
Pagi hari tiba, Matahari mulai terbit dari arah timur. Kicauan burung terdengar di pagi hari ini. Sinar matahari menyinari terang ke seluruh penjuru. Aku dalam keadaan mengantuk ini tetap berjaga sampai menunggu mereka berdua terbangun.
"Hoam.." aku menutup mulutku yang menguap itu.
Sepanjang malam aku hanya berjaga dengan ditemani alat-alat hiburan yang kubuat. Seperti Gitar, Piano, dan segala alat musik yang kumainkan sepanjang malam. Dengan melatih skill bermusik ku menemani malam yang gelap gulita.
Melemparkan kayu-kayu kecil yang sudah tersusun rapi ke dalam Api Unggun yang menyala. Menjaga agar api unggun itu tetap menyala. Terkadang aku berjalan-jalan di sekitar menikmati indahnya Padang rumput ini.
Aku pun bangun dari duduk ku. Merenggangkan tubuh yang kaku akibat terlalu banyak duduk serta tiduran ini. Dengan kondisi mata yang lelah akibat rasa mengantuk.
"HEMM.." Suara saat merenggangkan tubuh.
Sebaiknya aku mencari bahan baku untuk makan pagi ini. Aku pun pergi ke Pinggiran Hutan lebat untuk mencari bahan makanan yang bisa kubuat. Begini-begini aku juga bisa memasak makanan dengan bahan yang seadanya, hanya saja rasanya mungkin tidak terlalu enak.
Dalam Kondisi ini yang penting perut terisi dan energi terkumpul. Untuk masalah rasa dari makanan itu hanya nomor sekian. Yang penting aku bisa mengumpulkan setidaknya 1 bahan makanan yang bisa dimasak kali ini.
Aku bergerak secara perlahan agar hewan-hewan di sekitar tidak bisa mendengar suara langkah kaki ku yang bisa membuat mereka terkejut. Aku pun membuat sebuah pisau yang kugunakan untuk membunuh hewan-hewan.
Saat sedang berjalan, aku mendengar suara langkah kaki di dekatku. Aku segera bersembunyi di semak-semak untuk melihat suara langkah kaki siapa itu. Aku melihat dengan seksama dan lama kelamaan suara langkah kaki itu makin mendekat.
"TEK..TEK." Suara Langkah Kaki.
Ternyata itu adalah suara Langkah kaki dari hewan yang mirip seperti sapi. Dalam pikiranku.
{Hewan mirip sapi ini apakah aman untuk di konsumsi?}
Dalam benakku, aku memutuskan untuk membunuh sapi itu saja dari kejauhan. Aku pun menghilangkan pisau yang tadi kugenggam dan kuganti dengan sebuah airsoft gun. Karena senjata ini hanya memberikan rasa sakit pada tubuhnya.
Untuk menjaga kualitas dari dagingnya, aku harus seminimal mungkin tidak membuatnya terluka. Aku mulai menembak dari balik semak-semak.
"TASS." Suara Peluru Plastik yang keluar dari Airsoft gun.
Tepat mengenai tubuh Hewan yang mirip sapi itu. Hewan yang persis seperti sapi itu tergeletak langsung setelah terkena peluru airsoft gunnya. Aku keluar dari semak-semak dan menuju tubuh sapi yang tergeletak itu.
"Kena Juga." Ekspresi bahagia setelah berhasil menembak target.
Sapi itu sepertinya tak sadarkan diri. Aku pun mengganti Airsoft gunnya dengan sebuah pisau tajam untuk memotong tubuh sapi ini. Pisau yang tampak tajam sudah ku genggam. Kupotong sapi itu mulai dari bagian lehernya agar dagingnya tetap pada kualitas yang terbaik.
Aku mulai menggorok dengan perlahan dan secepat mungkin agar sapi itu tidak merasakan kesakitan. Darah sapi itu mengalir di tanganku yang sedang memotong lehernya. Bau amis dari darahnya sangat menyengat sekali.
Saat kupastikan sapi itu sudah mati, aku mulai memisahkan kulitnya. Mengupas kulit-kulit sapi itu dengan pisau tajam ini. Memisahkannya secara perlahan dan sedetail mungkin agar tidak ada kulit yang masih menempel dengan daging.
Fiuh.. lumayan lelah juga memisahkan kulitnya. Karena kulitnya yang lumayan tebal ini menyulitkan ku dalam memisahkannya. Butuh waktu yang cukup lama untuk memisahkan semuanya.
