
********
Aku terbangun berkat sebuah Kilauan cahaya yang menyinari ku. Melihat dengan samar-samar seseorang.
"Kau sudah bangun ya, maaf mengganggu waktu tidurmu."
Ternyata seorang perawat UKS yang sedang memakai skill pemulihannya di Tubuhku.
"Tidak apa, aku juga berencana bangun." Dengan kondisi setengah sadar sehabis bangun.
Tubuhku mulai terasa membaik berkat skill pemulihannya. Perlahan-lahan mati rasa yang tadi kurasakan mulai membaik. Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk memastikan apakah sudah bisa digerakkan atau belum.
Aku menggerakkan tangan kananku ke arah wajah. Tanganku sudah bisa digerakkan dengan normal.
"Akhirnya tubuhku bisa digerakkan. Terimakasih Sus." Dengan perasaan sedikit senang karena hal itu.
."Sama-Sama, kalau begitu aku hentikan pemulihanmu ya. Aku akan memulihkan temanmu yang masih terbaring di samping."
"Iya sus, aku sudah merasa membaik."
Perawat itu pun pergi ke Arah Kasur Adela yang berada di sampingku. Adela masih terbaring disana dengan kondisi tidak sadar. Dia terlalu memaksakan saat memakai kemampuannya sepertinya sehingga masa pemulihan tubuhnya berlangsung lama.
Aku pun bangun dari tidurku dan duduk di Kasur. Berdiam sejenak sembari menunggu nyawaku terkumpul. Setelah sudah sadar sepenuhnya, aku berdiri untuk mengecek apakah kakiku sudah normal juga atau belum.
Aku bisa berdiri dengan stabil, kondisi kakiku juga sudah normal berkat pemulihannya. Aku langsung bergegas pergi ke Lapangan menyusul yang lainnya. Terasa bosan jika berada di UKS, tidak ada hal yang menyenangkan.
Aku berjalan menuju ke Lapangan. Sesampainya di Lapangan, aku melihat banyak sekali siswa yang berada di sana. Mereka tampak duduk melihat sebuah siaran yang berada di Monitoring Hologram yang besar itu.
"Sudah baikan kah Raphael?" Alvian bertanya mengenai kondisiku.
"Sudah, makanya aku langsung pergi ke sini. Bosan kalau di UKS."
"Yaudah, sini duduk sambil melihat Pertarungan yang tersisa." Sembari menepuk sampingnya isyarat untuk duduk di sebelahnya.
"Oke."
Aku duduk di sebelah Alvian. Alvian tampak fokus menonton siaran itu, sesekali dia juga berekspresi seakan-akan greget dengan Siarannya.
"AAA, Isaak hampir aja itu tadi. Gila… sengit banget pertarungannya." Alvian berteriak sebentar.
Dia melihatnya dengan seksama siarannya seperti ingin melihat Timnya menang. Aku yang melihatnya pun dibuat gregetan dengan pertarungan Vincent dan Isaak. Pertarungan mereka sama-sama berasal dari kemampuan mereka yang bisa mengendalikan pikiran maupun panca indra.
Alat yang tadi kubuat untuk Isaak sudah menghilang karena aku kalah. Tapi ajaibnya Isaak mampu bertahan melawan Vincent dengan sebuah Kain yang entah darimana dia dapatkan. Sebuah kain hitam dipakainya untuk menghalau tatapan Vincent yang dapat mengendalikan tubuhnya.
Di sisi lain, ada Pertarungan Kroenzi melawan Reinhart dengan Gary. Kroenzi melawan 2 orang sekaligus. Mereka tampak berbicara sembari bertarung dengan memakai skill Mereka masing-masing. Entah apa yang mereka bicarakan disana.
Tom terlihat dalam siaran sedang menuju ke Arah Markas timnya bersamaan dengan Leon. Kini sepertinya situasi Tim Penjahat dalam kesulitan. Mereka kalah jumlah yang lumayan banyak. Paling tidak, 2 orang dari Tim Penjahat masing-masing harus melawan 2 orang sekaligus.
