
Kami bertiga duduk melingkari Api Unggunnya sembari bercerita tentang masa lalu. Ya.. anggaplah ini sebagai Camping pada umumnya. Mencairkan suasana agar tidak terlalu takut.
"Hey Hey. Kalian masih Ingat saat kita pergi ke Museum?" Ucap Vincent dengan semangat.
Hmm.. Saat ke museum kah. Aku tidak terlalu ingat sih soal yang ini.
"Aku tidak mengingatnya Vin." Aku merespon ucapan Vincent.
"Jelas kamu gabakal inget soal itu. Orang kamu yang mempunyai kejadian lucu disana. Mungkin kamu bakal melupakan agar tidak terlalu malu." Ucap Roselianne.
"Bener banget Lian, hahaha. Kalau keinget sih jadi kayak apa gitu."
Aku mencoba mengingat-ingat kejadian itu. Tapi tetap saja, tak terlintas dalam benakku sama sekali.
"Coba ceritakan ulang, memangnya saat itu aku kenapa?" Dengan nada serius bertanya.
"Kamu yakin nih Raph? Nanti kalau aku ceritakan kamu bakal sangat malu sampai-sampai minta untuk tidak diceritakan lagi."
"Tenang aja. Udah kamu ceritakan saja Vin."
Aku mempersiapkan mental ku untuk mendengar cerita yang katanya memalukan itu. Aku penasaran bagaimana ceritanya.
"Kamu aja Lian yang cerita. Kalau kamu yang cerita kan Raphael nurut." Vincent mengoper kepada Roselianne.
"Yaudah aku akan ceritakan."
Roselianne pun tampak memajang wajah serius ketika ingin memulai ceritanya.
"Jadi ketika kita bertiga masih ya sekitar umur 10 tahun, kita pernah dong ke Museum Kesenian. Jadi begini ceritanya.
[Perspektif Roselianne]
Kita bertiga awal mula memasuki Museum itu dengan barengan kan.. seperti museum umumnya, membeli tiket terlebih dahulu dan mengantri untuk memasukinya. Kita kan juga waktu itu bersama Kak Lily ya.
Kak Lily yang mengantri sedangkan kita bertiga asik tuh bermain di sekitaran Museum. Sehingga Kak Lily pun memperingati kita agar tidak bermain-main di sekitar Museum.
"Oyy, Kalian bertiga. Jangan bermain-main di sekitar museumnya."
"Baik Kak Lily. Ayok Lian, Ragni."
"Ayok kemana Vin?"
Vincent yang saat itu memang sudah bandel dan susah diatur, mengajak kita berdua Raph, buat main kejar-kejaran di sekitar Museum. Kita yang saat itu juga masih kecil dan tidak tau apa-apa dan cuman ingin bermain. Langsung tuh kita bermain kejar-kejaran disana.
"Hey Kalian bertiga, jangan berlarian."
Wajah kak Lily saat itu sepertinya lumayan marah melihat kita bertiga berlarian di sekitaran Museum. Berlarian di sekitar Pintu masuk Museum sehingga membuat para pengunjung merasa risih dengan kita.
"Wlee.. kejar aku kalau Bisa Rag."
Dulu kamu juga aku masih Inget Raph, kamu dipanggil Ragni oleh Vincent. Kalau gasalah Panggilan Ragni itu singkatan dari Raphael Ignite. Kamu yang saat itu di panas-panasin Vincent makin cepat lari mengejarnya.
"Awas Kamu Vin!!"
Kamu lumayan kesal ketika mengejar Vincent.
"Hahaha."
Aku mengikuti kalian berdua yang sedang saling mengejar itu untuk memastikan kalian tidak jauh dari Kak Lily. Aku disana seperti seorang Ibu yang mengurus kedua Anak Pecicilan yang sedang ingin memasuki Museum.
Kalian tidak bisa diam disana. Akhirnya Kamu Raphael, berhasil mengejar Vincent dan menangkapnya.
