Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 36 Sebastian sang Asisten Kepala Keluarga


__ADS_3

Mereka berdua yang sedang satu sama lain berbincang itu ku dekati secara pelan. Nampaknya mereka menyadari keberadaan ku.


"Tuan Muda ternyata… kukira siapa." Ucap Joanne.


Padahal aku sudah berjalan secara pelan dan tidak membuat banyak suara. Tapi mereka berdua bisa menyadari ku. Memang kedua Asisten ini memiliki aura misterius.


"Ada apa Tuan Muda?" Ucap Sebastian.


"Apa kamu memegang Kunci Ruangan Ayahanda, Sebastian?"


"Kunci Ruangan Tuan Zircon ya. Aku akan mengambilnya untuk mu Tuan Muda. Kau Joanne, sebaiknya kamu mengajak berbincang Tuan Muda Raphael." Dengan tatapan serius terhadap Joanne.


"SIAP! Pak." Joanne dengan Ekspresinya yang sigap.


Sebastian pun pergi meninggalkan kami berdua.


"Fuh.. Kakek Tua itu sangat seram sekali!!" Dengan tangan kanan mengelus dada.


"Em? Maksudmu Sebastian?" Dengan ekspresi seolah-olah keheranan.


"Siapa lagi yang kumaksud, Tuan Muda."


"Oh iya aku Lupa kalau kamu sejak dulu selalu merasa ketakutan ketika bersama Sebastian."


"Bagaimana enggak Takut Tuan Muda… Kamu bisa melihat tatapannya yang tajam itu. Membuat siapapun seperti terintimidasi olehnya."


Yah.. Menurutku hal itu memang wajar sih. Tatapannya tidak sedikitpun merasa orang akan mendekatinya. Justru tatapan matanya itu membuat siapapun yang melihatnya akan ketakutan. Namun, entah kenapa. Sejak kecil aku merasa bahwa dia adalah orang yang kuat.


Walau begitu, Sebastian adalah salah satu orang yang dihormati disini. Dia sudah mengabdi kepada Keluarga Ignite selama 50 tahun lamanya. Hal itu yang membuat dia merasa disegani disini.


"Aku tidak ingin menjelek-jelekkan Sebastian. Seharusnya kamu bisa belajar darinya." Dengan kedua tangan bersedekap.


"Ya-yah.. kalau dikesampingkan Tatapannya itu. Kakek Tua itu memang memiliki pengalaman yang luas. Tapi kalau Tuan Muda menyuruhku untuk belajar darinya… sepertinya aku hanya bisa bertahan selama 1 jam." Sambil memalingkan wajahnya.


Memang sih.. proses pelatihan yang diberikan Sebastian cukup menyiksa diri. Dia tidak segan-segan untuk memberikan Porsi latihan yang brutal hanya untuk awalan. Jarang sekali ada orang yang bisa mengikuti metode latihan yang diberikan Sebastian.


Karena kudengar dulu Sebastian merupakan mantan Top Ranker sebelum Ayahanda menjabat sebagai Kepala Keluarga Utama. Makanya dia seperti memiliki Aura orang yang Kuat. Setiap kali aku melihatnya, bulu kudukku sedikit merinding berkat auranya itu.


"Hah.." sambil menghela nafas.


"Ada Apa Tuan Muda? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" Joanne melirik ke arahku.


"Tidak.. tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit memikirkan tentang Sebastian." Aku menggerakkan telapak kananku.


"WAH!! Kita memiliki pemikiran yang sama Tuan Muda."


Tampak Mata Joanne berbinar-binar karena dia menganggap bahwa aku dengan dirinya memiliki pemikiran yang sama. Joanne memang memiliki sifat yang sedikit kekanakan walaupun umurnya sudah menginjak kepala 2.


Hal itulah yang membuat Joanne dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Mungkin ini hanya rahasia yang aku dan keluarga tahu. Sebenarnya dalam Perekrutan Asisten untukku, Joanne memiliki Nilai sempurna dalam Tes Lisan maupun Tes Fisik.


Dia memiliki Pemikiran yang sangat berlawanan dengan sifatnya. Namun itu semua tidak menjadikannya Halangan untuk menjadi Asisten ku. Dengan Joanne yang menjadi Asistenku, pekerjaan ku yang dulu lumayan menumpuk mulai terselesaikan secara perlahan.


"Hey-hey Tuan Muda. Apa kamu tidak suka memandangi Tanaman-tanaman disini?" Dengan memegang salah satu Bunga yang tertanam.


"Kata siapa? Aku lumayan suka memandangi tanaman-tanaman yang tertanam baik disini." Aku menyanggah kata-katanya.


"Yahh.. aku jarang melihat Tuan Muda berdiam sejenak disini sambil memandangi tanaman-tanaman yang indah." Sambil mengangkat kedua tangannya dan bergerak ke kanan mengikuti arah tanaman tumbuh.

