
Sepanjang pelajaran Matematika, Guru di depan hanya memberikan materi saja di papan Tulis. Ini sedikit membosankan dibanding pelajaran yang lain. Mau tidak mau, aku tetap menulis materi yang dia sampaikan di Papan Tulis.
Sambil Mencatat, aku sesekali melihat ke arah Luar Jendela. Dalam perasaan nyaman ini, ku ucapkan sedikit kata-kata layaknya seorang Pria Tua. "Dunia bersinar terang disinari sang pusat tata Surya." Sambil memasang raut wajah kagum.
Yah itu kalimat yang kuambil dari salah seorang Motivator sih. Yang artinya, Semua Kehidupan pasti memiliki Pusat yang mereka Kagumi. Pusat yang dimaksud disini adalah Apapun yang menjadi Sorot Utama dalam kehidupan.
Burung-burung melintas di langit yang biru. Pesawat terbang dengan tingginya dan Awan yang bergerak secara perlahan. Semua itu adalah Hal yang sangat patut untuk disyukuri. Cobalah untuk memahami apa arti Dunia yang sebenarnya.
Dunia itu Relatif. Tapi kalau Mensyukuri nikmat itu Wajib. Kalau tak ada Nikmat, mungkin kalian tidak dapat hidup saat ini. Aku tampak senang dengan alam yang masih indah tanpa ada gangguan yang berarti disini.
Sedikit perasaan kagum kuutarakan berkat indahnya ciptaan Tuhan.
"Hey Kamu yang di dekat Jendela."
Seseorang mulai menepuk pundakku saat ini. Aku yang tadinya sedang termenung melihat indahnya alam, mulai menoleh ke arah depan.
"Itu kamu dipanggil guru Raph." Suara Vincent yang kecil.
Guru matematika itu pun menyoroti ku dengan tajam saat ini. Aku pun bertanya padanya.
"Ada apa Pak?" Dengan raut wajah kebingungan.
"Kamu jangan mengalihkan fokus seperti itu ketika bapak sedang memberikan materi. Daritadi bapak memanggil kamu tidak mendengar." Dengan ekspresi wajah kesal dan nada suara yang tinggi.
Karena saking fokusnya aku dengan alam, aku sampai tidak bisa mendengar suara dia. Dengan perasaan yang sedikit menyesalinya, aku pun meminta maaf padanya. "Maaf Pak."
"Fokus dengan pelajarannya. Abaikan hal lain disekitar."
"Baik Pak."
Guru tersebut pun melanjutkan mencatat materinya di Kelas. Seperti biasa, selesai dia memberikan Materi, pasti dia akan melayangkan sebuah pertanyaan kepada para Murid.
"Oke anak-anak. Bapak akan memilih salah satu dari kalian untuk menjawab Soal yang akan bapak berikan." Dengan duduk di Kursi Guru sambil melihat ke arah buku.
Raut wajah mereka semua terlihat seperti tidak ingin dipilih olehnya. Sama saja sih denganku, semoga aku terhindar dari pertanyaannya.
"Oke… Bapak akan Tunjuk Raphael Ignite." Sambil melirik ke arah Murid-murid. Dia kemudian bertanya mengenai diriku. "Mana Raphael?" Sambil lirak lirik ke kanan dan kiri.
Aku pun langsung mengangkat tanganku. "Saya Pak."
"Ternyata kamu toh Raphael Ignite."
Kenapa harus aku sih yang ditunjuk. Semoga aku bisa menjawab pertanyaannya.
"Oke kalau begitu, Dari gambar kubus PQRS TUVW yang sudah bapak buat di papan tulis. Coba hitung Besar Sudut PR dan RW." Sambil menunjuk ke arah kubusnya dengan penggaris panjang.
Soal ini, ini cukup mudah untuk dikerjakan. Aku pun maju ke depan untuk mengerjakan soal yang pak guru berikan. Karena papan tulisnya sudah modern, aku tinggal menggerakkan jariku saja di papan tulisnya. Otomatis akan tertulis disana.
Aku pun coba menghubungkan Garis-garis PR dan RW di dalam kubusnya. Aku pertama-tama menghubungkan Dari P ke R. Kemudian, Aku menggaris kembali Dari garis R ke Garis W. Selanjutnya, aku hanya tinggal menggaris kembali saja dari W ke P.
Akan langsung terlihat sebuah Bangun Datar yang terbuat hasil menghubungkan garis-garisnya. Sebuah Segitiga sama Sisi terbuat berkat garis-garis yang terhubung. Tahap selanjutnya aku hanya tinggal menulis caranya.
