Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 20 Kemacetan Panjang


__ADS_3

Suasana hujan di tengah kota membuat lalu lintas terasa padat. Genangan air berada di kota membuat kemacetan semakin panjang. Banyak sekali kendaraan lain yang menepi sejenak di sekitar jalan. Menunggu hujan ini reda.


Kendaraan yang menepi itu menghalangi para pengendara lain. Vincent yang mengendarai itu mengeluh tentang keadaan Kota yang tergenang air ini.


"Alah.. pake banjir segala ini jalan. Bikin macet aja." Dengan ekspresi kesalnya.


Keadaan tengah kota semakin parah ditambah dengan truk-truk yang berlalu lalang di sekitar. Banyak kendaraan yang mogok akibat genangan air itu. Dengan terpaksa aku dan Vincent harus menunggu beberapa saat akibat kemacetan yang ditimbulkan.


Vincent menyetel musik di radio mobil. Lagu-lagu santai menemani kemacetan ini. Amarah yang tadi keluar sesaat mulai perlahan mereda akibat lagu yang dipasang. Nada-nada yang dihasilkan mampu membuat pikiran seseorang kembali tenang.


Kami berdua terjebak di kemacetan ini. Hanya bisa berkendara sedikit demi sedikit. Pemerintah tidak bekerja dengan benar untuk mengatasi kemacetan yang terjadi. Pemerintah sekarang lebih terfokus dengan kejadian-kejadian yang menimbulkan bencana besar seperti Dungeon Break dan Menara.


Infrastruktur kota kini tidak terkendali dengan seharusnya. Saluran air tidak bekerja dengan benar karena tanah-tanah yang menutupi. Membuat Air hujan yang menggenangi tidak bisa surut dengan cepat. Akibatnya genangan air dibiarkan ada di tengah jalan kota yang padat ini.


"Kapan ini lancarnya.. genangan air tidak bisa menghilang dengan cepat apa ya." Ujar Vincent yang sedikit kesal itu.


"Sabar aja sih Vin. Lagipula masih hujan deras begitu. Bakalan lama ini."


Aku menanggapi kekesalan Vincent tentang jalan kota yang terlalu macet ini. Kuperkirakan mungkin kemacetan ini berasal dari Lampu lalu lintas di depan. Di belakang dan samping kami dipenuhi dengan kendaraan.


Kulihat mereka juga seperti kesal. Transportasi kota seperti Bus kini sedikit terlambat dari jadwalnya. Mobil di depan kini bergerak perlahan, Vincent langsung langsung menancap gasnya. Namun, tak berapa lama mobil di depan tak bergerak kembali.


"Cuman gerak dikit aja ini. Gak ada polisi lalu lintas yang mengatur apa ya."


"Udah Vin sabar aja."


Aku mencoba menenangkan Vincent yang kesal karena kemacetan yang dialaminya. Walaupun sudah mendengar lagu yang tenang, emosi Vincent hanya mereda sedikit saja. Tidak membuat kekesalannya karena kemacetan menghilang.


********


Sudah 20 menit lamanya kami terjebak di kemacetan ini. Tak kunjung lancar juga jalanannya. Hujan yang tadinya deras perlahan mulai reda. Tapi, masih saja berlangsung kemacetan panjang ini. Kami hanya bergerak sekitar 200m dari tempat kami tadi.


Orang-orang mulai keluar satu per satu dari mobil. Mereka kesal karena kemacetannya belum usai juga.


"Woe, yang di depan lagi ngapain sih. Maju woe Maju ini yang belakang daritadi nunggu." Ucap salah satu warga yang keluar dari mobilnya.


"Tau nih. Aku udah capek Nunggu daritadi di mobil."


Mereka tampak mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Vincent pun terpancing dengan Kata-kata mereka semua.


"Maju lah… jangan diem doang di tempat. Ini daritadi masih disini aja." Vincent berbicara dengan kepalanya keluar dari mobil.


Sial, lama kelamaan aku juga bete dengan situasi ini. Rasanya aku ingin segera keluar dari mobil dan berjalan ke arah paling depan. Melihat yang di depan sedang apa hingga membuat kemacetan seperti ini.


Sekitar 5 Menit, kami tidak bergerak sama sekali dari tadi. Membuat aku kesal karena terlalu macet tidak seperti biasanya. Vincent saja sampai menempelkan kepalanya di Setir. Dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk kesal.


Kuputuskan untuk pergi ke luar mobil dan mengecek apa yang terjadi di depan. Aku membuka pintu di sebelah kanan dan keluar dari mobil.


"Mau kemana kamu Raph?"


"Aku mau ngecek ada apaan di Depan. Sampe macet gini gak gerak-gerak."


"Oh Yaudah. Nanti jangan lupa kembali lagi."


Aku pergi ke depan melewati trotoar yang ada di pinggir jalan. Berjalan sekitar 3 menitan. Kulihat, ada banyak sekali orang yang berhenti di pinggir lampu lalu lintas. Sontak rasa penasaran ku muncul.


