
Keesokan Harinya….
"TRRINGG…" Alarm Berbunyi.
Aku pun terbangun akibat bunyi itu. Membuka mataku lebar-lebar dan mulai duduk di Kasur. Aku meregangkan tangan-tangan ku keatas.
"Ehmm…" suara ku yang sedang ngulet.
Dengan baju tidur yang kupakai saat ini, aku berdiri dan menggunakan sebuah sandal khusus yang biasa dipakai dalam Ruangan. Aku berjalan menuju Kamar Mandi yang ada di Ruangan ku.
Menyalakan Kran Wastafel dan mencuci muka ku.
"Swishh.." suara air yang mengenai muka.
Aku pun menyempatkan diri untuk berkaca sebentar melihat wajah ku.
"Hmm.. Lumayan cakep untuk hari ini." Sambil memegang dagu ku.
Selanjutnya, aku mengambil Sikat gigi yang berada di sela-sela wastafel. Menaruh pasta gigi ke sikat giginya. Aku pun menyikat gigi-gigiku. Menyikat secara perlahan dan membentuk bulat agar semua sisi tersikat dengan bersih.
Aku mengambil sebuah gelas yang terbuat dari plastik setelahnya. Mengisi gelas tersebut dengan air kran yang mengalir. Aku meminumnya kemudian aku berkumur-kumur untuk membersihkan pasta giginya.
"Buh.." Suara air yang dikeluarkan dari mulutku.
Aku pun menyeringai ke arah Kaca yang ada di depanku. Gigi ku terlihat sangat putih dan terlihat rapi. Berkat diriku yang menjaga gigi-gigi ini dengan baik.
Aku menutup kran wastafelnya dan pergi keluar. Menuju ke Luar Kamar dan mengecek segala keadaan di Mansion. Aku berjalan dengan pelan sembari melihat-lihat Para Pelayan yang mulai bekerja dengan baik.
Aku melihat ke arah Bawah dari lantai 2 yang kupijak saat ini. Dengan kedua tangan bersandar sebuah pegangan kayu yang berada di pinggir. Melihat kesibukan para pelayan yang mulai terjadi.
"Lumayan sibuk juga ya Pagi ini.." gumam diriku.
Pelayan-pelayan itu mulai mengerjakan tugas-tugas yang sudah diberikan padanya masing-masing. Seperti membersihkan halaman Ruangan, membersihkan Lukisan-lukisan para leluhur yang terpajang, dan juga membersihkan segala furniture yang tersedia.
Mereka bekerja dengan terorganisir dan juga cukup baik.
"Selamat Pagi tuan Muda." Suara Joanne.
Aku menoleh ke arahnya.
"Pagi juga."
"Sepertinya kamu sedang melihat pekerjaan mereka semua ya Tuan Muda." Joanne berdiri di sampingku.
"Yah.. sekedar mengecek saja bagaimana cara kerja mereka. Setidaknya itulah bagaimana kegiatan ku dimulai hari ini."
"Hahaha… ucapanmu seperti seorang Pria Tua, Tuan Muda." Joanne terlihat tertawa.
Kami berdua sama-sama melihat bagaimana para pelayan bekerja dari atas.
"Oh iya Tuan Muda, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu." Dengan mengeluarkan secarik surat dari sakunya.
Dia memberikan secarik surat yang dia pegang kepadaku.
"Surat apa ini?" Aku mengambil surat yang diberikan Joanne.
"Ini surat yang kuterima dari Keluarga Cabang yang ada di Japan. Mungkin anda bisa membacanya dan membalas surat itu."
Aku pun membuka isi suratnya.
[謹啓、ジルコン様。私は日本にある分家の当主であり、ある企業との協力関係を築きたいと考えております。会社の詳細は、この手紙にご返信いただいた後、追ってご連絡いたします。この手紙をお読みいただき、ありがとうございました。アカレン・イグナイト」日本支部ファミリー代表より]
{Salam, Zirkon-sama. Saya adalah kepala keluarga cabang di Jepang dan ingin meminta sebuah perizinan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan tertentu. Rincian perusahaan lebih lanjut akan dikirimkan kepada Anda setelah Anda membalas surat ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca surat ini. 'Akaren Ignite' dari perwakilan keluarga cabang Jepang} mengartikan dalam hati.
Sebuah surat resmi untuk meminta perizinan. Sepertinya ini harus kubahas terlebih dahulu dengan ayahanda sebelum membalas suratnya. Aku tidak bisa begitu saja menentukan untuk mengizinkannya atau tidak.
