
Murid-murid bergegas berdiri dari duduknya. Aku berniat untuk membentuk tim bersama Leon dan Vincent. Dengan cepat aku mengarah ke mereka berdua yang berada di depanku.
"Vin, Leon." Ucap ku.
Mereka berdua langsung berbalik mengarah ke arahku.
"Ada apa?" tanya Leon dan Vincent secara bersamaan.
"Satu tim yuk. Aku bingung mau bentuk tim sama siapa." Dengan sedikit bingung.
"Boleh boleh aja. Lagian juga aku gak tertarik Ama basket," ucap Vincent.
Leon juga sepertinya tak keberatan untuk membentuk tim. "Yaudah tinggal cari sisanya lagi. Menurutmu siapa yang mau masuk ke Tim kita?" tanya ku pada mereka berdua.
Untuk anggota sisa aku harus mencoba untuk merekrut seseorang yang mempunyai kemampuan pada bidang Olahraga. Karena aku dan Vincent kurang mahir dalam bermain basket. Aku juga tak tahu kemampuan Leon dalam bermain basket.
Kalau di satu tim diisi dengan seseorang yang kurang mahir dalam basket, sudah dipastikan sebelum mulai bahwa timnya akan kalah. Begini-begini aku lumayan benci dengan yang namanya kekalahan.
"Siapa ya enaknya.." aku sambil melihat sekeliling mencari orang yang Memiliki potensi besar.
Ahh.. aku melihat seseorang yang sepertinya belum memiliki tim. Sejujurnya aku kurang sedikit suka dengan sikapnya, namun dia adalah orang yang tepat untuk bergabung dalam tim ini. Aku pun mendekati dia.
"Kamu mau kemana Raph?" tanya Leon.
Aku pun membalasnya sembari berjalan mendekati seseorang yang ingin ku rekrut. "Tunggu saja, aku akan membawa 1 orang ke dalam Tim. Kalian tinggal cari 1 orang lagi saja," Ungkapku.
Dia tampak kebingungan melihat sekelilingnya. Upayanya yang sepertinya sedang mencari sebuah tim itu sepertinya akan setuju bila diajak bergabung. Aku pun mencoba untuk memanggilnya yang tampak kebingungan itu.
"Kroenzi!" teriak ku.
Kroenzi pun menoleh ke arahku seketika. Matanya dipenuhi tatapan perak yang menyala ke arahku. Dia pun mengangkat tangannya seketika. "Raph!" Sambil teriak.
Kami pun berbincang-bincang setelahnya. Sepertinya akan mudah untuk mengajaknya bergabung.
"Hey Kawan, sepertinya kamu sedang kebingungan." Aku sambil mengangkat telapak tangan kanan ku.
"Yahh.. aku sedikit kebingungan untuk menentukan Tim. Tidak ada seseorang yang mengajakku." Kroenzi mengelus kepala bagian belakangnya serta sedikit tersenyum.
"Memangnya Reinhart tidak mengajakmu untuk bergabung dalam satu tim?" tanya ku.
Setelah menyebut nama Reinhart, matanya dipenuhi dengan bara api yang menyala. Sepertinya semangat dia muncul ketika aku menyebutkan Nama Reinhart.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU SATU TIM DENGANNYA. KARENA KAMI ADALAH RIVAL!" teriak Kroenzi dengan Bersemangat serta api yang menggebu-gebu.
Sifat yang terlalu berlebihan inilah yang membuatku sedikit tak suka di dekatnya. Namun, aku bisa memanfaatkan dia untuk meraih kemenangan. Postur badannya yang tinggi itu membuat mudah untuk mendapatkan Poin.
"Hahaha..kau tidak terlalu berubah sejak Hit & Run bulan lalu ya." Diriku tertawa tanpa ekspresi untuk membalasnya.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menawarkan dirinya untuk bergabung ke dalam Tim yang kubuat.
"Kroenzi, aku punya sebuah penawaran padamu." Dengan serius.
