
Di Kamarku, aku merebahkan tubuhku sejenak di kasur.
"Nyamannya…" sambil mengelus-elus kasur yang empuk.
Tiduran sebentar setelah duduk yang lumayan lama, cukup untuk melemaskan tubuh-tubuhku yang kaku. Aku membuka Smartphone ku yang ku taruh di Saku Celana.
"Aku ga tau Nomor telepon milik Leon lagi… kalau begini, gimana caranya untuk nanya soal Novaria ya.." dengan ekspresi bingung.
Menaruh Smartphonenya di kasur dan melanjutkan rebahan sejenak. Yahh… aku juga lumayan ngantuk juga. Tapi sekarang masih sore, kalau tidur palingan kebangun tengah malam. Disini cuman ada para pelayan saja sih.
Aku pun mulai terbangun dan segera berdiri untuk mengganti pakaian ku. Saat aku sedang membuka satu persatu kancing seragam sekolahku, seseorang mengetuk pintu.
"TUK..TUK..TUK."
Aku pun menyuruh seseorang yang mengetuk itu untuk masuk.
"Masuk Saja. Ga Dikunci kok."
"Maaf Tuan Muda, Saya akan masuk ke kamar anda."
Ahh.. Ilya ternyata. Ada perlu apa dia kemari.
"Ada apa Ilya?" Sambil melanjutkan membuka kancing seragamku satu persatu.
"Tuan Muda mau Makan sekarang atau nanti malam saja?"
Umm.. sepertinya aku akan memilih untuk makan nanti malam saja.
"Nanti malam saja. Dan juga Ilya, tolong untuk para pelayan yang masih bekerja selain Chef. Suruh untuk mereka menghentikan pekerjaan mereka sekarang. Mulai sekarang aku yang akan mengurus kediaman ini karena Keluarga yang lain sedang berpergian." Dengan ekspresi tegas dan serius.
"Mohon Maaf kalau Ucapan saya selanjutnya akan merasa tidak sopan untuk anda. Apakah ada sesuatu yang salah dengan pekerjaan mereka?"
"Tidak, aku hanya ingin membuat mereka berisitirahat lebih awal."
"Jadi seperti itu Tuan Muda. Baiklah, saya akan sampaikan pada para pelayan."
"Ya." Dengan melepas baju seragamku.
Ilya pun pergi setelah aku memberinya sebuah tugas. Aku melihat lemari-lemari baju untuk melihat baju apa yang bisa dipakai olehku.
"Umm.." sambil menggeser baju-baju mencari yang cocok.
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai baju Casual berwarna hitam dengan Tulisan Namenlos geschmacklos. Untuk celana.. sepertinya aku akan memakai celana panjang.
Selesai Mengganti pakaian, aku pergi ke bawah sejenak melihat apakah tugas yang kuberikan pada Ilya sudah dilaksanakan dengan baik.
Para pelayan yang di bawah nampak sedang berbicara satu sama lain dengan ekspresi yang beragam.
"Aku lebih suka suasana seperti ini."
Aku pun pergi ke Ruang Tamu untuk melihat-lihat saja. Saat sampai di lantai bawah, para Pelayan yang sedang berbincang-bincang itu menyadari keberadaan ku.
"Selamat Sore Tuan Muda." Sambil menundukkan Kepala mereka.
Sebagian besar pelayan hormat kepadaku saat menyadari bahwa aku sedang berada di bawah.
"Sore Juga, Istirahat yang cukup kalian semua. Tingkatkan interaksi sosial antar pelayan." Memberikan sebuah pesan kepada para pelayan.
"Baik Tuan Muda, terima kasih atas waktu istirahat yang anda berikan." Ucap salah satu pelayan.
Aku tampak senang ketika mendengar itu. Setidaknya, usaha kecil ini membuat mereka senang. Ekspresi-ekspresi mereka seakan mereka menikmati istirahat yang kuberikan.
"Sama-sama. Apa di Ruang Tamu ada seseorang?" Aku bertanya kepada mereka.
