Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 21 Diskusi Tegang


__ADS_3

Aku selesai membersihkan tubuh dan mengganti bajuku. Langsung pergi kebawah sesuai dengan perintah Ibunda. Berjalan dengan kondisi rambut yang masih setengah basah. Di bawah mereka sudah memulai sebuah diskusi keluarga.


{Apa yang ingin mereka bicarakan ya?}


Sampai di bawah, Ibunda langsung menyuruhku untuk duduk di samping Kak Lily. Aku segera duduk disana.


"Oke, karena semua anggota keluarga sudah hadir. Maka ayah akan memulai pembicaraannya."


Situasi langsung berubah menjadi serius. Suasana tegang menyelimuti di sekitar. Tak ada yang berani berbicara selagi ayah sedang berbicara juga.


"Keluarga Cabang yang ada di Negara Francs memiliki sebuah masalah. Masalah yang menurut mereka tidak bisa ditangani secara sendirian."


Masalah apa ya kira-kira sampai Keluarga cabang meminta bantuan ke Keluarga Utama. Kalau seperti itu berarti ini masalah yang sangat serius.


"Kepala Keluarga cabang menghilang tanpa jejak."


Kami bertiga tampak terkejut mendengar hal itu. Bagaimana tidak, Kepala Keluarga cabang memiliki Kekuatan yang setara dengan Ayah yang dulu. Dia juga mantan Top Ranker di Negara Francs. Bagaimana bisa dia menghilang?


"Bagaimana ceritanya ayah? kepala Keluarga Cabang bisa menghilang seperti itu?" Kak Kaizo bertanya kepada Ayahanda.


"Ayah sejujurnya tidak terlalu tahu apa Kronologinya. Tapi ayah mendapat kabar dari Vionetta bahwa disaat sebelum menghilang, Roksy berpergian sendiri tanpa tahu arah tujuannya."


"Maksudnya seperti apa? Berpergian tanpa tahu arah. Bukankah itu hal yang tidak lucu?" Kaizo membalas ucapan Ayahanda.


"Itu yang dikatakan Vionetta kepada Ayah. Sejujurnya aku juga tidak ingin membereskan masalah seperti ini. Tapi yang menghilang itu Roksy sang Kepala Keluarga Cabang. Dia memiliki otoritas tinggi di Negaranya. Bisa gawat jika dia menghilang terlalu lama."


Vionetta adalah Istri dari Roksy sang kepala Keluarga Cabang. Di Negara Francs Roksy adalah seorang yang mempunyai kekuasaan disana. Bisa dibilang, kalau dia menghilang bakal kacau suasana negaranya. Karena dia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Ranker di Francs.


"Jadi bagaimana Ayah? Apakah kita harus membantu mencarinya?" Kak Lily mengikuti pembicaraannya.


"Yah.. mau tidak mau kita harus membantu mencarinya. Dia juga bagian dari Keluarga Ignite dan seorang yang penting disana. Besok kita akan pergi ke Francs untuk menemui Keluarga Cabang disana."


Ini Sebenarnya perjalanan yang menyenangkan, tapi kayaknya aku tidak akan ikut serta dalam pencariannya.


"Kalau begitu aku izin tidak ikut serta Ayahanda." Aku mengangkat tangan ku.


"Kenapa nak?" Ibunda mempertanyakan alasanku.


"Hari Minggu nanti aku ada acara. Mungkin aku ingin meminta izin sekalian untuk memakai fasilitas Latihan."


"Baiklah kalau begitu. Kamu bisa jaga diri kan Nak?" Ayahanda bertanya kepadaku.


"Bisa Ayahanda. Aku akan menjaga diriku dengan baik."


"Ya sudah, Ayah akan mengakhiri pembicaraannya. Untuk Lily dan Kaizo, kalian berdua bersiaplah untuk besok. Mungkin kita akan disana sekitar 1 mingguan."


"Baik Ayah." Saut Kak Lily dan Kak Kaizo.


Semuanya pun bubar karena pembicaraannya sudah selesai. Aku pergi keatas untuk masuk ke kamarku. Kak Lily merangkul Pundakku. Aku menoleh ke arahnya.


