
Kami semua pun menyetujui apa yang Leon sarankan. Pergi ke Salah satu Restoran bintang lima saat sepulang sekolah nanti.
"Aku Setuju dengan apa yang Leon ucapkan. Sepulang sekolah saja kita langsung pergi." Ucap Tom yang menanggapi pembicaraan itu.
"Tapi mau dimana? Disini kan jarang ada Restoran bintang Lima. Apa mau pergi ke Kota Berlintz? Disana kan pusatnya macam-macam Bangunan yang terkenal mewah."
Matt menyarankan pergi ke Kota Berlintz. Kota Berlintz bisa dibilang sebagai Ibukota negara Jermuntz. Pusat dari segala pembangunan berada disana. Bahkan asosiasi Hunter pun berdiri di Kota Berlintz. Cukup bagus sih usulan untuk pergi ke Kota Berlintz.
"Benar kata Matt. Apalagi di Berlintz ada Violance Restauran't. Kasta tertinggi dari seluruh Restoran yang ada di Negara ini."
Mendengar perkataan Xavier, kami pun bersama-sama memutuskan pergi ke Violance Restauran't saat pulang sekolah nanti. Karena keputusan ini sudah dibuat, maka hanya menunggu saat pulang sekolah tiba. Aku masih bingung untuk pergi kesana dengan apa.
"Hey Raphael, kau berangkat menggunakan kereta kan?" Vincent bertanya padaku.
"Iya, emangnya kenapa Vin?"
"Kan nanti sepulang sekolah pergi ke Kota Berlintz. Emang kamu naik apa kesananya?"
"Gatau nih. Aku juga bingung naik apa."
Aku tidak tahu mau menggunakan transportasi apa untuk pergi kesana. Apa aku nebeng dengan murid kelasku ya. Ada beberapa orang yang membawa mobil sih untuk pergi ke Sekolah.
"Mau bareng denganku kah? Kebetulan aku lagi bawa Mobilku kesini."
Mendengar hal itu, aku lumayan senang. Ketidaktahuan ku pun berubah menjadi sebuah solusi yang datang. Dengan segera aku mengiyakan tawaran Vincent yang mengajaknya untuk pergi bareng dengan Mobilnya.
"Tepat waktu banget. Aku mau."
"Yaudah, nanti sepulang sekolah langsung pergi ke Parkiran ya."
"Oke."
Masalah pun terpecahkan. Kini, sudah masuk pukul 13.00. Tidak ada pelajaran saat ini karena guru yang mengajar berhalangan hadir. Kelas kosong ini aku manfaatkan dengan bermain game bersama temanku yang kebetulan bermain juga.
Bermain game bersama dengan Vincent, Tom, Leon, dan Gary. Kami bermain dengan asyiknya di sepanjang permainan. Sejenak tertawa, sejenak kesal, dan terkadang merasa jengkel saat bermain. Tapi hal itu menghilang karena suasana bermain bersama jauh lebih menyenangkan ketimbang bertengkar.
Kepribadian kami yang tadi berada dalam Permainan Hit & Run hanyalah semata-mata ditujukan untuk persaingan kami. Tidak ada yang namanya dendam yang muncul dalam diri kami. Kini, masing-masing dari mereka telah menemukan teman baru yang bisa diajak bermain bersama.
"Itu di rumput ada seseorang yang bersembunyi Raph." Celetuk singkat dari Gary yang memberitahu info di dalam game itu.
"Iya, aku lihat."
Aku mengarahkan analogku untuk menuju ke arah Rerumputan di depan. Menggunakan semua skill dalam Character yang kupakai untuk mendapatkan Kill.
"Has Slain." Suara Notifikasi dalam Game.
Aku berhasil mendapatkan Kill berkat musuh yang tak pandai bermain itu.
"Nice Raphael. Kalau gini terus sih bisa menang ini." Leon memberikan ku Pujian.
"Hahaha, bisa aja Leon." Tom tertawa karena Leon yang bersemangat itu.
Kami pun bermain dengan chemistry yang baru saja terbentuk. Sepanjang permainan, Leon dan Tom mendapatkan banyak sekali Kill karena Role mereka. Character yang mereka pakai mempunyai Role Assasin. Mempunyai damage tinggi yang diberikan pada musuh.