"Tidak ada Tuan Muda. Semua pelayan sudah beristirahat sesuai instruksi yang Tuan Muda Berikan."
"Makasih atas Informasinya. Lanjutkan saja pembicaraan kalian."
__ADS_1
Aku pun pergi ke Ruang Tamu. Sampai di Ruang Tamu, aku duduk di Sofa yang terpajang di sana. Sofa yang sangat empuk dan membuat siapapun yang duduk disana akan merasakan nyaman.
Ruang Tamu memang memiliki kesan yang Mewah sekali. Ornamen-ornamen yang terbuat dari berlian terpajang rapi di Ruangan ini. Cahaya yang dihasilkan dari Chandeliernya juga lumayan terang.
Ada TV besar juga yang terpampang di dinding. Aku mulai mencari sebuah Remot untuk menyalakan TV tersebut. Remotnya berada di atas Lemari tempat koleksi-koleksi Foto-foto Keluarga. Aku jadi lumayan kembali ke masa lalu setelah melihat foto-fotonya.
"Hah… saat-saat kecil cukup mengembalikan memori lamaku." Sambil memegangi salah satu foto Keluarga.
Di foto ini, kami semua sedang berfoto bersama dengan latar belakang Kediaman Utama. Foto Semua keluarga besar ada di foto ini. Karena saat itu, memang sedang diadakan Pesta untuk seluruh Keluarga Ignite yang ada di segala penjuru dunia.
Mereka semua berkumpul di Kediaman Utama ini saat itu. Pesta yang diselenggarakan oleh Ayahanda cukup membuat Hubungan antara Keluarga-keluarga Cabang terlihat Harmonis. Itu juga terjadi saat aku masih berumur sekitar 9 tahun.
Yah.. walaupun aku menghindari acara itu si. Sebab, kala itu Trauma ku belum terlalu membaik. Aku belum berani tuk berinteraksi dengan orang lain selain keluargaku. Jadinya aku mengurung diri di kamarku.
Walau begitu, di akhir acara aku tetap memberikan waktu ku untuk berfoto bersama. Dengan Memasang Pose Datar di peluk oleh Kak Lily. Itulah yang membuat ku sedikit mengembalikan memori masa lama.
Hah.. sudah lama sekali rasanya Tidak ada pesta seperti ini lagi. Akhirnya aku kembali duduk di sofa dengan memegang Remot TV. Aku menyalakan TV nya untuk melihat Berita yang sedang ramai akhir-akhir ini.
-Pemirsa, Belakangan ini telah terjadi Dungeon Break di kota Hannoser. Diperkirakan Jumlah Korban jiwa akan tetap meningkat sampai Dungeon Breaknya selesai untuk dibereskan. Meliput dari Tempat Kejadian Perkara. Terima kasih.
Wah.. aku tidak terlalu membaca Berita akhir-akhir ini jadinya aku lumayan ketinggalan informasi.
{Dungeon Break lagi ya.. akhir-akhir ini kayaknya Dungeon Break menjadi lebih sering terjadi.}
Entah secara kebetulan atau apa, kurasa akhir-akhir ini Dungeon Break terjadi lebih sering daripada sebelumnya. Ada yang janggal dari kejadian ini sepertinya.
Disaat aku sedang melihat siaran Televisi, seorang pelayan masuk ke Ruangan.
"Permisi Tuan Muda, Mohon maaf mengganggu waktunya." Dengan memegang sebuah nampan yang diatasnya ditaruh sebuah Cangkir.
"Ada apa?" Aku bertanya kepadanya.
"Tidak ada apa-apa Tuan Muda, saya hanya ingin mengantarkan secangkir Kopi untuk anda."
Perasaan aku tidak menyuruh seorang pun untuk membawakan sebuah Kopi disini.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membawa Kopi itu?"
Ternyata keinginannya. Aku akan menerimanya dengan senang hati kalau begitu.
"Taruh saja di meja itu." Sambil menunjuk ke arah meja yang berada di depanku.
"Baik Tuan Muda."
