
Tim ku berjalan melewati Tim Reinhart, kami berpapasan. Kroenzi pun menyapa Reinhart yang tampak murung itu.
"Jangan murung gitu dong.. aku akan membalas kekalahanmu nanti." Kroenzi menepuk dada Reinhart.
"Siapa yang murung… aku biasa aja tuh!" sanggah Reinhart.
Sepertinya dia tak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Kroenzi. Yah kami juga akan seperti itu jika tim kami kalah.
"Tenang saja Gar. Aku akan membalaskannya nanti," ucap Leon.
"Hahaha.. tolong ya.. balaskan kekalahan kami," balas Gary.
"Nanti selesai Basket main game bareng ya. Xavier, Gary." Ucap Leon sambil menepuk pundak mereka berdua.
Mereka berdua pun tampaknya menyanggupi permintaan Leon. Leon serta yang lainnya pun berjalan kembali.
"Tolong ya!" Tom sambil memegangi bahu ku.
"Aku akan berusaha!" Balasku.
Sekarang sebuah dorongan diberikan oleh Mereka. Aku jadi semakin semangat ditambah mereka yang mengandalkan ku. Pasti akan kuberikan mereka pertandingan yang menarik untuk dilihat.
Aku pun pergi meninggalkan mereka dan menuju ke bawah. Disana, terlihat Tim Adam sudah menunggu kami dengan semangatnya.
Sampai di bawah…
Kami semua duduk di pinggir lapangan untuk menunggu waktu pertandingan mulai. Memberikan waktu untuk Tim Adam beristirahat sejenak pasca Pertandingan krusial tadi. Dengan Kursi panjang yang memuat 5 orang, aku duduk menghadap ke Bangku penonton.
Kami sedikit membahas strategi dikala Jeda waktu pertandingan.
"Jadi, bagaimana cara main kita sekarang? Apakah tidak ada yang berubah?" tanya Kroenzi.
Aku berpikir sejenak untuk membuat sebuah Strategi yang tepat untuk melawan mereka. Dengan Adam yang menjadi Pondasi mereka, sudah pasti kita akan lebih menekan pergerakan Adam agar dia tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Untuk sekarang yang mesti diwaspadai adalah Adam. Jump shot dia Memiliki akurasi yang cukup tinggi. Sekali dia melompat, maka mereka akan mendapatkan skor," balas ku.
"Tapi kalau kita terlalu berfokus dengan Adam, Luci yang lincah bisa bergerak dengan bebas nantinya. Kombinasi antara Luci dengan Michael juga tidak bisa dianggap remeh," sela Leon.
Perkataannya benar juga. Cukup sulit untuk menentukan bagaimana strategi kita untuk melawan mereka. Komposisi tim mereka sangatlah bagus. Mereka bisa mendapatkan Skor dari mana saja. Ditambah dengan Frans yang terkadang nekat melempar bola dari ujung.
"Kesulitannya jauh lebih tinggi dibanding Tim Aaron." aku berdiri di depan mereka semua. "Mau bagaimana pun, lebih baik untuk bermain dengan tenang. Tidak perlu tergesa-gesa dalam mendapatkan Skor." ucap ku untuk memberikan semangat kepada mereka.
"Benar juga kata Raphael. Yang terpenting adalah kita bermain dengan tenang." Sambung Vincent sambil ikut berdiri sepertiku.
"Kalau begitu, kita akan bermain sebebas mungkin?" tanya Isaak.
"Bisa dibilang begitu. Filosofi permainan kita untuk melewati mereka adalah Terbang menembus Awan," ucap ku.
"Terbang menembus Awan? Apa maksud filosofi itu?" tanya mereka semua.
Itu adalah Filosofi yang aku dapatkan dari sebuah Buku yang aku lupa judulnya. Arti dari kata itu tidak lain tidak bukan adalah Bergerak Melewati Tekanan.
"Bergerak bebas melewati tekanan yang menghalang kita. Bergerak bagaikan sebuah burung yang menembus Awan," balas ku.
