Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 66 Burlinsen


__ADS_3

[ Lokasi dari Barang yang anda cari saat ini sedang berada di Distrik Burlinsen. ]


   "Sial! Kenapa harus di daerah sana.." aku mengeluh sambil memukul paha ku.


   Burlinsen merupakan daerah dengan Tingkat Kriminalitas yang cukup tinggi. Setiap harinya terjadi pembunuhan ataupun perampokan di sana. Dan juga, wilayahnya yang sempit dan sedikit tak terjangkau dari pihak kepolisian, membuatnya terlihat bebas dan tak ada satupun Kepolisian yang menjaga di kawasan sana.


    Bahkan ada sebuah Slogan untuk kota itu. 'Kota Tanpa Hukum'. Kata-kata itu cukup melekat di kawasan itu.


    Mereka semua yang berada disana bebas melakukan semaunya tanpa ada hukum yang mengikat. Makanya kawasan itu mempunyai catatan Kriminalitas yang sangat tinggi. Bahkan 85% Kejahatan di Negara Jermuntz, terjadi di kawasan Burlinsen.


    "Bagaimana ini!! Aku sedikit takut untuk pergi ke sana seorang diri. Walau kekuatanku sedikit meningkat, aku tidak tahu dengan persis bahaya apa yang akan menimpaku nantinya." Sambil mengepalkan tangan kananku dan melihatnya.


    Kudengar dari sebuah rumor, sekali kamu masuk ke kawasannya, maka keluar adalah hal yang mustahil. Itu rumor yang cukup mengerikan.


    Ditambah, bisnis illegal seperti Penjualan obat-obatan, malapraktik dan juga prostitusi sangat besar disana. Para Ranker yang biasanya mampu membasmi Dungeon saja, sekali masuk ke daerah situ akan berubah kepribadiannya.


    {Apa aku harus meminta bantuan yang lainnya ya..}


    Tapi kalau aku melibatkan yang lainnya hanya karena masalah yang sepele, itu akan membuat mereka semua merasa kerepotan. Namun, kalau aku sendiri saja tidak akan bisa menemukannya kalau berada di daerah sana.


   Yang terpenting, bagaimana orang yang membawa anting itu berada di kawasan sana. Apakah dia termasuk salah satu penjahat yang melakukan sesuatu disana. Kalau benar begitu, yang pasti itu sudah termasuk ke dalam Kejahatan Pencurian.


   Ahh!! Aku akan memikirkannya besok saja lah. Besok dan seterusnya juga sudah mulai memasuki Libur panjang. Aku memiliki banyak waktu senggang besok.


    Aku berdiri dan pergi mendekati lemari. Menaruh dasi di lemari dan juga mengambil sebuah vitamin untuk kesehatan tubuhku.


  


   Mengambil satu pil dari dalam dan


 menelannya.


   GLUK!!


    Selesai meminum pilnya, aku pun pergi meninggalkan kamarku. Aku pergi ke Lantai bawah menemui Ibunda dan juga Kak Lily.


   "Hmm…" sambil melihat ke Lantai bawah.


    Mereka berdua sudah tidak ada. Apa mereka berdua berada di Ruang Tamu ya…


   Aku menuruni tangga dan berjalan ke arah Ruang Tamu. Aku membuka pintunya setelahnya. Kulihat di Sofa ada Kak Lily dan juga Ibunda yang sedang melihat Televisi. Sesaat aku memasuki Ruangannya, Kak Lily dan Ibunda tampaknya menyadari kehadiranku.


    Mereka berdua melihat ke arahku yang sedang menutup pintunya kembali.


     "Ngapain kamu kesini? Tadi dipanggil malah lari ngibrit!" ucap Kak Lily dengan nada kesalnya.


      "Maaf Kak Lily, Ibunda. Aku tadi sedang terburu-buru." Balasku dengan menundukkan kepala sedikit.


      "Kamu Lily.. jangan suka marahin adik kamu begitu dong. Kali aja dia ada hal yang penting, makanya dia lari begitu," Lanjut Ibunda sambil menepuk pundak Kak Lily.