"Hey Raphael. Pasti ada hubungannya dengan Roselianne kan?" Kak Lily ingin menjahiliku.


"Ya.. Kak Lily ada benarnya sih. Memang ada hubungannya dengan Roselianne."


"Em.." Kak Lily menutup mulutnya dan tampak tersenyum.


"Memangnya kenapa Kak?" Aku bingung apa yang dia senyumkan.


"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit penasaran aja. hehe." Kak Lily memalingkan wajahnya dariku dan menaruh tangannya dibelakang.


Apa yang Kak Lily pikirkan tentang itu ya. Mungkin hanya ingin menjahiliku sebelum dia pergi ke Francs. Sejujurnya Kak Lily adalah orang yang jahil denganku. Dari kecil aku selalu dijahili dengannya. Tapi, Kak Lily juga lah yang bisa kuajak bercanda bersama.


Kak Kaizo memiliki sifat tegas dan selalu memasang ekspresi datar. Tak terlalu bisa bersahabat dengannya karena sifat yang dia miliki. Dia selalu menghindari berbicara denganku setiap kali aku ingin berbicara dengannya. Entah karena benci atau apa, dia selalu pergi setiap kali aku ingin bertemu.

__ADS_1


Aku berada di kamarku. Membuka jendela dan melihat ke arah luar. Bintang-bintang menghiasi langit dengan terangnya. Cahaya rembulan bersinar terang menyinari gelapnya malam. Aku bisa melihat apapun karena polusi di kawasan Solitude tidak begitu banyak.


Ketika sedang melihat-lihat langit malam, seseorang mengetuk pintuku. Aku pun berjalan mengecek siapa itu. Membuka pintunya dan melihat Ilya yang berada di depan pintu.


"Anda sudah ditunggu untuk makan malam bersama Tuan."


Ilya adalah seorang pelayan pribadiku. Dia sering mengingatkan apa saja yang berhubungan dengan saya. Tak peduli apa itu penting atau tidak, dia hanya menjalankan tugasnya dengan sederhana. Ilya selalu memakai pakaian Maidnya selagi di dalam Mansion.


Kali ini juga, dia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan.


"Baiklah, aku akan segera kesana. Kau boleh pergi."


"Baik Tuan."


Ilya pun pergi. Aku ingin mengambil sebuah kalung terlebih dahulu di lemari. Sebuah kalung yang diberikan oleh Triniade saat di Dunia Gelap itu. Entah kenapa Kalung itu terpakai secara tiba-tiba. Aku tidak terlalu suka memakai kalung, tapi sepertinya kalung itu mempunyai istimewanya tersendiri.


Seperti yang dikatakan Triniade, kalung itu adalah penghubung antara aku dengan sistemnya. Selama aku melepas kalung itu, aku tidak sama sekali terhubung dengan sistem Triniade. Setelah mengambil kalungnya, aku bergegas menuju Ruang Makan keluarga.


Para pelayan terlihat sangat sibuk menyiapkan segalanya. Berjalan kesana dan kesini mengurusi apa yang menjadi bagian pekerjaan mereka.


Sampai di Ruang Makan, semua anggota keluarga sudah bersiap-siap disana. Baru saja aku sampai, Kak Kaizo sudah selesai dan segera pergi dari Ruangan. Aku terheran dengan tingkah lakunya itu. Bagaimana bisa dia menghindariku secara terus menerus.


Sudahlah.. tidak ada salahnya juga dia menghindariku. Mungkin saja dia memang benci karena kemampuanku yang tidak terlalu menarik. Dia kan bagian dari TOP 5 Ranker saat ini. Atau bisa saja dia memang sangat sibuk dengan urusannya.


Aku pun duduk di samping kak Lily. Di atas meja, sudah ada sebuah Steak sapi dengan Barbeque Sauce yang dihidangkan. Ditambah dengan sebuah French Fries di sampingnya. Tampilannya sangat menggugah selera.


