
Saat berada dikelas….
"Ada apa itu ngumpul rame-rame?" Aku dengan raut wajah bingung.
"Ga tau tuh, mau samperin Raphael?"
"Ayo kita dekati Nov."
Kami berjalan mendekati anak-anak kelas kami yang sedang berkumpul itu.
"Cepet juga Kalian pacarannya ya. Padahal baru seminggu lebih Baru dekat." Ucap Leiva.
"Yah.. hahaha, aku sudah lama suka sama Adrianne." Ucap Aaron dengan malu-malu.
Wah, aku baru tau kalau mereka berdua sudah pacaran. Aku tidak pernah melihat mereka berdua berdekatan sih selama ini. Cukup mengejutkan melihat mereka berdua dengan waktu yang cepat langsung pacaran.
"Hey, ceritakan bagaimana awal mula kalian bisa berpacaran?" Vincent dengan nada semangat.
Yah aku juga cukup penasaran dengan itu. Nice Vin, sudah menanyakannya.
"Aaron yang menembak ku duluan saat aku sedang pulang bersamanya. Ahh… aku jadi malu menceritakannya." Adrianne menutupi wajahnya yang terlihat malu itu.
"Bagaimana Lanjutannya? Ayo dong ceritakan." Aku penasaran dengan lanjutannya.
"Heh?" Novaria mulai menoleh ke arah wajahku.
"Saat itu Aaron mengeluarkan Sebuah Buket Bunga Mawar saat sedang berhenti di pinggir jalan. Ucapannya yang terkesan romantis itu membuat hatiku meleleh. Akhirnya aku menerima Pengakuan cintanya."
Wah.. Aaron sangat pemberani juga melakukan pengakuan cinta seperti itu. Kalau aku jadi dia aku pasti sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bagaimana pun juga semoga mereka berdua bahagia atas statusnya saat ini.
"KYAHH!! Romantis banget." Para Perempuan mulai Menunjukkan ekspresi Wajah Tersenyum Lebar dan Bersemangat.
Aku pun mendekat ke arah Aaron dan merangkul pundaknya.
"Selamat ya Aaron. Kuharap hubunganmu dapat bertahan lama dengannya sampai ke Jenjang pernikahan." Aku memasang raut wajah tersenyum kepadanya.
"Terima Kasih Raphael, aku berharap seperti itu juga."
Kumpulan mulai terpecah menjadi 2 bagian. Para perempuan mengelilingi Adrianne, sedangkan Para Lelaki mengelilingi Aaron untuk meminta saran percintaan darinya.
"Bagaimana kamu Melakukannya Ron. Coba ajarkan aku caranya." Tom tampak tertarik dengan percintaan.
Aku juga butuh cara untuk terlihat romantis saat ini. Aku sebenernya sudah dari lama ingin menembak Novaria, cuman mentalku belum terlalu siap untuk menerima penolakan. Jadinya aku tunda pengakuan cintanya.
"Tolong Ajari kami tentang Percintaan." Suara pelan Laki-laki yang mengelilingi Aaron.
Semua Laki-laki di kelas ini tampaknya juga mulai tertarik dengan Percintaan ya. Buktinya saja banyak sekali yang meminta saran pada Aaron. Mungkin ini adalah permulaan dari Musim Cinta yang ada di Kelas ini.
"Ya-yah, sejujurnya aku juga tidak tahu mau mengajarkan apa pada kalian. Cuman kalau saran dariku, cobalah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum menembak seseorang. Karena biasanya perempuan lebih suka kalau mereka terasa di spesial kan." Aaron dengan nada serius.
Tom mulai mencatat apa yang dikatakan Aaron di buku Diarynya. Dia tampak serius saat mencatat segala sesuatu yang diucapkan Aaron. Apa mungkin Tom memiliki seseorang yang dia sukai? Aku mulai penasaran dengan itu.
Sebelum itu, aku kembali ke tempat dudukku sejenak untuk menaruh tasku. Aku kembali lagi setelah menaruh Tas. Saat kami sedang dalam keadaan serius, kumpulan para perempuan itu mulai berteriak kegirangan.
Entah apa yang mereka bicarakan sehingga mereka sangat senang seperti itu. Kami melanjutkan mendengarkan apa yang Aaron bicarakan.