      "Habisnya Bu.. lari-lari begitu saat di tangga kan cukup bahaya. Bagaimana kalau dia jatuh tiba-tiba? yang ada kan bikin semuanya Panik," jawab Kak Lily.


      Ibunda mengelus Pundak Kak Lily sambil menenangkannya. "Sudahlah Lily, yang tenang. Kamu harus mencoba untuk menahan amarahmu." 


     "Hah…" kak Lily pun menghela nafasnya. "Baiklah Bu.." dengan kepala yang sedikit menunduk dan memejamkan matanya.


    "Kamu Raphael! Lain kali jangan kayak gitu lagi Oke! Itu cukup berbahaya," ungkap Ibunda padaku.


    "Baik Ibunda.." dengan sedikit rasa penyesalan. Jarang sekali aku dinasehati oleh Ibunda, mungkin karena memang kelakuanku tadi sedikit berlebihan.


    "Kalau sudah mengerti semua.. coba maaf-maafan. Kakak Adik harus akur dan tidak boleh bertengkar." Sambil menunjuk ke arahku dan Kak Lily.


    Kalau Ibunda sudah berkata begitu, tidak ada yang bisa menolaknya. Semua keributan yang biasa kami berdua lakukan, Ibunda akan menjadi penengahnya. Aku cukup senang memiliki Ibunda yang seperti ini. Kuharap sikapnya tidak akan berubah suatu saat nanti..

__ADS_1


    Aku pun mendekati Kak Lily dan duduk di sampingnya. Sambil mengulurkan tanganku, aku meminta maaf padanya. "Maaf Kak Lily!" Dengan nada yang lembut.


    "Iya Kakak Maafin.. tapi ingat, Jangan pernah Ngelakuin lagi! Jangan sampai kayak yang waktu itu, kamu ketiduran Bathtub," jawab Kak Lily dengan sedikit emosi di suaranya.


    Kami berdua pun saling bersalaman dan bermaafan. 


    "Gitu dong.. kan Ibu jadi senang melihat kalian berdua akur gini." Ibunda dengan menepuk tangannya tanpa terdengar suara, mata yang sedikit menutup dan senyuman di Wajahnya.


    "Iya Bu.. aku mah emang akur Ama Raphi.. tapi Raphinya aja yang sering membuatku sedikit kesal," balas Kak Lily.


   Hah!! Tumben sekali dia memanggil ku Raphi. Sudah lama panggilan itu tidak muncul dari mulutnya. Terakhir kali aku mendengarnya, mungkin itu saat masih kecil. Dan juga itu jarang sekali. Hanya saat aku dan Kakakku sedang bersamaan dengan Ibunda.


    "Ya sudah, Ibu mau pergi ke Kamar dulu ya.. kalian berdua yang akur ya. Jangan sampai pas Ibunda melihat kalian lagi, kalian masih bertengkar. Ibu akan menghukum kalian langsung." Ucap Ibunda sambil berdiri dari duduknya.


    "Baik Bu.."


     "Baik Ibunda.." 


   Ibunda pun pergi meninggalkan Ruang Tamu. Kini, aku dan Kak Lily sedang berduaan disini. Suasana sedikit hening dengan suara Televisi yang terdengar. 


    "Hey Raphael, kamu sebenarnya tadi terburu-buru ngapain? Memberi pesan kepada Pacarmu itu kah? Yang Nov.. siapa gitu," tanya Kak Lily.


    "Novaria Kak.." aku membenarkan jawabannya.


    "Iya itu Novaria.." 


    Mungkin aku akan berterus terang padanya. Lagi pula Kak Lily bisa menjaga Rahasia dari Ibunda dan juga Ayahanda.


    "Dia sedikit mengalami masalah Kak.. jadi aku mencoba untuk mencari solusinya," balasku dengan wajah yang serius.


    "Masalah apa memangnya?" tanya lagi Kak Lily.