Aku hanya memakai sebuah Character dari Role Support. Tugasku hanyalah menjadi pendukung untuk yang lain. Bisa dibilang Role support ini lebih condong ke dalam Assist ketimbang Kill.
Gary memakai Role Shooter yang mempunyai Playstyle jarak jauh. Menggunakan sebuah senjata tembakan jarak jauh yang bisa digunakan untuk mendapatkan Kill. Untuk Vincent, dia memakai Role Tank yang berfungsi untuk menerima damage yang diberikan oleh Lawan. Kami semua bermain dengan Playstyle masing-masing.
******
"Your Team Has Win." Suara Notifikasi dalam in Game.
Permainan itu usai dengan kemenangan di pihak kami. Rank kami pun naik bersama-sama karena kemenangan itu. Di dalam tim ini, Rank Leon lah yang paling tinggi. Dalam statistik match ini pun dia mendapatkan MVP yang menunjukkan bahwa dirinya bermain lebih baik dari kami semua.
"Menang juga. Mau lanjut main lagi kah?" Vincent berbicara.
"Boleh tuh, ayok maen lagi mumpung gak ada guru yang masuk." Ujar Leon
"Ayok."
Kami semua pun bermain lagi.
********
"Akhirnya menang lagi." Ucap Gary
"Hahh.. capeknya maen dari tadi. Untung Win Streak. Rank ku yang tadinya dari Robust jadi Expert." Vincent tampak kelelahan setelah bermain.
Kami bermain selama sekitar 2 jam lamanya. Sungguh melelahkan menggerakkan jari selama itu. Tanganku agak sedikit sakit.
"Mau main lagi kah?"
Leon ini sepertinya kalau masalah game tidak ada kata berhenti untuknya. Yang lain sudah kelelahan dia masih segar.
"Gak dah. Tanganku sudah sakit gegara main 2 jam an. Aku mau istirahat bentar." Aku menjawab ucapan Leon.
"Sama, aku juga udahan. Capek banget dari tadi gerakin jari." Vincent mengikuti.
"Yaudah aku main sendiri aja dah."
Leon pun bermain lagi. Kami berempat melihat Leon yang memiliki Stamina yang lumayan besar. Bermain selama itu tidak membuatnya merasa lelah. Kami berempat pun beristirahat dengan menundukkan kepala kami diatas meja.
Para Cewek-cewek di sana sepertinya sedang membahas sesuatu. Mereka sekarang sudah mulai dekat. Aku tidak ingin ikut campur dengan omongan para cewek apa lagi mengupingnya.
Lebih baik aku tidur sembari menunggu Bel pulang sekolah berbunyi.
Disaat aku memejamkan mata, ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku pun mengangkat kepalaku. Menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menepuk.
"Raphael, mau Coklat gak?"
Novaria yang berada di belakangku sambil melihatkan coklat yang ada di tangannya.
{Apa ini mimpi? Novaria memberikan ku coklat. Apakah ini berada di dalam mimpi?}
Aku berbalik arah menoleh dan menampar wajahku sendiri apakah ini mimpi atau bukan.
__ADS_1
"PLAK." Suara tamparan.
Ini sakit, berarti? Ini adalah kenyataan. Novaria yang memberikanku coklat adalah hal yang nyata. Aku merasakan kesenangan yang mendalam karena hal itu.
Aku pun menoleh kembali ke arah Novaria. Aku melihat wajahnya yang memerah dan malu-malu saat ingin memberikanku Coklat.
{Sial, apakah ini pertanda kematianku? Wajahnya itu sangat imut. Bagaimana aku bisa menolak pemberiannya.}
"Boleh Nov."
Aku pun mengambil Coklat yang diberikan oleh Novaria di atas tangannya. Setelah aku mengambilnya, dia kembali ke kumpulan anak cewe yang sedang melihat ke arah kami berdua. Kumpulan para cewek itu tampak senyum ketika aku mengambilnya.
Tampak heboh disana seketika. Novaria juga menutup wajah malunya saat berada di sana. Para cewek itu membombardir segala pertanyaan kepada Novaria.
Aku tidak ingin terlalu mendengar hal yang mereka bicarakan. Tidak baik untuk menguping pembicaraan wanita. Lebih baik aku membuka bingkisan coklat ini dan memakannya. Aku memakan coklat yang diberikan oleh Novaria.
