Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 43 Pertarungan Virtual Reality


__ADS_3

"Hahaha.. kamu ceria sekali Raphael." Ujar Alice.


  "Jelas lah.. bagaimana aku tidak ceria di tempat seperti ini. Semua permainan yang ingin kumainkan tersedia disini." Dengan mata yang berbinar-binar.


  Aku pun berlari Ke tempat VR Arcade Game. Layar Visual besar menempel dimana-mana. Banyak kanak-kanak yang sedang bermain segala permainan yang ada. Aku jadi tidak ingin kalah semangat dengan anak-anak itu.


   Sesampainya di VR Arcade Game, aku langsung mengambil Virtual Realitynya. Banyak sekali pilihan game-nya disini. Tapi yang kuutamakan jelas, sebuah Game dengan tipe Fighting yang bernama TIKKOI 8.


   Disini ada 2 alat VR yang bisa dipakai. Aku mengajak salah satu dari Vincent dan Leon. Siapa saja akan kulawan kali ini.


  "Siapa yang mau main duluan melawanku?" Ajak diriku dengan memegang Alat VRnya.


  "Aku duluan aja. Sepertinya semangatmu sangat membara ya…" Jawab Leon.


  Leon pun mengambil alat VR yang satu lagi. Aku mulai memilih game TIKKOI 8 di Layar VR Arcade Gamenya. Karena zaman yang sudah berubah, alat-alat semakin canggih. Aku hanya tinggal mengusap ke bawah.


  Mencari game TIKKOI 8 di Layar VR Arcade Game. Banyak sekali game-game yang tersedia disini. Sampai-sampai aku sedikit kesulitan mencari Game TIKKOI 8. 


  "Banyak banget gamenya. Jadi bikin sulit mencari Game TIKKOI 8." Gerutu diriku.


  "Usap pelan-pelan layarnya Raph. Jangan buru-buru seperti itu." Jawab Leon.


  Aku pun mengusap layarnya dengan pelan dan lemah lembut seperti yang dikatakan Leon. "Ah ada nih." Aku langsung menekan Gamenya.


  Kami berdua pun mulai memakai alat VRnya di kepala. Sambil memegang sebuah alat untuk bergerak yang kami pegang. Di dalam VR yang kulihat, ada sebuah Notifikasi dari gamenya.


  [Selamat datang di Game TIKKOI 8]


  notifikasi itu diikuti dengan tombol Lanjut. Aku pun menekan tombolnya. 


  [Apakah anda ingin bermain Multiplayer dengan Teman Anda?]


  Aku pun memencet Tombol Yes di Layar yang kulihat. Dalam penglihatan ku, Layarnya kini berpindah ke Pemilihan Character


 [Pilih Karakter yang ingin kamu Pakai]


  Banyak sekali Karakter yang bisa dipilih disini. Hmm… sepertinya aku akan memilih Karakter Lucas yang berpenampilan seperti seorang Prajurit Perang Kerajaan. Dia memegang sebuah Tombak di tangannya.


  Layarnya pun kembali Dialihkan ke Bagian pertarungannya sekarang. 


  "Hebat juga kamu bisa memilih Karakter Yorz Leon." Canda diriku.


  "Aku cuman memilih dengan melihat Desain Karakternya." Jawab Leon.


  Memang sih kalau dari segi Desain, Yorz ini terlihat seperti salah satu karakter kuat. Berpenampilan seperti seorang Necromancer dengan sebuah Kemampuan dapat Memanggil Skeleton yang bisa dia gunakan untuk menyerang.


  Untungnya disini aku Memilih Karakter Lucas yang tidak lain merupakan Counter dari si Yorz ini. Dengan Tombaknya yang besar, itu dapat melawan skeleton yang dia panggil dengan mudahnya.


  Aku pun langsung bersiap-siap untuk memulai Ronde ini.


  [Round 1.. FIGHT!]


  Permainan pun dimulai, aku berdiam diri menunggu Skill Yorz dikeluarkan oleh Leon. Terlalu gegabah untuk maju melawan seorang Necromancer seperti itu. 


