
Sesampainya di Kelas. Kami berempat langsung duduk di bangku masing - masing. Menunggu guru pelajaran Matematika datang ke Kelas Kami.
"Weh, punya circle baru nih." Vincent menepuk pundakku.
"Kebetulan aja tadi Barengan." Sambil melihat ke arah Vincent.
"Ohh.. kirain punya circle baru." Memasang ekspresi wajah lega.
Hmm.. sepertinya dia takut kalau aku tidak bermain dengannya lagi. Mau bagaimana pun, aku dengannya itu sudah sepertinya kakak beradik. Sulit sekali bagi kami untuk berpisah rasanya. Aku dan dia sejak kecil sudah menjalin hubungan pertemanan sangat lama.
Bahkan sebelum kami lahir, ada sebuah rumor yang kudengar di Keluarga ku. Kalau Keluarga Astroze dan Keluarga Ignite sangat menjalin hubungan dengan sangat Erat. Dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain, Astroze memiliki Hak Istimewa yang membuatnya Dipercaya sekali oleh Keluarga Ignite.
Aku dengar juga dari Ayahanda. Bahwa Dia sangat berteman erat dengan kepala Keluarga Astroze saat ini. Mereka berdua berada di satu tim ketika Ayahanda masih aktif menjadi Ranker di negeri ini.
Sebab itulah Hubunganku dengan Vincent bisa sangat akrab sampai saat ini. Itu juga berkat Hubungan yang terjalin antar Keluarga.
Ketika kami berbincang-bincang, Luci yang duduk di bangku di depanku bergabung dalam pembicaraan kami. "Ngobrolin apa nih kalian berdua?" Dengan bersandar di ujung Kursi miliknya.
"Gak bahas apa-apa kok Luci." Ucap diriku.
"Yahh.. kirain lagi ngobrolin sesuatu." Luci dengan ekspresi tak puas.
"Hahaha.. tumben banget kamu gabung obrolan kita Ci." Vincent sambil tertawa.
"Sekalian nunggu guru masuk.. daripada main smartphone terus."
Benar juga omongannya. Lebih baik mempererat hubungan antar murid di kelas yang sama ketimbang melihat smartphone.
"Yaudah mau bahas apa kita sekarang nih?" Ucap Vincent.
"Hmm.." aku sambil berpikir hal apa yang bisa kami jadikan bahan obrolan. Sebisa mungkin topik obrolannya itu dapat dimengerti oleh kami semua. Agar satu sama lain dapat merasa nyaman ketika sedang berbicara.
Tak berselang lama, Luci membuka topik obrolan sambil mengangkat tangannya. "bagaimana kalau kita bahas mengenai percintaan?" Dengan tersenyum lebar.
Lagi-lagi Topik ini. Bukannya aku tidak suka dengan obrolannya, aku cenderung ingin menghindar agar seseorang tak tahu aku sedang dalam fase suka sama seseorang. Aku ingin menyembunyikan rasa suka ini dari orang lain.
"Percintaan ya…" Vincent dengan menggaruk Kepalanya.
Vincent juga sepertinya sedang kebingungan dengan Bahasannya. Itu cukup wajar mengingat Vincent belum pernah sekalipun berpacaran dengan orang lain. Aku juga sama sepertinya sih… ini pertama kalinya aku merasakan rasa Cinta dalam diriku.
Sebelumnya, aku selalu menghindari kontak dengan orang lain selain Teman kecilku. Berkat rasa Trauma yang diberikan pada masa lampau, itu cukuplah sulit untuk membuat Mentalku kembali seperti anak-anak pada umumnya.
Aku membutuhkan waktu Sekitar 5 tahun lamanya untuk pertama kalinya aku berbicara dengan selain orang-orang yang kukenal dekat saat kecil. Itu terjadi pada saat Aku masuk ke Sekolah ini.
[ Kilas Balik saat Pertama kali Menginjak tanah sekolah ini ]
Saat dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan Mobil keluargaku, Aku serta kakakku pergi ke sekolah ku secara bersamaan. Mungkin Kak Lily masih khawatir dengan kondisi mental ku saat itu. Makanya dia pergi menemani ku untuk Masuk ke Sekolah ini untuk pertama kalinya.
Kak Lily mengantarkan ku sampai depan Gerbang saja. Selebihnya, aku mengumpulkan tekad dan kesiapan ku untuk berkomunikasi dengan orang lain disini.
"Fuuhh.." Sambil mengumpulkan tekad.
Aku pun berjalan melangkah memasuki wilayah sekolah. Banyak sekali orang-orang yang berjalan sama sepertiku. Mereka semua tampak akrab dengan teman-teman mereka disana. Sedangkan aku, aku hanya berjalan sendiri disini.
