
Kami semua pergi ke sebuah Ruang Tabung tempat kembalinya orang-orang yang dari Dimensi Ruang. Berlari dengan cepat menyambut para pemenang yang tersisa.
Di Ruang Tabung, ada Clara, Vincent, Reinhart, Kroenzi, dan Novaria yang baru saja kembali. Aku pun pergi ke arah Vincent untuk menyambutnya.
"Selamat Vin atas kemenangannya."
"Hahaha, terimakasih Raphael. Melelahkan juga setelah bermain lama."
Kami berdua melakukan Toss dan Berjabat tangan.
"Ngomong-ngomong aksi mu di akhir-akhir permainan itu sangat menakjubkan Vin. Melakukan sebuah rolling sebelum mendarat."
"Aku cuman terpikirkan hal itu saja ketika mau mendarat. Pernah mencoba melakukannya untuk berlatih. Aku coba saja disini sekalian ngetes apakah berhasil atau tidak."
"Lumayan nekat juga kamu asal mencoba itu. Kalau salah gerakan bisa aja membuatmu tak bisa bergerak lagi."
"Hitung-hitung mencoba keberuntungan hahahaha."
Vincent sempat-sempatnya melakukan sebuah lelucon disini. Memang anak yang sangat menghibur. Di sela-sela pembicaraan kami, Isaak mendekati kami berdua.
"Selamat ya Vincent." Sambil memberikan tangannya.
"Ah iya Isaak. Terimakasih juga atas ucapannya." Vincent menjabat tangannya.
Kami bertiga pun saling berbicara bersama.
"Aku sungguh kagum dengan pemikiranmu Vincent. Mampu melakukan gerakan itu untuk mengelabui ku."
"Hahaha, bisa aja Isaak. Aku cuman berpikir hal itu bisa membuatmu melakukan sebuah kesalahan saja." Sembari tertawa sejenak.
"Emangnya gerakan apa yang dilakukan kamu Vin?" Aku bertanya kepada mereka berdua.
"Kau enggak melihatnya Raphael?" Isaak menjawab.
"Nggak, kebetulan saat itu aku lagi beli minuman di Kantin. Makanya ga bisa ngeliat pertarungannya."
"Oalah. Vincent melakukan sebuah gerakan yang menurutku sangat jarang terpikirkan oleh orang Raphael. Dia melakukan gerakan berlari ke arahku. Namun, sebelum aku memakai skill ku dia menjatuhkan dirinya ke bawah. Aku yang melihat hal itu cukup terkejut dengan apa yang Vincent lakukan. Dia menekel kaki ku seperti sedang bermain sepak bola. Alhasil, keseimbanganku pun runtuh karena kakinya mengenai kakiku dan aku terjatuh. Dia duduk diatas tubuhku yang sedang terjatuh itu kemudian melakukan sebuah ancang-ancang ingin memukul. Aku langsung menyatakan menyerah disaat itu dan Vincent tidak jadi memukulku."
"Hahaha, kebetulan aja itu Isaak. Aku sebenarnya saat disitu terpeleset. Hanya murni keberuntungan kok."
Aku yang mendengar itu sontak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sahabatku ini. Bagaimana bisa dia selalu bertaruh dengan keadaan dan berpikir hanya dalam sepersekian detik. Kemampuan berpikir dalam pertarungannya ini cukup tinggi dan menakutkan. Mampu menentukan sebuah strategi hanya dengan waktu yang sangat sedikit.
"Kau terlalu bertaruh menurutku Vin. Akan ada saatnya untukmu kalah dalam pertaruhanmu itu. Bisa saja tidak sesuai dengan keinginanmu."
"Kalau hal itu sih sudah pasti Raphael. Gak semua momen bakal aku pertaruhkan. Aku melihat sebuah kesempatan yang bisa didapatkan jika melakukan sebuah hal. Tidak semata-mata hanya iseng."
"Kebiasaanmu sejak kecil itu. Bahkan waktu ada penculik yang ada di taman saja, kamu melakukan pertaruhan dengan menendang buah zakarnya. Berharap sekali tendangan penculik itu langsung tergeletak."
"Hahaha jadi ingat hal itu aku Raph."
Kami sama-sama tertawa saat mengingat masa kecil kami. Zaman-zaman dimana kami hanya sibuk bermain sampai tak kenal waktu. Bermain di taman dari pagi hingga sore hari. Terkadang, kami bermain di rumah Novaria hanya untuk sekedar makan saja. serta bermain di Rumah Vincent hanya untuk bermain tali keseimbangan.