"Kena Kamu Vin.. sekarang giliran kamu yang jaga."
"Oke Ragni, kamu sebaiknya lari dengan cepat kalau tidak mau kutangkap balik."
Kalian pun melanjutkan kejar-kejarannya. Sampai disaat Kak Lily sudah berhasil membeli tiketnya dan kemudian memanggil kita bertiga.
"Anak-anak, Ayok masuk. Kak Lily sudah mendapatkan Tiketnya loh." Kak Lily sambil menunjukkan 4 Tiket masuk Museum.
Kalian berdua yang masih kejar-kejaran itu pun seketika berhenti ketika Kak Lily memanggil.
"Baik Kak Lily."
Kita bertiga pun menyusul Kak Lily dan memasuki Area Museumnya. Di museum itu terdapat banyak sekali lukisan dan karya seni yang bernilai tinggi. Mulai dari Lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci, The Starry Night milik Vincent Van Gogh dan masih banyak lagi.
Kak Lily tampak terpesona dengan karya-karya yang terpajang disana. Dia mencoba melihat lebih dekat dengan lukisan Napoleon Crossing the Alps karya Jacques Louis David. Kak Lily melihat lukisan itu dengan perasaan gembira dan senang.
__ADS_1
"Akhirnya aku Bisa melihat Lukisannya yang asli."
Kak Lily melihat Lukisannya secara detail hingga dia tidak sadar bahwa Kalian Berdua kabur dari pandangannya. Aku yang melihat kalian berdua berlari-larian mulai bingung dengan apa yang harus kulakukan.
Akhirnya aku memberitahu Kak Lily kalau kalian berdua berlari menjauh darinya. Aku menarik baju kak Lily saat itu.
"Kak Lily."
"Ada apa Lianne?" Sambil melihat ke Lukisannya.
"Raphael sama Vincent masih bermain kejar-kejaran di Area Museum."
Sontak kak Lily yang mendengar itu langsung kaget bukan kepalang.
"HAH! Kemana mereka berdua Lianne?" Dengan nada panik.
"Kesana Kak?" Sambil aku menunjuk ke arah Tempat karya seni patung terpajang.
"Aduh.. Ayok kita susul Lianne."
Kak Lily pun dengan terburu-buru mengejar kalian itu. Aku pun mengikutinya dari belakang dengan tempo yang sama dengannya. Dia nampaknya cukup kesal dengan kalian berdua yang tidak bisa diatur.
"Ambil ini Hyahh!!" Raphael menyiram air dari botol minum.
Vincent menghindari air yang mengarah padanya itu.
"Ga Kena Wlee." Dengan Menjulurkan Lidahnya.
Kalian berdua tetap melanjutkan bermain walaupun disana sudah banyak orang yang melihat kalian dengan sinis.
"Raphael, Vincent, Berhenti bermainnya. Jangan bandel deh jadi anak." Dengan Nada tinggi.
Kak Lily pun mengejar kalian yang berlarian itu. Aku hanya melihat saja dari main entrance tempat pajangan patung-patung. Kalian malah mengira Kak Lily ikut dalam permainannya. Sehingga kalian pun berlari dari kejaran Kak Lily.
"Lari Rag.. Kak Lily mengejar.hahahah."
"Kabur…"
"Tunggu Kalian!"
Hingga akhirnya dalam suatu kejadian, Raphael terpeleset dan menyenggol Patung berbentuk Seorang ksatria yang terpajang.
Patung itu pun perlahan mulai jatuh menimpa ke arahmu Raph. Kak Lily yang melihat itu pun seketika panik.
"RAPHAEL!"
Kak Lily mengeluarkan skillnya di hadapan umum. Dinding perisai yang terbuat dari lapisan-lapisan cahaya menghalau patung yang terjatuh ke arahmu. Patung itu pun hancur lebur seketika diatas dinding perisai yang Kak Lily buat di atas kepalamu.