"Intinya, saat kalian ingin melakukan pengakuan cinta. Berusahalah untuk mencari tempat yang terbaik dan suasana yang romantis. Suasana romantis sangat mendukung persentase kalian untuk diterima. Intinya itu saja sih saran dariku." Dia mulai perlahan kembali memasang wajah raut yang tenang.
{Suasana Romantis ya.. sejujurnya aku tidak tahu apa maksud dari kata Romantis itu. Tapi kalau yang kutangkap dari perkataan Aaron, mungkin saja itu adalah suasana disaat kedua pihak merasa dalam keadaan yang cukup serius dan menegangkan.} Dalam hatiku sambil menaruh tangan kananku di Dagu dan melihat ke arah atas.
Aku tidak tahu betul pemahamanku itu benar atau tidak. Aku masih sangatlah awam mengenai keadaan Romantis-romantis seperti itu.
"Bagaimana Keadaan Romantis itu?" Aku bertanya kepada mereka semua.
__ADS_1
Mereka semua sepertinya tampak kebingungan juga dengan pertanyaan ku. Hingga ada salah satu orang yang menjawab pertanyaan ku.
"Romantis itu sifat seseorang yang mengerti tentang keadaan pasangannya. Dan mampu memberikan solusi-solusi yang membuat perasaan Pasangannya merasa senang dan bahagia." Ucap Leon.
Oh.. seperti itu ternyata. Kalau begitu aku sudah paham secara garis besarnya. Intinya suasana romantis itu seperti suasana yang membuat pasangan kita merasa senang dan bahagia ya. Mungkin suasana ini sulit untuk kubuat.
Aku tidak tahu apa yang disukai oleh Novaria. Aku menyukainya, tapi aku tidak tahu apa yang dia suka. Ini sama dengan Kamu selalu membaca buku tapi kamu tidak paham dengan isinya. Kira-kira kata itulah yang cocok untuk menggambarkan diriku.
Mungkin aku harus meneliti tentang apa saja tentang Novaria sukai. Mulai dari Tempat Favoritnya, Makanan Favoritnya sampai Sifat seseorang dia suka. Aku harus meneliti itu semua agar pengakuan cintaku berjalan lancar nantinya.
"Kalau begitu Pertanyaan terakhir. Bagaimana cara mengetahui waktu yang pas untuk menembak seseorang?" Ucap Tom.
Kami semua juga ikut kebingungan dengan pertanyaan Tom. Karena tidak semua orang memakai cara yang sama untuk mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan pengakuan cinta. Bahkan orang-orang memiliki pandangan yang berbeda tentang waktu.
"Kalau itu sesuai dengan pandangan orang yang kamu sukai Tom. Semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang itu. Tidak ada jawaban yang pasti untuk menjadi acuan atas pertanyaanmu." Leon Menjawabnya.
Sepertinya Leon paham sekali dengan pembahasan ini. Dari Tadi dia bisa memberikan jawaban yang sangat masuk akal dan mudah dipahami. Kurasa dia orang yang cocok untuk aku meminta saran.
Lain kali aku akan bertanya padanya tentang Novaria. Dia juga lumayan dekat dengan Novaria saat ini. Sesuai dengan sebuah kutipan dari buku yang kubaca. 'Kalau Ingin mengetahui sifat seseorang, Tanyakan pada teman dekatnya.'
Maksud dari kata itu, Sifat asli seseorang akan terungkap saat dia bersama dengan orang yang bisa dipercayai. Hanya ada 3 hal yang bisa dipercaya dalam kehidupan. Tuhan, Orang Tua, dan Sahabat.
Kata-kata itulah yang menjadi acuan ku untuk meneliti tentang apa yang disukai Seseorang. Karena Novaria sangatlah dekat dengan Leon. Tak hanya Leon sih, dia Juga dekat Alice. Tapi untuk masalah ini, lebih baik aku menanyakan dengan seseorang yang sesama jenis.
Sesaat kami sedang membicarakan hal tentang percintaan, guru pun masuk ke kelas tiba-tiba. Kami semua langsung duduk di tempat duduk kami masing-masing. Adam yang menjabat sebagai ketua kelas memimpin para murid untuk berdiri dan mengucapkan selamat pagi.
"Semuanya Berdiri, Beri Hormat kepada Guru."
