
Di Kelas, kondisi sudah lumayan ramai. Banyak murid - murid yang sedang berbincang bincang. Novaria yang berada di samping ku tidak ingin melepaskan pegangannya. Ini sifat yang tak pernah kulihat dari Novaria.
Aku sedikit terkejut melihat Novaria yang agresif seperti itu. Akan tetapi ini tak buruk juga, dia secara terang-terangan bersikap seperti itu padaku. Justru itulah yang aku inginkan ketika sudah berpacaran. Tidak ada yang di sembunyikan satu sama lain.
"Pagi semuanya." Ucap Leon sambil menyapa semua yang ada di Kelas.
Seisi kelas pun membalas ucapan Leon, "Pagi juga." Dengan senyuman.
Yang lainnya pun mulai melirik ke arahku serta Novaria. Dengan senyuman yang sedikit menyeramkan pastinya. Aku pun langsung duduk di bangku ku diikuti dengan Novaria yang terus menempel.
Aku sedikit memaklumi sikapnya karena mungkin dia sangat bahagia kali ini. Namun, kalau begini terus aku tidak bisa duduk dengan tenang. Aku pun mencoba untuk menasehatinya dengan selembut mungkin.
"No-Nov.. kamu duduk aja di kursimu. Aku sedikit merasa.." aku mencoba untuk membuatnya paham apa yang ingin ku katakan.
"Tidak Mau!" Tolak Novaria.
Aih.. sepertinya memang dia selalu ingin di dekatku. Terpaksa aku harus melakukan dengan sedikit kasar. Sebab, aku merasa banyak sekali tatapan-tatapan yang mengarah padaku.
Aku pun memegang kedua pundaknya. "Ehh!" Novaria sedikit terkejut dan melihat ke arah Wajahku.
Aku pun sedikit memasang wajah serius ke arahnya. dengan membisikkan sebuah kalimat, "Aku merasa tidak enak dilihat orang lain. Dikiranya kita gak bermoral sama sekali bermesraan di kelas." Dengan nada lembut selembut sutra.
Novaria pun menoleh ke arah seisi kelas. Dia sepertinya sudah sadar bahwa yang lain sedang menatap ke arahnya. Dia pun mulai membisikkan sesuatu juga kepadaku.
"Maaf ya Raphael.. aku sedikit…" dengan raut wajah yang menyesal. Aku pun mencoba untuk menenangkannya yang sepertinya sedikit kecewa itu. Aku tidak ingin melihat wajah pacarku yang digenangi oleh air mata kembali.
"Sudah tidak apa-apa. Aku paham kok." Sambil memberikan Senyuman.
Akhirnya Novaria pun kembali ke Tempat Duduknya. Semoga saja kata-kataku tadi tidak menyinggung hatinya.
Bunyi Bell pun terdengar.
TRINGGG
Mereka semua yang tadinya berdiri langsung segera duduk setelah mendengar bel itu. Aku pun melihat ke arah Belakangku. Vincent belum kunjung datang, dan juga dia tidak mengabariku bahwa dia tidak masuk.
Aku sedikit mengkhawatirkannya. Sebab Sifat Vincent yang suka mengantuk sepanjang hari itu sangat berbahaya ketika membawa kendaraannya. Semoga saja hari ini dia tidak membawa kendaraan sendiri.
Seseorang pun datang… itu adalah Vincent yang tampaknya kelelahan. Sepertinya dia berlari di Koridor untuk menuju ke Kelas.
Dia pun berjalan menuju ke Tempat Duduknya yang berada di belakangku. Dengan nafas yang tertatih-tatih itu, sepertinya dia sangat kelelahan. Dan juga tumben - tumbennya dia datang hampir telat.
Dia pun menaruh tasnya dan segera duduk. Aku pun mencoba untuk mengajaknya berbicara, "Oy Vin, tumben banget kamu baru datang. Biasanya sebelum aku datang kamu udah datang duluan," Tanya ku.
