
******
Seusainya Kegiatan Sekolah, aku merapikan barang-barang ku dan bergegas untuk pulang.
"Mau Pulang bareng lagi Raph?" Vincent menawarkan tumpangan lagi.
Untuk kali ini sepertinya aku akan menolak ajakannya itu. Aku lebih ingin pulang bersama dengan Alice dan Novaria.
"Ga dulu Deh Vin. Aku pengen Naik bus aja pulangnya."
"Oh.. yaudah, aku pulang duluan ya."
"Iya Vin."
Vincent pun pergi. Aku tengah merapikan barang-barang ku yang banyak ini ke dalam tas. Sial… Novaria dan Alice ingin bergegas pulang juga. Sontak aku pun memanggil mereka berdua.
"Novaria, Alice. Tungguin aku. Aku mau pulang bareng kalian berdua." Dengan suara keras.
Mereka berdua menoleh ke arahku setelahnya.
"Oke Raph, kami tungguin." Ucap Alice.
Mereka menunggu tepat di depan Pintu masuk kelas. Aku bergegas dengan cepat merapikannya. Tidak ingin membuat mereka menunggu lama.
Selesai merapikan barang-barang, aku langsung berlari sembari menggendong tasku di pundak. Berlari ke arah Novaria dan Alice yang sedang menunggu.
"Hah.. maaf ngebuat kalian berdua nunggu lama ya." Aku dengan nafas terengah-engah.
"Tenang aja Raph, lagipula Novaria senang saat menunggu kamu."
"Ihh.. apasih Alice!" Sambil memukul tubuh Alice dengan pelan.
Mendengar itu, hatiku langsung berbinar-binar. Wajahku tampak kesenangan berkat ucapan Alice itu.
"Yaudah ayo." Aku dengan Kepala memasang isyarat lekas pergi.
Kami bertiga segera pergi meninggalkan sekolah.
***********
Sampai di Halte Bus.
Kondisi di halte lumayan ramai orang.
"Rame nih Haltenya." Ucap Alice.
Ya mau gimana lagi, sekarang jam-jamnya anak-anak pulang sekolah. Lagipula bukan kita bertiga doang yang punya niatan naik bus.
Untungnya, walaupun ramai. Ada kursi halte yang masih terisi kosong. Sayangnya hanya tersisa 2 kursi yang bisa digunakan. Sebaiknya aku memberikan Kursi kosong itu pada mereka berdua.
"Nov, Lice. Tuh 2 Kursi kosong. Kalian duduk aja disana." Aku sambil melirik ke arah kursi yang kosong itu.
Kursi yang kosong itu pun saling berdampingan.
"Yaudah ayo Nov. Duduk disana." Alice sambil memegang tangan Novaria.
Aku bersandar pada tiang penyangga yang berada di dekat ku. Mengambil Headphone ku yang berada di tas dan memakainya. Aku mencolokkan kabel Headphone itu ke Smartphone ku.
Menyetel playlist musik yang sudah kubuat setelahnya.
Aku membuka Smartphone dengan sebuah musik tersetel di Headphone. Ya.. ini salah satu kebiasaan ku sih. Kalau memang lagi ga ada kegiatan, biasanya aku mendengar playlist musik yang ada di Aplikasi Musik.
Tiba-tiba, salah satu tanganku ditarik oleh seseorang. Aku pun membuka Headphone yang kupasang di telinga dan segera melihat orang yang menarik tangan ku.
"Sini Raph…" Alice dengan Menarik tanganku.
Dalam hati.
{Ada apa Ini?} Dengan raut wajah kebingungan.
Alice menarik diriku ke tempat duduk yang ada di Samping Novaria. Ahh… kenapa dia tiba-tiba menarikku untuk duduk di Sebelah Novaria.
"Dah, kamu duduk disini." Sambil mendorong tubuhku untuk duduk di samping Novaria.
__ADS_1
Suasananya langsung berubah drastis. Yang tadinya mengasyikkan malah berujung canggung antar sesama. Pundak Kami saling bersentuhan.
"Ah.. maaf Nov." Dengan menjauhi Pundakku agar tak menempel.