Pelayan itu pun menaruh Cangkir kopinya di meja. Dia menaruhnya dengan pelan dan sangat hati-hati agar tidak ada satupun air yang keluar dari cangkirnya. Tak lupa aku berterimakasih padanya karena telah menyediakan Kopi ini untukku.
"Terima kasih."
"Sama-sama Tuan Muda." Sambil menundukkan Kepalanya sejenak.
Kemudian, Pelayan itu pun pergi meninggalkan Ruangan. Aku melanjutkan melihat siaran Berita yang ada di Televisi.
-Berita selanjutnya, Sang Top Ranker nomor 5 nasional mengatakan bahwa dirinya akan mengatasi Dungeon Break yang ada di wilayah Hannoser bersama dengan Timnya. Mari kita dengan wawancara eksklusif dengannya.
"Bagaimana Rencana anda Tuan Marco untuk mengatasi Dungeon Break yang terjadi di wilayah Hannoser?"
"Rencana Kami? Mungkin dengan mengerahkan seluruh kekuatan kami. Sejujurnya kamu tidak memiliki rencana yang terlalu matang. Kami lebih baik bergerak dengan bebas tanpa rencana dibandingkan merancang sebuah rencana yang akhirnya akan sia-sia. Apalagi kondisi Dungeon Breaknya belum bisa kami perkirakan."
Para Wartawan itu mulai menanyakan bagaimana cara Marco mengatasi Dungeon Break itu bersama timnya. Mereka tampak menyodorkan mic-mic mereka tepat ke Mulut Marco. Walaupun begitu, sikap Marco tetaplah sabar dan mencoba untuk menjawab satu persatu jawaban yang diberikan para wartawan.
Sifatnya yang tetap mencoba untuk meladeni para wartawan itu membuat semua orang menyukainya. Dia terlihat sangat Friendly dengan semua orang yang dia temui.
"Tuan Marco, apakah ada sesuatu yang mungkin akan terjadi kalau Tim mu tidak bisa menanganinya?"
"Hal yang terjadi saat tim ku gagal menanganinya ya… hmm.. kupikir itu akan menjadi akhir dari negara Jermuntz. Tapi aku dan Timku sangat percaya Diri dalam menangani Dungeon itu. Kalian cobalah untuk tenang dan berusaha untuk tidak panik apapun yang terjadi. Karena kita masih memiliki 3 Top Ranker yang masing-masing memiliki Kekuatan yang setara. Kalau timku kalah kan masih ada mereka bertiga yang bisa menanganinya."
"Terima kasih atas jawaban anda Tuan Marco."
"Santai saja."
__ADS_1
Marco dan timnya sangat terlihat percaya diri sekali nampaknya. Yahh.. sikap percaya dirinya itu tidak semena-mena dia tunjukkan. Sebab dalam Timnya saja itu berisi Top Ranker dari no 5-10. Marco yang menjadi ketua dari Timnya itu.
Makanya dia terlihat tenang dan percaya diri saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang lumayan menjebak dari wartawan-wartawan itu.
"Ketiga Top Ranker ya… mungkin betul juga sih kalau yang diucapkan Marco. Mereka bertiga sudah cukup untuk membasmi salah satu Dungeon Kelas SS. Kekuatan mereka dianggap setara oleh Asosiasi Ranker."
Aku pun menyeruput Kopi yang disediakan tadi.
"Slurppp.."
Kopinya lumayan Manis dan tidak terlalu pahit. Ini lumayan cocok untuk pendamping ku. Top 3 Ranker saat ini masih diisi oleh masing-masing Keluarga Terpandang di Jermuntz. Sepertinya Top Ranker 1 saat ini yaitu Kyle Roswell. Keluarga Roswell menduduki Peringkat 1 dalam Hal Pencapaian yang diberikan Keluarga atas Negara. Disusul oleh Keluarga Schwarz. Yang Memiliki salah satu anggota keluarga yang menjadi Top 2 Ranker saat ini. Giovanni Schwarz.