Segala sesuatu merupakan kehendak Ayahanda sebagai Kepala Keluarga Utama. Aku hanya bertugas sebagai pengganti dikala Ayahanda sedang mengurus Keluarga Cabang di Francs.
__ADS_1
Aku pun meminta Joanne untuk menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan saat ini.
"Joanne, tolong siapkan sebuah berkas Perizinan dan taruh diatas Meja Ruang Tamu nanti." Dengan ekspresi serius.
"Baik Tuan Muda, sesuai yang anda perintahkan. Saya akan menyiapkan segala Berkas Perizinan." Dengan berdiri tegak dan kaki membentuk huruf V.
Joanne pun mulai pergi mengarah ke Ruangannya. Aku pun pergi mengarah ke Ruang Tamu yang berada di Bawah.
"Selamat Pagi Tuan Muda." Suara para pelayan.
"Pagi." Dengan mengangkat tangan untuk menyapa mereka.
Di Sela-sela pekerjaan mereka, mereka masih menyempatkan untuk menyapa ku pagi ini.
Sampai di depan Ruang Tamu. Aku membuka Pintu Ruang Tamu yang lumayan besar ini.
"BRET.." Suara pintu yang terdorong.
Aku pun duduk di sofa dengan Baju tidur yang masih terpakai. Aku mengeluarkan Smartphone ku untuk memberi kabar kepada Ayahanda.
Aku menekan halaman Kontak dan mencoba untuk menelpon Ayahanda pagi ini.
"DRIINNGG.." Nada berdering dari smartphonenya.
-Halo.. suara Ayahanda.
Teleponku diangkat olehnya. Aku pun langsung berbicara mengenai Surat tadi.
"Halo Ayahanda."
-Raphael ternyata. Ada apa Nak?
"Jadi begini Ayahanda, aku ingin menyampaikan suatu informasi. Pagi ini, Aku mendapatkan sebuah Surat dari kepala keluarga Cabang Japan."
-Surat tentang apa? Nada bertanya.
-Apa mereka menjelaskan secara detail tentang perusahaannya Nak?
"Dalam isi suratnya, mereka akan menjelaskan lebih lanjut mengenai perusahaannya setelah kita membalas suratnya. Akaren menulis seperti itu di surat."
-Jadi begitu.. apa kamu bisa mengurusnya terlebih dahulu Nak? Cukup membalasnya saja sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Untuk masalah selanjutnya ayah akan membahasnya dengan Akaren nanti.
"Baiklah kalau itu yang Ayahanda minta. Kebetulan aku memang berniat untuk meminta izin biar aku yang mengurusnya. Ternyata pemikiran ayahanda juga sama sepertiku."
-Hahaha… kalau begitu ayah serahkan padamu nak. Suara ayah terdengar sedang tertawa.
"Oh iya Ayahanda, apakah yang lain baik-baik saja disana?"
Aku lumayan khawatir tentang keberadaan mereka semua. Apalagi mereka sedang mengurus masalah tentang menghilangnya Roksy.
-Biar kamu saja yang berbicara dengan Ibumu….
Telepon itu hening sejenak. Sepertinya Ayahanda sedang memberikan Ponselnya kepada Ibunda.
-Halo Raphael…. Suara Ibunda.
"Halo Juga Ibunda… bagaimana kabar Ibunda?" Dengan nada lembut.
-Ibu baik Nak.. bagaimana dengan kamu? Kamu juga baik-baik saja kan?
"Baik Kok Ibunda… Ibunda disana lagi ngapain?" Aku bertanya padanya.
-Ibunda lagi berkumpul sejenak dengan Keluarga Cabang disini. Biar ibu alihkan menjadi Video Call sebentar ya..
Karena Ibunda bilang seperti itu, aku menjauhkan Smartphone ku dari telinga. Layar Smartphone ku berubah menjadi Sebuah Rekaman yang menunjukkan dirinya.
"Halo Ibunda.." aku sambil melambaikan tangan ke Smartphone.
__ADS_1
"Kamu baru bangun tidur ya Raphael?" Ibunda dengan menunjuk sesuatu dari layar.
"Hahaha… iya Ibunda. Aku baru bangun tidur tadi." Sambil tertawa.
"Nih Ibu tunjukkan Layarnya ke Kakak mu."
Layar Smartphone berganti menjadi Wajah Kak Lily.
"Ciss.. Kakak cantikmu disini Loh.." Kak Lily dengan Jarinya Memasang Tanda 'Peace' di matanya.
Hahaha… dia sok imut di depan ku lagi. Yah, kalau gak begini bukan Kak Lily namanya. Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya itu.
"Seperti biasa ya Kak Lily. Tampak ceria walaupun terlihat seperti sok imut begitu di depan ku. Hahaha." Tertawa terbahak-bahak.