Dalam hatiku, aku merasa sedikit gelisah. "Vincent dimana ini." Sambil menggigit jariku. Setelah sekian lama aku berjalan sendirian saat ini. Biasanya saat di sekolah, aku selalu berada di samping Vincent.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku berjalan di halaman depan sekolah. Daun-daun berguguran karena angin yang menghembusnya. Cahaya matahari menusuk mataku. Aku menadahkan tangan ku di Dahi untuk menghalau sinar mataharinya.
Sesaat aku menghalau jari, aku mendengar suara seseorang di dekatku.
"Hey, apa kamu tahu dimana kelas 10-A?"
Aku pun mulai merasa tak karuan. Sekujur tubuhku sekarang mulai menggigil. Dalam hati, " Apakah seseorang berbicara padaku?" Sambil tetap menaruh telapak tanganku di dahi.
Aku perlahan-lahan menoleh ke arahnya dengan keadaan tubuhku bergetar tak karuan. Di depanku, seorang gadis sedang melihat ke arahku.
"Akhirnya kamu melihat ke arahku. Kukira tadi aku salah orang." Ucap gadis itu.
{A-apa yang harus kulakukan.} Dalam hatiku sambil ketakutan.
Pandanganku terlihat sangat kosong saat ini. Gadis itu menggerakkan tangannya tepat di depan wajahku sambil berkata. "Halo.. apa kamu mendengarku?".
Aku langsung tersadar bahwa saat ini ada seseorang di hadapanku. Aku mencoba mengumpulkan keberanian ku untuk menjawab pertanyaannya.
"Ha-haro." Lidahku Terselip karena rasa takut yang mengancam.
Wajah gadis itu terlihat keheranan berkat kata yang kuucapkan. "Haro?". Sambil menekuk kepalanya ke kanan.
Dalam hatiku saat ini sedang diselimuti rasa gelisah. "Sial! Padahal ini setelah sekian lama aku dapat berbicara dengan orang lain. Kenapa lidahku Terselip segala." Sambil menahan rasa malu.
Seseorang pun berteriak ke arah Kami.
__ADS_1
"Oyy Novaria. Aku sudah menemukan kelasnya."
Gadis itu menoleh ke arah seseorang yang berteriak itu. Dia kemudian membalas teriakannya dengan sebuah teriakan juga. "Oke Alice." Kedua tangannya menempel di mulut membuat sebuah lingkaran yang melingkari mulutnya.
Gadis itu kemudian menoleh ke arah ku kembali sambil berkata. "Terima kasih.". Dan kemudian segera pergi ke arah Seseorang yang memanggilnya.
Mendengar hal itu, entah kenapa keberanian sedikit demi sedikit mulai meningkat. Padahal aku tak memberikan informasi apa-apa padanya. Tapi dia berterima kasih padaku. Gadis yang lumayan aneh.
"Novaria yah namanya… dia tadi bilang kalau dia kelas 10-A bukan? Berarti dia satu kelas denganku." Dengan suara pelan.
Aku pun melanjutkan berjalan menuju Ruang Kelas. Saat sampai di depan bangunan sekolahnya, aku sedikit terkagum.
"Wah.." Sambil melihat bagian atas bangunan.
Orang-orang yang berjalan melewatiku, tampak terheran dengan apa yang kulakukan.
"Lihat dia, ngapain lagi diem di depan sini." Sambil berbisik.
"Mungkin dia orang aneh." Sambil berbisik juga.
Suara orang-orang yang berlalu lalang mulai menggangguku. Sesaat aku ingin melangkahkan kaki, seseorang merangkul Pundakku.
Suara Vincent yang sedang merangkul ku pun terdengar seketika. "Yo kawan, bagaimana awal kehidupan SMA? Baik-baik saja bukan."
Aku menoleh tepat ke arahnya di samping kiri ku.
"Akhirnya kamu datang juga…" merasakan perasaan lega.
Aku kali ini dalam keadaan senang dan merasa lega berkat Vincent yang berada di dekatku. Sungguh, aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat sendirian disini.
"Hah…. Masih saja Trauma mu itu. Mari ke Kelas Kita yang baru." Vincent yang berada di depanku dengan jempol yang digerakkan ke belakang sejajar dengan bahu.
"Tunggu Vin.." aku berlari mengejar Vincent yang berjalan kecil itu.
Kami berdua berada di Koridor lantai 1. Banyak sekali siswa-siswi yang sedang berlalu lalang di koridor. Mereka semua tampak melakukan obrolan dengan rekan-rekannya. Aku yang masih belum terlalu mampu untuk berada di Tempat yang baru ini mulai tengak-tengok dengan ekspresi sedikit gelisah.