"Ga-gapapa Kok Raphael. Ak-aku juga minta maaf."
Sial….Suasana jadi Canggung banget. Aku mencoba untuk memalingkan pandangan ku.
"Kalian berdua Kenapa deh. Cuman Berdempetan aja kok." Ucap Alice
{Sialan Alice, kamu tidak tahu kalau aku suka padanya.} Teriak dalam Hati.
aku mencoba untuk menyetel musik kembali untuk mengalihkan pikiranku. Aku memasang headphone kembali di telinga ku. Sesaat aku ingin memasang Headphone di telinga, Novaria mencabut Headphone yang kupasang.
"Aku pengen Ngomong Raph." Dengan wajah yang mulai tersipu malu.
Aku yang tak percaya hal itu mulai menjatuhkan Headphonenya.
"BRUK!" Suara Headphone yang terjatuh ke tanah.
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya aku mengambil Headphone yang terjatuh itu.
"Ngo-ngomong apa Nov?" Dengan tangan yang tremor akibat rasa malu.
"Sebenarnya aku-"
Sesaat Novaria berbicara, Bus sudah datang di halte.
"TIT!" Suara Klakson Bus.
Orang-orang mulai menaiki Busnya itu. Aku yang hanya mendengar sekilas ucapan Novaria itu pun perlahan mulai menanyakan kembali.
"Maaf Nov, kamu ngomong apa tadi?" Dengan raut wajah kebingungan.
"E-eh.. gajadi Raph." Dengan muka yang memerah dan mulai memalingkan wajahnya saat kutatap.
Aku mulai penasaran dengan Apa yang diucapkan Novaria. Suara Klakson Bus sialan itu mengganggu pendengaran ku. Akhirnya aku pun hanya bisa mendengar sekilas ketika Novaria sedang berbicara hal serius.
"Oyy.. kalian berdua. Mau Pulang gak?" Alice berteriak dari tempat pintu masuk Bus.
"Tunggu. Ayok Nov masuk." Aku mengajak Novaria.
Kami berdua masuk ke dalam Bus setelahnya. Kondisi dalam Bus terlihat lumayan Sepi. Aku pun duduk di bagian belakang bus. Sedangkan Alice dan Novaria saling duduk berdampingan. Bus mulai berjalan menuju ke arah tujuan selanjutnya.
Di bagian belakang, terdapat 2 orang lainnya yang sedang duduk juga. Aku mengambil kursi kosong bagian dekat jendela agar dapat menikmati pemandangan kota. Saat ini pikiranku dipenuhi dengan apa yang ingin Novaria ucapkan tadi.
Aku memasang headphone ku kembali dan mulai mendengarkan musik ketika bus berjalan. Sambil melihat pemandangan-pemandangan kota Freiburg yang dipenuhi dengan pemandangan langit cerah.
Menengok ke arah luar jendela, banyak sekali kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sekitar. Aku bisa melihat pemandangan gunung Kecil Black Forest dan juga Vosges. Yah.. memang kota ini terkenal dengan 2 gunung kecilnya itu yang sungguh indah dilihat.
Walaupun aku belum pernah mendaki gunung itu, aku mempunyai niat untuk pergi ke bagian puncaknya. Sepertinya melihat suasana kota diatas gunung Black Forest tampak mengasyikkan.
Tak lupa dengan Julukan kota ini. Ibukota Matahari Jermuntz. Julukan itu tidak semata-mata hanya untuk gaya-gayaan. Freiburg mendapat julukan ini berkat Lingkungannya yang sangat terjaga. Bahkan, komponen-komponen sampah terpisahkan beberapa bagian.
Layaknya Tempat pembuangan sampah Kertas, Kaca, Plastik, ataupun sampah-sampah akibat rumah tangga. Sehingga, membuat Kota ini tampak terlihat asri dan nyaman untuk ditinggali. Dan juga, Kota Freiburg adalah kota yang ramah bagi para pelajar.