{Ada apaan tuh rame-rame. Kusamperin aja dah.}


Aku mendekati kerumunan orang yang berada di sana. Beberapa orang memegang ponsel mereka seperti sedang mereka/memotret. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi karena kerumunan itu. Aku berinisiatif untuk bertanya kepada salah seorang dari kerumunan itu.


Aku menepuk pundak seorang pria paruh baya.


"Permisi pak."


Pria itu menoleh ke arahku dengan kebingungan.


"Iya, ada apa ya?"


"Ada kejadian apa pak sampe berkerumun gini?"

__ADS_1


"Ada kecelakaan di sana. 3 mobil dan sebuah truk terguling."


"Hah! Kecelakaan karena apa pak?" Aku terkejut mendengarnya.


"Ga tau juga sih. Soalnya saya juga baru melihat. Jadi tidak terlalu tahu kronologinya."


Si pria itu tidak tahu persis kronologi kecelakaan itu. Aku pun berterima kasih padanya karena telah memberikan informasinya.


"Terima kasih ya pak."


"Sama-sama."


Aku pun kembali ke Mobil dengan keadaan seragamku yang sedikit basah karena hujan yang masih dalam keadaan gerimis. Masuk ke dalam mobil secepat mungkin.


Aku pun membuka seragamku di dalam mobil dan memakai sebuah kaos yang kupakai hari ini. Ketika sedang membuka seragamku, Vincent bertanya apa yang terjadi di depan.


"Ada apaan di depan Raph?"


Aku memberitahu kejadian yang membuat kemacetan panjang ini.


"Terjadi kecelakaan di depan sana. Itu yang ngebuat macet jadi kayak gini.. ehm." Sembari membuka seragam.


"Oalah, Kecelakaan ternyata. Pantas saja dari tadi gak gerak-gerak. Ya sudahlah."


"Ya mau gak mau kita Harus menunggu sampai kendaraan-kendaraan yang kecelakaan segera dibersihkan oleh petugas." Menaruh seragamku yang basah ke dalam tasku.


"Sampai sore sih ini kayaknya.. gak mungkin juga soalnya ngeberesin bekas kecelakaannya dengan cepat. Apalagi kondisi hujan kayak gini."


"Kayaknya.."


Aku dan Vincent pun menunggu sampai bekas kecelakaannya dibereskan. Vincent pun sibuk dengan smartphonenya sembari menunggu kemacetannya teratasi. Aku hanya duduk diam sambil menyenderkan tanganku di sela-sela jendela mobil.


Mendengarkan musik yang tersetel dan memikirkan tentang sistem yang diberikan Triniade. Aku masih belum terlalu mengerti dengan cara kerjanya. Apalagi sesaat setelah mengalahkan Adela, aku mendapatkan notif dari Vania.


「2 SP telah ditambahkan berkat kemenangannya. Mohon digunakan dengan bijak Point ini」


Apa yang dimaksud SP itu ya.. dan bagaimana cara untuk menggunakannya. Aku pun Mencoba untuk membuka jendela status ku.


Jendela status muncul di hadapanku. Aku baru sempat mengeceknya, ternyata Level ku menaik menjadi Level 3. Hanya saja, Status yang lain masih sama seperti saat aku menang melawan Frans.


Aku punya 3 SP saat kulihat di jendela Statusku. Itu berada di bawah Unique Skill. Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan Triniade.


×Hey… Pak Tua. Apakah kau mendengarku?


Triniade tidak merespon. Sepertinya dia sedang melakukan sesuatu sehingga tidak merespon ucapanku. Yaudah lah, aku pikirkan saja sendiri nanti.


************


1 jam berselang, akhirnya kemacetan mulai teratasi secara perlahan. Kami berhasil melewati kemacetan itu setelah 1 jam lamanya. Huft.. kupikir kami berdua akan berada di kemacetan ini sampai malam.


Melewati Lampu lalu lintas, kulihat sebuah mobil hancur tak bersisa di tepi jalan. Ada Truk derek juga yang membawa kerangka Mobil yang tersisa itu. Sepertinya kecelakaannya cukup parah hingga membuat sebuah mobil hancur seperti itu.


"Ngeri juga kecelakaannya. Ampe hancur kayak gitu." Gumam diriku.


"Kayaknya itu dalam posisi kecepatan kencang. Kalo pelan ga mungkin sampe kayak gitu sih."


Vincent menyetir sekalian melihat bekas kecelakaan itu. Sepertinya memang seperti yang Vincent katakan sih… posisi kencang hingga melibatkan 2 mobil dan 1 truk lainnya membuat body mobil tersebut hancur sehancur-hancurnya.


Berkat kecelakaan itu, kami harus menunggu sekitar 2 jam lamanya terjebak di kemacetan tadi. Hujan yang tadinya berjatuhan pun kini sudah reda. Percikan-percikan genangan air kecil yang ada di Jalanan mulai kering perlahan-lahan.


Vincent menyetir melewati pusat kota dengan kecepatan 80km/h. Kecepatan stabil untuk sebuah Mobil BMW M4. Orang-orang berlalu lalang di sekitar trotoar sana. Aku melihat ke arah samping dengan kepala ku topangkan tangan kananku yang bersandar di jendela pintu.


