
"Hahh.." aku menghela nafas ketika berjalan.
Lorong kelas terlihat sepi. Semua kelas yang kami lewati kebanyakan sudah ada guru yang mengajar disana. Aku harus sedikit buru-buru nih.. kalau memang kelasku sudah ada guru, aku harus memikirkan alasan yang masuk akal.
"Bienen, kalau semisal ada guru, kamu mau alasan seperti apa?" Tanyaku sambil menaruh tanganku di belakang kepala.
"Ga tau Liebe.. aku lagi gak pengen ngurusin itu. Aku lagi ga mood," balasnya.
Hah.. susah sekali membuat dia sedikit semangat. Aku tidak ingin melihat mukanya yang lesu itu setiap saat. Novaria yang kukenal adalah Novaria yang bersemangat.
Aku seperti melihat sosok yang berbeda..
Kami berdua pun berdiri di depan Pintu kelas kami. Kulihat tadi di jendela, sudah ada pak Valiere. Aku mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya.
TOKK TOKK
"Permisi.." sambil menggeser pintunya ke kanan. Pintunya terbuka dan Pak Val melihat ke arahku dan Novaria yang ada di belakang.
"Kenapa baru masuk?" tanya Pak Val sambil memegang sebuah buku di tangannya.
Alasan apa yang tepat untuk dikatakan. Hmm..
"Anu Pak.. aku dengannya tadi habis membantu Pak Gritz untuk membawa perlengkapan olahraganya ke Gymnasium," aku berbohong padanya.
Hanya alasan itu yang menurutku paling masuk akal dari seluruh alasan yang sudah kupikirkan tadi.
Pak Val mulai melihat ku dengan tajam. Aku memasang raut wajah yang seperti biasanya agar dia tidak terlihat curiga kalau aku sedang berbohong.
"Ya sudah, balik ke tempat duduk masing-masing." Dia pun memasang tatapan biasa.
(Hufft! Untungnya ga ketauan.)
"Baik pak." Ucapku dan juga Novaria.
Kami berdua pun duduk di tempat kami Masing-masing. Dengan Novaria yang sedikit menunduk ketika berjalan.
"Hah..!" eluh ku sambil menggeser kursi tempat duduk ku.
Aku pun duduk dengan tangan yang bertopang dagu.
"Habis darimana kamu Raph?" tanya Vincent.
Aku pun menoleh ke arahnya.
"Dari Taman Belakang. Novaria tadi ngajak aku kesana," balasku dengan bertopang dagu.
"....." Vincent terdiam dengan memasang Ekspresi sedikit tersenyum dan alisnya terangkat.
Sudah kuduga.. dia berpikir yang tidak-tidak tentang kami berdua. Aku dengan cepat menyanggah pikirannya itu.
"Cuman ngelihat Air mancur aja. Gak ada hal yang lain." Dengan nada yang datar.
"Aku kira gitu.. kamu diam-diam melakukan hal yang senonoh sama Novaria.."
"Pikiranmu itu.. kebanyakan baca majalah dewasa sih. Ada-ada aja," resahku dengan segala macam pikiran dia tentangku.
Aku tahu hal yang dirahasiakan olehnya. Dia sering mengajakku untuk pergi ke sebuah Tempat buku untuk membaca majalah-majalah seperti itu. Jelas aku menolaknya, karena membaca buku kayak gitu, tidak sesuai dengan prinsip ku yang menentang segala macam jenis hal yang tak senonoh sebelum umurnya.
Tapi aku pernah membacanya sih sekali.. tapi itu juga karena aku tidak tahu kalau bukunya adalah Majalah dewasa. Dari cover bukunya, itu terlihat seperti pemandangan alam. Eh pas dilihat isinya, haduh…
Pak Val terus menerangkan tentang Norma-Norma dalam masyarakat. Pelajaran yang dia ajarkan adalah tentang Norma dan Hukum yang berlaku di negara ini. Mulai dari pasal-pasalnya sampai Sanksi yang diterima kalau melanggar pasal itu.