Semua Murid berdiri serentak mengikuti aba-aba dari Adam.
"Selamat Pagi Pak." Adam dengan Nada Keras.
Kami semua mengikuti apa yang dikatakan Adam setelahnya.
"Pagi.. duduklah kalian semua." Pak Guru membalas perkataan seluruh murid.
Kami semua pun duduk kembali.
"Di hari Pagi yang indah ini, alangkah baiknya kita bersemangat dalam belajar. Menuntut Ilmu setinggi mungkin dengan Semangat juang tinggi."
Pak guru itu Memberikan kata-kata Motivasi yang lumayan ketinggalan Jaman. Maklum sih, Yang mengajar kali ini Pak Veire. Umurnya sudah menginjak Kepala 5 saat ini. Makanya kata-kata yang dia ucapkan terasa seperti perkataan kuno.
Oh iya, Pak Veire mengajar pelajaran Sosial. Ya.. simpelnya Ini adalah pelajaran dimana kalian diajari tentang hal-hal tentang Bersosialisasi antar sesama manusia. Mungkin lebih tepatnya adalah cara untuk berkomunikasi dengan benar.
Terkadang Miskomunikasi membuat Strategi berjalan secara berantakan. Makanya pelajaran ini diadakan di Sekolah ini.
"Oke anak-anak, Buka buku pelajaran Sosialisasi kalian."
Aku pun mengambil Buku Sosialisasi dari Tasku.
"Oke, kalau sudah Dibuka. Baca Halaman 54 dan coba merangkum isinya itu."
Hah… hari-hari merangkum Pelajaran saja. Cukup membosankan pelajaran ini bagiku. Jarang sekali ada praktek yang diberikan Oleh Pak Veire. Mungkin karena umurnya yang sudah Tua itu, dia lebih condong mengajar ke Teori dibanding Praktek.
Aku membaca Buku halaman 54 dan mencoba untuk Merangkum isinya. Aku tulis di Buku tulis ku hasil rangkuman yang kubuat.
{Cara Berkomunikasi dengan Baik, Menurut pandangan manusia, Komunikasi adalah yang terpenting dari segalanya. Interaksi yang baik membuat pandangan orang terhadapmu menjadi Baik. Berikut ini adalah Cara untuk berkomunikasi yang baik dengan orang lain.} Aku membacanya dalam hati.
Aku menulis kata-kata itu di buku ku. Selesai Menulisnya, aku melanjutkan membacanya lagi.
{Cara Untuk berkomunikasi cukup mudah. Pertama, Kamu harus menatap wajah orang yang kamu ajak interaksi itu. Bertatap-tatapan membuat Kepercayaan diri akan meningkat, sehingga membuat Komunikasi menjadi berjalan lancar. Kedua, Bahaslah Topik sesuai dengan Lawan Bicaramu pahami. Membahas Sesuatu yang dipahami lawan bicara akan membuat Kalian Mudah untuk saling memahami.}
Aku pun menulis kembali kata-kata itu. Aku melanjutkan membaca bagian berikutnya.
__ADS_1
{Ketiga, Pasanglah Raut wajah yang terkesan bahagia seperti tersenyum, tertawa. Itu membuat lawan bicara kalian berpikir bahwa kalian adalah orang yang asik untuk diajak bicara. Yang Terakhir, Cobalah untuk membangun kepercayaan dengan lawan bicara kalian. Meninggalkan kesan yang baik untuknya akan membuat dirimu terlihat berwibawa.}
Cara Berkomunikasi yang kurang efektif. Karena semua orang memiliki sifat yang saling berbeda. Terkadang ada juga orang yang memang kurang pandai untuk mengekspresikan diri sehingga membuatnya terlihat sulit untuk didekati. Contoh yang bagus ya Kak Kaizo.
Orang yang memiliki sifat sepertinya cenderung dijauhi dalam lingkungan sosial. Makanya aku bisa menyimpulkan bahwa cara yang buku ini tunjukkan kurang efektif. Kalau untuk menaruh kepercayaan, aku rasa itu memang langkah yang tepat.
Membangun kepercayaan bisa membuatmu memiliki koneksi yang lebih luas lagi nantinya. Aku pernah diajari tentang cara memulai sebuah usaha oleh Ayahanda. Salah satunya ya Membangun kepercayaan dengan Kolega atau Konsumen.