**************
30 Menit Berlalu
Akhirnya aku sudah menyelesaikan memisahkan kulit-kulitnya. Keringat mulai membasahi tubuhku seketika. Untuk tahap selanjutnya, hanya tinggal memotong daging-dagingnya menjadi beberapa bagian.
Kalau dari penampilan dagingnya, ini sangat mirip sekali dengan sapi. Mungkin hewan ini masih satu spesies dengan Sapi. Hanya saja tubuhnya lebih besar dan tanduknya yang sangat lebar. Aku memotong bagian per bagian daging-dagingnya.
Sesekali aku mengelap keringat yang mengalir di dahi ku dengan bagian belakang tangan. Karena telapak tangan ku sudah dipenuhi oleh darah. Ini lumayan seru, seperti sedang bertahan hidup hanya dengan berbekal ilmu yang kumiliki dan skill yang membantuku.
Daging-dagingnya rencana dibagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari Daging bagian Dada, Perut, Paha, Pinggang, dan Punggung. Yang paling enak dari kelima bagian ini kalau dilihat dari Daging sapi yang biasa kumakan, favoritku adalah daging yang berada di dadanya.
Karena daging yang itu sangatlah empuk dan lembut. Aku memisahkan daging-daging itu sesuai dengan bagiannya. Karena Pisau yang tajam ini, memudahkanku dalam mengiris-iris daging-dagingnya dengan cepat.
***************
"Akhirnya selesai Juga. Fiuh.." dengan raut wajah kelelahan.
Butuh waktu sekitar 1 jam lamanya untuk memotong tubuh si Hewan yang mirip sapi ini. Entah apa nama dari spesies ini, yang jelas terlihat tidak familiar dengan yang biasa kulihat. Dan juga ini adalah Dunia milik Castrophe yang belum di jelajahi oleh orang lain.
Saat ini, aku mulai bingung bagaimana cara mengangkat daging-daging ini ke atas. Apakah aku harus memakai kulit-kulit yang tadi dipisahkan sebagai wadahnya? Aku mulai bertanya-tanya dengan diriku sendiri.
"Hmm… kalau pakai Kulit nanti bau kulitnya nempel di daging. Pakai apa ya enaknya.." dengan kedua tangan berada di pinggul.
Aku menemukan solusi yang tepat untuk membawa daging-daging ini menggunakan Dedaunan besar yang ada di sekitar hutan. Untungnya di sekitar ada sebuah Pohon yang memiliki daun yang lebar dan cukup untuk mengangkut semua daging ini.
Aku pun memanjat sedikit pohon itu. Walau aku dari Keluarga Terpandang, gini-gini aku juga belajar untuk melatih kemampuan bertahan hidupku untuk berjaga-jaga akan kejadian yang membuat ku dalam keadaan dengan tidak adanya bahan-bahan yang cukup di sekitar.
Disaat memanjat, aku berdiri dengan ranting yang kokoh itu sebagai pijakan. Aku mulai memotong dedaunannya menggunakan pisau tajamnya. Mungkin aku butuh sekitar 2 dedaunan lebar saja. Lagi pula dengan daun yang cukup lebar itu, hanya 2 saja sudah cukup untuk membawa semuanya.
"TEK..TEK." Suara Pisau yang memotong dedaunannya.
Dedaunan itu mulai jatuh ke bawah setelah kupotong. Aku pun turun karena dedaunannya sudah cukup untuk wadahnya. Aku melompat dari Ranting kokoh ini.
"HAP." Suara diriku yang mendarat dengan posisi jongkok dan kedua tangan menumpu di tanah.
Aku pun segera bangun dan mulai menata daging-dagingnya diatas dedaunannya. Aku menumpuk daging-dagingnya sesuai dengan Cangkupan daunnya. Sebelum aku kembali ke atas, mungkin aku akan mencari sumber air bersih terlebih dahulu untuk membersihkan dagingnya yang masih penuh dengan darah segar.
Aku sempat melihat dari ketinggian saat malam, ada sebuah danau kecil tak jauh dari sini. Mungkin itu bisa kugunakan untuk membersihkan dagingnya dan juga membersihkan seluruh tubuhku yang penuh dengan darah akibat memotong Hewan tadi.
Berjalan ke arah Lurus sebentar selama kurang lebih sekitar 20 meter. Kemudian aku berbelok ke arah kiri dengan membawa Dedaunan yang telah kulipat di kedua tangan ku. Danaunya sudah terlihat kini. Aku pun bergegas berlari mendekati danaunya.