Sejujurnya pelajaran ini tidak terlalu berguna untuk Kelas A. Kebanyakan murid berasal dari Keluarga yang memiliki Tingkat Ekonomi tinggi. Sudah pasti etika dan juga norma-norma sudah diajarkan sejak mereka masih kecil.
Tapi tak semuanya melakukan hal yang diajarkan oleh Keluarganya itu. Pasti ada beberapa yang memang tidak mengerti etika dan juga Sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.
Aku hanya mendengar saja apa yang dikatakan Pak Val tanpa menulis. Menulis juga hanya sia-sia kalau Norma ataupun Hukumnya tidak diingat dengan baik. Buku tidak akan dibawa setiap saat, sedangkan Ingatan akan terbawa setiap waktu.
Lebih baik untuk mengerti pelajarannya, daripada hanya sekedar menulis dan mengingat itu. Kalau mengerti sudah pasti ingat. Tapi kalau ingat, belum tentu mengerti. Itulah cara belajar dengan kualitas yang baik.
__ADS_1
Itu sudah diajarkan padaku sejak kecil oleh Ibunda. Ketika aku mengingat pelajaran, pasti dia akan menjawabnya seperti ini. "Nak, daripada kamu mengingatnya, cobalah untuk mengerti apa isinya dengan membacanya berkali-kali. Cara itu lebih baik dibandingkan kamu Mengingat yang belum tentu akan terukir di kepalamu dalam jangka waktu yang lama."
"Baik Ibunda. Aku akan mencobanya.." ucapku saat masih kecil dulu sambil membaca buku.
Apa yang diajarkan oleh Ibunda padaku saat kecil, sangatlah bermanfaat dan membuatku paham dengan setiap pelajarannya. Walaupun tidak terlalu pintar, yang terpenting aku paham apa isinya.
Seperti yang Pak Val terangkan tadi. Dia menerangkan sebuah Pasal tentang Tindak Kriminalitas dan Penjualan obat-obatan Terlarang. Banyak sekali mungkin Transaksi Narkoba yang jelas-jelas sudah diilegalkan oleh Pemerintah.
Tapi setiap Tahun, dari data statistik yang Pak Val berikan tadi, selalu naik dan juga tinggi. Seperti tahun sebelumnya, sebanyak 2 Ton Narkotika jenis Kokain diamankan oleh Petugas kepolisian.
Belum lagi jenis yang lainnya.. mungkin ada sekitar 50 Ton lebih Narkotika yang sudah diamankan oleh Pemerintah setempat.
Narkotika sangatlah berbahaya. Membuat si Pemakai kecanduan terus menerus akan kenikmatannya. Narkotika dapat Merusak fungsi kinerja otak, sehingga Kualitas otak menurun.
Dan juga Gangguan Neurologis, Kardiovaskuler dan lainnya. Intinya Narkoba itu berbahaya dan wajib untuk dijauhi. Kecuali untuk Hal medis, dan itu juga dikonsumsi dengan dosis yang dianjurkan oleh para ahli medis.
Begitulah kira-kira yang diterangkan oleh Pak Val tentang bahaya dari Narkoba. Jadi mengerikan ketika Pak Val menyebutkan Jumlah orang yang sudah terganggu oleh Efek Narkoba itu.
Sungguh hal yang sepele namun mampu menghancurkan sebuah Negara.
"Oke, karena sudah bapak terangkan tadi, tolong kalian sebutkan apa saja macam-macam jenis Narkoba. Apa ada yang bisa menyebutkannya?"
Adam langsung berdiri dengan semangat dan menjawab pertanyaan yang Pak Val berikan.
"Saya Pak!" Sambil mengangkat satu tangan.
"Oke Adam, silahkan sebutkan macam - macam Narkoba yang kamu ketahui."
"Yang pertama ada Morfin, Heroin, Kokain, ganja dan Lysergic Acid," balasnya sambil berdiri di samping kursi duduknya.
Masih ada kekurangan. Tapi setidaknya, dia berhasil menyebutkan hampir semua dari Jenis Narkoba.