__ADS_1


"Aku lebih suka melihat dari Kejauhan. Sesuatu yang indah tidak harus dilihat dari dekat. Keindahan tersendiri apabila tidak terlalu melihatnya secara detail."


"Pemikiran yang amat bijak ya, Tuan Muda. Seperti yang kukatakan tadi pagi, setiap ucapan yang keluar dari mulutmu itu terasa seperti Orang Tua. Hahaha."


Raut wajahnya itu… terkadang dia bisa serius dan bercanda dalam waktu yang bersamaan. Tak peduli seberapa anehnya sifat itu, kemampuan dia sangatlah baik. Walau yah.. terkadang aku lumayan jengkel dengan sifatnya yang seperti menghina itu.


Tapi aku mempersilahkannya untuk berbicara secara santai ketika denganku. Salah satu orang dari para Pekerja disini yang bisa kuajak berbincang santai hanya dia dan Sebastian. Sisanya mereka semua terlalu formal terhadapku.


**********


Sebastian pun sudah kembali kemari.


"Ini Tuan Muda Kunci Ruangan Kerja Tuan Zircon." Sambil menyerahkan Kunci yang digenggamnya.


"Makasih Sebastian. Kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Apa anda membutuhkan bantuan saya Tuan Muda?" Sebastian menawarkan bantuan kepadaku.


Karena saat ini aku hanya ingin bekerja secara sendiri, aku menolak tawarannya itu. Alasannya simpel, aku ingin belajar untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Keluarga. Sudah lama juga aku tidak bekerja secara sendiri semenjak Joanne direkrut menjadi Asistenku.


"Tidak usah Sebastian. Aku ingin mengerjakan tugasnya sendirian."


"Baiklah kalau begitu Tuan Muda. Jika ada hal yang menurut anda dinilai sulit, Tuan Muda bisa meminta bantuan kepada kami berdua." Sambil menaruh tangannya di dada Joanne.


"Benar kata Pak Sebastian. Anda tidak perlu memaksakan diri nanti." Joanne bersikap tegap saat Tangan Sebastian berada di dadanya.


Hahaha… yah, kalau ada sesuatu yang memang tidak aku mengerti, aku memang berencana untuk meminta mereka berdua. Tapi untuk saat ini sebaiknya aku berusaha dengan kemampuan ku sejenak.


"Terima kasih atas tawaran kalian. Kalau nanti memang aku menemukan kesulitan yang tidak bisa ku selesaikan, aku akan meminta bantuan kalian berdua. Aku pergi dulu." Sambil mengangkat tanganku sembari berjalan ke dalam bangunan.


"Kami berdua akan menanti permintaan bantuan anda."


Di Depan Ruang Kerjanya, aku mengeluarkan Kunci yang tadi diberikan oleh Sebastian. Mulai memasukkan Kuncinya ke dalam lubang pintu itu. Aku menggerakkan kuncinya ke arah kanan mengikuti pola Lubang kuncinya.


"TREK!" Suara Kunci yang berputar.


Pintunya terbuka. Aku segera masuk ke dalam Ruangannya. Aku mencari letak-letak Kertas Surat Formal yang ada di rak-rak kerja.


"Banyak sekali Berkas-berkas berbentuk kertas disini. Akan lumayan sulit untuk menemukan Kertas Surat Resminya." Gumam diriku sambil melihat berkas-berkas di Rak Lemari.


Aku pun mulai mencari satu persatu bagian-bagian rak lemari ini. Mulai membuka segala Kertas-kertas secara menyamping.


4 Menit Berlalu. Aku belum menemukan Kertas Suratnya juga.


"Dimana Ayahanda menyimpannya ya. Hmm!" Sambil berpikir sejenak.


Aku melanjutkan mencarinya. Karena banyaknya berkas-berkas yang tersortir ini, membuat sulit pencariannya. Karena aku harus satu persatu mengecek isinya. Ordner-ordner ini memiliki Kode-kode unik untuk menyortir berkas-berkas.


Seperti Ordner yang satu ini. Memiliki Kode 761 yang mewakili Berkas tentang penandatangan perjanjian. Ataupun 785 yang disampingnya tentang berkas-berkas hukum keluarga Ignite. Semuanya tersusun dan tersimpan dengan baik.


{Aku dari tadi mencari di Rak lemari ini tapi tidak ketemu juga. Apa kertasnya ada di Meja Kerja Ayahanda ya?} Dalam hati.


Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di Meja Kerja Ayahanda. Berkas-berkas bertumpukan di mejanya. Sepertinya ayahanda memiliki banyak berkas yang belum selesai dia kerjakan.


Aku pun mulai mencari kertasnya. Baru sebentar saja aku mulai pencarian, akhirnya kertas yang aku butuhkan sudah ketemu.


"Ketemu juga Akhirnya. Disini ternyata." Sambil memegang salah satu kertas.

__ADS_1


Isi kertas ini hanya ada Lambang keluarga Ignite dan Simbol-simbol yang hanya dapat dipahami oleh Keluarga Ignite. Belum ada isi tentang suratnya disini. Aku pun duduk di Kursi yang ada di Meja Kerja Ayahanda.