Para pengunjung yang melihat itu seketika panik dan mulai melihat ke arah Kalian Berdua. Tatapan seperti terkejut mulai mengarah pada Kalian Berdua. Penjaga museum yang mendengar kericuhan disini mulai berdatangan.
"Ada apa ini?" Ucap penjanganya yang tak tahu apa-apa.
Kak Lily pun menghampiri dan memelukmu seketika Raph. Dengan pelukan yang sangat erat dan tulus.
"Kamu gapapa Raphael?" Kak Lily sambil memegang Wajah Raphael.
"Ga-gapapa Kak. Aku baik-baik aja."
"Syukurlah.." Kak Lily mulai menangis.
Aku yang melihat itu mulai terharu. Penjaga pun mulai mendekat ke arah kalian berdua.
"Kalian Berdua! Apa yang kalian lakukan sehingga Membuat Patung ksatria itu Hancur." Dengan ekspresi marah.
Kalian berdua pun langsung berdiri mendengar ucapan Penjaga itu. Kak Lily mulai menundukkan kepalanya untuk meminta Maaf kepada pihak penjaga.
"Maafkan saya pak, tolong maafkan atas kejadian yang membuat kerugian bagi pihak pengelola." Kak Lily dengan menunduk kepalanya meminta maaf dengan tulus.
"Maafkan Aku juga Pak… aku yang menyenggol patungnya." Raphael pun ikut serta meminta maaf.
"Aku yang bertanggung jawab Pak atas masalah yang dia timbulkan. Sekali lagi saya meminta maaf dengan tulus."
"Sudah-sudah. Kalian berdua ikut kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian."
"Baik Pak."
Akhirnya kalian berdua pun pergi mengikuti Penjaga-penjaga itu. Aku dan Vincent memutuskan Untuk pulang bersama meninggalkan kalian berdua.
__ADS_1
[Kembali ke Perspektif Raphael]
"Jadi seperti itulah ceritanya Raph." Roselianne menyudahi ceritanya.
Ternyata cerita itu toh. Aku mulai ingat tentang kejadian yang tak mengenakkan bagiku. Soalnya saat dipanggil oleh penjaga itu, Kak Lily tampak di marahi oleh pihak pengelola tanpa ampun. Aku yang melihat itu merasa menyesal dengan apa yang kulakukan. Dari situlah aku mulai menunjukkan sikap baik kepada Kak Lily agar dia senang kembali.
"Yang itu ternyata… haduh, aku jadi teringat kejadian kelam itu."
"Makanya tadi aku bertanya kembali mau apa tidak diceritakan. Kamu bilang Boleh." Roselianne dengan tegas.
"Iya-iya, tenang aja. Itu cuman membuka memori lama yang sempat kulupakan kok. Aku ga masalah kalau itu diceritakan."
"Oh iya Vin, kamu sekarang udah ga manggil Raphael dengan panggilan Ragni lagi."
"Lebih enak kalau dipanggil Raphael ketimbang Ragni. Karena kesannya lebih formal kalau dipanggil Ragni. Makanya aku ubah panggilannya."
Jadi begitu ternyata alasannya mengubah panggilan kepadaku. Ya memang lebih enak dipanggil dengan nama asli sih ketimbang dengan gabungan antara nama asli dengan nama keluarga. Kesannya seperti tidak terlalu dekat.
Oh iya, sekarang jam berapa ya? Karena keasikan cerita dari tadi, aku jadi lupa sekarang sudah pukul berapa. Tapi saat ini aku tidak membawa Smartphoneku.
"Eh iya, kalian ada yang membawa Ponsel kalian gak?" Aku bertanya kepada mereka berdua.
"Aku tidak membawanya." Roselianne dengan memasukkan tangannya ke saku celana.
"Aku juga nggak bawa Raph, memangnya kenapa?"
"Niatnya sih pengen tau sekarang jam berapa. Tapi kalau kalian berdua juga tidak membawa ponselnya, ya mau gimana lagi."