    "Yah.. dia kehilangan Sepasang Anting pemberian Orang Tuanya. Jadi dia terlihat sedih dan tak bersemangat. Aku berniat untuk membantunya sih.. cuman, Antingnya itu ternyata sudah diambil oleh orang lain. Makanya aku sedang mencari solusinya." 


    Sebisa mungkin aku harus merahasiakan tentang aku yang memiliki sebuah Sistem yang berbeda. Aku tak mau Kak Lily tahu Bahwa aku menggunakan Triniade System untuk mencari solusinya.


      "Aku mendengar Informasi dari seseorang, katanya sih itu diambil oleh seseorang yang berada di Distrik Burlinsen." Jawabku dengan berbohong padanya. Walau begitu, masih ada sedikit kejujuran di kata-katanya.


      "Burlinsen!?" Kak Lily tampak terkejut.


      "Iya Kak.. jangan kaget kayak gitu. Padahal cuman nyebut Distrik Burlinsen aja, tapi kagetnya kayak ketemu sama Hantu," ucapku.


     Kak Lily pun menggerakkan tangan Kanannya serta duduk menyender pada sofa. "Tidak Tidak! Burlinsen yang Kriminalitasnya tinggi kan? Kenapa bisa diambil oleh orang yang berada di sana?" tanya Kak Lily.


     "Aku juga ga tahu. Seseorang bilang seperti itu padaku. Aku sebetulnya belum memberitahukannya pada Pacarku," balasku.


    Kak Lily tampak menarik nafas lega. "Syukurlah kalau kamu belum kasih tahu dia. Kalau dikasih tahu, mungkin dia akan nekat pergi ke sana." 


    Aku juga berpikir sama seperti Kak Lily. Lebih baik aku sembunyikan terlebih dahulu Informasi ini dari Novaria. Aku tidak tahu senekat apa dirinya nanti saat aku memberitahu Antingnya ada di dalam Kota Kriminal.


    "Aku juga berniat untuk menyembunyikannya dari dia. Untuk sementara sih.. kalau memang sudah sedikit tenang dia, baru aku akan memberitahunya." Sambil melirik ke atas Televisi sejenak.


    "Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Jangan bilang kamu mau menggantikannya untuk pergi ke sana." Ucap Kak Lily dengan Tangan yang dilipatkan dan Kaki yang disilangkan.


     "Tidak! Aku tidak akan menggantikannya kesana. Aku cukup takut," sanggah ku.


     "Baguslah, kalau kamu nekat pergi ke sana, kamu akan tahu akibatnya nanti." 


    Aku masih sedikit ragu sih kalau mau pergi ke sana. Walau ini masalah yang menyangkut tentang Novaria, ada hal yang memang tidak boleh dipaksakan. Semua kejadian tidak diatur oleh diri sendiri, melainkan kehendak sang ilahi.


    Aku melihat ke arah Televisi yang sedang memberitakan tentang Pembunuhan yang terungkap di Distrik Burlinsen.


    "Begitulah kira-kira kondisi di sana. Para warga tidak pandang bulu dalam hal bunuh membunuh," ucap Kak Lily.

__ADS_1


    Cukup tragis juga pembunuhan yang diberitakan di Televisi ini. Korban di mutilasi dan hanya ditemukan tubuh korban. Bagian tubuh yang lainnya belum ditemukan sama sekali. Kalau anggapanku, sudah pasti bagian tubuh lainnya sudah dijual ke pasar gelap yang ada di sana.


    Melihat mata pencaharian sebagian warga disana berasal dari hal yang illegal, bagi mereka cukup wajar untuk saling membunuh. 


      "Hah.. aku bingung mau bantu kayak gimana." Sambil meletakkan tangan kananku di kepala dan mengelusnya. 


     Apa yang bisa kulakukan untuknya. Kalau aku membelikannya yang baru, rasa sedihnya tidak akan hilang dan mungkin sama sekali tidak akan ada reaksi apa-apa. 