Vincent berjalan dengan kedua tangan berada di saku celananya. Dia berjalan dengan santainya tak peduli dengan keadaan sekitar. Sifatnya sangat berbalikan denganku sih. Dia memiliki sebuah keberanian yang Lumayan.
Sedangkan aku, aku harus mengumpulkan keberanian dulu untuk memasuki tempat baru yang asing ini.
Karena aku belum tahu lokasi kelasku, aku bertanya pada Vincent. Dengan badan yang ditegakkan dan tangan yang berdiam sejajar di Pinggang. "Vin, lokasi kelas kita memangnya dimana?" Dengan nada suara sedikit pelan.
{ Uwwah.. } Dalam hati.
Vincent pun menoleh ke arahku seketika.
"Kenapa Raut wajahmu kayak kaget gitu."
Dia menyadari perasaan ku saat ini. Aku tidak ingin berbicara dengan guru.
"Gapapa Kok." Dengan kedua tangan digerakkan layaknya seseorang yang menyangkal.
Vincent pun mulai tersenyum bingung ke arahku. Aku mencoba untuk seminim mungkin memasang ekspresi di wajahku. Takutnya dia paham apa yang kupikirkan saat ini.
"Ya sudahlah. Ayo ke Ruang Guru."
{ Aaaa!! Terjadi juga situasi yang tidak aku inginkan. } Berteriak dalam hati.
Vincent berjalan lurus mengikuti Koridornya. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah kaki yang seiringan dengannya.
Sampai di suatu tempat, Vincent mulai berhenti di depan Ruangan. Ada sebuah Papan tanda yang menamai Ruangannya.
[ Ruang Guru ]
Ya, Tempat kami sekarang berdiri adalah di Depan Ruang Guru. Vincent pun langsung membuka Pintunya tanpa berpikir panjang. Aku yang melihat itu pun langsung terkejut dengan tingkahnya.
Aku menarik bagian belakang bajunya. "Oy Vin. Jangan asal buka dulu dong.. aku perlu siapin mental dulu." Dengan perasaan ketakutan dan gelisah.
"Alah.. ga perlu siapin mental. masuk lalu memberikan salam. Abis itu tanya pada guru yang ada di dalam. Cukup lakukan itu saja." Vincent menjelaskan bagaimana hal yang harus dilakukan saat berada di dalam Ruangannya.
"Tapi Vin.."
"Sudahlah, kalau kamu gak mau ikut masuk, kamu tunggu di luar aja. Biar aku yang nanya di dalam." Dengan sedikit nada tinggi.
Vincent langsung masuk seketika meninggalkanku. Aku pun mengejarnya seketika.
Di dalam Ruangan, banyak sekali guru yang melihat ke arah Kami. Vincent mulai menundukkan badannya 30° setelah dia masuk. Aku yang melihatnya, langsung mengikuti gerakan yang Vincent lakukan.
"Pagi bapak dan ibu guru yang kami hormati." Vincent dengan badannya yang menunduk 30°
"Pagi." Semua guru membalas salam Vincent.
__ADS_1
Vincent pun menegakkan tubuhnya kembali. Aku juga mengikuti gerakannya itu. Aku hanya bisa mengikuti apa yang dia lakukan untuk saat ini.
"Ada apa ya?" Ucap salah satu guru.
"Begini Bu, kami berdua kemari ingin bertanya suatu hal. Mengenai Ruang Kelas kami." Vincent menjelaskan maksud dan tujuan kami kemari.
Aku hanya diam mendengar apa yang Vincent ucapkan sambil melirik ke arahnya.
"Memangnya kalian berdua dari kelas mana?"
"Saya dan Dia masuk ke Kelas 10-A Bu. Kami ingin bertanya soal letak kelas kami."
Guru-guru itu pun saling melihat satu sama lain. Ada juga guru yang sedang berbisik-bisik dan ada juga yang seolah tak peduli sambil menikmati secangkir minuman.
"Kelas 10-A Ya! Ibu menyambut kalian berdua dengan baik. Letak Kelas kalian ada di Lantai 2. Kalian bisa melihat Papan Kelasnya yang berada di atas pintunya."
Bu guru itu tampak terlihat senang sekali dengan kehadiran kami berdua. Bagaimanapun, Sistem kelas disini membuat Kelas A terlihat di istimewakan oleh guru-guru disini.
"Baik, terima kasih atas informasinya Bu." Vincent pun menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda ucapan terima kasih. Aku pun mengikuti gerakannya. "Kalau begitu kami izin pergi dulu ya Bu." Ucap Vincent kepada Bu guru tersebut.