Berjalan di sebuah tali untuk bermain. Siapa yang jatuh, wajahnya akan di oles oleh Krim kue. Aku sangat senang sekali bila kembali ke zaman itu.
"Kalian berdua sudah berteman sejak kecil?" Isaak bertanya.
"Iya. Kediaman kami berdua juga saling berdekatan. Kami sering bermain bersama saat kecil." Aku menjawab pertanyaan Isaak.
"Memangnya kediaman kalian berada dimana?"
"Di daerah Stuttgarter. Lebih tepatnya sih di kawasan Solitude." Vincent memberitahukan daerah tempat kediaman kami berdua berada.
"Ahh. Solitude toh. Kalian kenal Roselianne Noble gak?"
Isaak bertanya apakah kami kenal Roselianne atau tidak. Bagaimana dia bisa tahu Roselianne? Apakah ada hubungan di antara mereka? Aku mencoba menjawab Pertanyaan itu.
"Dia teman kami berdua. Ya gak Vin?"
"Yoi. Salah satu dari teman kecil kami itu."
__ADS_1
"Baguslah kalau kenal."
"Memangnya kenapa tanya hal itu Isaak?" Memasang Pose Bersedekap.
"Dia Saudaraku. Kakak ku menikah dengan anggota keluarga Noble."
"Pantas saja aku sudah gak pernah ngeliat kak Cyro. Sudah menikah toh rupanya."
Aku tidak pernah melihat Kak Cyro yaitu kakak laki-laki Roselianne yang biasanya sering keluar. Sudah 2 tahun lamanya aku tidak melihat dia. Ternyata dia sudah menikah toh sama kakaknya Isaak.
"Oh iya Vincent, Raphael. Aku pergi kesana dulu ya. Aku mau berbicara dengan Novaria."
"Oke Isaak."
Isaak pun pergi mendekati Novaria.
"Kau mau kuantar ke UKS kah Vin? Buat jaga-jaga kalau tubuhmu itu terdapat luka dalam."
"Boleh Raph. Ayo temani aku ke UKS."
Kami berdua pun Pergi bersama ke UKS. Sesampainya di UKS, terasa ramai di sekitar. Banyak anak-anak dari kelasku yang melihat kondisi temannya masing-masing. Ada juga Kroenzi dan Reinhart yang terbaring di sana. Kondisi Adela yang tadi terbaring pun sekarang sudah terlihat sadar.
Ada 2 orang perawat di UKS itu yang sedang melakukan penyembuhan kepada murid-murid yang baru saja kembali. Clara masih diperiksa oleh salah satu perawat di sana. Aku pun membawa Vincent masuk ke dalam Ruang UKS.
Vincent pun pergi ke salah satu perawat untuk memeriksa kondisinya lepas permainan itu. Aku mendampingi Vincent yang sedang di periksa di sampingnya. Vincent diperiksa menggunakan sebuah alat stetoskop. Perawat itu mengecek bagian badan mulai dari dada hingga perut Vincent.
"Bagaimana kondisinya sus? Apakah Vincent kondisinya baik-baik saja?"
Aku bertanya tentang kondisi Vincent. Kemungkinan sih baik-baik saja kalau dilihat dari ekspresi perawat yang tampak datar dan tak menunjukkan tanda bahwa ada sebuah luka dalam. Perawat itu mengecek kembali menggunakan alat Pulse Oximeter.
Sepertinya itu untuk menunjukkan kadar oksigen dalam Darah Vincent. Apakah kadar oksigennya normal atau tidak.
Perawat itu pun menyelesaikan pengecekan terhadap tubuh Vincent.
"Kondisinya baik-baik saja. Tidak ada luka dalam apapun. Hanya saja, dia perlu istirahat karena kelelahan yang dialaminya. Mungkin sekitar 30 menit sudah membaik sepenuhnya."
"Syukurlah kalau begitu. Yaudah ayo Raphael ke Kantin. Sembari makan dan minum untuk istirahat. Aku lapar dan haus banget abis bermain Hit & Run."
Vincent yang bersemangat itu membuatku merasa bahwa kondisinya baik-baik saja. Seperti kepribadiannya yang biasa, dia selalu bersemangat dalam hal apapun. Kalau dia sedih, itu tandanya ada sesuatu yang tidak beres darinya. Berkebalikan dengan ku yang memiliki Sifat kurang bersemangat dalam melakukan sesuatu. Dan jarang tersenyum jika di dalam ruang lingkup Publik.