[ PR \= RW \= PW > Luas Diagonal Kubus
∆ PRW \= ∆ Sama Sisi. Untuk ∆ sama sisi, memiliki sudut sekitar 60°]
Aku pun sudah selesai mengerjakan soalnya. Tinggal guru tersebut yang menerangkan lebih jelas bagaimana hasil jawabanku itu.
"Oke Bagus, kembali ke tempat dudukmu sekarang."
"Baik Pak."
Aku pun langsung kembali ke tempat duduk ku kembali sesuai dengan yang Pak Guru perintahkan.
"Untuk Soal yang tadi Raphael kerjakan, bisa kalian catat ke dalam buku kalian. Langkah-langkahnya sudah benar. Dan Juga jawabannya pun juga benar."
Mereka semua pun langsung mencatat apa yang kukerjakan tadi. Aku ikut mencatat agar tidak lupa dengan rumusnya.
*************
45 Menit Berjalan.
Suasana masih sama seperti yang tadi. Banyak sekali materi yang diberikan oleh Pak Guru. Tidak semua Murid mencatat apa yang diberikan oleh Pak Guru tersebut. Tak terkecuali diriku. Materi yang diberikannya cukup panjang sehingga aku hanya merangkum sebagian apa yang dia ucapkan.
Tak lama berselang, Bel pun Berbunyi.
"TRRINGG!!"
Pak Guru pun langsung merapikan buku-bukunya yang berada di atas meja.
"Oke anak-anak, karena pelajaran bapak sudah selesai. Kalian bisa mencatat apa yang bapak tulis tadi ya. Jangan sampai nggak nyatet." Sambil menegaskan kembali.
"Baik Pak."
"Bapak pergi dulu."
Pak Guru pun pergi meninggalkan Ruang Kelas. Luci mulai menggerakkan Tangannya ke atas.
"Selesai Juga… Hemm!" Ucap Luci.
"Sepertinya kamu Nyatet semuanya Luci." Aku berbicara padanya.
Dia pun menoleh ke belakang, ke arahku.
__ADS_1
"Hanya Opsional aja. Kalo gak ditulis semuanya nanti di omelin Ama dia."
Yang dimaksud Dia oleh Luci adalah Pak Guru tadi. Memang sih Pak Guru yang tadi itu kurang bersahabat dengan murid. Apalagi Bagaimana cara dia untuk menyampaikan materinya terkesan membosankan dan banyak murid-murid yang mengabaikannya.
"Hahaha." Aku Tertawa.
Aku pun melihat ke arah Vincent yang dibelakang ku. Tak terduga, seorang Vincent yang dikenal dengan Kepintarannya dalam bidang akademis, tidur di kelas saat ini. Aku pun sedikit terkejut melihatnya tidur dengan nyenyak seperti itu.
"Ini kejadian Langka. Baru kali ini aku melihatnya tertidur di kelas." Dengan raut wajah terpesona.
Tanpa sadar, aku mengeluarkan Smartphone ku dari Tas dan mengarahkan Kamera ke arah Vincent.
Dan tanpa sadar juga aku Memencet Tombol Memotretnya. Sebuah cahaya Flash dengan suara pun menyertainya. "CEKREK!".
Suara yang cukup keras itu terdengar oleh Seisi Kelas. Mereka mulai melihat ke arahku seketika.
"Suara Apa Itu?" Ucap Joseph dari bangku paling kanan.
Aku yang menyembunyikan ponselku di kolong meja pun langsung memasang muka seolah tak tau apa-apa sambil bersiul.
"Fuu..fuu..fuu." Suara Siulan yang kubuat.
"Mungkin hanya salah dengar saja." Aku berbicara kepada mereka semua.
Mereka semua pun kembali seperti semula. Aku langsung mengelus dada dengan perasaan Lega.
"Kirain bakal Ketahuan." Dengan Raut wajah sedikit panik.
Vincent pun sepertinya masih tidur dengan nyenyak walaupun terdengar suara keras itu. Yah aku biarkan saja dia tertidur seperti itu. Lagipula mungkin dia memang sangat mengantuk sehingga memaksanya tertidur di kelas.
"Itu tumben Vincent tidur disini Raph." Leon dari Samping kananku.
"Ga tau tuh. Aku juga heran." Sambil mengangkat kedua pundak sejenak.
"Gak kamu Bangunin?"
"Biarin aja Leon. Mungkin dia kecapekan." Sambil melirik ke arah Vincent yang tertidur.
Leon pun melirik ke arah Vincent dengan kepalanya yang bergerak ke bawah sedikit.