Semangat yang menggebu-gebu tadi mulai berubah menjadi sebuah ekspresi tenang. Dia mencoba untuk melihat ke arahku dengan serius.
"Penawaran apa?" Alisnya terangkat sebelah.
"Ambisimu untuk mengalahkan Reinhart itu akan ku bantu untuk mewujudkannya lagi." aku melontarkan sebuah kata-kata yang mungkin dia akan menerimanya.
"Apa kau serius? Kau bisa membantuku untuk mengalahkannya lagi?" tanya Kroenzi.
Dengan tatapan yang menusuk tajam untuk menunjukkan keseriusan padanya. "Aku tidak berkata secara Asal. Mudah untuk mengalahkan Reinhart dengan dirimu sebagai Pion utama dan Pusat perhatian," balas ku.
Matanya mulai menelisik, mencari apa ada sebuah kebohongan di mataku. Dia pun berhenti menelisik ke arahku.
"Boleh Raph. Aku akan bergabung dengan tim mu."
Karena seseorang yang sangat dibutuhkan untuk tim maka sudah saatnya untuk kembali. Aku mengajaknya untuk berkumpul dengan Leon dan Vincent yang sepertinya sudah menemukan satu orang lainnya.
"Ikut aku Kroenzi," ajak ku.
Dia pun mengikuti dari belakang. Aku melangkah dengan sedikit cepat. Kumpulan-Kumpulan orang mulai menghalangi ku ketika sedang berjalan. Aku berjalan melewati kerumunan-kerumunan orang dengan melewati celah-celah sempit di antara mereka.
Sampai di Tempat Leon dan Vincent berdiri. Ada Mereka berdua serta Isaak yang berada di dekat mereka berdua. Sepertinya Isaak yang terpilih untuk bergabung dalam tim ini. Aku tidak bisa membayangkan sebuah Komposisi tim seperti ini.
__ADS_1
Dengan Kroenzi yang berperan sebagai Ace dalam tim, Isaak dan Vincent yang bertugas sebagai Small Forward dan Point Guard. Serta aku dan Leon yang mungkin bertugas dalam Hal Defense.
"Aku sudah menemukan 1 orang lagi Raph!" ucap Vincent.
"Iya aku sudah tahu. Aku juga sudah membawa Kroenzi sebagai Peran Utama tim kita." Sambil menunjuk ke arah Kroenzi yang berada di belakangku.
"Osu!"
"Berarti sudah terbentuk ya Timnya. Sisanya mungkin menunggu Arahan Pak Gritz." Ucap Leon.
"Apa sudah memikirkan posisi masing-masing?" tanya Isaak.
"Sudah, Untuk bagian serangan, serahkan saja Pada Kroenzi. Sedangkan kamu dan Vincent akan bertugas dalam Posisi membantu pola serangannya." Sambil menunjuk ke arah mereka bertiga satu per satu.
"Berarti aku denganmu bertugas sebagai Defender ya Raph?" tanya Leon.
"Benar, postur tubuhmu cocok untuk melakukan pertahanan. Sedangkan aku, aku bisa menghalau gerakan - gerakan musuh." Ucap ku dengan serius.
"Baiklah, kalau begitu kita akan bertugas sesuai dengan posisi yang sudah diberikan," balas Leon.
Kami semua pun mulai berdiri saling berdampingan satu sama lain sembari menunggu arahan selanjutnya.
Pak Gritz pun menepuk kedua tangannya. "Anak-anak! Perhatikan bapak sekarang," ucap Pak Gritz.
Semua murid pun menoleh ke arah Pak Gritz. Sepertinya ada arahan selanjutnya yang ingin dia sampaikan. Aku pun melipat tanganku di dada.
"Semua sudah membentuk timnya masing - masing?" tanya Pak Gritz.
Sontak kami semua pun menjawabnya dengan serentak. "Sudah Pak!"
"Oke pertama - tama, bapak ingin meminta 2 orang yang tersisa untuk maju ke depan."