"Bagus Adam, silahkan duduk." Pak Val memerintahkan pada Adam.
"Baik pak." Adam sambil duduk di kursinya.
Aku berniat untuk menjawabnya. Aku pun mengangkat tanganku. "Saya Pak!"
Pak Val melihat ke arahku. "Baik, silahkan Raphael."
Aku pun berdiri dan menjawab jenis yang tersisa. "Opiat, Kodein dan Metadon."
"Bagus.. benar semua. Terima kasih buat Raphael yang sudah meneruskan Jawaban yang kurang dari Adam."
"Sama-sama Pak."
Aku pun duduk kembali.
"Jadi anak-anak, itulah jenis dari Narkoba yang saat ini diketahui. Berbagai macam Obat memiliki efek yang kurang lebih hampir sama. Sekarang tugas Kalian, sebutkan berbagai Efek yang ditimbulkan akibat Narkotika yang telah disebutkan Adam dan Raphael. Sedikit saja, Gausah terlalu banyak."
Seenggaknya Tugas yang diberikan masih tergolong mudah. Dan juga, Beberapa efek dari obat juga aku ketahui. Tinggal menulis saja.
"Baik Pak!" Sahut kami semua.
Pak Val terlihat mengamati Jam tangan yang dikenakannya.
"Karena sudah Jam segini, mungkin itu akan menjadi Tugas kalian di rumah. Kalian sudah boleh Pulang lebih awal dari Belnya," ungkap Pak Val.
Yes!! Aku sedikit bersemangat. Jadwal pulang lebih cepat dari yang telah diberikan. Aku akan menggunakan waktu yang tersisa untuk membantu mencari Anting Novaria yang hilang.
Aku langsung merapikan semua barang yang ada di atas meja dengan cepat.
"Mau pulang bareng kah Raph?" tanya Vincent dengan tas di pundaknya.
Sembari merapikan barang, aku membalas ucapannya. "Hari ini mungkin enggak dulu Vin. Ada suatu tempat yang ingin ku kunjungi."
"Oke lah.. kalau begitu aku pulang duluan ya. Sampai jumpa besok.." balas Vincent sambil melambaikan tangan dengan kecil.
Aku buru-buru merapikannya dan memasukkannya ke Tas. Selesai memasukkan semua barang ke dalam Tas, aku menggandeng tas ku di Pundak. Sambil memastikan sekali lagi, aku melihat ke arah Kolong meja.
__ADS_1
"Oke, sudah beres semua."
Aku pun mendekati Novaria yang masih membereskan barang-barangnya. Ada Alice yang menunggu Novaria dia selesai merapikannya.
"Loh Lic.. kamu belum pulang?" tanya ku sambil memasukkan tangan ke saku celanaku.
Alice menoleh ke arahku sembari berkata. "Lagi nunggu Novaria. Sekalian bantu nyari Antingnya yang hilang."
Kukira hanya aku yang tau masalah hilangnya anting dia.. ternyata Alice juga sudah tahu akan hal itu.
"Ahh.. ternyata kamu juga tahu ya soal itu."
"Kamu ngapain belum pulang Raph? Vincent udah jalan duluan tuh," ungkap Alice.
"Novaria juga sudah memberitahu ku tadi soal Antingnya. Aku berniat ikut mencarinya juga," balasku dengan menyilangkan kedua tangan di dada.
"Baguslah kalau begitu. Kalau rame orang, bisa lebih cepat ketemu."
Novaria pun selesai merapikan barangnya.
"Ayo Raph, Lic." ucap Novaria masih dengan nada yang lesu.
Kami bertiga pun pergi meninggalkan Ruang Kelas. Karena aku yang terakhir, aku menutup pintunya.
BAKK!!
Saat Novaria berjalan, dia selalu memegang tali Tasnya. Dia berjalan dengan pelan dengan tatapan yang sayu. Semoga saja pencarian nanti dapat membuahkan hasil. Lama-lama, aku jadi kasihan padanya.