Sesaat kami mulai berbalik arah, Bu Guru itu pun memanggil kami kembali. Kami berdua pun langsung berbalik arah kembali menoleh ke arah Bu Guru tersebut.
"Tunggu. Boleh kalian kenalkan diri kalian? Biar sama-sama kenal saja." Bu Guru dengan tersenyum dan kedua tangannya saling bersentuhan sejajar dengan Dada.
Disini, aku mulai merasa gelisah kembali. Aku tidak punya keberanian untuk berbicara di depan Orang yang baru kutemui.
"Nama Saya Vincent Astroze. Saya berasal dari Keluarga Astroze." Vincent memperkenalkan dirinya dengan tangan kanannya berada di atas dada.
"Vincent yah… kalau kamu yang satu lagi?"
Bu guru itu pun mulai menunjuk ke Arah Ku. Aku yang ditunjuknya, seketika tubuhku bergetar dan keringat mulai bercucuran. Aku mencoba untuk berbicara dalam keadaan seperti.
"Sa-saya." Di sela-sela pembicaraanku, Vincent memotong omonganku.
"Maaf Bu, biar saya saja yang kenalin dia. Dia Raphael Ignite. Dia berasal dari keluarga Utama Ignite kebetulan." Vincent sambil memperkenalkanku. Aku melihat dia berbicara dengan rasa kagum dengannya.
Dia paham apa yang kurasakan saat ingin memperkenalkan diri.
"Ignite!" Sorak semua Guru yang berada di Ruang Guru.
Mereka tampak terkejut setelah mendengar nama keluarga Ignite. Bukan sesuatu yang mengejutkan bagiku melihat raut wajah mereka yang seperti itu. Sudah banyak ekspresi orang yang kulihat sama persis dengan apa yang kulihat disini. Semuanya tampak terkejut ketika mendengar nama Ignite.
"Ha-halo pak, Bu guru sekalian." Sambil melambaikan tangan dengan bersembunyi di belakang Vincent.
Guru-guru pun langsung berdiri dan mendekat ke arahku.
"Kenalin nama Ibu.."
"Nama bapak Val."
Guru-guru pun tampak ingin berjabat tangan denganku. Aku yang merasa ketakutan karena ulah-ulah mereka, mencoba untuk menarik baju belakang Vincent sambil bersembunyi menutupi wajahku di pundaknya.
Vincent pun sepertinya merespon hal yang kulakukan padanya. Dia langsung berbicara dengan lemah lembut memberi tahu tentang apa yang terjadi padaku.
"Maaf Pak, Bu. Sepertinya anak ini sedikit ketakutan melihat kalian berebutan seperti itu." Sambil menunjuk ke arahku yang bersembunyi di belakangnya.
Para guru pun langsung berhenti berebutan berjabat tangan setelah mendengar ucapan Vincent. Aku pun melihat ke arah mereka semua dari balik punggung Vincent. Aku memasang mata memelas kepada mereka.
Mereka pun langsung kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Maafkan kami semua ya nak. Kami tidak tahu kalau kamu ketakutan seperti itu." Dengan raut ekspresi menyesal.
Setelah melihat Ekspresi Bu guru itu, aku langsung menyingkir dari bahu Vincent.
"Maafkan aku Juga Bu. Sebenarnya a-aku sudah lama tidak berbicara dengan orang lain." Sambil menunduk layaknya seseorang meminta maaf.
"Ya sudah Bu, kalau begitu kami berdua pergi ke kelas dulu." Vincent menepuk pundakku.
Aku menoleh ke arahnya. Dia pun mengangkat alisnya seperti mengode diriku untuk segera pergi.
"I-iya Bu, saya Ama Vincent pergi ke kelas dulu ya." Sambil melirik ke arah Vincent.
"Iya.." Bu gurunya dengan nada lembut.
Kami berdua pun pergi meninggalkan Ruangan dan menutup pintu Ruang Guru ketika berada di luar.
"Fuuhh.." aku bisa menarik nafas lega akhirnya. Aku mengelus dadaku untuk menghilangkan rasa takut yang masih tersisa.
"Jangan terlalu takut seperti itu. Aku paham Trauma mu segitu buruknya. Cuman sekedar saran, sering bicara sama orang lain selain diriku ataupun Lian. Kamu harus memberanikan diri untuk berbicara dengan orang lain selain kami berdua."
Vincent menasehatiku dengan serius. Sepertinya memang aku harus membiasakan diri untuk berbicara dengan orang lain. Kami berdua pun Berjalan mengarah ke Tangga untuk menuju Lantai 2..
__ADS_1