Aku tidak tahu siapa yang tersisa. Aku pun mulai menoleh ke arah kerumunan lainnya. Seseorang pun berjalan ke Depan.
"Saya pak yang tersisa." Jawab Alvian dan Joe sambil mengangkat tangannya serta berjalan ke Depan.
Ternyata Alvian dan Joe seseorang yang tersisa itu. Untuk wasit sepertinya memang dia yang paling tepat. Alvian memiliki filosofi Netral. Yang artinya dia tidak akan memihak kedua belah pihak.
"Oke Alvian yang menjadi wasit ya dan Joe bisa melakukan hal apa saja semaumu. Selanjutnya bapak minta untuk masing - masing tim maju ke depan semuanya."
"Oke untuk permainan pertama, mungkin dimulai dengan Tim yang diwakili oleh Vincent melawan Tim yang diwakili oleh Aaron."
Hah.. Tim ku bermain di putaran pertama melawan Timnya Aaron.. sejujurnya aku berniat untuk bermain di putaran yang kedua nanti. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah pilihan dari Pak Gritz. Mau tidak mau kami semua menyanggupinya.
"Baik Pak.." ucap seluruh anggota Tim ku serta Tim Aaron.
"Untuk yang lain bisa melihat dari Bangku penonton yang di atas. Sekarang Bubar!"
Seluruh Tim kecuali Timku dan Aaron meninggalkan lapangan dan pergi menuju bangku penonton. Seperti formasi yang tadi kuberikan, Kroenzi yang berada di bagian depan, Vincent dan Isaak berada di tengah serta aku dengan Leon berada di bagian belakang.
"Raphael!! Semangat." Teriakan Novaria.
Aku pun menoleh ke arahnya yang duduk di bangku penonton. Aku mengangkat tanganku serta tersenyum ke arahnya. Aku sedikit berterima kasih padanya yang memberikan ku semangat.
"Aaron! Semangat juga! Kalahkan Mereka!" Teriak Adrianne.
Novaria serta Adrianne saling bertatap-tatapan. Gejolak emosi tersirat dalam wajah mereka masing-masing. Sekilas terlihat Aura berwarna Biru dan Putih yang terlihat di antara mereka berdua. Ya-yah.. semoga saja mereka berdua tidak bentrok satu sama lain.
PRIITT
Alvian meniup Peluit. "Perwakilan masing - masing tim, Silahkan maju ke tengah lapangan." Ucap Alvian dengan Peluit yang masih ada di mulutnya. Kroenzi serta Aaron pun maju mengikuti instruksi yang Alvian berikan. Alvian memegang sebuah bola basket di tangannya.
"Tim Aaron siap?" Sambil menunjuk tangannya ke arah Tim Aaron. Mereka semua tampak mengangguk. "Tim Kroenzi siap?" sambil menunjuk ke arah Tim ku. Kami semua pun menganggukkan kepala kami tanda siap.
"Oke berarti langsung saja kita mulai permainannya ya.. Readyy.." ucap Alvian sambil ancang - ancang melempar bolanya. Kroenzi serta Aaron yang bertugas di depan pun langsung bersiap - siap untuk melompat.
Alvian pun mulai melemparkan bolanya tanda pertandingan dimulai. Kroenzi dan Aaron yang saling melompat satu sama lain itu pun berebutan mengambil bola yang melayang di udara. Tangan Kroenzi melemparkan bola basketnya ke arah Tim kami. Bola sekarang sedang dipegang oleh Vincent.
Vincent pun mendrible bolanya sembari bergerak perlahan. Aaron serta Joseph seketika langsung mengepung arah gerak Vincent. Vincent yang tenang itu pun langsung mengoper bolanya kepada Isaak yang berada di Kanan.
Dia melempar bolanya melewati Joseph yang berjaga di sisi kanan. Isaak pun mengambil bola yang melayang menujunya. Dia mendrible sambil berlari menuju Ring lawan. Namun, saat hampir berada di dalam lapangan lawan, Gordon pun menghalau di depannya. Isaak yang melihat Gordon tiba-tiba di depannya pun langsung bergerak ke belakang sedikit.