Kepribadian ini terbentuk karena sesuatu kejadian yang tak bisa kuceritakan. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan yang ada dalam diriku ini. Memendam sesuatu lebih baik ketimbang mengungkapkannya.
Vincent yang berada di sampingku sejak kecil membuatku perlahan lupa dengan kejadian tragis yang menimpa diriku. Seakan-akan, dialah penyelamatku dalam ketakutan yang menyertai hidup milik ku. Sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk ku melalui Vincent yaitu kebahagiaan.
Kebahagiaan dapat diciptakan dengan bersama-sama. Tidak harus memiliki uang yang banyak, popularitas yang tinggi, ataupun kepribadian yang baik. Dengan kamu memiliki sahabat yang dapat kamu percayai, mungkin hidupmu bisa berubah dengan baik. Bersahabatlah dengan seseorang yang kamu anggap baik untukmu. Yang bisa memberikan sebuah tawa candanya kepadamu yang sedang bersedih ataupun terluka.
*****
Sampai di Kantin, Vincent langsung membeli makanan sembari minuman yang dia inginkan. Kantin terasa sepi karena memang belum waktu istirahat. Banyak sekali kursi dan meja yang kosong bisa kami pakai.
Aku duduk di salah satu kursi sembari menunggu Vincent selesai memesan. Membuka smartphone ku yang tadi tidak ku buka sama sekali sepanjang permainan itu. Ada sebuah notif pesan datang dari Roselianne.
-Halo Raph, maaf ganggu waktunya. Aku mau bertanya tentang latihanmu Hari Minggu nanti. Apa boleh aku mengajak seorang teman?
{Membawa seorang teman ya..}
Aku memikirkan sejenak untuk memberikan izin membawa teman. Tempat latihan ini dibilang khusus milik Keluarga Ignite, aku tidak tahu pasti apakah Keluarga ku mengizinkan seorang dari Luar untuk memasuki tempat latihannya kecuali dengan izin sang Kepala keluarga.
-Nanti akan kuberitahu lebih lanjut untuk hal itu Rose. Aku perlu meminta izin ayahku untuk membiarkan seseorang dari luar memasuki tempat latihannya.
Aku membalas pesan Roselianne.
Ketika sudah selesai mengirimkan pesan itu kepada Roselianne, Vincent pun kemari. Dia membawa sebuah Burger dengan French Fries untuk Karbohidratnya. Untuk minuman, dia membeli sebuah Air Mineral saja. Sepertinya dia menjaga pola makan dan minumnya sedikit. Walaupun burger yang dia makan itu mengandung banyak sekali Lemak.
"Ada apa Raph. Melihat makanan ku seperti itu."
"Ah tidak apa Vin. Hanya sedikit ingin saja." Sembari menggerakkan kepala ku untuk menyanggah.
{Kalau dia tau apa yang kupikirkan pasti bahaya.}
__ADS_1
Vincent memakan makanan itu. Aku bermain smartphone ku disaat Vincent sedang memakan apa yang dia beli. Membuka sebuah Sosial media untuk melihat konten-konten yang Viral saat ini. Mencari sebuah hiburan yang setidaknya membuatku sedikit terhibur.
Menggeser ke bawah melihat konten-konten yang dibuat para Creator. Konten-konten yang ada sedikit membosankan. Hanya berisi video-video sebuah Gerakan menari yang dilakukan oleh para Creator. Aku menggeser layar ke bawah melihat konten-konten lainnya.
"Hah.. tidak ada apa ya konten yang menghibur dikit. Isinya orang ngedance semua." Sambil menghela nafas karena konten-kontennya terasa membosankan.
Masih mencoba menggeser ke bawah berharap ada sebuah konten yang menarik. Selang beberapa video terlewat, ada sebuah konten yang cukup membuat ketertarikan ku meningkat. Sebuah konten yang memperlihatkan bagaimana pertarungan di dalam Dungeon terjadi. Beberapa Ranker sedang bertarung melawan monster di video itu.
Terlihat juga seorang Monster besar berada di situ juga. Sebuah Great Gray Wolf dengan pasukan Gray Wolfnya disana. Para Ranker yang terlihat di sana tampak panik karena Great Gray Wolf yang muncul. Disaat para Ranker sedang kepanikan, Videonya pun usai. Aku penasaran bagaimana kelanjutannya.
"Giliran ada yang seru malah bikin penasaran isinya." Aku sedikit kesal karena videonya menggantung.