Mereka semua tampak terkagum dengan filosofi yang kuberikan. Mereka semua mulai berdiri dari tempat duduk.
"Kalau begitu, kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita. Layaknya burung yang mengepakkan sayapnya." Ujar Isaak.
Kami pun saling mengarahkan satu tangan kami ke Tengah. Melakukan sebuah Toss agar semangat berkobar.
"Untuk kemenangan." Ucap Leon memimpin sebuah Toss.
"Untuk kemenangan dan pembalasan kekalahan Reinhart!" teriak Kroenzi dengan Semangat.
"Hahaha..Untuk kemenangan." Tertawa Isaak.
Tangan kami semua mulai berkumpul di satu tempat. Saling tindih satu sama lain. Dengan visi yang sama, kami semua pun mulai menyebutkan Filosofi secara bersamaan.
"Terbang Menembus Awan!" Teriak kami semua sambil mengangkat tangan.
"WOO!" Teriak Vincent.
Kini, tim kami sangat bersemangat untuk meraih Kemenangan.
PRIITTT
Bunyi peluit berbunyi panjang. Pertandingan akan segera dimulai sebentar lagi. Kedua belah tim pun mulai menuju ke tengah Lapangan.
Kami semua pun mulai berbaris saling berhadap-hadapan. Aku yang berhadapan dengan Frans, Vincent dengan Luci, Isaak dengan Raymond, Leon dengan Luci dan Kroenzi dengan Adam.
Situasi sekarang mulai memanas karena tegangannya.
"Aku akan mengalahkan mu disini Raphael!" celetuk Frans.
"Hah! Coba saja kalau bisa. Justru aku yang akan mengalahkan mu." Balasku dengan kepala yang sedikit menunduk ke belakang.
Aku akan mencoba untuk membuat Frans kehilangan semangatnya saat pertandingan nanti. Suara sorak sorai mulai terdengar dari Bangku penonton. Ini adalah Pertandingan terakhir untuk Hari ini. Semuanya saling mengerahkan semua Tenaganya mulai sekarang..
Alvian pun sekarang berjalan di tengah - tengah kami. Melewati sambil menoleh-noleh ke arah wajah kami semua dengan sebuah Bola basket yang dia pegang. Dia terlalu menjiwai saat menjadi seorang Wasit.
__ADS_1
"Untuk pertandingan terakhir, ada sedikit peraturan yang diubah. Kita akan bermain 2 set dengan 1 set diberikan Waktu 10 menit." Ucap Alvian sambil melewati kami semua.
2 set. Waktu yang cukup untuk sebuah pertandingan terakhir. Mungkin akan ada Ajang saling balas membalas nantinya. Lebih baik aku sedikit bermain santai untuk set ke 1. Tapi aku juga tidak akan bermain terlalu santai untuk menjaga selisih Poin nantinya.
"Ada yang ingin ditanyakan kembali mengenai pertandingannya?" tanya Alvian kepada kami semua.
Salah seorang dari tim mereka pun mengangkat tangannya.
"Apakah sekarang kita sudah bisa menggunakan skill kita?" tanya Raymond.
Benar juga, sepanjang permainan tadi, ada sebuah peraturan untuk tidak menggunakan Skill masing - masing. Apakah di pertandingan terakhir ini akan diberikan sebuah keringanan untuk menggunakan skill-skill kami? Aku merasa akan mudah menang jika diperbolehkan memakai Skill.
"Tidak! Kita akan bermain sebuah Permainan Basket yang murni mengandalkan kekuatan Fisik dibandingkan memakai Kemampuan kalian," tolak Alvian.
Yahh.. sayang sekali. Kukira tadi kita semua akan diberikan izin untuk menggunakan skill - skill kami.. kalau begitu, aku harus mengandalkan Kroenzi yang memiliki fisik lumayan kuat.
"Apa ada pertanyaan lain?" Alvian sambil melihat ke arah kami semua. Dilihat dari raut wajah yang lain, sepertinya tidak ada yang ingin bertanya kembali. "Kalau begitu mungkin kita mulai saja pertandingannya. Untuk kedua belah pihak, silahkan saling bersalam-salaman untuk menjunjung sportivitas," ucap Alvian.