Oh iya, sebelum mencari, sebaiknya aku menanyakan kita akan mencarinya dimana terlebih dahulu. Kalau hanya sekedar mencari tanpa tahu tempat yang pasti, akan lebih memakan waktu yang lama.
"Nov, memangnya awal kamu sadar Antingmu hilang itu kapan? Dan dimana tempatnya?" tanyaku.
"Iya bener Nov. Kalau cuman muter doang, gabakal ketemu nanti," lanjut Alice.
"Hm.. terakhir kali sih aku sadar Antingku hilang itu di Taman dekat Rumahku," balas Novaria dengan sedikit keraguan.
Di taman ya.. semoga saja itu tidak diambil oleh orang lain. Apalagi Taman biasanya ramai oleh pengunjung. Mungkin saja ada orang yang sudah menemukannya dan membawanya pulang kemudian.
Tapi lebih baik mencari terlebih dahulu. Barangkali memang masih tergeletak di suatu tempat di Taman yang Novaria maksud. Aku juga belum pernah mampir ke dalam Kawasan Rumah Novaria. Aku jadi sedikit penasaran bagaimana Tamannya.
"Memangnya kamu lagi ngapain disana Nov? Sampe ilang begitu Antingmu," tanya Alice dengan kedua tangan di sampingnya.
"Aku lagi nemenin adikku bermain di sana. Waktu itu.. kalau nggak salah, aku sempat bertabrakan dengan salah seorang anak yang sedang bermain disana. Aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh."
Mungkin disaat itulah Antingnya hilang. Kalau dia jatuh, bisa saja anting itu terlepas dari Telinganya karena Longgar.
"Anak itu minta Maaf karena sudah menabrakku. Aku pun memaafkannya dan kembali menemani Adikku yang sedang bermain Jungkat Jungkit. Saat itu adikku sangat senang sekali, jadinya aku tidak terlalu terpikir dengan Antingku." Sambil melihat ke atas.
Mau Bagaimana pun, tak ada yang terpikir tentang sebuah Anting di telinga. Apalagi kalau sudah berada di taman, yang terpikirkan adalah sebuah Kesenangan dan Hiburan.
"Terus kamu sadar anting itu hilang saat lagi ngapain?" tanya ku.
Dia menempelkan jari jempolnya di mulut. "Hmm.. aku sadar hal itu pas aku sudah pulang dan berada di kamarku. Kebetulan aku sedang melihat ke arah Kaca dan mencoba untuk melepaskan pakaianku dan membersihkan diri. Saat kulihat dari kaca, aku baru sadar kalau sepasang anting yang kupakai hilang. Aku langsung kaget saat mengetahui dan panik dalam waktu bersamaan."
(Yah.. bagaimana bentuk tubuh Novaria ya..) pikiran mesum menghantuiku.
Sial! Karena Vincent yang mengajarkanku, pikiran mesum mulai memenuhi Pikiranku. Aku harus berhenti mendengarkan Vincent ketika membahas sesuatu yang berbau dewasa. Tapi.. aku lumayan penasaran juga sih.
Tapi tolonglah pikiranku!! Ketahuilah tempat dan kondisinya. Kondisi lagi sedih-sedihnya, malah kamu muncul begitu saja melintas dalam benak pikiranku. Aku kan jadi tidak bisa mengontrol emosi ku saat ini.
"Oke, aku paham dengan ceritamu. Yang pasti, kita akan memulai pencariannya di Taman dulu. Kalau memang tidak ada, kita lanjutkan besok pencariannya," balas Alice dengan ekspresi yang serius.
Alice yang begini jarang aku lihat.. walaupun tingkahnya kadang suka bercanda, kalau memang ada sesuatu yang menyangkut Novaria dia terlihat serius. Mungkin level pertemanan dia dengan Novaria sudah hampir sama sepertiku dan Vincent.
"Baiklah Alice.. makasih udah mau bantu cari ya. Aku cukup senang." Novaria sedikit tersenyum walau lumayan dipaksakan.
Baguslah kalau dia sudah bisa tersenyum…
__ADS_1