
Keesokan harinya….
Raphael yang tengah memakai sebuah Kemeja putih itu sedikit terburu-buru. Dikarenakan hari ini adalah Hari dimana dia akan diajak pergi oleh Ayahnya ke Asosiasi Ranker.
"Kenapa harus telat bangun segala!" gumam Raphael.
Karena dirinya yang bangun siang, dia lupa akan hal itu. Sehingga saat ini dia sedang terburu-buru untuk memakai pakaian formalnya. Selesai dia memakai kemeja putih, dia memakai sebuah Jas berwarna hitam untuk luarnya.
Dia mengancing setiap kancing secara cepat.
Selesai dia Memakai seluruh Pakaiannya, dia bergegas untuk mememui Ayahnya yang menunggu di Lantai 1. Dia berlari sambil memakaikan dasinya yang berwarna merah. Ayahnya yang terlihat menunggu di bawah itu mulai melihat ke arah Jam Tangannya.
Zircon terlihat sedikit kesal dikarenakan Raphael yang terlalu lama memakai baju itu. Dia pun berteriak memanggil Nama Raphael. "Raphael!" dengan sedikit ekspresi kesal.
"Aku segera sampai Ayahanda!" sambil berlari di Lantai 2.
Zircon yang melihat Raphael tengah berlari itu pun langsung berjalan menuju Pintu Besar. Raphael menuruni tangga dengan cepat. Dia pun dengan cepat berlari bersanding dengan Ayahnya.
Pintu besar terbuka secara perlahan. Di luar, mereka disambut dengan Aroma bunga dan cuaca yang cerah. Sebuah Mobil sudah terparkir di Halaman Depan bersamaan dengan Supir Pribadi kami, Arnold.
Lily dan Elizabeth yang tengah melihat tanaman di Halaman Depan pun sedikit heran dengan Zircon dan Raphael yang ingin pergi bersama.
"Raphael sama Ayah mau kemana itu Bu?" tanya Lily.
"Ibu juga gatau Lily. Ayahmu tidak bilang apa-apa ke Ibu," jawab Elizabeth.
Mereka berdua pun mendekati Raphael dan Zircon yang ingin memasuki Mobil.
"Ayah sama Raphael mau kemana?" tanya Lily.
Raphael dan Zircon pun menoleh ke Arah Mereka berdua.
"Ayah bersama Raphael ingin pergi ke tempat Asosiasi Ranker."
Lily dan Elizabeth yang mendengarnya terlihat penasaran tentang apa yang ingin mereka berdua lakukan. Mereka pun bertanya mengenai apa yang ingin Raphael dan Zircon lakukan disana.
"Memangnya ada apa disana, sampai kalian berdua pergi kesana?" tanya Elizabeth.
Zircon pun mencoba menjelaskan secara detail apa yang ingin mereka berdua lakukan disana. Dia menjelaskan semua itu dengan kata-kata yang dapat dimengerti dengan mudah ke mereka berdua.
"Intinya Raphael akan aku bawa kesana untuk melakukan Uji coba." ucap Zircon.
"Ternyata seperti itu.. Raphael juga akan menjadi seorang Ranker nantinya. Padahal aku berharap dia tidak mengikuti jejak Kakak tertuanya itu." balas Elizabeth dengan menahan perasaan sedih di hatinya.
"Maaf Eli, aku tidak punya pilihan lain selain membuatnya menjadi seorang Ranker." ucap Zircon dengan sedikit perasaan menyesal.
"Tidak apa Zircon. Aku mengerti dengan keputusanmu itu. Tapi aku sedikit berharap nantinya Raphael akan baik - baik saja disana."
"Tenang saja Eli, aku akan menjaganya agar tetap aman dan tidak kenapa-kenapa," balas Zircon.
Raphael dan Lily yang hanya bisa diam melihat kedua Orang Tuanya sedang berbicara itu mencoba untuk mengikuti pembicaraannya.