  Seperti yang diharapkan, Yorznya Leon mulai memanggil para Skeleton itu dengan jumlah banyak. Aku pun langsung menerobos sekumpulan Skeleton itu dengan Tombak yang kuarahkan ke depan. Aku mulai menggerakkan kakiku di tempat untuk berlari.


  Pengontrol yang kupegang saat ini mulai kuarahkan ke depan. Aku menerjang Sekumpulan Skeleton yang beregenerasi itu. Dengan tombak yang besar ini, hanya tinggal mengayunkan saja tulang-tulang skeleton porak poranda.


  Leon sepertinya menjaga jaraknya dariku agar tidak terserang. Dia juga sesekali menggunakan Sihir yang dimiliki Yorz untuk diarahkan padaku. Aku menyerang sambil menghindari segala serangan Magis yang dilancarkan oleh Yorznya.


  Dengan Armor yang kupakai, ini membantuku dalam Menahan serangan-serangan yang diayunkan oleh Sekumpulan Skeleton yang mengepung ku.


  Aku mulai menggunakan Skill yang dimiliki Lucas. Sebuah skill yang dapat meningkatkan Speed, Agility, Strength. King's Blessing, sebuah skill yang dianugerahi oleh sang Raja kepada Lucas. Sebuah berkah yang diberikan Rakyat-rakyat Kerajaan yang membuat Semangat Lucas tampak membara layaknya kobaran api.


  Sebuah cahaya-cahaya mulai mengepung ke arah Lucas. Sambil merasa bersemangat, tekad Lucas mulai meningkat. Lucas berdeham setelahnya, "Sekarang giliranku untuk menyerang." Sambil mengangkat Tombaknya ke atas


  Lucas memutar-mutarkan Tombak  dan mulai mengayunkan kearah Kumpulan Skeleton yang menghalangi Yorznya. Menyerang secara membabi buta ke kanan dan ke kiri. 


  "Hohoho! Sekarang kamu tidak bisa menghentikan ku Yorz." Lucas dengan nada bersemangat dan sedikit menyombongkan diri.


  "Hahaha! Kamu terlalu Menyombongkan dirimu Pahlawan. Aku belum memperlihatkan Kekuatan terkuat ku." Jawab Yorz dengan Tertawa Kencang.


  Yorz pun mulai mengumpulkan Tulang-tulang yang berserakan Sampai membentuk sebuah kerangka Naga.


  "A-APA!" Lucas dengan Ekspresinya yang sangat terkejut.


  Dalam hati Lucas kini mulai dipenuhi dengan rasa takut. Tekadnya yang tadi meninggi akibat Berkah yang diberikan para Rakyat mulai menurun dengan cepat. Lucas pun mulai terbaring jatuh dengan beringsut ketakutan.


  "HAHAHAHA! Rasakanlah Amarahku Wahai Pahlawan…" Yorz dengan Tertawa jahat yang terdengar kencang.


  Sebuah Naga yang terbuat dari kerangka-kerangka mulai terbang tinggi di udara. Lucas yang melihat Naga itu mulai terbang ke arahnya tak dapat untuk berdiri. Dalam Hatinya kini dipenuhi dengan rasa pasrah dan ketakutan yang kian menguat.


  Dia mulai menutup matanya sambil berkata, "Apakah ini akhir dari Dunia ini? Bahkan diriku saja tidak bisa berbuat apa-apa dengan Skeleton Dragon itu." Suara yang pelan dipenuhi kepasrahan yang mendalam.


  Sesaat Lucas sedang terpasrah, sebuah Suara terdengar dari Langit, "Wahai Sang Pahlawan, hanya beginikah Akhir dari Hidupmu!" Dengan berteriak.


  Lucas yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah Langit. Dalam penglihatan Lucas, Dia melihat sekumpulan Rekan-rekan seperjuangannya dan Rakyat-Rakyat yang menjadi Korban atas Kejahatan Yorz itu.


  "Bagaimana dengan Kami semua yang rela Berkorban! Kamu harus Berani melawan segala Masalah yang datang menghampirimu." Ucap Sang ingatan Kakak Lucas yang muncul di Lelangitan itu. 