Karena kekesalan itu, aku berhenti melihat platform sosial media. Platform yang dimaksud disini adalah TCV. Platform ini sudah diunggah oleh 1 miliar lebih pengguna dari berbagai penjuru dunia. Walaupun Platform ini terkenal, isi konten di dalamnya hanya kehidupan sehari-hari para Content Creator.
Aku menunggu Vincent selesai Makan hanya dengan berdiam diri melihatnya menyantap makanannya dengan lahap. Aku menaruh kepalaku di tangan yang ada di atas meja. Sambil memasang ekspresi bosan dan tidak ada kerjaan.
"Hah.. bosannya tidak ada yang bisa dilakukan disini."
"Kenapa gak ikut pesen makanan aja? Daripada cuman naruh kepala di atas meja itu."
"Udah makan tadi pas di pertandingan. Aku masih kenyang. Kamu juga cepat makannya ya, terlalu menikmati sehingga lama."
"Sabarlah Raphael. Ini tinggal sedikit lagi. Lagipula mau ngapain sih buru-buru."
"Ya ngapain kek. Ngelakuin sesuatu daripada cuman ngelihatin kamu makan."
"Aduh kamu ini… ya udah bentar aku cepetin makannya."
Vincent pun mempercepat menyantap makanan nya. Baguslah, aku berasa gabut disini. Lebih baik kembali ke kelas secepat mungkin untuk ikut merayakan yang lainnya. Aku juga pengen bicara sama Adela soal teknik beladiri nya.
Akhirnya… Vincent sudah selesai menyantap makanan nya. Ini saatnya kembali ke kelas.
"Ayo ke Kelas Vin."
"Iya Iya, sabarlah. Aku bayar dulu."
"Yaudah aku tunggu di depan Kantin ya."
"Ya."
Aku pun berjalan keluar dari kantin dan menunggu di luar sembari Vincent membayar makanannya. Tak lama, Vincent keluar dari Kantin.
"Ayo."
Kami berdua pun berjalan pergi menuju Kelas.
******
Di kelas, sudah ramai siswa yang masuk. Mereka tampak merayakan kemenangan bersama-sama tanpa ada rasa kekecewaan akibat kekalahan yang diterima. Bersenang-senang bersama dengan saling berbagi kebahagiaan.
Tak lupa juga aku memberikan selamat kepada Novaria yang juga berhasil bertahan sampai akhir permainan.
"Selamat ya Novaria atas kemenangannya. Tak disangka kamu berhasil bertahan sampai akhir."
"Haha, iya. Terima kasih Raphael."
Aku pun tersenyum ke dirinya. Menunjukkan perasaan senang karena Kemenangan. Seorang yang aku sukai sejak lama, kini menunjukkan ekspresi tersenyum lebar. Ekspresi yang membuat rasa kesukaan ku padanya bertambah. Aku hanya ingin memendam saja perasaan suka yang kurasakan ini.
Tidak ingin menjadi asing dengannya hanya karena sebuah kalimat persuasif. Tak ada gunanya untuk memaksakan sebuah keadaan yang nyaman menjadi tak nyaman. Perlu kepekaan terhadap sesama agar bisa mengetahui apa yang dirasakannya juga. Tidak baik untuk memaksa seseorang untuk suka kepada kita. Biarkan mereka merasa suka dengan sendirinya.
Untuk pertama kalinya, kelas ini mempunyai suasana yang menyenangkan. Semua saling kenal satu sama lain berkat permainan itu. Saling berteman dengan siapa saja tak memandang kekuatannya. Ini adalah Lingkungan yang kuharapkan ada sejak dulu.
Sebuah canda tawa terdengar dari berbagai orang. Memberikan sebuah kesenangan kepada masing-masing. Saling mengobrol asik dengan teman-teman membahas apa saja. Sebuah kelas yang menyenangkan tercipta hanya karena 1 permainan. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini bagi anak seusiaku. Usia dimana kita membutuhkan teman yang bisa diajak bercanda sebanyak mungkin untuk menghilangkan kesedihan yang mungkin dimiliki oleh orang-orang.
Disaat aku sedang mengobrol dengan yang lain. Salah satu siswa dari Kelasku menyarankan untuk pergi bersama ke suatu tempat.
"Hey kalian, bagaimana kalau kita merayakan hal ini di sebuah restoran bintang lima? Lebih asik untuk berkenalan secara mendalam satu sama lain bukan? Apa ada yang setuju dengan ideku?"
Suara itu berasal dari Leon yang mengajak kami semua untuk merayakan kemenangan ini di sebuah Restoran bintang lima.
__ADS_1
Visual Karakter Vincent Astroze :