Makanan atau Minuman yang terjual tergolong murah dan sangat baik untuk tingkat keuangan para pelajar disini. Lagi pun, Freiburg memiliki Ciri Khas Bangunan-bangunannya. Disini jarang sekali kalian bisa melihat gedung-gedung tinggi.
Yang ada hanyalah Bangunan-bangunan bermodel Tua dan masih menggunakan kayu. Tapi tak perlu ditanya kekokohan bangunannya, sebab walaupun terbuat dari Kayu. Sistem Teknologi yang digunakan pada bangunan disini lumayan canggih.
Bahkan walaupun ada guncangan akibat Dungeon Break, tidak terlalu Melumpuhkan seluruh bangunan Kota. Ya karena berkat teknologi bangunan yang membuat Kayu-kayu itu bisa menahan seluruh getaran.
Tak lupa Juga, disini ada Alun-alun kota tempat pusat para Trem Berhenti. Ya, namanya adalah 'Bertholdsbrunnen'. Semua Jalur trem yang ada di sepanjang kota Freiburg, akan berhenti di Alun-alun ini.
Lebih tepatnya sih Alun-alun ini dipenuhi nuansa Klasik. Dipenuhi monumen-monumen juga yang membuat alun-alun ini terkesan membuat kalian seperti pergi ke Zaman sebelum teknologi mulai merata.
Itulah mengapa Freiburg termasuk ke dalam Salah Satu Kota terindah di Jermuntz. Mereka bisa bersaing hanya mengandalkan Nuansa klasik yang masih terjaga dengan baik suasananya.
**********
Sampai di Kota Raveschburg. Banyak penumpang yang mulai turun dari bus. Lumayan banyak pula orang yang menaiki bus juga. Yah.. lumayan lega sedikit karena banyak penumpang yang turun disini.
Sudah 20 menit perjalanan dari tadi. Berkat Lalu Lintas yang lumayan padat di Freiburg, membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama. Aku lihat, Novaria dan Alice tengah asik mengobrol disana.
__ADS_1
Aku ingin bergabung dalam obrolannya itu. Aku lumayan merasa bosan dari tadi hanya mendengarkan musik di headphoneku sembari melihat suasana kota-kota yang dilewati. Bus mulai berjalan kembali melanjutkan perjalanan.
Untungnya Raveschburg bukan kota yang besar. Sehingga Lalu lintasnya tidak padat sama sekali dan berjalan lancar. Tak ada hambatan yang mengganggu. Paling cuman lampu lalu lintas merah yang membuat Bus berhenti.
Bus pun bergerak dengan kecepatan yang lumayan. Sehingga memangkas waktu yang terhambat tadi.
*********
Di Kota Memmingens, Bus mulai berhenti kembali menurunkan penumpang. Kali ini, tak banyak penumpang yang hendak turun. Bus pun mulai melanjutkan perjalanannya lebih cepat. Tak banyak hal yang bisa kulihat di kota ini.
Mungkin, istimewanya dari kota ini adalah Sungai Relli yang membatasi Kota ini dengan bagian Baden-Wurttemberg. Air dari sungai yang mengalir ini cukup terjaga dan masih biru. Cocok untuk orang berenang disana. Cuman, terkadang arus Sungai ini tergolong kencang.
Jadi, Tidak selamanya sungai ini aman untuk Berenang. Tak lupa juga, Memmingens ini merupakan sebuah Pusat Administratif di Donau-Relli. Disini juga masih banyak kastil-kastil peninggalan Zaman dulu yang masih kokoh bertahan hingga saat ini.
Sayangnya, Kota ini tak memiliki banyak penduduk. Walaupun terkenal sebagai pusat administrasi, populasi di kota ini tidak sampai 50.000 jiwa. Yah.. mungkin karena luas wilayahnya yang sangat kecil. Sehingga Populasinya sangat sedikit.
Sepanjang Perjalanan, aku hanya melihat-lihat saja. Sebelahku adalah seorang pria paruh Baya yang sepertinya baru pulang dari bekerja. Kalau dilihat dari Cara Berpakaiannya, kayaknya dia itu bekerja sebagai seorang Administrator dari sebuah Perusahaan.