Aku mengambil sebuah pisau kecil dan sebuah garpu. Tak lupa juga menaruh kain tepat di leherku untuk menghindari kotoran yang menempel di tubuh. Memotong steak dengan lemah lembut. Dagingnya sangat lembut membuatku tidak susah untuk memotongnya.


Dagingnya juga terlihat Juicy dengan tingkat kematangan Medium-well. Memakan satu persatu bagian yang dipotong dan merasakan lembutnya daging di mulutku. Rasa dan teksturnya sangat baik.


{Em..enaknya}


Memperlihatkan ekspresi senang atas makanan yang kumakan. Hidangan ini sungguh nikmat. Aku tidak mencoba untuk membohongi dengan apa yang kumakan. Jujur, ini merupakan salah satu makanan terbaik yang pernah kumakan.


Aku penasaran dengan yang membuat hidangan ini. Tapi tidak terlalu peduli juga sih, Koki disini ada banyak dan memiliki berbagai macam skill tersendiri. Untuk kali ini, aku menghargai sang koki yang membuat hidangannya.


Aku selesai memakan Steaknya. Di depanku, sebuah Jus Jeruk juga tersedia. Aku meminum itu dengan perlahan.


Selesai menyantap segala hidangan yang disiapkan, aku tak lupa berterima kasih kepada tuhan yang telah memberikan nikmatnya kembali hari ini.


"Terima kasih atas makanannya."


Aku membersihkan mulut ku dengan kain yang ada di leher ku. Mengelap bibir yang basah karena minuman yang kuminum tadi. Dan sebuah cairan Jus Jeruk yang tersisa di bibirku.


Ibunda dan Ayahanda pun sudah menyelesaikan makanannya. Mereka menaruh alat makan mereka di piring itu dengan menyilangkan garpu dan pisaunya. Dalam bahasa restoran, itu adalah simbol dari kepuasan atas makanan yang mereka santap.


Mereka membersihkan mulut mereka juga sama sepertiku tadi.


"Kamu di sekolah baik-baik saja Nak?" Ibunda bertanya kepadaku.


"Baik Ibunda. Tidak ada sesuatu yang kubuat."


"Baguslah. Ibu tidak ingin melihat kamu membuat masalah selama di sekolah."


"Tenang saja Ibunda. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menghindari masalah."


Aku berjanji kepada Ibunda untuk tidak membuat masalah apapun selama di sekolah. Aku tidak ingin mengganggu jadwal sibuk mereka. Apalagi merepotkan mereka yang harus mengurus masalahku nanti. Intinya sebisa mungkin aku akan menjauhi segala masalah yang tidak berhubungan denganku.


"Ah iya Ibu… Ibu tahu tidak bahwa Raphael sering bersama Roselianne sekarang ini." Ucap Kak Lily kepada Ibunda.


Aku yang mendengar itu langsung merasa jengkel.


"Ihh.. apaan sih Kak. Jangan dengerin Kak Lily Ibunda." Memasang ekspresi Jengkel.

__ADS_1


"Benar Ibu. Raphael sekarang sering bersamanya."


Aku mencoba menutup Mulut Kak Lily yang lemes itu. Kak Lily menghindari tanganku yang ingin menutup mulutnya.


Ibunda yang melihat itu bergabung dengan percakapannya.


"Wah-wah.. anak Ibu yang kecil ini sudah besar ya ternyata. Ehm." Ibunda memasang senyum dengan menutup mulutnya itu.


"Ibunda malah percaya kata-kata Kak Lily… ih Kak Lily lemes banget sih."


"Hahaha… wlee." Kak Lily menjulurkan Lidahnya dan pergi meninggalkan Ruang Makan.


"Kak Lily tuh Ibunda. Suka banget ngejahilin aku." Memasang muka cemberut.


"Haha.. sudahlah Nak. Kakakmu sejak dulu memang seperti itu. Jangan dibawa ke hati setiap perkataannya."


Ayahanda tampak kebingungan dengan percakapan ini.


"Roselianne itu siapa Eli?" Ayahanda bertanya kepada Ibunda.