"Sial, kalo kayak gini terus yang ada bakal kalah. Mereka harus menyelesaikan pertarungan mereka dengan cepat dan pergi membantu yang lain." Alvian menggerutu.
Aku yang melihat Alvian berkata seperti itu merasa ikut menggerutu juga. Pertarungan ini kalau dilihat secara logika sudah ketahuan siapa yang akan memenangkannya. Berharap sebuah keajaiban datang kepada Tim Penjahat yang tersisa yang membuat mereka bisa melawan semua yang ada.
Kulihat di siaran yang menunjukkan Isaak dan Vincent sedang bertarung, mereka berdua sama-sama bergerak dengan perhitungan yang mendalam. Tak ada pergerakan yang berlebihan satu sama lain. Menunggu sebuah momentum dari kesalahan kecil yang lawannya miliki.
Penglihatan Isaak walau terbatas karena memakai sebuah Kain Hitam di matanya tetapi dia tahu bahwa dia harus bergerak kemana. Sesekali mereka berdua bersembunyi di sebuah Bangunan. Tidak ada yang saling menyerang dengan menggunakan emosi masing-masing. Mereka bergerak memakai otak mereka yang bekerja keras.
Kedua orang ini sangat cocok bila dijadikan seorang Pemimpin. Logika yang mereka pakai seperti seorang Ilmuwan jenius. Di satu sisi, Tom dan Leon sudah mendekat di Markas Tim Penangkap membantu yang lainnya. Kini, sepertinya tidak ada secercah harapan yang tersisa bagi Tim Penjahat untuk menang.
Apalagi kalau dilihat pertarungan mereka yang berada di Markas tampak sengit dan tidak ada berat sebelah. Mereka semua setara dengan kekuatan mereka yang saling dikeluarkan. Novaria dengan Kemampuan Esnya yang membuat lantai pijakan Raymond menjadi licin. Dia tidak bisa bergerak dengan bebas karena hal itu.
Bisa dibilang di pertarungan ini Novaria sudah jelas akan memenangkannya. Sedangkan untuk Clara, kekuatannya bisa dibilang mengendalikan gravitasi di sekitarnya. Dia bisa mengendalikan Gravitasi itu menjadi berat ataupun Ringan. Luci yang hanya bermodalkan sebuah Pedang di tangannya tidak bisa melawannya.
Sepertinya kemampuan Luci adalah bergerak dengan cepat. Tapi kekuatan itu dapat di counter dengan kemampuan Gravitasi milik Clara. Sehingga Luci hanya berdiam diri sembari bersembunyi di puing-puing bangunan menunggu Clara mendekat.
Untuk pertarungan Norman melawan Michael, mereka berdua sudah berada di batasnya masing-masing. Mereka berdua tampak kelelahan karena memakai skill mereka berdua yang sangat menguras tenaga dalam jumlah banyak. Michael dengan skill Teleportasinya dan Norman dengan skill melayangnya.
__ADS_1
Keduanya sama-sama menggunakan tenaga yang sudah tinggal sedikit. Walaupun salah satu dari orang ini menang, mereka tidak bisa bergerak lagi karena kelelahan yang mereka rasakan. Inilah tidak enaknya memiliki kemampuan yang menguras energi dengan jumlah banyak. Stamina sangat bergantung pada besarnya kekuatanmu.
Aku yang daritadi fokus menonton Siarannya tampak haus. Aku pergi ke arah Kantin untuk membeli sebuah minuman yang berada di Kantin. Aku bangun dari tempat duduk ku dan membersihkan belakang celana ku karena debu yang menempel.
"Mau kemana Raphael?"
Alvian yang sangat fokus sepertinya meresponku.
"Aku mau ke Kantin untuk membeli Minuman. Kenapa?"
"Nitip sekalian dong. Aku juga haus daritadi liatnya."
"Yaudah, mana duitnya?" Sambil memberikan tanganku.
"Bentar."
Alvian mengecek saku celananya untuk mengambil sejumlah uang yang dimilikinya.
"Nih." Memberikan Uang Cash 200 Roux.
"Mau minuman apa?" Aku bertanya tentang yang ingin dibelinya.