"Aku akan menjaga diriku baik-baik Ibunda." jawab Raphael dengan penuh ketegasan.
"Yah.. semoga saja Raphael sifatnya tidak berubah seperti Kak Kaizo setelah dia menjadi seorang Ranker." sahut Lily.
Mereka sekeluarga terlihat tertawa kecil berkat lelucon yang dilontarkan oleh Lily. Suasana pun mulai mencair kembali menjadi suasana nyaman. Zircon pun berpamitan kepada mereka berdua setelahnya.
"Ya sudah, aku dan Raphael pergi dulu ya. Eli, Lily!" ucap Zircon.
"Kalian berdua hati-hati ya selama perjalanan." balas Elizabeth.
Arnold pun dengan segera membuka pintu belakang mobilnya. Zircon pun masuk ke dalam Mobil dan duduk di bangku belakang. Selesainya Zircon masuk, Arnold dengan cepat menutup pintunya. Raphael yang membuka pintu depan itu pun duduk disamping Arnold yang mengemudi.
Arnold dengan segera bergerak ke Kursi kemudinya. Raphael membuka Jendela mobil itu secara perlahan untuk mengucapkan perpisahan kepada mereka berdua.
__ADS_1
Dia melambaikan tangannya ke arah Ibu dan Kakaknya. "Ibunda, Kak Lily.. aku pergi dulu ya, Dah.."
Elizabeth dan Lily pun membalas Lambaian tangannya itu dan tersenyum ke Arahnya.
"Semoga kamu Lolos Raphael!" ucap Lily.
"Jaga diri kamu Baik-baik Nak.." Celetuk Elizabeth.
Raphael pun berbalik arah kembali di dalam mobil.
"Sudah siap Pak?" tanya Arnold.
"Sudah."
Arnold pun langsung menancap gasnya secara perlahan pergi keluar melewati Gerbang. Mengemudi mengarah ke Jalan Utama Stuttgarter untuk pergi ke Tempat Asosiasi Ranker yang berada di Berlintz.
***********
Di Perjalanan…
"Oh iya Ayahanda.. aku lupa bertanya soal Ujiannya.." sambil melirik ke kaca depan. "Ujiannya disana nanti apa saja?" tanya ku.
Zircon yang sedang membaca berita di Laptop digitalnya itu tak mendengar apa yang Raphael ucapkan.
Maklum saja, ketika dia sedang membaca sebuah artikel, dia akan mengabaikan hal yang lain. Raphael pun mengulanginya lagi karena tau akan kebiasaan Ayahnya.
"Ayahanda.." sambil menepuk lutut ayahnya.
Zircon pun merespon tepukannya dan menoleh ke arah Raphael. "Ada apa Nak?" tanya nya.
"Ujian yang seperti apa yang ada disana?"
"Seperti pada umumnya. Mulai dari pengetesan Statistik, tes lisan sampai pada akhir nanti akan ada sebuah Tes untuk melawan Replika monster yang sudah disediakan." jawabnya.
Raphael mengira ujiannya akan bisa dilalui olehnya dengan cukup mudah. Yang sulit mungkin hanya di Ujian terakhir saja. Tapi dia merasa bahwa dengan hasil latihannya saat ini, dia bisa memaksimalkan kemampuan tubuhnya.
***********
Di kota Berlinsen…
Tak lama lagi mereka bertiga akan sampai di Tempat berkumpulnya para Ranker dari seluruh Penjuru Kota. Dengan Jalanan yang sedikit padat dikarenakan sekarang hari kerja, mereka sedikit terlambat dari jadwal yang seharusnya.
Arnold pun mengemudi dengan fokus dan konsentrasi penuh demi membawa Tuannya sampai pada tujuan dengan aman.
Di dekat Pusat Asosiasi Ranker, banyak sekali orang - orang yang mengenakan sebuah Armor di tubuhnya. Mulai dari lelaki maupun wanita, semuanya tampak memakai pakaian bertarung mereka.
