Namun aku malah terkejut saat melihat tempat ini. Seperti kota mati yang hancur akibat Serangan monster."
Aku tidak menyangkal mereka berdua berkata seperti itu. Aku yang melihatnya cukup dekat saja memang mengira mereka berdua itu Monster. Alianne dengan skill Ledakan yang memiliki daya ledak bagaikan sebuah nuklir, dengan Durability Adam yang sangat kuat sampai-sampai bisa menahan Ledakan itu.
"Lantas orang selain Adam dan Alianne yang kalah juga itu kenapa?" Kroenzi bertanya kepadaku.
"Aku tidak tau kalau tentang hal itu. Sesampainya aku disini, aku sudah melihat mereka sudah terbaring pingsan. Kalau dari pemikiranku, mereka sempat terkena serangan milik Alianne juga."
"Cukup masuk akal dengan omonganmu Raphael."
"Ya sudah, ayok kita langsung menerjang markas musuh agar cepat selesai ini permainannya." Ucap Kroenzi.
Kami bertiga pun langsung pergi menuju ke Markas lawan. Ditengah perjalanan kami, ada sebuah pengumuman dari Pak Gritz.
-Adrianne dan Leiva kalah. Mereka berdua akan kembali ke Dunia nyata.
{Adrianne dan Leiva kalah melawan siapa?}
Kami bertiga pun sepertinya memikirkan hal yang sama.
"Hey Raphael, kau tadi katanya melihat ada orang yang membuat sebuah terowongan di bawah jalan kan?" Kroenzi menanyakan hal itu kepadaku.
"Iya aku lihat."
"Kau tau siapa yang membuat terowongan?"
"Tidak, aku memakai sebuah teropong inframerah saat itu. Jadi aku hanya bisa melihat suhu tubuh mereka."
"Baiklah kalau begitu. Kukira kau tau siapa mereka. Soalnya yang kutahu, Reinhart mempunyai sebuah skill yang memang bisa membuatnya menghancurkan yang berada di depannya dengan mudah."
"Ah.. jadi kau mengira salah satu dari mereka adalah Reinhart ya." Isaak membalas perkataan Kroenzi.
"Iya, kalau memang itu Reinhart, aku ingin pergi kesana."
"Ya sudah kalau memang ingin kesana, aku berdua saja dengan Raphael ke Markas musuh. Kalau kau mau melawan Reinhart cepat kesana. Kuyakin mereka berdua ada di Tempat Adrianne dan Leiva kalah tadi."
"Tapi aku tidak tau tempat Adrianne dan Leiva berada."
"Mereka berada tak jauh dari tempat kita berada saat ini. Kalau tidak salah tadi aku melihatnya di belakang kita. Nanti kau belok ke kiri saja sesudah menemukan sebuah percabangan jalan." Aku memberitahu Kroenzi tempat Adrianne dan Leiva berada tadi.
"Baiklah, terimakasih Raphael atas informasinya."
Kroenzi berbalik arah. Dia berlari kencang ke Tempat Adrianne dan Leiva berada tadi. Sedangkan aku dan Isaak melanjutkan perjalanan ke Tempat Markas lawan.
Kami berdua berbincang masalah strategi selama menuju ke Markas Lawan.
"Hey Raphael, apa kau tau strategi yang bagus saat berada disana?"
"Harusnya aku yang tanya itu. Kau kan yang paling pintar di Kelas."
"Hm… aku tidak tahu kemampuan para Tim Penangkap yang lain. Apa kau tau? Biar aku bisa memikirkan strategi yang tepat setelah itu."
__ADS_1
Aku sebenarnya tidak tahu banyak soal kemampuan yang lain. Tapi, aku tahu kemampuan apa yang dimiliki Vincent.
"Aku hanya tahu kemampuan Vincent, Isaak."
"Apa itu?"
"Vincent mempunyai kemampuan Mind Control. Dia bisa mengendalikan Tubuh targetnya hanya dengan Menatapnya, namun hal itu tidak terlalu efektif apabila yang dia lawan lebih kuat darinya."
"Wah, kenapa tidak memberitahu hal itu dari awal?"
"Kalian tidak bertanya apapun tentang Tim Penangkap."
"Aku tidak memiliki kemampuan untuk melawan Kemampuan itu. Aku hanya punya kemampuan Mengambil Indra mereka."
"Kenapa kau tidak mencoba untuk mengambil Indra Penglihatan Vincent saja?"
Kemampuan itu sangat lumayan bila tahu cara menggunakannya dengan baik.
"Ada resiko dari setiap mengambil Indra orang lain. Aku tidak ingin memaksakan untuk hal itu."
"Apa resikonya? Beritahu cepat."
"Tergantung Indra apa yang kuambil, Indra yang kupunya juga ikut menghilang."
{Kemampuan yang memiliki resiko besar. Kemampuan ini tidak cocok bila untuk bertarung 1 vs 1.}
"Kita berhenti sejenak saja di bangunan itu Isaak." Aku menunjuk ke arah bangunan yang berada di depan.
"Untuk apa?" Tanya Isaak.
"Sudahlah berhenti saja disitu. Nanti akan kujelaskan."