Mendrible di tempat sambil mencari-cari Ruang Kosong. Melihat Kroenzi yang berada di depan sedang dikepung oleh Norman dan Richard, Isaak pun mulai bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba, di sampingnya ada Leon yang sedang berlari cepat tanpa adanya penjagaan.
__ADS_1
Isaak yang melihat itu langsung mengoper pada Leon yang berlari ke depan itu. Leon pun mampu menangkap bola itu dengan sempurna tanpa melihat ke arah belakang. Dia bergerak tanpa penjagaan dari siapapun. Dia pun langsung memasukkan bolanya dari luar Kotak.
TREK
Bola itu pun masuk ke dalam Ring. 3 skor pertama untuk keunggulan Tim Raphael. Tim lawan pun mulai melancarkan serangan balik setelahnya. Dengan bertumpu pada Aaron sebagai pusat penyerangan. Dengan cepat, Raphael menghalau laju nya. Memakai sebuah strategi Box to Box dalam bertahan.
Menutup seluruh Ruang Kosong yang ada. Raphael pun memandangi arah bolanya. Aaron mendrible bola itu menggunakan kedua tangannya secara bergantian. Membuat arah bola itu berubah-ubah. Aaron pun mencoba memanfaatkan sebuah celah yang dibuat oleh Raphael di kakinya. Dia melemparkan bolanya ke bawah memantul melewati kolong kaki sembari melakukan sebuah gerakan Pivot.
Dia pun berhasil menembus dan melakukan sebuah dunk setelahnya. Dia mengelap keringat di pipinya menggunakan tangan setelah mencetak skor. Adrianne yang melihat pujaan hatinya mencetak skor melewati Raphael pun berteriak kegirangan. "YEAY!! Aaron.. Aaron." Sambil bertepuk tangan.
Novaria yang melihat Adrianne berteriak kegirangan itu sedikit merasakan kekesalan dalam hatinya. Ini merupakan sebuah pertarungan pendukung para pujaan hati.
"Maaf!" Ucap Raphael kepada Timnya.
"Santai saja, lagian juga baru mulai." Leon menenangkan Raphael yang merasa kecewa dengan performanya.
Leon pun mengambil bolanya dan melemparkannya pada Raphael yang berada di depannya. Entah apa yang ada di pikiran Raphael, sesaat dia memegang bolanya, dia langsung melemparkan bolanya ke arah Ring Lawan. Dia melemparkan sekuat mungkin secara menyamping. Dan… TSS! Bola itu masuk ke dalam Ring.
Semua orang yang melihat itu pun langsung termenung seketika. Melihat bola itu masuk setelah dilempar dari Ring Timnya. Dari ujung ke ujung. Dengan tatapan matanya yang serius itu, kini Raphael sedang memasuki Mode Rigorous. Mode dimana dia akan memfokuskan pandangan serta pemikirannya sendiri tanpa terhalang oleh yang lain.
"Sial! Aku jadi semangat kembali untuk mengalahkannya," ujar Frans dari bangku penonton.
"YEY!! Raphael ku memang yang terbaik…" Teriak Novaria sambil melirik ke arah Adrianne yang berada di sampingnya. Adrianne yang melihat lirikan Novaria itu pun langsung mengernyitkan dahinya seolah-olah kesal.
"AYO!! Aaron.." Teriak Adrianne menyemangati.
Mereka berdua dipenuhi oleh rasa permusuhan. Kini permainan dimulai kembali dari sisi tim Aaron. Norman mulai melemparkan bolanya kepada Richard. Kroenzi yang menghalanginya pun masih bisa dilewati dengan mudah. Kemudian dia mengoper kembali ke arah Aaron yang berada di area lawan. Namun, sebelum Aaron sempat untuk mengambilnya, Raphael memotong arah operannya itu.