Dia pun menjawabnya dengan ekspresi lelah dan nafas yang tak karuan, "A..aku..Ahh.. Capek banget…" dia berhenti berbicara di tengah-tengah. Sepertinya dia sangat lelah sekali. Aku pun menunggunya sejenak.
Dia pun mengambil sebotol minuman dari Tasnya dan meminum airnya. Dia meneguk air itu dengan sekali tegukan besar. Aku sedikit tertawa melihat dirinya yang meminum seperti itu. Karena menurutku itu lucu di mataku.
Coba saja, seorang Vincent yang dikenal sebagai seorang yang tenang, kali ini dia terlihat terburu-buru. Betapa keterbalikannya itu dengan sifat biasanya.
"Ahh! Leganya.." Ucap Vincent dengan raut wajah lega setelah meminum air.
Dia pun menaruh kembali Botol Minumannya, "Kenapa tadi Raph?" Tanya Vincent.
"Tumben banget baru datang. Biasanya kamu pagi banget." Aku mengulangi kata-kata ku kembali.
__ADS_1
"Ohh.. jadwal kereta tadi sempat Delay. Makanya jadi agak sedikit telat, tapi untung gurunya belum Datang."
Syukurlah dia tidak membawa kendaraan sendiri. Aku jadi bisa sedikit memperhatikannya saat pulang nanti. Mungkin akan kuajak sekalian untuk pulang bareng denganku.
Disaat kami sedang berbincang, Guru Musik kami masuk ke dalam Kelas. Bu Caroline Wozniacki yang berasal dari negara Russazy. Rambut Blondenya serta Bola matanya yang berwarna Biru layaknya seorang bangsawan membuatnya terlihat elegan.
Sikapnya yang seolah-olah seperti seorang model itu cocok dengan pelajaran yang diajarkan. Mengajarkan sebuah Kelas Musik kepada Kelas A saja. Ini merupakan Pelajaran yang sangat kunantikan. Karena aku bisa bermain berbagai alat musik yang disediakan sekolah sembari belajar tentang nada-nada yang indah.
"Anak-Anak.. untuk hari ini mungkin kita akan melakukan penilaian ya," Ucap Bu Caroline.
Penilaian??? Boleh juga. Aku merasa tidak keberatan dengan penilaian mendadak seperti itu. Lagipula aku cukup percaya diri dengan kemampuan ku dalam bermain alat-alat yang menghasilkan sumber suara indah.
"Bu! Kenapa mendadak banget." Ucap Tom sambil berdiri.
"Iya Bu kenapa mendadak ngasih tahunya." Sahut sebagian isi kelas.
Kebanyakan dari mereka melayangkan sebuah protes kepada Bu Caroline. Namun, Bu Caroline membalasnya dengan baik.
"Karena kemungkinan Seminggu lagi kalian bakal ada Ujian Tengah Semester. Makanya Ibu mau mengambil Nilai hari ini Juga." Balas Bu Caroline dengan tenang.
Mereka semua pun tidak ada yang menyanggah kembali. Sekarang semuanya sudah duduk dengan tenang dan pasrah pada keadaannya.
"Kita ke Ruang Musik sekarang ya!" Ajak Bu Caroline.
Bu Caroline pun pergi meninggalkan Kelas. Kami semua pun segera berdiri dan mengikuti perintah yang diberikan oleh Bu Caroline.
"Kenapa harus hari ini sih! Aku kan belum siap," Ucap Vincent dengan ekspresi kesalnya.
"Gapapa Vin. Daripada ga ada nilai sama sekali nanti." Balasku sambil menepuk pundak kanannya.
"Ya itu mah salahmu sendiri. Padahal sudah diberikan fasilitas tapi tidak kamu pakai dengan baik." Balasku dengan sedikit tinggi.