  "Kakak…" Jawab Lucas dengan kondisi yang cukup kecewa dengan dirinya. 


  "Tunjukkanlah Bagaimana seorang Pahlawan menghancurkan sebuah Kegelapan, Lucas!" Dengan berteriak semangat dalam penglihatan Lucas.


  "Ayo Lucas!" Suara Rekan-Rekan yang menjadi Korban.


  Lucas yang mendengar Kakaknya berteriak seperti itu, mulai terbangun secara perlahan. Kondisi mentalnya kini perlahan membaik berkat sebuah semangat yang diberikan oleh mendiang Kakaknya itu. Ditambah dengan teriakan para Rekan-rekan Seperjuangan yang menyemangati dirinya.


  Dia mengambil Tombaknya yang tergeletak di sampingnya.


  "Percuma Saja Wahai Sang Pahlawan… Kekuatanku ini tidak tertandingi olehmu." Sontak Yorz dengan perasaan kesenangan yang dia rasakan melihat keputusasaan Sang Pahlawan.


  Lucas memegang Tombaknya sembari Teriak ke arah Yorz, "KAU SALAH! AKU AKAN TUNJUKKAN BAGAIMANA SANG PAHLAWAN MENERANGI KEGELAPAN." Dengan emosi marah yang menggebu-gebu.


  Sebuah Cahaya dari langit menyinari Lucas. Dengan sebuah semangat yang dia dapatkan dari Kakak serta Rekan-Rekan seperjuangannya ditambah para Rakyat-Rakyat yang menjadi Korban Kebengisan Yorz.


  Kini dia mulai berdiri dengan gagahnya dengan Tombak yang dia pegang. 

__ADS_1


  "Memangnya apa yang Bisa kau lakukan dengan Kondisi seperti ini?" Tanya Yorz kepada Lucas yang berdiri dengan gagahnya.


  Lucas mengangkat Tangan kanannya setinggi-tingginya sehingga Tombaknya itu pun mengarah ke Pusat Cahaya. Dengan Emosi yang menggebu-gebu di dadanya, Dia terlihat seperti seorang Utusan para dewa.


  "Heh! Pahlawan aneh…" Cibiran Yorz.


  Skeleton Dragon itu terbang dengan cepat mengarah ke Tubuh Lucas yang sedang disinari cahaya itu. 


  "Makhluk Rendahan sepertimu beraninya mengarah ke arahku." Sindir Lucas kepada sang Skeleton Dragon.


  Ujung Tombak milik Lucas mulai dipenuhi dengan butiran-butiran cahaya dari langit. Cahayanya mulai Mengelilingi ke arah Ujung Tombaknya. Skeleton Dragon itu mulai mendekat ke arah Lucas.


  Lucas melihat ke arah skeleton itu seketika dengan Ekspresi bahagianya. Tidak ada rasa takut yang terpancar dari matanya itu. Seketika, Lucas mengayunkan tombaknya ke arah Skeleton Dragon yang masih terbang di langit itu.


  Cahaya langitnya mengikuti Ujung Tombaknya. Setelah Cahayanya terkena tubuh Skeleton Dragon, Tubuhnya pun mulai Hancur tak bersisa dihisap oleh sang Cahayanya. Sontak hal itu membuat Yorz merasa terkejut sekaligus takut.


  Sebuah Skeleton Dragon yang dia buat langsung Hancur tak bersisa terkena Cahayanya itu. Sehingga Skeleton Dragon itu tidak bisa beregenerasi kembali.


  "Ba-bagaimana bisa!!" Gumam Yorz dengan ketakutan memenuhi perasaannya sambil memegang kedua Kepalanya itu.


  Lucas pun menatap Tajam ke arah Yorz. Tatapannya itu mulai mengintimidasi Yorz dengan ketakutan mendalam. Tak ada lagi rencana yang bisa Yorz pakai saat ini. Sesaat dia sedang memikirkan sebuah Rencana, Lucas pun menghampirinya dengan cepat.


  Dalam waktu 3 Detik saja, Lucas sudah berada tepat di depan Yorz.