Novaria menoleh ke arahku kembali yang sedang memakan coklat yang diberikannya. Aku merespon tatapannya itu. Seketika, Novaria membalikkan kepalanya kembali. Aku sempat berpikir.
{Ada apa dengannya?}
Aku tidak tahu apa ada yang salah dengannya. Namun, Coklat yang dia berikan ini sangat enak. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. Aku menghabiskan Coklat itu dan melanjutkan untuk tidur sampai pulang sekolah Tiba.
***********
Sebuah suara terdengar di Kupingku. Seperti ada yang berbicara padaku. Aku pun membuka mataku yang terpejam itu. Penglihatan ku masih samar karena efek sehabis tidur itu. Aku menoleh ke kanan dan kiri sambil mengumpulkan nyawa.
Vincent berada di sampingku dengan mengenakan Tasnya. Ada apa emangnya sampai membawa tas begitu?
"Ada apa Vin?Hoam." Aku berbicara sambil menguap.
Aku mengucek mataku yang sehabis tertidur itu.
"Sudah pulang ini. Kamu gak mau pulang kah?"
Mendengar hal itu, wajahku yang tadi tampak mengantuk kini menjadi segar secara perlahan.
"Sudah Pulang? Yaudah bentar aku pakai Tasku dulu."
*Aku tunggu diluar kelas."
Vincent pun pergi keluar kelas. Aku merapikan barang-barang ku yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam Tas. Setelah sudah semua dimasukkan, aku mengenakan Tasku dan berjalan menuju Luar.
Vincent menunggu di depan pintu itu dengan memegang Smartphonenya.
"Ayok Vin."
Kami berdua pun pergi keluar bangunan. Anak-anak yang lain juga berada di depan.
"Oh iya Vin, yang tadi jadi kan?"
"Jadi, makanya ini yang lain udah pada di Parkiran."
Berjalan menuju Parkiran sekolah yang berada di bawah. Keadaanku masih mengantuk karena habis tertidur sial. Aku harusnya cuci muka terlebih dahulu tadi. Mulutku masih menguap-nguap saat berjalan. Aku menutup mulutku yang sedang menguap itu dengan tangan.
"Kau emangnya gak tidur tadi malam Raph?"
Kami sampai di Parkiran sekolah. Disana, sudah ramai sekali anak-anak kelasku yang sudah menunggu.
"Vincent, Raphael. Kalian lama banget sih. Kasian yang lain nunggu." Tom berbicara di samping mobilnya.
"Maaf, aku bangunin Raphael yang tertidur tadi. Jadinya agak lama."
"Maaf juga udah memperlambat waktunya."
Kami berdua pun meminta maaf kepada yang lain karena membiarkan mereka menunggu lama.
"Yaudah, masuk ke mobil kalian saja. Ini mau berangkat ke sana."
"Oke."
Aku dan Vincent berjalan mendekati mobil milik Vincent. Mobil bermerk Porsche dengan Tipe GT3 RS milik Vincent yang berwarna Kuning. Kesan mobilnya terlihat mewah. Vincent membuka pintu mobilnya. Aku pun menyusul untuk masuk ke dalam Mobil.
Interiornya pun bagus dan terawat. Vincent memegang kendali kemudi di sampingku. Dia menyalakan mesinnya. Suara knalpotnya juga bagus dan kesan sangarnya terdengar.
"Pakai Seatbeltnya Raphael."
"Iya."
Aku pun dengan segera melakukan apa yang Vincent suruh kepadaku. Memakai Seatbelt dengan cepat. Seatbelt sudah terpasang. Mobil milik yang lain sudah jalan terlebih dahulu meninggalkan Parkiran sekolah. Vincent pun langsung menancap gas mengikuti yang lain.
********
Kami semua akhirnya sampai di Restoran yang dimaksud. Violance Restaurant, memiliki bangunan yang mewah tampak dari luar. Kami semua mulai memarkirkan Mobil-mobil kami di samping bangunan. Disana disediakan tempat parkir khusus untuk pelanggan Restoran.
Mobil-mobil sudah berjejer di parkiran mencari lahan parkir yang masih kosong. Vincent memarkirkan mobilnya di pojok kanan.
Aku pun keluar dari mobil.
"TUK." Suara pintu mobil yang tertutup.
Aku berjalan pergi mendekati mereka yang sudah menunggu di depan bangunannya. Vincent masih mengurus mobilnya yang sudah terparkir.