Kami semua pun mulai bersalam-salaman sambil berjalan ke Area masing-masing tim.
"Mohon Sportivitasnya ya.." ucap Adam sambil menyalami tangan Leon.
"Iya.." balas Leon.
Sekarang giliranku untuk bersalaman dengan Adam. Entah kenapa genggamannya terlihat sangat erat. Aku juga bisa merasakan sensasi tangannya yang terlihat kasar itu. Seperti sudah terlatih sehari-harinya.
Aku pun sekarang bersalam-salaman dengan Frans. Dia tampak memegang erat tanganku. Aku pun juga mencoba membalasnya. Kini sebuah permusuhan terjadi antara aku dengannya. Dia tampak menyeringai di depan wajahku.
Aku pun membalasnya dengan Tersenyum setengah ke arahnya. Lalu aku melanjutkan kembali untuk bersalaman dengan lainnya.
Sekarang aku dan Timku sudah bersiap di Area Lapangan Away. Sedangkan Tim Adam menjadi Home.
Aku pun melakukan sebuah gerakan untuk meregangkan kaki ku dengan Kaki kanan ditekuk ke depan sedikit. Serta kedua tangan memegang erat dengan telapak mengarah ke atas selama 5 detik.
Kemudian aku pun melebarkan kaki selebar bahu serta tangan memegang pinggul. Aku pun menggerakkan pinggulku ke depan lalu berputar searah jarum jam selama 3 putaran. Aku pun selesai melakukan peregangan agar otot-ototku tidak terlalu tegang nantinya.
Kroenzi yang sepertinya juga selesai melakukan peregangan itu pun melompat selama beberapa kali. Karena dia yang mengurus bagian depan, aku akan mencoba untuk membantunya dalam mencetak skor.
Kini Alvian pun sudah berdiri tepat di tengah lingkaran lapangan. Sepertinya dia akan segera memulainya.
"Kedua perwakilan dimohon untuk mendekat ke sini." Sambil menggerakkan telapak tangannya ke arah dirinya.
Kroenzi serta Adam pun maju sesuai apa yang diperintahkan Alvian.
"Oke kedua perwakilan sudah siap kan?" ucap Alvian sambil memastikan masing-masing tim.
"Oke langsung dimulai aja Ya. 1…" Kroenzi serta Adam pun langsung bersiap-siap untuk melompat. "2….3!" Alvian langsung melemparkan bolanya ke atas. Kroenzi dan Adam pun langsung melompat untuk mencapai bola itu. Untungnya postur tubuh Kroenzi yang tinggi itu membuatnya cukup mudah untuk menggapainya.
Bola sekarang berada di Timku dengan Isaak yang memegangnya. Leon pun langsung bergerak maju secara cepat ke arah Area Lawan. Raymond serta Michael pun mencoba menghadangnya. Sekarang, Leon sedikit terlihat kesulitan dengan 2 orang yang menghadangnya secara bersamaan.
Isaak pun maju sambil mendrible bolanya dengan tenang. Vincent pun mencoba untuk membuka sebuah Ruang di depan. Dia menghalau Luci yang hendak menghadang Isaak itu. Isaak pun sekarang sedang satu lawan satu dengan Adam. Keduanya saling memperhatikan satu sama lain.
Isaak pun mencoba untuk bergerak ke arah Kanan. Namun, Adam pun bergerak selangkah ke Kanan untuk mencoba menghalaunya kembali. Isaak pun langsung melakukan sebuah Pivot untuk lepas dari Adam. Sayangnya, Adam langsung menyentuh bola yang berada di bawahnya. Sekarang bola itu pun menggelinding di lantai ke Arah Area Tim ku. Adam pun dengan cepat mengejar bola itu.