  "AAAA! Ba-bagaimana bisa kamu berubah secara drastis dan singkat seperti ini?" Tanya Yorz yang sedang ketakutan dengan Bicara terbata-bata.


  "Makhluk Pengotor dan Rendahan berani-beraninya memasuki Wilayah yang kujaga selama ini. Lihatlah posisi mu saat ini dasar Rendahan." Hinaan dan Cemooh dilontarkan dari Mulut seorang Lucas yang berhati baik.


  Dalam Sekilas, Yorz seperti melihat sosok Raja yang dikenal pada masa Lalu. Dia dipenuhi dengan Perasaan tak percaya dengan apa yang dilihat di depan Matanya sekarang. 


  Dalam situasi yang seperti ini, Yorz semakin dipenuhi dengan rasa takut yang sangat amat berlebihan. Sekujur tubuhnya dipenuhi cairan yang membasahi tubuh. Sampai-sampai, Dia teriak dengan Suara yang terbata-bata, "Ja-jangan bilang bahwa sekarang kamu a-adalah K-kkking Aa-arthur?" Tanya Yorz dengan menunjuk ke arah Lucas.


  "Baguslah kalau kamu mengenal diriku. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mu dengan rasa sakit yang amat pedih." 


  Lucas yang tubuhnya saat ini dikendalikan Oleh Arwah Raja Arthur yang bijaksana mulai mengangkat Tombaknya ke atas dengan kedua tangannya. Yorz yang melihat ke arah tombak yang berada di atasnya mulai merasakan perasaan keputusasaan di dalam dirinya. Dia melihat sebuah cahaya yang mengelilingi Tombaknya itu dengan sebuah harapan yang sudah hilang.


  "ABSOLUTE JUDGEMENT!" Lucas mengayunkan Tombaknya dengan Sebuah Cahaya mengikutinya. Cahaya tombaknya mulai mendekat ke arah Yorz. Di sela-sela Cahaya yang mengarah padanya, Yorz mulai teringat kenangan-kenangan yang pernah dia lalui bersama pasangannya.


  Sebuah kenangan Manis nan indah yang diakhiri oleh pembantaian Keluarganya. Dalam penglihatannya, dia melihat Jiwa dari Istri dan anak Tercintanya untuk sekilas sebelum Tombak yang dikelilingi Cahaya tepat mendekat ke dirinya.


  Dengan perasaan lega yang mulai ada dalam dirinya setelah kehampaan yang dia rasakan selama ini. Dia mulai mengangkat kedua tangannya mengarah ke Jiwa Istri dan anaknya yang dia lihat, "Celine, Fiona aku akan menyusul kalian berdua." Dengan perasaan sedih dan air yang mengalir dari matanya.


  Cahaya Tombak pun menghampiri tubuh Yorz. Dia merasakan kesakitan yang amat pedih dan juga perasaan lega dalam waktu yang bersamaan. Inilah yang dia nantikan selama hidupnya, mati dengan perasaan lega dan tenang. Tubuh Yorz mulai hangus terbakar berkat cahaya tombaknya itu.


  Tubuhnya pun jatuh ke tanah setelahnya. Lucas pun datang menghampiri tubuh Yorz yang sudah hangus terbakar dan terbaring di tanah yang gersang. Jiwa Raja Arthur yang berada dalam Tubuh Lukas pun memuji Yorz, "Pemuda yang Merasa Hampa.. Kini aku kembalikan jiwamu kembali ke tempat yang seharusnya. Bersenang-senanglah di Akhirat bersama keluarga Kecilmu itu." Tubuh Lucas dengan ekspresi tersenyum bahagia.


 Awan-awan Hitam mulai menghindar setelahnya. Cahaya langit yang cerah datang menghampiri. Jiwa Raja Arthur yang berada di dalam Lucas pun mulai terbang ke langit diikuti dengan sebuah cahaya Ilahi. Sebelum dia pergi meninggalkan Tubuh Lucas dan Yorz, dia sedikit berkata kepada Lucas, "Pemuda yang pemberani. Sekali lagi aku ucapkan terima kasihku dari lubuk hatiku yang paling dalam padamu. Pahlawan sepertimu sangatlah dibutuhkan oleh Rakyat Kerajaan ini." Arwah Raja Arthur yang tersenyum ke Lucas.