Suasana danau begitu tentram dan damai. Airnya pun begitu tenang. Di pinggiran, Serangga-serangga kecil mirip Capung bermain-main dengan air sehingga mengakibatkan sebuah gelombang kecil. Ku pegang air danau itu, airnya memiliki suhu yang lumayan dingin dan menyegarkan.
__ADS_1
Dengan segera, Aku menaruh dedaunan yang berisi daging ini di bawah. Menyiram daging-dagingnya dengan air danau tersebut. Cipratan air mulai membasahi dagingnya. Darah-darah mengalir ke dalam tanah mengikuti arus cipratan air.
Aku mencuci sampai bersih dan tak ada sedikitpun Darah yang tertinggal di sekitar daging.
"Sepertinya sudah bersih.." celetuk singkat dari diriku.
Aku mulai membersihkan tangan ku yang bau amis akibat darah. Dengan sedikit air danau itu, aku mencelupkan tangan ku ke dalamnya.
{Dinginnya..} bicara dalam hati.
Air ini entah mengapa sangat dingin. Mungkin karena embun pagi hari yang tampak sejuk di sekitar yang membuat suhu airnya juga ikutan menjadi dingin. Aku mencampurkan sedikit tanah ke tangan ku yang sedang dibersihkan. Tujuannya adalah menghilangkan bau amis dari darah itu.
Tak lupa juga, aku membasuh wajahku untuk menghilangkan rasa kantuk.
"PLUK..PLUK." Suara air yang membasuh ke wajahku.
"Ahh.. Segarnya, Rasa kantuknya menghilang sedikit." Sambil merapikan rambutku ke belakang.
Ah iya, selagi aku berada di danau ini, sekalian saja aku mandi. Dari kemarin rasanya aku belum mandi sama sekali. Untuk menghilangkan bau badanku, aku melepas seluruh pakaianku dan mulai berendam di danau kecil ini.
"Woah… enaknya. Gak sia-sia aku pergi kesini sejenak." Sambil menunjukkan raut wajah merasa puas.
Tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitar danau tampak hijau dan terjaga. Ekosistem disini sepertinya terjaga dengan sangat baik. Walaupun tampak seperti Dunia tak berpenghuni, namun kondisi alamnya seperti ada seseorang yang merawatnya. Apakah ada seseorang yang tinggal disini?
************
10 Menit Berlalu.
Aku menyudahi berendam di dalam danau asri ini dan segera memakai baju yang tadi kupakai. Walaupun baju ini banyak sekali terciprat noda Darah, tak ada lagi pakaian yang bisa dipakai saat ini. Aku tidak membawa baju ganti sama sekali. Terpaksa aku harus memakainya. Walaupun dicuci, akan memakan waktu yang lumayan lama untuk mengeringkannya. Aku tidak mau membuang waktu untuk sebuah pakaian.
Aku dengan segera memakai pakaian Olahraga yang masih kupakai sejak pertama kali masuk ke dunia ini. Berjalan pergi menuju pegunungan tempat Roselianne dan Vincent tertidur. Suasana indah di pagi hari membuatku terasa nyaman dan rasanya ingin melakukan sebuah aktivitas.
Namun, aku harus menunggu mereka berdua terbangun terlebih dahulu untuk berburu segala jenis hewan dan Monster di sini.
Sesampainya di atas, tampak Roselianne sudah bangun disana. Aku pun berlari mendekatinya. Dia sepertinya baru terbangun dari tidurnya itu. Aku menyapanya dengan dedaunan yang berada di kedua tangan.
"Pagi Rose." Dengan senyuman lebar.
"Pagi Juga Raph." Sambil mengucek-ucek matanya itu.
Aku segera menaruh Dedaunannya di tempat aku berdiri sekarang.
"Itu Apa Raph?" Dengan keadaan setengah sadar.
"Ini Bahan makanan kita nanti. Aku sudah menyiapkan dan tinggal membakarnya saja." Sambil menunjukkan isi dedaunannya.
"Aku bantu kamu menyiapkan makanannya sini Raph." Dengan gestur meminta bahan makanan mentahnya.
Kebetulan masih ada ranting-ranting kecil yang tersisa. Aku mengambil salah satu rantingnya dan menusukkan 3 daging sekaligus dalam 1 ranting kecil. Selesai kutusuk dagingnya, aku menaruh ranting yang berisi 3 daging itu di pinggiran api unggun yang masih ternyala. Aku menaruhnya secara vertikal.