Karena hanya tersisa aku sendiri, aku pun berlari juga untuk mengejar bola itu. Tapi sayang, Bola itu sudah keduluan untuk diambil oleh Adam. Aku pun menghentikan langkahku. Terlihat, Adam sedang berancang-ancang untuk melakukan Jump Shot. Aku pun langsung berlari kembali mendekatinya.
Dia pun sudah melompat dan segera untuk melemparkan Bolanya. Aku pun langsung ikut melompat untuk menghadang bola itu. Ketika dia melemparkan Bolanya, untungnya tangan ku sudah berada di depan bolanya. Bola itu terhalang oleh tanganku. Aku pun mencoba untuk mendorong bolanya ke depan.
Bolanya sekarang bebas tanpa ada yang memegangnya. Situasi mulai berubah. Leon yang tadi dalam penjagaan pun sudah lepas dan memegang bolanya. Kroenzi yang sudah berada di bawah Ring dengan Frans yang mencoba untuk mengepress Kroenzi. Tapi sayang, dikarekan postur tubuhnya yang jauh lebih Kecil, Kroenzi dengan mudahnya lepas dari tekanan yang diberikan oleh Frans. Leon pun langsung memberikan bola kepadanya. Kroenzi pun langsung melompat setelah mendapat bolanya dan melakukan sebuah Dunk.
Ini merupakan Awalan yang bagus. Tim ku pun langsung berlari kembali ke Areanya. Luci pun segera memegang alih bolanya. Dia dihadang oleh Vincent. Sedangkan Adam dihalau oleh Leon dan Kroenzi. Luci mulai melihat - lihat ke arah Anggota timnya sambil mendrible bola. Dia tampak tenang dan tak menunjukkan ekspresi keraguan sedikitpun di wajahnya.
Dia pun bergerak perlahan ke belakang. Dia melakukan sebuah dribble melewati celah kakinya. Ke depan dan belakang secara berulang. Vincent pun langsung mendekatinya. Tapi, Dia langsung melakukan sebuah dribble dengan cepat yang membuat Vincent terlihat bingung. Sebuah Dribble di sela kakinya dengan sangat cepat. Sampai-sampai ketika dia memantulkan bolanya melewati sela Kaki Vincent, tidak ada yang menyadari. Dia berhasil lolos dari penjagaa Vincent.
Aku pun langsung mendekat dan menghalaunya. Namun, tiba-tiba bola menghilang. Dari belakang tubuhnya, bola itu pun terlempar ke arah Michael. Michael pun menerima bolanya dengan baik dan langsung melemparkan bolanya ke arah Ring. Mereka pun mencetak skor.
"Dribble macam apa itu! Aku tidak bisa melihat bolanya." Ujar ku.
"He-hey..." Vincent dengan wajah sedikit ketakutan. "Aku bisa melihatnya mengoper dengan menggunakan siku tangannya dari belakang badannya." ucap Vincent.
Kami semua pun terkejut. Bagaimana dia bisa melakukan operan seperti itu. Tapi Leon pun langsung tenang seketika.
"Permainan Basket jalanan ya.. sepertinya aku bisa menghalaunya." Ucap Leon.
"Apa kamu bisa?" tanya ku.
"Aku sudah berkali-kali melihat Basket Jalanan. Jadi aku cukup tau cara melawannya. Kalian bisa serahkan Luci kepadaku." cetus Leon.
Kami semua pun menyetujuinya dan memberikan Leon untuk menjaga Luci. Permainan pun dimulai dari kami. Aku memberikan bolanya kepada Isaak. Isaak pun memberikan kembali bolanya ke arah Leon yang sudah berada di tengah Lapangan. Leon saat ini sedang berhadapan dengan Luci. Leon pun tampak melakukan Dribble yang sama dengan Luci lakukan tadi. Bedanya, dia bisa melakukan itu dengan cepatnya melebihi Luci.