Untuk nomor 3 berasal dari Keluarga Ignite. Kalian pasti sudah bisa menebak siapa anggota keluarga yang masuk Top 3 Ranker saat ini. Ya, Kak Kaizo. Dia adalah Top 3 Ranker di Jermuntz saat ini.
Untuk Tingkat Dunia, Kak Kaizo berada di Urutan 17. Sedangkan Kyle, dia berada di Urutan 5 Dunia. Makanya asosiasi Ranker Jerman membuat pernyataan bahwa Ketiga Top Ranker saat ini memiliki Kekuatan yang setara dengan Dungeon Rank SS. Tapi kalau mereka bekerja sama.
Sayangnya mereka bertiga memiliki sifat yang saling berbeda. Giovanni dengan Sifat suka Bersenang-senang, Kyle yang mempunyai Sifat terlalu serius. Dan Kak Kaizo yang memiliki sifat tak peduli dengan sekitar.
Sulit untuk mereka bertiga bekerja sama satu sama lain dengan sifat yang berlawanan. Hah… kenapa di negara ini posisi teratas ditempati mereka bertiga. Aku pun melanjutkan meminum Kopi yang sudah mulai dingin itu.
Membuka Smartphone dan mencoba untuk Ngechat Vincent.
-Oy Vin. Ada nomor Leon gak?
Beberapa saat, Vincent mulai mengetik.
-Ada nih. Bentar aku kirim nomornya.
Aku menunggu beberapa saat.
-KONTAK : LION.
Hahaha… Anak ini, kalo ngasih nama kontak memang ada-ada saja. Aku berterima kasih padanya karena sudah memberikan nomor Lion.
-Makasih Vin.
Aku membuka Kontak itu dan mencoba untuk melakukan sebuah Percakapan dengan Leon.
-Selamat Sore.
Tak lama, Leon pun membalas pesanku.
-Sore juga. Ini siapa ya?
-Ini aku Raphael.
-Raphael kah.. kukira orang lain salah nomor. Ada apa Raph?
Hmm.. sepertinya tak perlu banyak basa-basi. Aku pun langsung mengetik maksud dan tujuan ku untuk ngechat dia.
-Berhubung kamu kan Udah lumayan Deket Ama Novaria, bolehkah aku bertanya tentang hal apa saja yang dia sukai?
-Hal yang disukai Novaria ya… Saat aku bersamanya sih, dia sering pergi ke Game Center. Dia suka bermain Capit Boneka disana.
Aku baru tahu mengenai hal ini.. kukira Novaria sangat tidak tertarik dengan Game Center. Rupanya dugaanku salah.
-Lalu Apa lagi Leon?
-Hmm.. dan juga dia sering mengajakku pergi ke Sebuah Tempat Hiburan saat hari libur. Yah, Alice juga ikut mengajakku sih biar bersama. Mungkin dia suka Bermain Wahana di Tempat Hiburan. Lagipula aku jarang ikut kalau pergi ke tempat-tempat seperti itu. Coba kamu tanya Alice saja. Dia yang lebih tahu tentang Novaria.
Informasi yang kudapat sangatlah terbatas saat ini. Mau tidak mau aku harus bertanya kepada Alice. Akhirnya aku pun menyelesaikan chatan ku dengan Leon.
-Baiklah kalau begitu. Terima kasih Leon .
-Sama-sama, dan Juga semoga aku mendapatkan kabar baik tentang Hubunganmu dengan Novaria ☺️.
Hah…. Bagaimana dia tahu hal itu. Perasaan aku tidak pernah sekalipun bercerita kepada siapapun bahwa Aku ingin mencoba mendekati Novaria. Aku pun langsung mematikan Smartphone ku.
"Hah.. masih lumayan banyak hal yang belum kuketahui tentang Novaria." Dengan kepala menunduk ke belakang mengikuti Sofa dan Smartphone yang menempel di dahi.
__ADS_1
Aku pun menghabiskan Kopi yang tersisa sedikit itu dan Mematikan televisi lalu pergi ke Kamar ku….