Masih banyak daging yang belum ditusuk ini. Aku pun mulai menusuk-nusuknya bersamaan dengan Roselianne. Semua daging kini sudah selesai ditusuk. Aku pun menaruh semuanya persis seperti tadi. Aku mengganti posisi tusukan yang tadi sudah kutaruh agar matangnya merata.
*************
Beberapa Saat Berlalu.
Daging-daging yang terbakar itu kini sudah matang secara merata dan siap untuk disantap. Sebelum itu, aku membangunkan terlebih dahulu Vincent yang masih tertidur pulas. Aku menggerakkan tubuhnya.
"Vin.. oy. Bangun Vin."
"Emm.." dengan mata yang terbuka.
Dia lumayan cepat untuk dibangunkan ternyata.
"Udah pagi ini. Makan dulu abis itu baru berburu lagi. Ini hari terakhir kita disini." Aku menjelaskan kepadanya.
"Okelah.." dengan keadaan setengah tersadar.
Aku pun mengambil tusukan yang berisi daging dan memberikannya kepada Vincent.
"Nih Vin."
"Makasih Raph."
Kami semua pun mulai memakan Sate Dagingnya. Rasanya seperti daging sapi pada umumnya. Hanya saja, tidak ada rasa asin yang menyelimuti dagingnya karena tidak ada bumbu. Tapi sejujurnya ini di luar ekspektasi ku rasanya. Tetap enak kok.
Kami semua memakannya dengan lahap dan tanpa ada protes sama sekali dengan rasa makanannya.
"Ahh… kenyangnya." Vincent sambil memegang perutnya itu.
"Ya walaupun rasanya kurang, setidaknya ini masih bisa dimakan." Ucap Roselianne.
"Kalau boleh tau, kamu dapet daging ini darimana Raph?" Vincent bertanya.
"Saat kalian tertidur aku sempat pergi ke hutan sih pagi buta tadi. Tapi cuman di bagian luarnya aja. Untungnya ada hewan yang mirip sapi lewat di sana. Akhirnya ku tembak pakai Airsoft gun yang kubuat. Dan DERR.. kena ke tubuhnya. Abis itu potong seperti biasa." Sambil menjelaskan dengan gestur-gestur menembak dan memotong.
"Pantas Pakaianmu ada Noda darah."
__ADS_1
"Ini kena cipratannya tadi Rose."
"Yaudah, selanjutnya mau ngapain nih Lian, Raph." Raut wajah Vincent yang menunggu keputusan.
"Berburu lah.. aku pengen cepet-cepet keluar dari sini." Ucap diriku.
"Yasudah ayo kita berburu sekarang. Mumpung masih pagi, hewan-hewan juga kayaknya masih banyak yang tertidur." Vincent dengan semangatnya.
Kami bertiga pun berdiri dan mulai pergi ke arah hutan kembali untuk berburu. Semaksimal mungkin, aku mencoba untuk membunuh banyak monster dan mendapatkan koin. Mungkin koin ini bisa dipakai untuk hal yang sangat berguna.
Kami bertiga bekerja sama dengan sangat baik. Segala Spesies monster ataupun hewan yang ada di sekitar kami, dengan mudahnya kami bunuh. Untung saja yang tersisa hanyalah Monster-monster tingkat rendah seperti Needle Dragonfly, Black Wolves, Spiky Horned Deer dan Monster tingkat rendah lainnya.
Kami bertiga berburu dengan sangat banyak hari ini. Alhasil, waktu yang dibutuhkan untuk pulang mulai lebih cepat dari perkiraan ku. Aku membunuh banyak sekali Monster kecil dengan Revolver yang kubuat.
Di sekitar hutan pagi hari, cahaya-cahaya matahari menusuk langsung ke dalam bagian hutan. Sehingga membuat mudah kami dalam melihat sesuatu. Inilah yang memudahkan kami dalam perburuan kali ini.
Kami bertiga terus membunuh dan membunuh monster-monster hingga mengumpulkan banyak sekali koin. Setiap kali kami membunuh, kami selalu mendapat notifikasi yang terdengar di sekitar.
"The Childhood Trio has accumulated 2730 coins."
Kami bertiga telah mengumpulkan sebanyak 2730. Ini seharusnya adalah jumlah yang cukup untuk kami bertiga.
"Ey Vin, kita kembali sekarang aja. Koin yang kita kumpulkan juga sudah lumayan banyak." Aku memberi saran kepada Vincent.
"Yuk, lebih cepat malah lebih bagus." Vincent menerima tawaranku.
"Baguslah, aku juga sudah lumayan capek dari tadi terus ngebunuh monster." Roselianne dengan raut wajah sedikit kelelahan.