"Ayo masuk." Ucap Tom.
Kami pun memasuki Restoran itu bersama-sama. Di dalamnya terkesan sekali kesan mewah dan elegan. Musik dari Lantunan suara Piano di barengi dengan Harpa itu membuat suasana terasa sejuk. Saat masuk juga kami disambut oleh para pelayan yang bekerja disana. Pelayan itu menundukkan kepalanya dengan sebuah kain di lengannya.
Kami semua berjumlah 28 orang. Sedangkan untuk 1 meja bundar itu hanya berisi 4 kursi saja. Mungkin kita harus membagi orang-orangnya. Kami pun membagi orang-orang menjadi 7 grup dengan 4 orang di masing-masing grupnya. Timing kami bagus saat berada disini karena masih lumayan sepi. Jadi banyak meja dan kursi kosong yang tersedia.
Vincent yang sudah sampai setelah merapikan mobilnya itu sekarang berada di sampingku. Aku menoleh ke arahnya sekilas dan memperhatikan yang lain untuk membagi orang-orangnya.
Pembagiannya pun sudah selesai. Kami semua memilih sesuai dengan keinginan hati ingin duduk bersama siapa. Di tempatku, aku bersama Vincent sudah pasti. Karena konsep meja bundar ini membuat Vincent berada di sampingku.
Novaria juga ikut bersamaku. Dan terakhir Adam. Kami berempat duduk mengelilingi mejanya. Karena kami berempat duduk bersama, rekan kami yang lainnya melihat ke arah kami semua. Bagaimana tidak, tempat duduk ini berisi 3 orang yang memiliki pengaruh besar. Aku berada di antara mereka.
{Tatapan mereka membuatku tak nyaman.} Dengan sebuah garpu yang berada di mulutku.
__ADS_1
Suasana disini juga tampak sunyi dan tak ada yang berbicara satupun. Membuat kesan mejanya terlihat seram. Mereka bertiga menikmati makanan mereka masing-masing. Aku sebenarnya ingin membuka sebuah obrolan, hanya saja aku tidak tahu obrolan apa yang cocok untuk dibicarakan disini. Dan juga tidak sopan makan sambil berbicara.
Kuputuskan saja untuk diam menikmati makanan ku. Sebuah Spaghetti with Bolognese Sauce. Aku melihat ke arah Novaria yang berada di samping kiriku. Dia yang menyadari aku melihatnya tampak memalingkan wajahnya dariku.
Aku terheran Karena ulahnya itu. Kenapa dia memalingkan wajahnya saat aku melihatnya. Apakah dia tidak suka dilihat? ya sudahlah, aku lanjut makan saja. Takut mengganggunya yang sedang makan juga.
Akhirnya kami semua selesai menyantap makanannya. Aku mengelap mulutku menggunakan kain yang disediakan pihak restoran. Suasana disini masih saja berat. Aku mencoba untuk membuka suatu topik obrolan agar tidak terlalu sunyi.
"Ano… kalian minum Wine?"
{SIAL!! Apa yang ada di pikiran ku sampai-sampai menawarkan Wine kepada Mereka.}
Sungguh bodohnya aku menawarkan Wine kepada mereka. Sepertinya mereka berdua tidak meminumnya.
"Boleh Raph, kalau kamu pesen Wine aku juga mau sekalian." Ucap Vincent.
"Aku nggak Minum. Kalian aja." Novaria menolak dengan sopan menggunakan tangannya.
Aku pun memesan 1 botol wine. Pembicaraan langsung terhenti disitu. Topik ku tidak mampu untuk membuat sebuah situasi nyaman disini. Aku menyerah dengan keadaan yang tidak bisa kuubah.
********
Satu botol wine pun datang. Aku membuka tutup botol wine itu dan menuangkan ke Gelas ku.
"SLURRPP." Suara menyeruput wine itu.
Ahh… Wine ini terasa nikmat, tapi aku hanya bisa meminumnya satu gelas saja. Vincent dan Adam juga menuangkan wine itu ke gelas mereka. Mereka meminum Wine itu dengan perasaan nikmat yang terlihat di wajah mereka masing-masing.
"Enak banget Wine ini." Celetuk Vincent.
"Jarang-jarang aku minum Wine. Tapi untuk kali ini aku merasakan nikmat dari segelas Wine segar." Adam sembari memuji Wine yang ada di gelasnya.