"Heh… awas kamu loh ya nanti. Kakak Usilin pas sudah pulang." Tampak memasang wajah kesal.
"Bercanda Kak."
Disaat aku sedang Video Call dengan Kak Lily, Joanne masuk ke dalam Ruang Tamu. Aku menyadari keberadaannya itu dan menoleh ke arahnya. Aku silent sejenak Voice Smartphoneku.
"Ini Tuan Muda berkas-berkas yang tadi anda minta." Sambil menaruh Berkas-berkas lumayan tebal di Atas Meja.
"Terima Kasih Joanne."
"Sama-sama Tuan Muda. Kalau begitu saya pamit pergi dulu." Dengan sebuah penghormatan membungkukkan badan serta ujung jari tangan kanan yang menyentuh dada.
Joanne pun pergi meninggalkan Ruangannya. Karena berkas-berkas yang ada sudah disiapkan disini, aku pun berpamitan pada Kak Lily untuk mengurus berkas-berkasnya. Aku pun membuka Voice ku kembali.
"Maaf Kak Lily.. tadi ada Joanne masuk. Jadi ku silent sebentar Voicenya." Dengan ekspresi serius.
"Santai-santai." Kak Lily tampak menggerakkan telapak tangan kanannya.
"Ya sudah Kak Lily. Aku matikan dulu ya Teleponnya. Aku mau mengurus berkas-berkas dulu."
"Oke Raphael. Dah.. emmuach." Kak Lily tampak memberikan kecupan bibirnya ke arahku.
Aku pun mematikan Teleponnya dan membaca berkas-berkas yang disiapkan Joanne.
"Hmm.. lumayan ribet juga prosedurnya." Sambil melihat salah satu berkas yang kupegang.
Aku pun melanjutkan membaca lembar per lembar Berkas-berkas ini. Melihat dengan detail dan juga mencoba untuk memahami secara lebih dalam isi dokumen-dokumennya.
"Prosedur perizinan dilakukan secara mendalam dan bertahap. Yang artinya… mungkin perlu ada pertemuan antar kepala keluarga untuk membahas lebih lanjut. Kalau begitu, sepertinya aku tidak bisa mengurus bagian yang ini."
Lumayan rumit juga ya.. pantas saja kulihat Ayahanda selalu sibuk dengan berkas-berkasnya. Kalau serumit ini, mungkin Ayahanda sangat jenius dalam memahami arti-arti tulisan yang tertulis.
Aku membaca salah satu lembar kertas yang berisi tentang tahapan berkomunikasi.
[ Sebelum melakukan peresmian, kedua belah pihak diminta untuk melakukan komunikasi secara Formal. Untuk memastikan kesiapan antar kedua belah pihak dalam Tahapan selanjutnya. Diperlukan masing-masing untuk menulis surat Resmi dari Kepala Keluarga Utama agar perizinan bisa masuk ke tahap yang lebih lanjut. Diikuti dengan Tanda tangan Salah satu anggota Keluarga Utama yang menandakan bahwa Surat yang dikirim Resmi dari Keluarga Utama ]
Nah.. ini mungkin bisa kulakukan sendiri. Aku pun mencoba untuk mengambil secarik kertas yang ada di Ruang Kerja Ayahanda. Aku pun merapikan terlebih dahulu berkas-berkas yang lumayan berantakan karena kubaca satu persatu.
Selesai merapikan, aku pergi ke Lantai atas. Tepatnya ke Ruang Kerja Ayahanda. Sebelum itu aku harus meminta Kunci Ruangannya kepada Sebastian. Aku bertanya pada salah satu pelayan yang sedang bertugas di lantai atas.
"Permisi Bi, apa Bibi melihat Sebastian?"
Pelayan yang sedang membersihkan Lukisan-lukisan itu menoleh ke arahku seketika.
"Tuan Muda rupanya… Sebastian ya? Tadi bibi lihat Sebastian bersama dengan Joanne menuju ke luar. Mungkin mereka berada di Taman-taman yang ada di Halaman depan." Sambil mengelap Lukisan-lukisannya.
Berkat informasinya itu, aku pun lekas pergi ke luar sesuai dengan apa yang pelayan itu katakan.
"Terima kasih Bi." Sambil berjalan pergi menuju tangga.
"Sama-sama Tuan Muda."
Aku menuruni tangga dengan cepat. Berlari menuju arah Luar dan membuka Pintunya dari dalam. Diluar, aku melihat Joanne dan Sebastian sedang berbincang bersama di tengah-tengah Taman Itu.
__ADS_1
Aku pun mendekati mereka berdua…..