"Hmm.. aku teh dingin aja deh. Sama kalau masih ada kembaliannya beliin aku sebuah Roti coklat juga."
Alvian ini… biarlah, lagipula dia tadi sudah membantuku. Anggap saja ini sebuah Balas Budi untuk yang tadi.
"Yaudah, itu aja?"
"Iya. Tolong ya."
"Ya."
Aku pergi meninggalkan Alvian. Berjalan ke arah Kantin sembari menoleh melihat siarannya. Situasi masih sama seperti yang tadi, tidak banyak yang berubah. Berjalan melewati koridor sembari menoleh ke kanan dan kiri melihat kelas lain sedang dalam pelajarannya.
Berada di depan Kelas 11-B, aku melihat Lauren yang sedang menulis materi yang ada di Papan Tulis. Dia tampak fokus melihat ke depan sembari mencatat.
Kepribadiannya berubah 180 derajat saat berada di Dalam Kelas. Lauren sempat menoleh ke arah luar. Dia sepertinya melihatku yang sedang berjalan di depan kelasnya. Aku mengangkat tanganku seketika.
Lauren membalas respon itu dengan sebuah Senyuman kecil. Kemudian dia melanjutkan mencatat materi yang guru berikan. Tidak ingin menganggu belajarnya, aku sedikit mempercepat jalanku.
*******
Sampai di Kantin.
Aku membeli sebuah minuman di sebuah Vending Machine yang tersedia. Mengambil selembar uang kertas 100 Roux untuk membeli minuman berkarbonasi dengan rasa Lemon. Tak lupa juga membeli apa yang Alvian titipkan tadi.
Satu kotak minuman Teh Dingin aku beli juga. Kedua total harga pas 100 Roux. Dengan harga Minuman ku 55 Roux, sedangkan untuk Tehnya 45 Roux. Dengan ini Uang Alvian yang berada padaku masih tersisa sekitar 155 Roux. Aku pergi ke Tempat Ibu penjual Kue.
"Mau beli apa Dek?"
Ibu penjual menyambutku dengan senyuman sembari menawarkan jualannya. Banyak sekali kue-kue yang dijual disini. Membuatku ingin membelinya juga.
"Roti Coklat masih ada Bu?"
"Masih… mau beli berapa?"
*Satu aja Bu, sama sekalian deh beli browniesnya. Browniesnya 2 ya."
"Oke dek. Bentar ibu ambilkan kantung dulu."
"Iya Bu."
Ibu penjual itu memasukkan pesananku ke dalam sebuah kantung dengan cepat.
"Ini Dek pesanannya." Sambil memberikan kantung yang berisi pesanannya.
__ADS_1
"Jadi berapa Bu?"
Aku menanyakan total harga dari 1 Roti dan 2 Brownies itu.
"Jadi 300 Roux aja dek semuanya."
Aku mengambil 3 lembar uang kertas dari saku ku dengan masing-masing kertas memiliki Nominal 100 Roux.
"Ini Bu Uangnya. Makasih ya." Memberikan 300 Roux kepada ibu penjual kue.
"Sama-sama."
Setelah semua makanan dan minuman yang kubeli sudah terbeli semua, aku bergegas pergi ke Lapangan kembali untuk menonton siarannya.
Mereka yang duduk tampak berdiri karena sesuatu. Aku bergegas berlari melihat apa yang terjadi.
"Ada apa Alvian?"
"Norman kalah melawan Novaria. Serta juga Leon dan Tom sudah sampai di Markas. Mereka berdua menyerang Clara yang sudah mengalahkan Luci tadi. Situasi sekarang 2 vs 1."
Wah… ditinggal sebentar saja mereka sudah banyak yang kalah. Sayang sekali aku tidak melihat bagaimana pertarungannya berakhir.
"Nih Roti Ama Tehmu." Aku memberikan Roti Coklat dan Teh yang Alvian titipkan padaku.
"Wah makasih Raphael. Aku daritadi nunggu cemilan buat nemenin nonton. Kembaliannya ambil aja."
"Yaudah, aku ambil kembalian 55 Roux."
"Iya.. ambil aja. Yaudah aku mau lanjut nonton lagi."