Umm… sebenarnya aku belum mengecek Sistem milik Triniade hari ini. Tapi biarlah, aku tidak ada masalah dengan sistemnya. Lagipula kondisi-kondisi sepertinya lebih nyaman kalau tidak memikirkan tentang Sistem-sistem seperti itu. Lebih baik kunikmati sejenak suasana-suasana kota-kota yang kulewati.
Aku melirik ke arah Novaria. Sayangnya, ketika aku meliriknya. Sepertinya dia sadar akan tatapan ku yang mengarah padanya. Dia langsung mengalihkan pandangannya langsung ke arah Alice.
{Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu.}
Novaria pun seperti sedang berbicara dengan Alice setelahnya. Sontak, Setelah mendengar suara Novaria, Alice sepertinya tampak meyakinkan Novaria. Terkadang, Alice melihat ke arahku sembari tersenyum.
Seperti ada hal yang tidak beres dengannya. Mereka berdua tampak asyik disana. Bercanda tawa dengan ria, sesekali juga mereka menggunakan gerakan tangan saat berbicara. Aku melirik ke arah mereka di sepanjang perjalanan kali ini.
**************
Sampai di Kota Elchingen.
Kami bertiga bersama-sama keluar dari bus. Ya karena.. tujuan akhir dari bus ini ialah Elchingen. Selebihnya kita harus transit menggunakan bus lainnya. Kami bertiga pun keluar di Halte Bus.
"Fuuhh.. Capek duduk terus dari tadi." Aku mengeluh tentang Kakinya yang lumayan Kaku karena kebanyakan duduk.
"Kita berpisah disini Ya Raph. Soalnya kan beda Tujuan Busnya." Ucap Alice.
"Iya, Aku lagi nunggu Bus yang ke arah Stuttgarter nih. Mana Ya.. belum Datang juga."
"Tunggu saja disini Raphael. Kan ada tuh jadwal keberangkatan bus-bus. Kamu lihat aja Bus yang ke arah Stuttgarter datang pukul berapa."
"Oke deh, kalian langsung naik bus lagi kah?" Aku bertanya.
"Iya, Itu bus yang arah ke Augsburgert udah Dateng. Kami duluan ya Raphael."
"Hati-hati Nov."
Mereka berdua pun masuk ke Bus arah Augsburgert. Sedangkan aku, harus menunggu sekitar 20 menit lagi untuk kedatangan Bus arah Stuttgarter. Aku menunggu sambil duduk di kursi yang tersedia. Lumayan sepi sih di halte ini.
************
20 Menit Lamanya.
Akhirnya Bus tujuan Stuttgarter pun datang. Aku langsung bergegas naik ke Bus itu. Setelah aku masuk, Bus itu langsung berjalan kembali sebelum aku bisa duduk di kursi. Akhirnya sementara aku harus berpegangan di tempat yang tersedia di atas agar tidak jatuh. Aku berjalan dengan berpegangan pada tiang-tiang penyangga menuju tempat duduk yang kosong.
Aku pun duduk di salah satu kursi.
**********
Beberapa saat Kemudian.
Akhirnya aku sampai di Kota Stuttgarter. Setelahnya, aku pun bergegas turun di Halte dekat kawasan Solitude. Yah.. memakan waktu perjalanan sekitar satu setengah jam lamanya sih menggunakan bus. Dibandingkan dengan kereta yang hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja.
Cuman ya.. kalau dari suasana, lebih baik aku naik bus. Karena bisa bersama-sama dengan Novaria. Kalau pakai kereta kan aku sendirian tidak ada teman. Intinya sih ada kelebihan dan juga kekurangan di masing-masing transportasi umum yang bisa kupakai.
Untungnya Hari masih dalam keadaan terang. Walaupun sudah lumayan sore sih.. akhirnya aku melanjutkan perjalanan n
ya dengan berjalan kaki.
Sampai di Depan Kediaman Ignite, Gerbang langsung terbuka tanpa aku harus memerintahkan para penjaga untuk membukanya.
"Makasih Pak."
__ADS_1
Aku langsung masuk dengan cepat ke Kediamanku…