  Lucas yang melihat Arwah Raja Arthur itu pun dengan segera memberikan penghormatan kerajaan dengan Kaki kanannya yang menempel pada tanah serta Kaki kirinya membungkuk. Setelahnya dia menundukkan kepalanya serta tangan kanan yang berada di bagian depan dada dan tangan kiri di bagian belakang dada. Sambil berkata, "Saya turut senang anda memuji saya seperti itu."


 Arwah Raja Arthur pun mulai terbang menuju ke langit diikuti dengan iringan cahaya. Lucas pun segera berdiri setelahnya. Dia melihat ke arah Mayat Yorz yang hangus itu. Lucas pun langsung mengangkat Tombaknya keatas sebagai penghormatan kepada Yorz yang sudah tiada.


  "Dengan Nama Kerajaan Artoria, aku mengakuimu sebagai lawan tertangguh yang pernah kuhadapi." Teriak Lucas dengan suara yang sangat kencang…


  *********


  Akhirnya aku menang melawan Leon dengan Pertarungan yang Drastis itu. Aku pun langsung membuka VRnya dari kepalaku. Aku sedikit tertawa bahagia setelah mendapatkan kemenangannya.


  "Pertarungan yang menarik Leon…." Aku memuji Leon dengan senyuman yang kuarah padanya.


  "Hahaha… benar-benar mengesankan. Andai saja tadi aku memilih Karakter yang bisa sebanding dengan Lucas. Ultimate Skillnya itu membuat Karakter ku terkena Slow dan Tekad bertarung yang turun." Leon Tertawa kecil.


  Memang sih Lucas itu merupakan Karakter yang sangat Over power. Dengan tombak dan kekuatan Berkah yang dia dapatkan membuat Statnya naik dengan pesat untuk sementara waktu.


  "Kalian berdua tadi main seperti tidak peduli dengan sekitar kalian. Kalian Menggerakkan badan-badan kalian serta berteriak. Untungnya tempat ini dilengkapi dengan peredam suara." Ujar Alice.


  "Mau bagaimana lagi… Aku terbawa suasana pertarungannya." Ucap diriku dengan kedua tangan yang mengangkat.


  "Aku melihat permainan kalian di layar itu. Memang nampak mengesankan jalannya pertarungan itu." Ucap Alice.


  "Ka-kamu hebat Raphael." Ucap Novaria dengan Kepala yang menunduk ke bawah itu.


  Aku cukup senang dia memujiku. Aku pun berterima kasih padanya, "Terima kasih Novaria." Tersenyum ke arahnya.


  "Ayo main lagi Leon, aku ingin melawanmu kali ini." Sela Vincent.


  "Boleh Vin." 


  Mereka berdua pun mulai memakai VRnya kembali. Kini giliranku untuk menonton pertarungan mereka berdua di sebuah Layar di depan mereka.


 "Mau bagaimanapun juga, kami berdua tidak pandai bermain permainan seperti ini." Ucap Alice dengan merangkul Pundak Novaria.


  


  "Tenang saja, selesai mereka berdua bermain, kalian bisa bermain apa yang kalian mau. Aku berterima kasih pada kalian yang mencoba untuk menuruti sedikit keegoisanku." Ucap diriku dengan perasaan terhibur.


  "Tenang saja Raphael.. demi kesenangan kamu, aku akan mengikutimu kemanapun." Jawab Novaria. 


  Eeh! Aku terkejut dengan ucapan yang dikeluarkan Novaria. Novaria pun yang menyadari ucapan itu keluar dari mulutnya pun langsung merasa malu seketika dengan wajahnya yang ditutupi itu.


  "Ma-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu Raphael." Dengan mengalihkan pandangannya.


  Aku merasa senang mendengarnya berkata seperti itu. Aku sedikit menemukan secercah harapan padanya.


  "Tidak usah dipikirkan Nov. Aku juga senang kalau kamu senang." Dengan tersenyum kepada Novaria.