Mereka-mereka sepertinya tidak terlalu sibuk dengan kejadian Dungeon Break yang sewaktu-waktu bisa terjadi kapan saja. Mereka tidak khawatir apabila Dungeon Break tiba-tiba muncul di depan mereka. Sibuk dengan kehidupan mereka tanpa memikirkan bahaya yang mengancam di sekitar.


Mengenakan pakaian-pakaian modis tanpa memikirkan keselamatan mereka. Kini, Kota yang dulunya masih tertinggal dengan zaman. Mulai tergerus dengan zaman modernisasi yang ada di sekitar mereka.


*********


Berada di Kawasan kota Stuttgarter, Langit sudah mulai jingga, cahaya biru kini berubah menjadi Oren kemerahan. Jam menunjukkan pukul 18.12. sudah mulai masuk waktu malam dan kami berdua baru sampai di Kota Stuttgarter.

__ADS_1


Butuh sekitar 1 atau 2 kilometer lagi untuk sampai ke Kawasan Solitude. Untungnya Jalanan di kota Stuttgarter tidak begitu ramai Seperti jalan yang berada di Freiburg. Sehingga kami bisa sampai lebih cepat dari yang diperkirakan.


Kulihat Vincent menguap ketika sedang menyetir. Dengan inisiatifku, aku berbicara dengannya untuk menggantikan dia menyetir.


"Vin, kau terlihat mengantuk begitu jadi ngeri. Sini aku aja yang gantikan."


"Ah? Apa Vin, blee..blee." sambil menggerakkan kepalanya.


Sepertinya dia sudah mengantuk sekali. Cukup bahaya bila berkendara dalam kondisi mengantuk. Sebaiknya ku sarankan dia untuk tidak berkendara sendirian lain waktu.


"Aku yang gantikan nyetir sini. Kamu tidur aja sana."


"Hoam… yaudah nih."


Vincent menepikan mobilnya sejenak. Aku bertukar posisi duduk dengannya. Sekarang, aku lah yang memegang kendali kemudi saat ini. Vincent yang baru bertukar posisi duduk itu langsung memejamkan matanya.


Kurasa dia sudah sangat mengantuk karena kemacetan tadi dan lagu yang terpasang di radionya. Aku menancap gas kembali untuk pulang menggantikan Vincent yang tertidur itu. Melihat spion di arah kanan memastikan tidak ada kendaraan yang melintas di sekitar.


Aku kembali ke Jalan utamanya setelah melihat kondisi yang sepi. Mengemudi sampai ke Kediamanku.


*********


20 menit berlalu, akhirnya sampai tepat di depan Kediamanku. Aku membangunkan Vincent yang tertidur.


"Bangun Vin. Udah nyampe nih." Sambil menggerakkan Pundak Vincent.


Matanya yang terpejam terbuka secara perlahan. Dia melihat ke arah luar jendela.


"Sudah sampai ya?"


"Iya sudah sampai di depan Kediamanku. Nih ambil lagi posisi kemudinya."


Vincent Menggeretakkan Tangannya ke depan. Dilanjutkan dengan menggerakkan badannya ke kanan dan kiri. Dia menguap kembali dan segera menutup mulutnya dengan tangannya.


"Yaudah, kamu keluar aja dulu. Aku masih ngumpulin nyawa ku."


"Oke… jangan lupa pulang loh ya. Nanti ketiduran di depan malah."


"Iya elah, udah kamu masuk aja ke dalam sana. Abis masuk juga aku langsung pulang."


"Yaudah."


Aku keluar dari mobil seperti yang Vincent katakan.


"Bye Vin."


"Bye juga. Hoam.."


Aku masuk ke Kediamanku. Kondisi Kediamanku yang bercahaya Karena sudah malam membuat seperti sebuah atraksi cahaya. Melakukan scanning Untuk membuka pintunya.


-Scan Diterima, selamat datang Tuan Raphael.


Pintu terbuka perlahan, di ruang tamu, sudah ada Ibunda dan Ayahanda yang duduk di sana. Bersamaan dengan Kak Lily dan Kak Kaizo. Entah apa yang akan mereka bicarakan.


"Tumben baru pulang Nak, abis ngapain emangnya kamu?" Ibunda bertanya padaku.


"Aku terjebak kemacetan Ibunda.."


"Kamu bawa mobil emangnya?"


"Enggak bawa kok."


"Terus kenapa kena macet padahal enggak bawa mobil?" Ibunda merasa heran.


"Aku menumpang dengan Vincent tadi. Dia membawa mobil ke sekolah kebetulan. Dia mengajakku untuk bareng dengannya. Ya sudah aku turuni kemauannya." Aku menjelaskan apa yang terjadi.


"Oh.. begitu. Ya sudah kamu pergi ganti baju dulu sana. Nanti sehabis ganti baju kembali lagi kesini ya. Baju kamu keliatan kucel banget."


"Hehehe.. kebetulan seragamku kebasahan gegara kehujanan Ibunda. Aku sekalian mandi aja ya Ibunda."

__ADS_1


"Ya.. sana cepat."


Aku pun pergi ke kamarku untuk mandi dan mengganti baju ku yang kebasahan


__ADS_2