"Oh iya Raph. Main Legend of Fight yuk!" Dengan mengeluarkan Smartphonenya.
"Ajak yang lain Juga Leon. Biar enak mainnya." Dengan Tanganku yang sedang mencoba mengambil Smartphone di kolong meja.
Dia tampak melirik ke arah Luci dan Gary.
"Ci, Luci. Luci!." Dari nada pelan sampai ke nada Keras memanggil nama Luci.
Luci pun sepertinya mendengar seseorang memanggilnya langsung melirik ke sumber suara. Dia melirik ke arah Leon. "Apa?" Sambil Menggerakkan kepalanya ke belakang sedikit.
"Pas banget. Ayok, Aku login sekarang."
Luci pun langsung login ke dalam Gamenya.
"Kurang 1 berarti ya. Hmm… Vincent lagi tidur." Leon memasang Ekspresi bingung.
"Ajak Xavier aja Leon." Ucap diriku kepadanya.
Leon pun langsung menjentikkan jarinya. "Betul juga." Dengan semangat. Leon pun mencoba untuk mencolek Gordon yang berada di sampingnya. Sepertinya dia Meminta bantuan Gordon untuk memanggil Xavier.
Leon pun menunjukkan kembali layar smartphonenya setelah Xavier melihat ke dirinya. Xavier terlihat mengacungkan jempolnya sebagai tanda tawaran yang diterima. Kami berlima pun akhirnya berada di dalam Lobby.
"Mulai nih Ya?" Leon yang menjadi Game Master Lobby.
"Cepet Leon." Luci yang tak sabar karena ingin memulai pertandingannya.
"Oke." Leon pun langsung memencet tombol Start Matchnya.
Kami menunggu sejenak agar mendapat Lawan. Setelah mendapat lawan, kami dialihkan ke Bagian Draft Pick untuk memilih Hero-heronya.
Sesuai Komposisi Party, aku menggunakan Role Support untuk membantu tim yang lain. Seperti yang sudah dijelaskan pada Sebelumnya, Role support itu playstylenya cukup mudah. Kalian cukup membantu Damage Dealt ataupun Killer mengangkat Gamenya.
Kami semua bermain dengan Hero-Hero utama kami. Itu yang memudahkan kami semua dalam memenangkan Match kali ini. Kami menang mudah dengan Skor Telak 21-3.
"Main Lagi?" Ucap Leon.
Sebenarnya aku lumayan Was-was karena ini masih jam-jam pelajaran. Aku bertanya padanya apa tidak ada Guru yang hadir saat ini.
"Gak ada Guru yang masuk habis ini?"
"Gak tau juga sih. Memangnya sekarang kita lagi pelajaran apa?" Leon malah balik bertanya padaku.
"Sekarang sih Pelajaran Pengetahuan Alam." Ucap Luci.
Pelajaran Pengetahuan Alam ya.. aku tidak tau apakah Bu Gracia masuk apa tidak.
"Bu Gracia hadir gak sih tadi?" Aku bertanya pada mereka berdua.
"Aku gak lihat Bu Gracia sih dari tadi pagi. Coba aku tanya bentar ke Novaria Ama Alice. Barangkali mereka tahu." Leon dengan ekspresi bingungnya.
Leon pun mencolek pundak Novaria yang duduk di depannya.
"Nov." Sambil mencolek pundak Novaria.
__ADS_1
Novaria pun berbalik arah ke Leon.
"Apa?" Dengan ekspresi muka yang sedikit datar.
"Kamu lihat Bu Gracia gak tadi?" Sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
"Bukannya Bu Gracia bilang kalau dia gak masuk ke kelas ya?"
Wah.. Jam kosong lagi sepertinya.
"Oke Makasih Informasinya." Sambil mengacungkan jempol.
Leon pun tampak senang sekali mendengar hal itu. Matanya berbinar-binar.
"Lanjut aja ayok." Leon dengan Ekspresi ceria terlihat di wajahnya.
Kami semua pun Bermain sampai Waktu pulang Tiba.
****************
Waktu pulang sudah tiba. Seperti yang tadi di rencanakan, Aku, Leon, Novaria dan Alice berencana untuk pergi bermain ke Game Center bersamaan. Kelas sudah sepi dikarenakan semuanya sudah pulang.
Namun, Vincent masih tertidur pulas di tempat duduknya itu. Aku pun membangunkannya karena waktu sekolah sudah usai. Aku menggerakkan pundaknya seraya berkata, "Vin bangun Vin. Sudah pulang ini. Kamu ga mau pulang kah?".