       "Mukamu tampak lesu. Bagaimana bisa masalah yang bukan milikmu kamu pikirkan sekeras mungkin," ungkap Kak Lily.


     Melihat bagaimana Reaksi dia menanggapinya, aku menganggapnya wajar. Tapi, sebagai seorang pasangan, melihat pasanganmu sedih dan bersikap berbeda, serasa kehadiranmu untuknya tidak berarti apa-apa.


     Apalagi Novaria yang biasanya sedikit Agresif, kini seperti kehilangan minatnya. Ahh… aku tidak ingin hubungan yang telah lama kami jalin, tiba-tiba hancur hanya karena sepasang Anting.


     {Meminta bantuan Triniade dan Vania adalah hal yang mustahil untuk saat ini. Dikarenakan mereka tidak bisa berhubungan langsung dengan dunia yang kutempati.} Dengan kedua tangan yang menekuk menutupi area wajahku.


     Hah! Aku pun mengelus rambutku ke belakang dengan kedua tanganku. Lebih baik aku pergi ke Taman Belakang. Semoga saja disana pikiranku bisa lebih Fresh dan bisa memikirkan solusi yang tepat.


    Aku pun berdiri meninggalkan Kak Lily.


    "Kamu mau Kemana?" tanya Kak Lily.


     "Ke Taman Belakang."


     "Ohh.." dengan kedua kaki yang menyilang dan kedua tangan bergenggaman.


    Aku pun membuka pintu dan menutupnya kembali. Pergi ke taman Belakang.


    **************


   Di Taman Belakang..


   Setidaknya aku bisa menenangkan diri sambil melihat cahaya senja dan dikelilingi oleh bunga-bunga indah. Aku merasa, pikiranku yang tadinya terbebani, mulai tenang dengan perlahan. 


   Aku membuka Smartphone ku untuk memastikan bagaimana kabar dari Novaria. 


    -Bienen… apa kamu melihat pesanku?


    Beberapa menit berlalu…


    Masih belum ada respon darinya. Biasanya, saat aku memberinya pesan lewat ponselku, dia selalu meresponnya dengan cepat. Tapi kali ini, boro-boro dibalas. Pesanku dibaca juga tidak. Hah….


    Kesedihannya terlalu mendalam. Mungkin saat ini dia sedang tidur ataupun merenung di kamarnya sembari memikirkan Antingnya. Kasihan sekali Bienenku…


    "Sepertinya aku harus membulatkan tekadku." Sambil mengepalkan kedua tanganku di depan.


    Satu hal yang pasti, nekat adalah solusinya. Agar masalah ini selesai, aku harus memberanikan diriku untuk memasuki distrik itu. Kali ini, aku akan bertaruh kembali dengan sebuah keberuntungan seperti yang Vincent lakukan.


    Aku juga sejak dulu penasaran bagaimana kondisi dan juga tempat di Distrik itu. Apakah sesuai dengan apa yang dirumorkan oleh masyarakat.


      "Aku akan bersiap-siap untuk besok. Lebih baik aku tidur lebih awal dari jadwal agar fisikku bisa Fit besok." 


   Aku pun berdiri dari bangku taman dan mulai bergerak pergi menuju Kamarku. 


   ****************


   Di kamar..


   Aku mengganti bajuku dengan sebuah Pajamas berwarna merah. Merah merupakan warna kesukaanku, layaknya sebuah bunga yang indah saat berwarna merah. Sambil melihat ke arah Kaca di Kamarku, aku mencoba untuk menyisir rambutku ke samping.


    "Yosh.. Tunggu saja Bienen, aku akan mengambil Antingmu yang hilang itu." Dengan bersemangat di depan Kaca.


   Aku pun merebahkan tubuhku 

__ADS_1


dan mulai menutup mataku perlahan. Mencoba untuk tidur dengan ditemani sebuah lagu yang membuat pikiran menjadi Relax dan tenang. Lama kelamaan, aku pun tertidur dengan sendirinya….


    


__ADS_2