Dia pun bergerak ke depan sedikit lalu kembali ke belakang. Luci pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Itu adalah Ankle Break.. Sial, Leon bisa melakukan Ankle Break. Itu sudah diluar ekspektasi ku dengannya. Leon pun langsung berlari menuju corner. Michael serta Adam menghalanginya yang sedang berlari sambil mendribble itu. Dia pun melakukan sebuah gerakan memutarkan badannya di celah sempit. Dia pun berhasil lolos. Dia langsung Menggerakkan tubuhnya ke samping dan langsung lompat serta melemparkan bolanya. Bola itu pun masuk ke dalam Ring.
Dia pun kembali sambil mengelap keringat di bibirnya. Dengan tatapan tajamnya, aku mengetahui bahwa sekarang dia masuk ke dalam Mode Rigorousnya.
{Hahaha!! Sial!! Sekarang kamu menjadi bintangnya Leon!} Dalam hatiku sambil tertawa.
Menit per menit pun berlalu. Dengan Leon yang masih menjadi bintangnya dengan Gerakan ajaibnya itu. Dia selalu berhasil menembus pertahanan lawan dengan mudahnya dan memberikan kami cukup bantuan untuk mencetak skor. Sampai sisa 3 menit, Skor pun sudah menunjukkan 35-21 sebuah Skor yang lumayan jauh. Dan juga, Leon masih bisa menahan mode Rigorousnya selama ini. Staminanya benar-benar banyak sekali.
__ADS_1
Dengan dia yang seperti itu, sepertinya dia masih bisa memakai modenya itu sampai Akhir set 1 ini. Aku akan mencoba untuk bermain tenang sembari menghemat stamina ku. Tanpa di duga ketika aku beristirahat, Leon pun kehilangan bolanya saat berhadapan dengan Adam. Aku pun langsung memasang posisi siap untuk menghadangnya kembali. Namun, sebelum aku sampai di dekatnya, dia langsung melompat tanpa berhenti dahulu. Melemparkan bolanya dengan sempurna sehingga bolanya masuk tanpa menyentuh Ringnya sama sekali. Ahh!! Sekarang Adam juga sudah memasuki mode Rigorous.
2 orang sudah masuk mode Rigorous dalam bersamaan. Ini pertandingan yang cukup mengerikan..
3 menit berlalu… waktu hanya tersisa 5 detik. Isaak pun yang masih berada di tengah sambil memegang bolanya itu pun langsung melemparkan bolanya ke ring tanpa banyak waktu. Bolanya pun menyentuh Ringnya dan tidak masuk. Kroenzi yang berada di bawah pun langsung rebound dan memasukkan bolanya ke dalam Ring.
PRIITT
Bunyi peluit tanda set selesai. Kami semua pun kembali ke tempat duduk yang berada di luar lapangan untuk beristirahat sejenak menunggu set ke 2 dimulai. Leon nampaknya kelelahan dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Aku pun mencoba untuk mendekatinya.
"Kamu gak papa Leon?" tanya ku. "Kamu tampak kelelahan banget.."
"Hah.. aku oke Raph. Gausah cemasin aku." balas Leon.
Nafasnya yang terengah-engah itu membuat dirinya terlihat seperti kelelahan berat. Sepertinya untuk Set selanjutnya, dia tidak akan bisa bergerak dengan bebas lagi dengan stamina yang seperti itu. Aku pun mencoba untuk membantunya untuk bergerak ke kursi di luar Lapangan.
Aku merangkulnya menggunakan Pundakku dan membawanya keluar. Aku pun menaruh tubuhnya yang terlihat kelelahan itu untuk duduk. Kepalanya yang menunduk ke bawah diikuti dengan keringat yang bercucuran di lantai. Aku pun dengan segera mengambil sebuah handuk yang tersedia di pinggir lapangan dan menaruhnya di atas Kepala Leon.
"Terima kasih Raphael." ucap Leon dengan nada kelelahan.
Aku pun berdiri dan mencoba untuk melihat ke arah Tim Adam. Adam juga sepertinya terlihat kelelahan. Masih ada cara untuk menang tanpa Leon yang bergerak bebas dengan kondisi Adam yang sama seperti Leon.