Benar juga, aku jarang minum Wine di rumahku karena jarang ada yang minum disana. Tapi untuk kali ini, aku akan meminumnya dengan batasan. Vincent tampak menuangkan kembali Winenya ke dalam Gelasnya.
Kayaknya Vincent suka sekali dengan Wine itu. Apa dia tidak takut terlalu mabuk minum Wine secara berlebih. Biarkan dia minum sampai puas saja lah. Jarang-jarang juga kami dapat momen seperti ini.
Kami berempat mengobrol sambil tertawa-tawa. Vincent yang asik dengan Winenya itu pun sangat lucu. Kami menertawakan ulah Vincent yang tampak konyol itu. Kurasa ada baiknya bila terus seperti ini untuk seterusnya.
*************
20 menit Kemudian, Vincent pun terlihat mabuk. Dia mulai bertingkah seperti kliyengan.
"Tambah Lagi ahh… aku mau wine."
Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut, Vincent harus berhenti minumnya. Aku pun berpamitan kepada yang lain untuk pulang karena kondisi Vincent ini.
"Aku pamit dulu ya Nov, Adam."
"Aku juga pamit deh, lagipula sudah malam juga." Novaria yang bangun dari duduknya.
"Yaudah, kalian bertiga hati-hati ya. Aku mungkin akan menunggu yang lain pulang."
"Aku taruh uang untuk membayar pesanan kalian saja. Anggap aja ku traktir malam ini sebagai kompensasi atas ulah Vincent." Aku menaruh Uang 3500 Roux di atas meja.
"Terima kasih Raph."
Aku menggendong Vincent yang mabuk ini keluar dari Restoran. Berat juga dia. Novaria juga berjalan di sampingku yang ingin pulang juga.
"Kamu pulang naik apa Nov?"
"Pake Taxi Raph. Ga ada yang bisa jemput aku sekarang soalnya."
"Emang rumah kamu dimana?"
"Di kota Augsburgert."
"Lumayan dekat sih kalau dengan rumah ku dan Vincent. Mau bareng?"
Aku menawarkan tumpangan kepadanya karena Augsburgert tak jauh dari kota Stuttgarter.
"Boleh memangnya?" Novaria bertanya kepadaku.
"Ya gapapa. Mumpung masih satu arah juga. Daripada naik Taxi. Lagipula sekarang juga udah malam. Ga baik untuk perempuan pulang sendirian."
"Ummm… yaudah deh. Kalau gak ngerepotin aku bareng kalian aja."
Kami pun pergi ke Parkiran di samping Restoran. Vincent tidak bisa mengendarai dengan keadaannya saat ini. Dia tertidur lelap karena efek mabuknya itu. Terpaksa aku harus mengambil alih kemudinya. Aku mengambil kunci mobil di saku celana Vincent.
Membuka pintu dan memindahkan Vincent ke Kursi depan. Novaria ku suruh duduk di belakang. Aku pun menyalakan mesin dan menancap Gas pergi pulang.
**********
Sampai di Kota Augsburgert, Novaria meminta diturunkan di depan Gerbang kawasan Kediamannya.
"Aku turun di depan sini aja Raph. Kediamanku berada di dalam kawasan ini."
"Oh oke."
Aku memberhentikan mobilku tepat di Depan. Novaria pun keluar dari mobil.
"Makasih ya Raph."
"Sama-sama Nov, yaudah aku pulang dulu ya."
"Hati-hati di jalan."
Novaria Melambaikan tangannya dengan kecil. Aku menancap gas untuk pergi ke Kediaman Vincent terlebih dahulu. Mengembalikan mobilnya dan membawa Pulang Vincent yang tertidur lelap ini. Dia tidur dengan nyenyaknya sampai-sampai kepalanya menyandar di kaca mobil.
********
Hah.. akhirnya sampai juga di Kediaman Vincent. Aku pun turun dan memberitahu para penjaga Kediaman Astroze. Sesudah memberitahu keadaan itu, Penjaga itu mengambil alih mobilnya dan memasukkannya ke Dalam.
Aku pulang ke Kediamanku dengan berjalan kaki. Sesampainya di Mansion, aku pun tertidur karena lelahnya setelah pergi ke Berlintz.
Visual Karakter Leon Vanser :
__ADS_1
Visual Karakter Alice Berg :