Aku meminjam tempatnya sejenak untuk membuat sebuah Surat yang ditujukan kepada Keluarga Cabang Japan. Aku menulis dengan sebuah pena yang terbuat dari sebuah Bulu. Aku mencelupkan pena itu ke dalam Tinta yang berada di atas meja Ayahanda.


Aku pun mulai menulis untuk isi suratnya dengan baik dan rapi. Memakai kata-kata yang formal untuk membalasnya. Sehingga Pihak Keluarga Cabang nanti dapat membaca kata-kataku tanpa ada kesalahpahaman.


***************


Selang beberapa menit.


"Selesai Juga Akhirnya…" memasang raut wajah lumayan senang.


[ 親愛なるアカレン・イグナイト、日本支社ファミリー・ヘッド。私はこの手紙に書かれているすべての責任を負うラファエル・イグナイトです。この手紙を提出した後、あなたが選んだ会社についてさらに情報を提供することを歓迎します。今後の誤解を避けるため、より多くの情報を提供してください。この手紙が正式なものであることを証明するために、私の指紋を提供します。次のステップについては、ご家族の代表者であるジルコン・イグナイトに直接ご連絡ください。イグナイト・ファミリーより ]


Sepertinya ini sudah lumayan. Selagi memaksimalkan kemampuan Bahasa Lain yang kupahami, aku menulisnya menggunakan bahasa Japan. Karena aku sudah menulis Isi Suratnya, aku pun memberikan stempel sidik jari ku di sela-sela suratnya. Surat ini berisikan tentang balasan surat yang dikirimkan tadi. Lebih jelasnya sih, Ini sebuah kata sambutan dan Kata - kata yang merujuk konfirmasi selanjutnya tentang perizinan kerjasama.


Selesai memberikan stempel sidik jari, akupun mengemas kertas ini dan memasukkannya ke sebuah Amplop berwarna Coklat yang menandakan bahwa surat ini benar-benar formal dan penting.


"Sip, akhirnya beres juga." Sambil meregangkan tangan.


Menulis surat yang memakan waktu ini membuat tubuhku lumayan terasa kaku. Aku merapikan barang-barang di Ruang Kerja Ayahanda. Selesai merapikan semuanya, aku pun keluar dari Ruangan kerja dan lekas pergi menemui Joanne untuk memintanya mengirim surat ini.


Sepertinya Joanne masih ditempat yang sama seperti tadi. Kulihat saat berjalan mengarah ke lantai bawah, Ruangan Joanne tampak terlihat terkunci dari Luar. Karena itu, aku pergi ke bawah melihat apakah Joanne berada di tempat tadi.


Di Lantai bawah, Joanne tampak sedang berbincang bersama Para Pelayan disana. Aku pun mendekatinya.


"Joan.." aku memanggil namanya.


Sontak Joanne serta pelayan yang diajak bicara itu menoleh ke arahku.


"Ada apa Tuan Muda?"


"Kalau begitu Saya pergi dulu Tuan Joanne dan Tuan Muda.." ucap sang pelayan sambil menunduk ke arah ku dan Joanne.


Sang pelayan itu pun pergi bekerja kembali.


"Aku ingin menyerahkan Surat ini. Kirimkan nanti kepada Pihak Keluarga Cabang Japan." Sambil menyerahkan sebuah amplop berisi surat.


"Wah Wah.. tidak disangka juga ya Tuan Muda menyelesaikannya secepat ini. Aku cukup senang dengan kerja kerasmu." Sambil mengambil amplop yang ku berikan.


"Apa kamu mengejekku Joan?" Dengan memasang tatapan sinis padanya.


"Tidak, mana mungkin saya Mengejek Tuan Muda. Lagipula saya kan Asisten Tuan Muda. Itu hanya sedikit Pujian dari saya." Sambil memasang ekspresi tersenyum.


Tatapan sinis yang tadi kupasang kini kembali seperti semula. Hah.. sepertinya aku harus sering-sering memahami kata-katanya agar tidak salah paham.


"Ya sudah. Omong-omong, sekarang pukul berapa?" Sambil melihat ke Arah Jam dinding besar.


"Pukul 8 Tuan Muda. Oh iya, Tuan Muda tidak pergi ke sekolah?"


HAH!! Pukul 8??? Sial aku terlalu fokus dengan tugas tadi hingga lupa untuk pergi ke sekolah.


"Sial! Aku harus bergegas mengganti pakaianku." Sambil berlari mengarah ke kamar ku.


"Hahaha… semoga beruntung Tuan Muda."


Sekolah dimulai pukul 09.00. Masih ada waktu untukku bersiap-siap. Aku pun mandi sejenak.

__ADS_1


Selesai mandi, aku pun memakai seragam sekolahku dan menyiapkan segala buku pelajaran hari ini….


__ADS_2