Vincent pun terdiam tanpa mengucapkan satu kata pun. Menurutku itu aneh, secara Vincent biasa untuk membuka obrolan. Dan tatapan dia pun sepertinya nampak kosong tanpa adanya cahaya sama sekali. Aku pun mencoba untuk menepuk pundaknya dengan kencang.
TEKK
"Aduh!" celetuk Vincent. Dia pun tampak marah setelahnya. "Kenapa sih Raph! Mukulnya kenceng banget," bentak Vincent.
"Jangan diam kayak gitu. Memangnya apa sih yang membuat tampak murung?" tanya ku.
"Tidak, Tidak ada apa-apa." dengan mata yang bergerak keliling.
Sepertinya dia berbohong padaku. Kalau dilihat dari gelagatnya, sepertinya dia tampak murung karena dirinya berhasil dilewati dengan mudah oleh Luci. Sehingga dia merasa bahwa dia hanyalah beban dalam Tim. Aku pun mencoba untuk membuatnya Semangat kembali.
"Hahh.. sudahlah. Tidak ada seorang beban di Tim ini. Semuanya bermain dengan baik." Ucapku untuk mengembalikan semangat Vincent.
Vincent pun tampaknya menyadarinya. Dia pun sudah tidak murung lagi. Yahh kuharap dengan begini dia bisa memaksimalkan permainannya nanti.
10 Menit berlalu….
Pertandingan kembali dimulai. Dengan kondisi Leon yang kelelahan, sepertinya aku akan bertukar peran dengannya. Kroenzi dan Adam pun mulai melompat mengambil bola yang telah dilemparkan oleh Alvian.
Aku pun maju untuk membantu penyerangan. Aku pun memasang gestur untuk meminta bola kepada Vincent. Vincent pun memberikan bolanya padaku. Sesaat aku memegang bolanya, Frans, Adam dan Luci mengepungku langsung. Tidak ada jalan untukku bergerak. Namun, aku bisa melihat dari celah itu bahwa Kroenzi sudah berada di bawah Ring. Aku pun menunduk ke bawah untuk mengalihkan perhatian mereka dan melemparkan bolanya ke atas mengarah kepada Kroenzi.
Perhatian mereka tertuju pada bola yang dilemparkan. Kroenzi pun segera melompat dan melakukan Dunk lagi. Skor pun berubah kembali. Aku pun kembali ke Area ku. Sesampainya aku di Areaku, aku berbalik arah. Terkejutnya diriku bola melintas langsung di sampingku dengan cepat.
Luci sudah berada di depan tanpa kusadari. Bola itu pun dia dapatkan dan langsung melakukan Lay-up. Skor berubah kembali.
********
5 menit berjalan… tak ada situasi yang tegang terjadi dari tadi. Kedua tim bermain seperti biasa. Hanya mendribble, shoot dan terkadang Foul. Papan Skor menunjukkan angka 51-48 dengan keunggulan Tim ku. Bola masih dipegang oleh Luci dengan Dribblenya yang berbahaya itu. Dengan pertahanan man to man, sepertinya akan sulit untuk mereka tembus.
Vincent menjaga Luci dengan sangat ketat. Luci yang bergerak ke kanan itu pun bisa diikuti gerakannya oleh Vincent. Luci pun melakukan Dribble seperti yang dia lakukan kepada Vincent tadi. Dengan cepatnya dia melakukan tangkapan bola yang dipantulkan itu melewati sela kakinya. Sampai di suatu waktu, bola itu pun mulai memasuki sela Kaki Vincent. Namun, tanpa di duga, Vincent sudah menyiapkan satu tangannya di sela kakinya. Bolanya pun terhadang oleh tangan Vincent.
Bola sekarang berada di dalam genggamannya. Dia pun langsung melemparkan bolanya ke atas dengan satu tangan. Bola itu pun masuk ke dalam Ring walau dia lempar dari Tengah Lapangan. Dia pun berbalik arah. Ahh.. tatapan matanya itu, sepertinya dia juga masuk ke dalam Mode Rigorousnya. Inilah yang kutunggu, akhirnya Vincent tertarik dengan permainan basketnya. Sepertinya aku juga harus menggunakan Mode Rigorous juga.. aku mulai menutup mataku secara perlahan dan mulai membayangkan bahwa hanya ada aku dan bola di dalam Lapangan ini.