Vincent pun terbangun. Matanya merah karena efek habis tertidur itu. Dia langsung terbangun dengan tatapan mata yang tampak mengantuk. Dengan Wajah yang sayu, dia merapikan barang-barangnya. Aku khawatir dengan kondisinya yang mengantuk seperti itu.
"Vin Kamu bawa kendaraan?" Dengan ekspresi sedikit cemas.
"Bawa. Memangnya kenapa?" Dengan nada lemas.
Dengan kondisi seperti itu, cukup mengkhawatirkan. Apa sebaiknya aku mengajaknya juga ya pergi ke Game Center. Tapi sebelum itu, aku harus meminta izin kepada mereka bertiga.
"Nov, Leon, Alice. Bolehkah aku juga ajak Vincent?" Dengan ekspresi khawatir.
Mereka semua tampaknya juga berpikiran hal yang sama sepertiku.
"Bawa aja Raph. Khawatir juga nanti di jalan kenapa-kenapa." Ucap Novaria.
"Iya ajak aja." Ucap Leon.
Karena mereka semua menerimanya, aku pun berkata kepada Vincent untuk ikut denganku. Aku berbicara padanya yang masih kondisi setengah sadar itu.
"Vin. Ikut aku aja. Aku lumayan khawatir dengan kondisimu yang seperti itu. Aku tidak ingin kamu terjadi apa-apa nantinya."
Dia melihatku secara perlahan dengan muka yang masam itu. Dia berbicara padaku dengan nada yang pelan. "Pergi kemana?".
"Main di Game Center. Udah pokoknya ikut aja." Dengan memaksa.
"Iya Vin. Ikut aja, makin rame makin bagus kok. Dari pada mengemudi mobil sendirian." Ucap Leon.
"Ya udah lah. Aku ikut kalian semua. Tapi sebentar aku ngerapihin barang dulu."
Aku membantunya Mengemas barang-barangnya agar lebih cepat. Setelah semua barang milik Vincent sudah dimasukkan ke tasnya, dia langsung menenteng tasnya di pundak. Kami semua pun pergi menuju arah Parkiran.
Di Luar sekolah, aku bertanya pada Vincent apa yang membuat dia tertidur di kelas.
"Tumben-tumbenan kamu tidur di sekolah. Emangnya kamu gak tidur semalam?"
"Tidur. Cuman tadi pas pelajaran Matematika tiba-tiba mataku terasa mengantuk sekali. Akhirnya tidur aja."
"Memang membosankan sih pelajaran matematika. Aku saja tadi juga rasanya ingin tidur mendengar gurunya menerangkan Materi." Ucap Alice.
"Tapi gapapa lah kamu tidur di kelas juga. Daripada memaksa untuk matamu terbuka lebar. Mending langsung pasrahkan untuk tertidur." Ucap Leon.
Kami semua pun sampai di parkiran setelah mengobrol saat berjalan. Vincent pun masuk ke dalam Mobilnya. Diikuti dengan Leon dan Alice yang berada di 1 Mobil. Sedangkan aku, aku memberikan Helmku kepada Novaria untuk dia pakai.
"Nih Pakai Nov." Sambil memberikan Helmku padanya.
"E-ehh.. ini kan Helm kamu."
"Sudah pakai saja. Biar aku beli nanti di jalan." Dengan ekspresi memaksanya.
"Ba-baiklah."
Akupun memasukkan kunci ke dalam Lubang kunci motornya. Kugerakkan ke kanan untuk menyalakan mesinnya.
"BRUMM!" Suara Mesin.
Setelah mesin Menyala, aku menyuruh Novaria untuk naik.
"Naik Nov." Dengan berada di atas motor sambil memegangi Stang.
Novaria pun naik ke motornya tanpa berbicara. Aku memanaskan sebentar mesin motorku.
Setelah beberapa lama, kurasa mesin motor sudah panas. Aku pun memberitahu pada yang lain untuk segera jalan ke tempat Game Centernya.
"Duluan Leon. Kamu yang tahu arahnya." Sambil berteriak.
Dari balik jendela Mobil, Leon pun mengacungkan jempolnya. Dia memegang stirnya dengan serius kemudian Mobilnya pun berjalan. Vincent mengikuti Mobilnya kemudian.
Aku pun langsung mengoper gigi ke Gigi 1 agar motornya berjalan. Tak lupa, aku meminta Novaria untuk berpegangan Agar tidak jatuh.
"Pegangan Nov." Sambil menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Dia pun sepertinya sudah memegang Baju Ku. Aku langsung tancap gas mengikuti Mobil mereka berdua….