Kita tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan.
"Baiklah."
Kami berdua pun berhenti di bangunan yang memiliki 2 Lantai. Bangunan yang isinya kosong tidak ada apa-apa.
Aku dengan cepat membuat sebuah Alat yang bisa digunakan untuk menghalau Penglihatan Lawan. Sebuah alat yang kunamakan 'Datenschutzbrille' terbuat.
"Kacamata apa itu? Dan… dimana pedangmu yang tadi kau pegang."
"Ini kelemahan dari kemampuanku, setiap kali aku membuat benda yang baru, maka benda yang lama akan menghilang. Dan juga ini adalah Kacamata yang bisa menghalau orang untuk melihat. Di pandangan orang lain itu adalah Kacamata Hitam, sedangkan untuk yang memakainya, itu akan terlihat seperti kacamata Biasa."
"Baru kali ini aku tau secara detail tentang kemampuanmu. Sejujurnya kemampuan mu cukup bagus sih, sayangnya itu hanya bisa untuk 1 alat saja."
"Kau pakai Alat ini Isaak. Ini bisa membantumu untuk melawan Vincent. Kalau dari pandanganku, orang yang memiliki dampak besar di Tim Penangkap bukanlah Adam, tapi Vincent."
"Bagaimana kau tahu hal itu?" Isaak sembari mengambil alat yang kuberikan.
"Aku sudah berteman lama dengannya. Aku tahu betul sifat dan kemampuannya seperti apa. Dia itu bagaikan seorang Pemimpin. Segala yang dia atur pasti akan berjalan dengan mulus tanpa ada gangguan."
"Lalu, kau akan menyerang menggunakan apa jika kemampuanmu hanya digunakan olehku?"
"Gampang, saat di perjalanan tadi aku melihat sebuah batang besi yang tergeletak. Aku akan mengambilnya nanti. Kalau perlu, kau pisahkan Vincent dari yang lain. Kemampuan Vincent lebih efektif bila dia bekerjasama dengan rekan-rekannya."
"Lah? Nanti kau melawan mereka sendirian? Oh iya aku juga bingung dari tadi. Kau bilang kemampuanmu ini memiliki kelemahan untuk alatmu yang lama. Akan hilang bila kau membuat sebuah alat yang baru. Lantas, kenapa Vicantroseo ini tidak ikut menghilang?"
Isaak baru tersadar jika alat Vicantroseo yang kubuat tidak menghilang setelah aku membuat alat-alat yang baru. Aku juga tidak tahu sebenarnya, sebelum aku menyadari suatu hal yang menguntungkan ku.
"Ini bukan alatku, melainkan hanya salinan dari alat yang kubuat. Jadinya alat ini sebenarnya milik Alice yang menyalin tadi."
"Oh… oke-oke aku paham. Kalau begitu kemampuan Alice disini sangat berguna ya? Dan kemampuanmu sangat efektif bila bekerjasama dengan Alice. Lalu, alat yang asli dipakai oleh siapa?"
"Alice. Alice yang memakai alat asli. Sudahlah jangan banyak tanya, kita tidak punya banyak waktu selagi Kroenzi sedang mencari Reinhart."
"Baiklah, aku akan menerobos menggunakan alatmu. Dan akan kupastikan bahwa aku akan membawa Vincent jauh dari rekan-rekannya."
Isaak langsung pergi menuju Markas Musuh. Sedangkan aku pergi ke arah kanan untuk mengambil sebuah batang besi yang kulihat tergeletak tadi tak jauh dari sini.
Selesai mengambilnya, aku menggunakan Vicantroseo ku untuk mengirimkan sebuah informasi pada yang lain.
"Apakah ada seseorang yang mendengar suaraku?"
"Aku. Aku mendengarnya."
"Aku Juga."
Beberapa orang merespon suaraku, aku tidak tahu suara siapa itu. Aku pun memberikan informasi kepada yang lain.
"Aku, Raphael, membutuhkan bantuan untuk melawan Tim Penangkap yang berdiam diri di Markas mereka. Isaak juga sedang menuju kesana untuk melawan, apakah ada dari kalian yang memang sedang tidak bertarung dengan salah satu dari Anggota tim Penangkap?"
"Apa kau serius Raphael mau melawan mereka?"
"Iya, kau tidak sedang berhalusinasi kan?"
__ADS_1
{Jika aku tau suara siapa ini, aku akan mencaci maki mereka karena merendahkanku.}
Aku mencoba sedikit bersabar tentang hal itu.
"Aku serius, Isaak sedang menuju kesana untuk memisahkan Vincent dari yang lain. Aku tidak bisa melawan mereka yang tersisa disana sendirian. Setidaknya aku butuh bantuan dari kalian."
Aku mencoba jujur kepada mereka agar mereka percaya pada kata-kataku.
"Baiklah, aku akan menuju kesana secepatnya. Kau jangan bohong Raphael."
"Aku juga, aku akan menuju kesana."
Karena mereka sudah percaya kata-kataku, maka aku pun pergi menuju Markas Lawan menyusul Isaak yang sedang kesana terlebih dahulu. Berlari dengan cepat menuju kesana
Tiba-tiba ketika aku sedang berlari, seseorang muncul tepat di depanku.