Aku pun berhasil memasukinya lagi, kini dalam pandanganku hanya ada aku dan bola saja. Diikuti dengan cahaya-cahaya putih yang berdiri di Lapangan. Bola pun mulai bergerak ke arah depan. Aku langsung berlari sekuat tenaga untuk mengejarnya. Namun, ada salah satu cahaya berwarna kuning yang sepertinya juga ikut mengejar bola itu.
Bola itupun bergerak kembali. Dengan cepat, cahaya kuning yang ikut mengejar itu langsung mengambil bolanya. Aku pun langsung berlari ke depan Ring untuk menyerang. Bola itu pun sekarang mengarah padaku setelah dilemparkan oleh sang Cahayanya. Dengan cepat aku melemparkan bolanya dengan menyamping ke arah Ring. Bola itu pun masuk.
Disaat aku mencetak skor, 2 cahaya putih lagi berubah menjadi warna Emas dan Biru tua. Sang cahaya Emas melemparkan bolanya dari ujung ke Ujung dan bolanya itu masuk. Hahahaha… ini semakin menyenangkan…
************
Beberapa saat berlalu..
Aku dan Cahaya Kuning bertarung terus-menerus dengan Sang Emas dan Sang Biru. Sang biru tampak memegang bolanya dengan lihat melewati diriku serta Cahaya putih lainnya. Pertarungan sengit terjadi di antara kami berempat. Saling menyerang tanpa mempedulikan bertahan.
Sang Biru itu pun dicegah oleh Sang Kuning. Mereka berdua saling bergerak satu sama lain dengan cukup lama, sampai Sang Biru berhasil melewati sang Kuning. Tapi aku sudah menduganya sehingga aku langsung berada di depannya dalam sekejap. Aku langsung Menggerakkan tangan ku untuk menggapai bolanya. Naas, bolanya tidak bisa kurebut dan masuk ke dalam Ring.
Aku merasakan kelelahan.. pandangan ku mulai kembali saat aku berada di Lapangan. Aku melihat mereka tampak panik. Aku pun melihat papan Skornya.. HAH! betapa terkejutnya aku. Waktu hanya tersisa 10 detik dan Skor 71-72. Sial.. aku harus menyerang lagi.
Kaki ku merasa mati rasa dan tak dapat kugerakkan. Kenapa harus di saat seperti ini… ayolah tubuhku, kumohon paksakan dirimu.. waktu berjalan dengan cepat sampai tersisa 7 detik. Luci sudah berjaga-jaga di depan ring ku. Isaak tampak kebingungan mau mengoper kepada siapa.
Waktu terus berjalan dengan cepat.. aku pun mencoba meminta bola darinya.
"OPER AKU!" Teriakku meminta bola kepada Isaak.
Isaak pun memberikan bolanya padaku. SIAL! waktu hanya tersisa 3 detik. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Mau tidak mau aku harus bergantung pada keberuntungan lagi. Aku pun langsung melemparkan bolanya sekuat mungkin mengarah ke Ring lawan dari Area ku.
{Kumohon Masuklah!} sambil berdoa dalam hati.
Pandangan tertuju pada Bola itu dengan waktu yang terus berjalan.. TOLONG!! aku berharap pada Tembakan itu….
TSSS
Ahh… Akhirnya. Terima kasih ya Tuhan telah menjawab Doa ku. Waktu pun sudah habis. Aku bisa bernafas lega sejenak karena Bola yang dilempar tadi masuk ke dalam Ring. Sorak Sorai penonton mulai Terdengar. Kemenangan telah dipastikan kepada Tim ku. Aku merasakan sebuah kesenangan saat ini.
__ADS_1
"WOOO!! Raphael!!" Teriak Tom dari bangku penonton.
Tim ku pun mulai berlari ke arah ku