"Hah…dapet nilai jelek ini pasti." Vincent sambil menghela nafasnya dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Yaudah sih, mendingan dapat nilai jelek daripada ga ada sama sekali."
Kami berdua pun bergegas pergi menuju Ruang Musik yang berada di Lantai 3. Kami perlu menaiki 1 Lantai lagi untuk menuju kesana. Novaria, Leon serta Alice pun mendekati kami berdua.
"Kenapa sih Bu Caroline kalo ngasih info mendadak Banget!" Gerutu Alice sambil menaikkan alisnya dan melebarkan matanya.
"Kan emang kebiasaannya seperti itu. Dia suka banget ngasih info yang mendadak. Kayak Bulan kemaren aja, dia ngasih info ada Penilaian juga dikasih tahunya pas hari itu juga." Balas Leon.
"Kamu sepertinya biasa aja ya Rapha, gak kayak yang lain kayak Gelisah gitu mukanya." Ucap Novaria kepadaku.
Ya aku sih gak terlalu memikirkan soal itu. Mau bagus atau tidak, yang penting aku memiliki nilai dan tidak kosong. Tapi untuk membalasnya, mungkin aku akan sedikit menyombongkan diriku sendiri di depan Pacarku yang manis ini.
"Aku sudah terbiasa memainkan alat musik. Jadi aku merasa percaya diri untuk penilaian nya. Apalagi aku sudah lumayan ahli memainkan berbagai Alat Musik." Dengan membusungkan dadaku layaknya seorang yang sudah Ahli.
"Tch! Bisa-bisanya malah nyombongin diri." Ujar Vincent dengan raut wajah kesalnya.
"Hahaha…bercanda-bercanda. Intinya aku sih gak terlalu peduli soal nilai. Yang penting aku bisa nangkep materinya itu udah cukup kok." Balasku dengan Tertawa untuk mencairkan suasana yang sedikit mencekam ini.
"Wah!! Rapha ku memang bisa apa aja ya." Ucap Novaria dengan wajah kagum dengan kedua tangannya saling berpegangan serta kedua matanya yang terbuka lebar.
Aa.. aku tidak bisa menahan keimutannya. Rasanya aku ingin mencubit wajahnya yang imut itu.
__ADS_1
"Bisa aja sih Nova ku!" Dengan Perasaan greget sambil mencubit pipinya yang tembem itu.
"Hehe.." Novaria pun tertawa saat aku mencubit pipinya.
Tatapan Alice dan Leon tampaknya seperti geram dengan kemesraan ku dan Novaria. Sedangkan Vincent, dia tampak terkejut melihatnya.
"Loh! Kalian berdua udah pacaran kah?" Tahya Vincent dengan ekspresi bingung.
Lah, ku kira dia sudah tahu. Aku juga sedikit aneh dengan yang lain, kenapa dari mereka semua sepertinya tampak heran dengan kami berdua ya. Apa jangan-jangan yang baru tahu hanyalah Leon dan Alice?
"Iya Vin." Jawab Novaria dengan semangat.
"Wah! Selamat ya. Kalau Raphael ngelakuin aneh-aneh bilang aja ke aku Nov." Cetus Vincent sambil menggoda ku.
"Gak mungkin lah," Sanggah ku.
Memangnya aku terlihat seperti seseorang yang ingin melakukan sesuatu yang tidak bermoral apa. Sampai-sampai Vincent mencurigaiku.
"Ya kan bisa aja Sifat Kecilmu nanti terbawa. Dah ah, mending langsung ke Ruang Musiknya aja," Ucap Vincent sambil menggerakkan tangannya dari atas ke bawah, "Nanti marah lagi Bu Caroline kalo kelamaan." Vincent berjalan ke luar kelas.
"Yaudah yuk Nov, kita jalan bareng." Ajak ku sambil menadahkan tangan kananku.
"Ayo Rapha." Novaria pun memegang telapak tangan kananku.