Alvian kembali melanjutkan menonton siarannya. Aku juga ikut menonton sembari meminum minuman yang kubeli tadi.
Kondisi Clara yang dikepung oleh Tom dan Leon sangat menyulitkannya sepertinya. Dia hanya berlari menghindari mereka berdua. Tapi sia-saja jika ingin bersembunyi, Leon memiliki kemampuan yang bisa melihat segalanya walaupun itu terhalang oleh gedung-gedung tinggi.
Kurasa Clara akan mencapai batasnya saat ini. Tom dan Leon mengejarnya dengan arah yang berbeda. Seperti ingin menutup segala jalan kabur yang bisa digunakan. Benar saja, Tom dan Leon mengepung Clara dari depan dan belakangnya. Clara terjebak di antara bangunan-bangunan di sampingnya. Tidak ada jalan keluar lagi yang bisa dia gunakan untuk kabur.
Clara yang sedang dalam keadaan terdesak langsung menggunakan Skill Gravitasinya untuk menarik Tom dan Leon ke tanah. Dia memikirkan dengan cerdas apa yang bisa dilakukannya dengan Skillnya itu. Berkat kebodohan Tom dan Leon, mereka masuk ke dalam Gravity Zone milik Clara.
Tubuh Leon dan Tom tertarik jatuh ke tanah. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan ketika tertarik oleh kuatnya gravitasi yang ada. Mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka karena dorongan gravitasi yang kuat dari skill milik Clara.
Namun kelemahan skill Clara sangat terlihat disini. Ketika dia menggunakan Gravity Zonenya, dia tidak bergerak juga untuk mempertahankan Skillnya untuk aktif. Ini akan berakhir jika Tom dan Leon sudah tidak kuat menahan tekanannya dan menyerah.
Kebodohan mereka berdua membuat mereka pantang menyerah dalam situasi yang ada. Walau tubuh mereka tidak bisa digerakkan, mereka mencoba untuk berdiri melawan kuatnya tekanan yang mendorong tubuhnya.
Walaupun mereka berdua sudah berusaha sekuat tenaga, tidak mungkin untuk melawan tekanan yang besar itu. Mereka mencoba pun Clara akan langsung memperkuat Tekanannya sehingga membuat mereka berdua tidak bisa berdiri.
Ini seperti situasi yang sudah ditentukan pemenangnya. Tidak akan ada yang berubah kecuali ada seseorang yang mempunyai skill mengubah pijakan Clara menjadi tidak stabil. Ada satu sih yang bisa membuat itu, namun orangnya tidak berada di tempat mereka bertiga bertarung. Mereka bertarung saling berjauhan sehingga tidak mungkin untuk melihat satu sama lain.
{Sudah tamat sepertinya Tom dan Leon. Aku bisa memperkirakan mereka hanya bisa bertahan 1 menit lagi.}
Pertarungan Leon dan Tom sudah usai sejak mereka berdua masuk ke Gravity Zone Clara. Hanya tinggal menunggu waktu untuk mereka berdua menyerah.
Aku melihat Pertarungan Kroenzi dengan Reinhart di Monitor lain. Tampaknya Gary sudah dikalahkan oleh Kroenzi. Kini hanya tersisa mereka berdua disana. Ini adalah pertarungan antar sahabat yang sudah lama berteman.
Ini akan menjadi sebuah pertarungan yang menegangkan dengan taruhan pertemanan mereka. Sebuah pertarungan yang membuat mereka berdua akan jujur satu sama lain. Bisa dibilang jika ini adalah sebuah kemajuan untuk pertemanan mereka agar tidak ada keributan lagi di masa yang akan datang.
Kuharap salah satu dari kalian akan berkata jujur sesuai dengan kata-kataku tadi. Aku sudah tidak tahan dengan keributan mereka yang kian lama semakin berisik saja. Mengganggu ketenangan yang ada.
Kroenzi serta Reinhart sama-sama memasang kuda-kuda mereka. Menunggu salah satu dari mereka yang akan maju duluan untuk menyerang
Visual Karakter Reinhart Joen :
Visual Karakter Kroenzi Zion :
__ADS_1