Hanya… kalau menurutku, untuk membangun kepercayaan tidak semudah seperti yang buku ini katakan. Membangun Kepercayaan berarti kamu harus bisa memegang kata-katamu. Satu kesalahan saja, maka kepercayaan terhadapmu akan menghilang langsung.
Itulah sulitnya untuk membangun kepercayaan. Yahh.. lagipula ini hanyalah sebuah pelajaran. Tidak semuanya dapat diambil dengan mentah-mentah. Perlu diolah kembali dengan pemikiran kita tentang kata-katanya. Apalagi ini lebih condong ke Teori ketimbang praktek. Jadi tidak semuanya benar.
Karena aku sudah selesai merangkum semua halamannya, aku mulai bermain-main dengan pulpen ku. Aku memutar-mutarkan pulpennya dengan jariku. Perlahan rasa mengantuk ku mulai menguat kembali. Padahal tadi aku merasa segar dan tak mengantuk.
Sejak pelajaran ini dimulai, rasa kantuk ku muncul kembali akibat suasana bosan. Lama-lama aku tidak bisa menahan mataku untuk tetap terpejam. Akhirnya aku pun bersandar di meja lalu tertidur.
*************
"Oy Raph, Bangun." Seseorang menepuk pundakku.
Seketika aku langsung terbangun akibat tepukannya. Dengan mata yang masih mengantuk, aku mencoba mengecek keadaan. Semua orang melihat ke arahku sekarang. Pak Veire sekarang berdiri di dekat mejaku.
Sontak aku pun terkejut dan langsung duduk tegak. Aku mengusap wajahku yang tampak mengantuk ini. Lalu, aku tersenyum sambil menampakkan gigiku ke arah Pak Veire .
**********
"Hah… malah disuruh berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki serta tangan memegang telinga. Apesnya." Sambil mengeluh sejenak.
Yang lain malah menertawakan aku ketika aku tersenyum tadi. Alhasil Pak Veire menyuruhku untuk berdiri di depan ruangan Kelas. Mana aku harus menempelkan sebuah Tulisan 'Aku Berjanji untuk tidak tidur saat jam pelajaran' lagi.
Aku menguap sejenak karena rasa ngantuknya masih belum menghilang. Seseorang keluar dari Ruang Kelas.
"Makanya Raph, jangan tidur di kelas. Kena hukuman kan jadinya. Hahaha." Vincent menertawakan.
"Kamu bukannya bangunin aku sebelum Pak Veire sadar kalau aku tidur juga. Malah diem." Aku dengan raut ekspresi kesal terhadapnya.
"Kamu tampak tertidur nyenyak tadi. Makanya aku ga bangunin. Yaudah, aku mau ke Kamar Mandi dulu. Dah."
Dia pergi.
"Awas Kamu Vin, liat aja nanti." Dengan sedikit rasa ingin balas dendam kepadanya.
Aku harus berdiri disini sampai Jam Pelajaran Pak Veire usai. Ya kurang lebih sekitar 2 jam an sih. Aku tidak bisa membayangkan se pegel apa kaki ku nanti terus mengangkat begini selama 2 jam lamanya.
**************
2 Jam Kemudian.
Bel tanda pelajaran usai berbunyi. Dalam hatiku terasa sangat gembira karena hal sekecil itu.
{Yes, Akhirnya selesai juga. Kaki kanan ku pegel banget dari tadi ngangkat.}
Pak Veire pun keluar dari Ruangan Kelas.
"Dah sana Kamu Masuk. Jangan diulangi lagi ya." Pak Veire dengan jari telunjuknya mengarah padaku.
"Iya Pak, ini yang terakhir kalinya aku tidur di kelas." Sambil mengangkat kedua tanganku.
Dia Pergi menjauh setelahnya. Aku bergegas masuk kembali ke Ruangan Kelas. Tatapan Anak-anak kelasku itu mengarah padaku. Mereka tampak menahan tawa setelah aku masuk ke kelas.
{Kalau mau tertawa, tertawa saja. Ga usah dipendam begitu.} gumamku dalam hati.
Aku pun duduk Di bangku ku. Selanjutnya, aku akan menahan rasa ngantuk ku kali ini agar tidak terkena hukuman lagi….
__ADS_1