Suasana di sekitar sepertinya mulai gelap gulita. Hanya api unggun saja yang menerangi malam kita bertiga. Ditemani dengan suara dari serangga liar di sekitar. Kini kami bertiga mulai berdiam-diaman karena tidak ada hal yang mau kami bahas lagi.
Kalau dilihat mata Vincent, sepertinya dia sudah mulai mengantuk. Aku menyuruhnya untuk tidur.
"Vin, mendingan kamu tidur sekarang aja. Mata kamu kayak udah kelelahan gitu, biar aku yang jaga."
"Hoam.. boleh nih?" Sambil Menguap.
"Boleh… kamu tidur aja, daripada besok kelelahan."
"Yaudah aku tidur duluan ya. Selamat malam Lian, Raph."
Vincent pun mulai tertidur dengan alas rerumputan. Suasana sejuk di sekitar membuat Rasa kantuk menguat. Saat ini, hanya ada aku dan Roselianne yang masih terbangun. Aku niatnya sih ingin berjaga sampai pagi, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mengarah kemari saat mereka berdua tertidur.
"Kamu gak tidur juga Rose?"
"Nggak Raph, aku nemenin kamu aja sampai kamu tertidur juga." Sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku ga tidur Rose, harus ada satu orang yang berjaga saat tertidur. Aku memutuskan aku saja yang berjaga." Dengan kedua tanganku memasang gestur menolak.
"Aku nemenin kamu aja kalau begitu, kamu juga baru sembuh… takutnya kamu tiba-tiba pingsan atau apa gitu."
Roselianne sepertinya sangat cemas dengan keadaan tubuhku. Aku harus terlihat kuat agar dia mau tidur. Karena besok kita bertiga akan berburu kembali untuk mengumpulkan koinnya.
"Aku baik-baik saja Rose." Dengan tersenyum menunjukkan bahwa diriku baik-baik saja.
"Pokoknya aku tetap mau nemenin kamu Raph. Titik." Roselianne bersikeras sekali untuk menemaniku.
Hah.. sikap keras kepalanya ini tidak bisa kukalahkan. Sebaiknya aku mencari alasan agar dia mau tidur, alasan apapun yang membuat dia terbujuk.
"Perempuan kalau gak tidur nanti wajahnya mengkerut loh." Dengan ekspresi menakut-nakutinya.
"Biarin aja. Hem." Dengan memalingkan wajahnya dengan tangan yang saling bersedekap.
"Mana boleh dibiarin kayak gitu, nanti wajah cantikmu malah berkurang." Aku menggodanya agar dia mau tertidur.
"HA-HAA!! Ngapain kamu berkata kayak gitu Raph. A-aku ga peduli kok kalau wajah cantik ku berkurang. I-itu cuman untuk membuatku tertidur kan? Ngaku kamu Raph." Dengan wajah yang memerah dan tampak malu dengan suara yang terbata-bata.
Rencanaku gagal lagi untuk membujuknya tidur. Terpaksa aku harus memberitahukannya motif asliku menyuruhnya untuk tidur.
"Aku menyuruhmu tidur agar besok kamu mempunyai stamina yang Fit. Niatnya kita akan berburu lagi besok untuk mengumpulkan banyak koin. Kalau kamu tidak Fit bagaimana berburunya? Yang ada malah bahaya kalau berburu dengan kondisi yang tidak Fit."
"Oh.. jadi begitu, niatmu untuk berburu lagi ya… hm.. okelah, aku akan tidur karena kamu berkata seperti itu."
"Baguslah kalau kamu mengerti kata-kata ku. Ya Udah sana tidur cepat." Dengan menyuruhnya untuk cepat tidur.
"Iya Raphael.. Selamat malam Raphael." Sambil melambaikan tangannya.
"Malam juga, dan semoga mimpimu indah." Aku membalas lambaiannya.
__ADS_1
Akhirnya dia tertidur juga.. sekarang aku akan berjaga dengan ditemani api unggun yang menyala ini. Dan juga melihat bintang-bintang indah yang terlihat di langit malam…