  "Kalian berdua ini… hah.." Alice Menghela nafas.


  "A-aku mau ke Toilet sebentar." Ucap Novaria.


   Novaria pun meninggalkan Ruangan VR Arcade Gamenya. Seperti ini waktu yang tepat untukku bertanya pada Alice tentang Novaria.


   "Alice, apa kamu tahu apa yang disukai Novaria?" Dengan ekspresi datar.


  "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu suka dengan Novaria ya? Emm…" Jawab Alice dengan sedikit menggodaku.


  "Tidak, aku hanya ingin mengenal lebih dekat dengan Novaria." Menyanggah dengan Ekspresi yang datar agar tidak dicurigai.

__ADS_1


  "Kalau begitu, aku akan memberitahukannya dengan satu syarat." 


  Syarat apa ini? Tapi demi mengetahui Informasi apa yang Novaria suka, aku akan memenuhi syaratnya.


  "Apa Syaratnya?" Tanyaku pada Alice.


  Alice pun mengeluarkan sesuatu dari Tasnya. 2 buah Tiket kini ada dalam genggamannya.


  "Aku ingin kamu menggantikan ku untuk pergi ke Taman Bermain bersama Novaria." Ucap Alice dengan Memberiku tiketnya. "Tapi jangan bilang-bilang kalau Tiket itu dariku. Aku belum memberitahunya kalau aku ingin mengajaknya ke Taman Bermain." Dengan berbisik.


  Kebetulan sekali, aku juga punya niatan untuk mengajaknya pergi ke Taman Bermain. 


  "Oke, aku menerima Syarat mu." Sambil mengambil 2 Tiket yang yang diberikan Alice. "Lalu, sekarang apa yang Novaria suka?" Bertanya pada Alice.


 "Novaria suka dengan Hal yang berbau Romantis. Dia senang bermain di Taman Bermain, memakan Gulali, menyukai makan-makanan Manis. Ahh… aku juga ingat dia pernah berkata padaku bahwa dia ingin sekali seseorang menyatakan perasaan kepadanya saat bermain Wahana Bianglala." Alice memberikan Informasinya dengan sangat detail dan semangat.


  "Hanya itu?" Aku bertanya untuk memastikan.


  "Masih banyak sebenarnya.. dia juga suka dengan Boneka imut, suka dengan lagu Pop, dia suka dengan seseorang yang dapat memberikannya kebahagiaan. Dan juga dia suka dengan seseorang yang lebih tinggi darinya. Dan masih banyak lagi."


  {Hmm.. sepertinya ini kesempatan ku untuk mencoba mengungkapkan perasaanku padanya.} Gumam diriku sambil melihat ke 2 tiket yang kupegang.


  "Baiklah, terima kasih atas Informasinya." 


  "Sama-sama." 


  Vincent dan Leon pun selesai bermainnya. Dimenangkan oleh Vincent yang memakai Karakter Jiyuu sang Pendekar Pedang dan Leon yang memakai Leo sang Iblis. 


  "Serunya…" Ucap Vincent sambil Membuka VRnya.


  "Kalah lagi.. hah.. sepertinya aku tidak pandai bermain Game seperti ini." 


   "Hahaha.. bawa santai aja Leon. Gausah terlalu kecewa begitu." Aku sambil menenangkannya.


  Novaria juga telah Kembali dari Toilet. Aku pun meminta mereka semua untuk bermain apa yang mereka suka. 


  "Sekarang giliran Kalian berempat yang bermain sesuka kalian. Aku akan ikut."


  **********


  Kini, kami semua sedang bermain bersama memainkan berbagai permainan yang tersedia. Mulai dari Balap Mobil, Lantai Irama, Permainan Jepit Boneka dan masih banyak lagi. Kami semua bermain dengan bahagia serta iringan canda tawa.


  Suasana seperti ini tidak buruk juga untukku. Berkat Trauma yang bisa kuatasi, aku dapat mengganti Momen yang sebelumnya hilang menjadi sebuah Kenangan yang tak bisa kulupakan. Momen seperti ini akan teringat untukku selamanya dan tak akan kubiarkan hilang.