Dia pun langsung berlari sembari mendribbling bolanya dengan cepat. Walau Richard dan Norman yang sudah menghalanginya, Raphael dengan mudahnya melewati mereka berdua dan melakukan sebuah Tembakan Lay-up. Raphael dengan Mode Rigorousnya saat ini tidak bisa diimbangi dengan permainan yang biasa.
"Bagaimana cara kita menghentikan dia?" tanya Norman.
"Aku tidak tahu. Cara dia memotong arah bolanya itu tidak biasa. Seperti dia akan tahu bagaimana arah bolanya bekerja." Balas Aaron dengan gelisah.
Mereka semua bermain seperti biasa. Namun semuanya itu hanyalah sia-sia, Raphael yang terlalu mendominasi jalannya pertandingan itu mampu membaca semua arah bolanya sekalipun itu dari awal tim musuh memberikan operan. Tingkat fokusnya sudah mencapai titik yang tertinggi dengan dibantu oleh sistem yang diberikan Triniade.
****************
"Hahh…hahh.." nafasku yang tak beraturan.
Skornya masih 20-7. Dengan keadaanku yang memaksakan tubuhku di awal tadi, sekarang aku merasa sangat kelelahan. Tapi, sepertinya Timnya Aaron mulai dipenuhi Rasa gelisah. Aku pun kembali bermain seperti biasa tanpa harus memaksakan kinerja otak dan tubuhku.
"Leon.. aku serahkan padamu untuk selanjutnya." dengan nafas yang tak beraturan.
"Baiklah, kamu bisa istirahat mulai sekarang. Biar aku yang urus bagian selanjutnya." Ucap Leon dengan bersemangat sambil menyeringai.
Sepertinya aku bisa mengandalkannya kali ini. Aku pun berjaga di belakang sambil mengistirahatkan tubuhku sejenak. Sesuai dengan peraturan yang diberikan oleh Pak Gritz, ada sedikit perubahan pada permainannya. 1 pertandingan hanya diberi waktu selama 10 menit. Sedangkan sekarang masih tersisa 5 menit lagi sebelum pertandingan usai.
"AYO RAPHAEL!!" Teriak Novaria. Aku pun melihat ke arahnya sejenak sambil berjaga. Rasa lelahku kian tak terasa melihatnya menyemangati diriku sambil memasang wajah senyumnya. Aku hanya perlu bertahan selama 5 menit dengan skor yang unggul 13 itu. Leon pun mulai maju membantu pola serangan.
Permainan Leon cukup indah untuk ditonton. Dia lebih memprioritaskan untuk mengoper disaat dia melihat sebuah Ruang Kosong. Baru saja dia ke depan, dia langsung memberikan umpan berkelas kepada Kroenzi yang sudah melompat itu. Kroenzi pun melakukan sebuah Dunk tepat di atas Aaron.
Mungkin itu bisa membuat mental para pemain mereka sedikit Down. Alhasil permainan mereka akan terasa roboh serta tak memiliki pondasi yang kuat lagi. Leon pun mulai berlari kembali menuju posisi bertahan.
************
5 menit berlalu… peluit tanda pertandingan usai mulai berbunyi.
PRITT
Skor pun berubah menjadi 45-23 dengan kemenangan di tim ku. Ini merupakan hasil yang bagus untuk permulaan. Aku pun saling memberikan sebuah toss pada mereka semua.
"Nice game bro." Sambil melakukan sebuah tos dengan Leon.
"Berkatmu juga Raph, permainan mereka sedikit goyah setelah melihat tembakan jauhmu," puji Leon.
"Hahaha.."
"Kalau begini aku bisa mengalahkan Reinhart lagi!" Ucap Kroenzi dengan semangat.
Kami semua pun tertawa melihat sikap Kroenzi yang bersemangat itu.
"Yaudah, mari kita pergi ke bangku penonton dan melihat pertandingan selanjutnya." ucap Isaak.
__ADS_1
Kami berlima pun pergi ke bangku penonton untuk melihat pertandingan Tim Adam vs Tim Reinhart yang akan bertanding sebentar lagi….