"Halo Raphael, senang bertemu denganmu."
Yang muncul di depanku ternyata adalah Frans Muller. Aku tidak tahu tentang kemampuannya dan aku tidak ingin membuang waktuku untuk melawannya.
{Lebih baik aku menghindari pertarungan dengannya. Untuk situasi ini, aku tidak tau dia memiliki kemampuan apa. Yang jelas, aku harus bergegas cepat menyusul yang lain.} Dalam hatiku.
Aku lari ke arah kiri untuk menghindar dari Frans. Sebelum aku mulai melangkah ke Kiri, Frans sudah menyergap di sebelah kiri. Seakan-akan dia bisa melihat masa depan.
"Mau kemana Raphael? Apa kau pikir bisa kabur dariku?"
Aku pun berbalik arah ke belakang. Dan lagi, sebelum aku bergerak melangkah Frans sudah di belakangku saja.
Aku terkejut dengan Frans yang bisa tau gerak gerik ku. Semua akses jalan yang bisa digunakan makin dipersempit oleh Frans.
"Sudahlah Raphael, menyerah saja. Aku tidak ingin melukaimu."
"Hah! Sombong sekali Frans."
"Hahaha, aku sombong begini karena memang sudah tau siapa yang akan menang. Bahkan sebelum kau melangkah pun aku sudah tahu hasilnya."
Mendengar hal itu aku pun berpikir bahwa Frans memiliki sebuah kemampuan untuk membaca masa depan. Hal ini mempersulit ku untuk bergerak, karena setiap kali aku bergerak, maka Frans sudah tahu lebih dulu kemana aku akan bergerak.
Aku pun mencoba sekali lagi melakukan gerakan melarikan diri untuk memastikan bahwa apakah benar hipotesis ku. Aku langsung berbalik arah dengan cepat. Disaat aku berbalik, Frans pun sudah berada di depanku lagi.
Sepertinya benar hipotesis ku bahwa Frans memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. Hal ini sangat menyulitkan bagiku, mau tidak mau aku harus melawannya agar bisa keluar dari situasi ini.
"Bagaimana Raphael? Mau menyerah saja?"
"Menyerah? Kata-kata itu tidak tercatat di diary ku."
Aku pun melayangkan sebuah serangan dengan gagang besi yang kupegang kepada Frans. Dia bisa menghindari hal itu dengan mudahnya.
"Untuk apa kau melawan Raphael. Kau tidak akan menang dariku." Dengan nada sombong.
"Jangan berkata seperti itu Frans. Takutnya kau termakan omongan mu sendiri."
"Hahaha, lucu sekali kamu Raphael. Baiklah kalau itu maumu." Frans tertawa sambil merapikan rambutnya kebelakang.
Frans pun menyerang ku. Aku segera Menghindar dari serangan itu, namun pukulannya tiba-tiba berubah arah mengenaiku.
Aku terkena serangannya tepat di pipiku. Aku merasa kesakitan saat terkena pukulannya.
"KWAK." Bunyi pukulan.
Aku memegang pipiku, aku merasa ada darah keluar di pipiku. Frans tidak memberiku waktu untuk hal itu, dia menyerangku lagi dengan pola yang sama.
Setiap kali aku menghindari serangannya, arah dari pukulannya pun selalu berubah tepat saat aku menghindar. Sehingga aku selalu terkena pukulan darinya. Mulai dari Pipi hingga bagian tubuhku.
Aku merasakan kesakitan dan tak berdaya di hadapannya. Ini sedikit mengingatkan ku akan kejadian Dungeon Break waktu itu.
{Susah sekali melawannya. Aku tidak bisa bergerak di hadapannya, selalu saja terbaca olehnya.} Ucap isi hatiku.
"Bagaimana Raphael? Ucapanku benar bukan."
Frans tampak memasang Pose menyombongkan diri. Memang benar, sepertinya aku tidak bisa menang darinya kalau memakai cara yang biasa.
{Aku harus berpikir lebih untuk mengalahkannya, ayolah otakku bekerja keraslah untuk saat ini.}
Aku mencoba memaksa otakku bekerja lebih keras dari biasanya agar mendapat ide untuk melawan Kekuatan melihat masa depa milik Frans. Gerakan yang kulakukan hanya terasa sia-sia di depannya. Kekuatan yang sangat langka itu sangat kuat dan tidak bisa dilawan. Aku harus mencari cara agar memenangkan pertarungan ini.
Seketika muncul sebuah suara di dalam kepalaku.
×Kau ingin menang, bocah?
{Suara siapa ini?} Dalam hatiku.
Ketika aku mendengar suara itu, kepalaku langsung merasa pusing. Tidak ada ide lain muncul dalam kepalaku. Pikiranku sudah mencapai batas maksimalnya.
Karena suara itu, aku pun mencoba membalas perkataannya walaupun tidak tau itu suara milik siapa.
__ADS_1
×Aku ingin menang.
Tiba-tiba kesadaranku tiba-tiba menghilang.