Kami berlima pun berjalan menuju ke Ruang Musik. Diikuti dengan Rombongan yang lainnya yang berada di depan dan belakang. Di barisan depan, ada Leiva, Adrianne, Aaron, Joe, Gordon, Joseph, Michael dan Juga Luci.
Sisanya adanya di belakang ku. Kami berlima pun dengan tipis-tipis mengobrol tentang Kejadian Dungeon Break di Wilayah Hannoser yang tak Kunjung selesai.
"Sebenarnya kalau Marco dan Timnya bisa saja dengan cepat Dungeon itu. Tapi apa daya, mereka memiliki kesibukan masing-masing untuk hal yang lain." Ucap Vincent.
"Tapi aku masih heran Kenapa Gio tidak ingin membantu menyelesaikan Dungeon itu. Sudah banyak Jiwa yang terkorbankan karena Dungeon Break yang masih Ada sejak 2 Minggu lalu." Cetus Leon dengan wajah heran.
Benar juga, selain Marco dan Timnya, masih ada Giovanni Schwarz yang tampaknya tidak memiliki kesibukan. Dia tidak mencoba untuk menyelesaikan Dungeon Break yang ada di Wilayah Hannoser. Apa mungkin dia tidak ingin ikut campur tentang Dungeon Break itu ya..
"Yah kita sebagai pelajar hanya bisa melihat dari Televisi soal Dungeon Break itu. Kemampuan kita belum cukup untuk melibas monster - monster yang ada di dalamnya." Sahut Alice dengan mengangkat kedua telapak tangannya dan menaikkan pundak.
"Walau begitu sepertinya ada tanda-tanda bahwa Kaizo ingin bergabung dalam Raid Dungeon Break itu. Apa berita itu Benar Raph?" Tanya Leon yang menoleh ke arahku.
Sejujurnya aku juga tidak tahu hal apa yang akan dilakukan kak Kaizo. Dia bergerak layaknya seorang bayangan. Tak ada yang tahu kemana dia akan pergi. Dia bisa saja dengan sekejap menghilang dari pandangan orang lain walaupun itu di tempat yang sangat ramai.
"Tidak Tahu…" Ucapku sambil Menaikkan kedua Pundakku, "Kak Kaizo sekarang sepertinya sedang sibuk mengurus urusan Keluarga. Dan Juga dia merupakan Penerus Keluarga Utama nantinya. Jadi mungkin dia tidak akan berpartisipasi dalam Raid Dungeonnya."
Raut wajah mereka seolah-olah kecewa dengan ketidak partisipasinya Kak Kaizo untuk mengatasi Dungeon Break yang sudah menjadi Masalah selama berminggu-minggu. Akibat Dungeon Break itu, Jalanan di sekitar Wilayah Hannoser ditutup demi keamanan warga Sipil.
Dan itu juga Salah satu Jalan Utama Antar Negara yang biasa dipakai Rakyat Jermuntz. Jadi mereka harus memutar lebih jauh Melewati Kawasan Dortzmund untuk sampai ke Negara Netherlands.
"Gausah dipikirin juga soal itu. Kita percayakan saja pada Para Ranker yang selalu mengatasi Dungeon-Dungeon yang ada." Ucap Novaria.
Kata-kata yang keluar dari mulut si Manisku ini memang membuat tenang suasananya. Raut wajah mereka yang tadinya gelisah perlahan kembali seperti layaknya Matahari yang terbit.
"Benar juga Kamu Nov. Hahaha.." Jawab Vincent sambil tertawa. Wajahnya itu tampak ceria kembali, "Masa kita gak sepercaya itu sama Ranker yang lainnya yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk membasmi Monster-monster yang ada di dalam Dungeon." Ungkap Vincent sambil menoleh-noleh ke arah Kami semua.
Kami berlima pun menaiki Tangga menuju Lantai 3 dan menghentikan Pembicaraan soal Dungeon Break Hannoser…
__ADS_1