  "Wah… ada Photobox tuh. Foto Bareng yuk!" Ajak Alice dengan Ceria sambil menunjuk ke arah Photobox.


  "Boleh Lic.. ayo foto bareng disana." Sahut Novaria dengan Perasaan ingin cepat-cepat kesana.


  "Hahaha…Ekspresi mu yang seperti itu lucu. ayo kita foto bareng semuanya. Itung-itung mengabadikan Momen ini." Ucap diriku.


  Kami semua akhirnya Masuk ke dalam Photobox bersamaan. Mengabadikan sebuah Momen berkumpul yang mungkin tak akan terulang. Kami semua memasang Pose foto kesukaan masing-masing. 


  Novaria yang memasang Pose Peace dimatanya, Alice yang memeluk Novaria dengan tertawa, Vincent yang Merangkul Pundakku, Leon yang seperti merapikan Rambutnya dan Aku yang hanya berdiri tegak dengan Ekspresi tersenyum yang kubuat.


  Setelah selesai Berfoto di Photobox, kami semua melihat hasilnya. Hasilnya lumayan bagus dari sebuah Jepretan Kamera Photobox. 3 Pcs foto Keluar dari hasilnya. Salah satu Foto menunjukkan Pose Konyol yang kami semua perlihatkan.


  Kami semua pun memutuskan untuk pulang setelah berfoto bersama.


  ************


  Di depan Kawasan Perumahan Novaria..


  Aku menurunkan Novaria di depan Kawasan Perumahannya. 


  "Terima kasih ya Raphael, udah nganterin aku." 


  "Sama-sama Nov." 


  "Yaudah aku masuk dulu ya.." 


  Aku pun mencoba untuk mengajaknya saat ini. "Tunggu sebentar Nov." Sahut diriku.


  Novaria pun menoleh ke arahku seketika. Dia bertanya kepadaku, "Ada apa Raphael?" Sambil memiringkan kepalanya.


  Aku mencoba untuk memberanikan diriku untuk mengajaknya ke Taman Bermain saat hari libur. Aku menarik nafas dalam-dalam.


  "Hari Minggu kamu ada jadwal gak?" Tanya diriku dengan nada serius.


  "Nggak ada Raph, memangnya kenapa?" 


  Aku pun mengeluarkan 2 Tiket yang tadi diberikan oleh Alice. Aku mencoba untuk mengajaknya kali ini.


  "Kamu mau gak ke Taman Bermain berdua sama aku hari Minggu? Aku gak maksa kok kalau kamu gamau." Ucap aku dengan menatap ke arah Novaria.


  "E-ehh?.." 


  Novaria sepertinya saat ini terkejut karena ajakanku. Dia sepertinya sedang berpikir saat ini. Semoga saja dia menerima ajakanku.


  "Bo-boleh Raph. Aku mau." Jawab Novaria dengan nada pelan serta Muka yang memerah.


  Akhirnya! Aku akan mencoba sebaik mungkin untuk mengungkapkan perasaanku padanya nanti. Aku menjadi sangat senang kali ini.


  "Makasih Novaria. Aku akan menjemputmu nanti Hari Minggu ya.." Ucap aku dengan tersenyum lebar.


  Mukanya pun semakin memerah kali ini. Dia dengan segera menutup mukanya itu. Karena aku sudah mengajaknya, mungkin aku akan pulang saat ini.


  "Yaudah aku Pulang dulu ya Nov." Ucap diriku sambil memakai Helm. 


  "Ha-hati-hati ya Raph." Dengan salah satu tangan terbuka.


  Aku pun menyalakan mesin motor.


  "Dah Nov.." Sambil mengangkat tangan kananku.


  "Da-dah Raphael." Novaria membalas dengan Lambaian tangan.


  Aku pun langsung menarik Gas menuju jalan Pulang. Di sepanjang perjalanan, Hatiku tampak berbahagia. Aku tersenyum-senyum sambil mengendarai. Semoga saja nanti dapat berjalan dengan Lancar….

__ADS_1


__ADS_2