"Kamu benar tidak tahu? Padahal sejak kecil Raphael sering bermain dengannya."


Ayahanda mencoba mengingat-ingat kalau dilihat dari gelagatnya.


"Aku tidak ingat Roselianne itu siapa. Beritahu saja siapa dia?"


"Hah.. kamu ini sudah menjadi pelupa ya Zircon." Sambil menghela nafas.


"Ya-yah.. aku kan sudah lumayan tua untuk masalah mengingat sesuatu."


"Roselianne itu putri dari Keluarga Noble. Yang berambut hitam kebiruan itu loh. Masa kamu gak inget sama sekali."


Ayah sepertinya mengingat sesuatu setelah Ibunda memberitahunya.


"Ohh.. Putri dari Keluarga Noble. Pantas saja aku seperti lupa-lupa ingat ketika mendengar namanya. Ehm.. Raphael sekarang sering bersamanya ya." Ayah menggodaku juga.


"Ihh.. malah ayah sekarang jadi ikutan seperti Kak Lily." Aku memasang muka jutek dan menyedekapkan tangan ku serta memalingkan wajah.


"Hahahaha. Kamu masih sama saja seperti dulu. Kalau digoda pasti langsung merasa cemberut begitu. Memang anak ayah yang satu ini tidak berubah sedikitpun ya." Ayah mengelus kepalaku dengan pelan.


Elusannya membuat hatiku terasa nyaman. Amarahku kian menghilang perlahan berkat elusannya itu. Elusan orang tua kita sendiri memang terasa nyaman sekali.


"Sudahlah Ayahanda lepaskan tangannya. Aku bukan anak kecil lagi!!" Aku mengangkat tangan ayahanda yang berada di kepalaku.


"Hahaha.. kamu pergi ke kamar sana. Pergi tidur."


"Baiklah Ayahanda. Aku ke kamarku ya Ibunda,Ayahanda. Selamat Malam." Aku memberikan lambaian kepada Ayahanda dan Ibunda.


"Selamat Malam Nak. Semoga mimpi indah."


Aku pun pergi ke Kamarku dan mencoba untuk segera Tidur.


Sesampainya di Kamar, aku mencoba untuk menidurkan tubuhku sejenak. Mataku ini tidak mengantuk sama sekali saat ini. Aku tidak bisa tidur dengan segera dengan keadaan seperti ini. Aku mencoba ke Meja Belajarku.


Di sebuah Rak yang ada di Meja Belajar, banyak sekali kumpulan buku-buku cerita tentang kepahlawanan Leluhur Keluargaku. Yang menjadi Favoritku saat ini adalah Kisah Leluhur 'Castrophe Ignite'.


Leluhurku yang satu ini mempunyai kisah yang sangat memotivasi ku. Diceritakan dalam Kisah ini, Dia merupakan seseorang yang tidak memiliki sebuah skill. Disaat kehidupannya, Sang Kepala Keluarga saat itu kesal karena mempunyai Keturunan seperti Castrophe Ignite yang tidak memiliki Skill sama sekali.


Lantas, Kepala Keluarga saat itu mengusir 'Castrophe Ignite' dari Kediaman Utama keluarga Ignite. Namun, Castrophe Ignite tak berputus asa atas hal yang menimpa dirinya. Justru itu membangkitkan sebuah motivasi untuknya balas dendam kepada Kepala Keluarga saat ini.


Dia diusir saat berusia 15 Tahun. Saat itu, Dia dipindahkan ke Kediaman Cabang yang ada di Jepang. Di Kediaman Cabang lah dia menemukan tempat yang nyaman untuknya. Semua yang ada disana menyambutnya dengan ramah dan bersikap baik. Disana, dia merasa dihargai.


Mulai saat itu juga, dia selalu berlatih demi balas dendamnya kepada Sang Kepala Keluarga Utama. Ambisinya itu semakin hari semakin meningkat. Ia tunjukkan di latihannya yang berbuah hasil karena konsistensinya itu.

__ADS_1


Visual Character Elizabeth Ignite :



__ADS_2