Kami bertiga pun akhirnya kembali ke tempat awal kami memasuki dunia ini. Berlari menuju luar hutan yang tak jauh dari tempat kami berada. Akhirnya, seharian kami tinggal di dunia ini, kami mulai mendapatkan banyak pengalaman bertarung.
Kulihat, di tempat awal kami berdiri. Sudah ada Jack yang berdiri tegak disana. Kami bertiga pun mendekatinya.
-Congratulations childhood trio on your achievements. That's a lot of coins you've collected.
Jack bertepuk tangan dengan memberi ucapan selamat kepada kami bertiga.
"Hahaha.. sudah pasti kita bertiga akan mengumpulkan banyak koin. Kerjasama kami kan sudah terbentuk sejak kecil." Vincent membanggakan dirinya.
"Sudahlah Vin, jangan terlalu membanggakan pencapaian ini. Ada baiknya kita mulai menukar koin-koin kita." Ucap Roselianne
-Okay, I will hereby open a shop that you can exchange for the coins that the three of you collected. Please use it well.
Wow, sebuah Hologram seperti toko mulai terlihat. Disana banyak sekali jenis item yang bisa kita beli. Ada juga senjata yang bisa digunakan. Aku mulai tertarik dengan Toko ini.
"Umm.. dengan koin ini, sepertinya aku akan menukarkannya dengan uang tunai." Ucap Vincent.
-Okay, since you are redeeming for cash, the points that the three of you get will be divided into three. And you will get a certain amount of cash from the coin split.
Jack mulai membagi koin-koinnya. Poin yang didapatkan untuk individu sekarang menjadi 910. Karena Vincent menukarkannya dengan Uang tunai, maka uang tunai yang akan dia dapatkan adalah 9100 Roux. Karena 1 Koin yang dikumpulkan sama dengan 10 Roux.
-Cash redemption has been completed. You can check your account later.
"Terima kasih Jack. Aku akan melihatnya nanti." Vincent tampak senang dengan uang tunai yang dia dapatkan.
-So, what would you two want to Exchange?
Jack mulai bertanya kepadaku dan Roselianne yang belum memilih. Sejujurnya ini agak sulit sih untuk memilih. Karena aku masih bingung akan ku tukarkan untuk Senjata atau barang lain ya. Aku sempat tertarik dengan barang yang bernama 'Poseidon's Water Potion'. Namun tidak di deskripsi kan barang apa itu sebenarnya.
Makanya aku mulai bingung untuk memilih.
"Aku akan membeli Persephone's beauty." Roselianne sudah memilih barang yang ingin dia beli.
Persephone's Beauty yah… kalau dilihat dari gambarnya, itu seperti alat kecantikan yang mungkin pernah dipakai oleh Dewi Persephone.
-Okay, I'll deliver it to your residence room.
"Terima kasih Jack." Roselianne yang juga tampak senang saat mendengar itu.
-Only Raphael Ignite remains who has yet to redeem his points.
{Ahh.. aku bingung mau menukarkan apa.} Dalam hatiku.
Ah aku tidak peduli lagi, aku akan menukarkannya dengan Poseidon's Water Potion.
"Aku Menukarkannya dengan Poseidon's Water Potion." Aku berbicara pada Jack.
-Okay, we will deliver it to your residence later. Since everyone has exchanged their Coins, you may now return to your world.
Akhirnya aku bisa kembali ke dunia Nyata. Jack mulai membuka alat Teleportasinya.
-Please come back to the real world again.
Kami bertiga masuk melewati alat Teleportasinya. Sekarang kami berada di ruangan semula tempat kami bertemu Jack pertama kali. Kondisi di dunia nyata tampak seperti Sudah Siang hari. Apakah kami melewati waktu yang hampir sama dengan di Dunia Buatan itu.
"Aku mau pulang Dulu Raph, Vin. Sampai jumpa kembali nanti." Roselianne pun pamit pulang setelah kembali ke Dunia Nyata.
"Aku juga mau pulang Raph. Bareng Rose." Vincent menyusul.
__ADS_1
Mereka berdua sudah Pulang sekarang. Aku pun juga ingin pulang, aku mengunci ruangan ini terlebih dahulu. Setelah pintunya terkunci, aku mengambil smartphone ku yang kutinggalkan di Lantai bawah. Aku pun mengunci pintu masuk Tempat latihannya setelah mengambil smartphone.
Berjalan pulang ke arah Kediaman dan segera tidur karena Rasa kantuk yang masih terasa ini…