Raphael yang melihat ke arah kaca pun nampak terlihat senang. Ini pertama kalinya dia pergi ke Asosiasi Ranker. Sejak kecil, dia tidak pernah dibawa oleh siapapun untuk pergi kesana. Dikarenakan tempat ini cukup formal untuk seorang anak kecil.
Mulai memasuki Kawasan Asosiasi Ranker…
Terlihat banyak sekali orang yang berdiri di samping jalan dengan pakaian jas hitam mereka. Raphael tak terkejut dengan hal seperti itu. Karena dia tau bahwa ayahnya adalah seorang petinggi di Asosiasi Ranker Jermuntz.
Hal seperti itu sudah wajar dengan kehidupannya yang selalu bergelimang kekayaan dan jabatan. Arnold pun memberhentikan mobilnya tepat di sebuah Karpet merah yang terpasang sampai di dalam Bangunan Asosiasi Ranker.
Arnold dengan cepat segera keluar dan membuka Pintu bagian belakang yang ditempati oleh Zircon Ignite.
"Silahkan Tuan Zircon.." sambil membuka pintu dan membungkukkan badannya.
Zircon pun langsung keluar dari mobil dan menginjakan kakinya di karpet merah yang telah disediakan.
Semua orang yang berdiri di samping Karpet merah itu langsung membungkukkan badannya juga setelah melihat Zircon Ignite yang berdiri tegak dengan gagahnya. Raphael pun ikut turun dengan berdiri di belakang ayahnya itu.
"Selamat Datang Tuan Zircon Ignite.." ucap seluruh orang yang menundukkan badannya.
Zircon pun berjalan melewati Karpet merah dengan perlahan. Raphael yang sedikit tak nyaman dengan situasi seperti ini hanya bisa celingak-celinguk ke arah mereka semua. Wajar saja, Raphael sedikit tak menyukai dengan sistem penghormatan pada Keluarga teratas di Negeri ini.
__ADS_1
Dia berjalan mengikuti langkah kaki Ayahnya itu. Menaiki tangga dengan perlahan sambil dilihat oleh para Ranker yang berada di bagian luar bangunan itu. Mereka semua tampak melirik mereka berdua dengan tatapan penuh kekaguman.
Ada juga yang terlihat sinis. Mau setinggi apapun tingkat keluargamu, kamu tidak bisa memaksakan seluruh orang untuk menyukaimu. Terkadang Dunia sedikit tak Berpihak pada Seseorang yang memiliki Segalanya.
Di depan Pintu masuknya, seseorang berdiri di sana.
"Selamat Siang Tuan Zircon.." sambut sang Kakek tua itu.
"Siang juga Jimmy, tumben sekali kamu menyambutku di depan." Ucap Zircon.
Mereka berdua pun saling berjabat tangan dan kemudian saling menepuk punggung masing-masing. Hubungan mereka berdua terlihat erat sekali. Raphael hanya bisa terdiam melihat mereka berdua.
"Sesuai dengan yang kamu minta, aku sudah menyiapkannya." ucap Jimmy.
"Baguslah.. jadi kita bisa langsung memulainya tanpa harus menunggu lama," jawab Zircon. Zircon pun menoleh ke belakang, ke arah Raphael. "Oh iya Jimmy.. kenalin ini putra bungsu ku." sambil memegang pundak Raphael.
"Halo om.." Raphael menunduk sejenak.
"Halo juga.. ternyata kamu yang dimaksud oleh Ayahmu itu. Wajahmu terlihat mirip dengan Kaizo ya.." ungkap Jimmy.
"Banyak yang bilang seperti itu sih.." balasnya.
Raphael hanya bisa menjawabnya dengan singkat. Dia merasa bingung dengan apa yang harus dia balas di saat seperti ini.
"Kita belum kenalan nih.. nama kamu siapa?" sambil mengulurkan tangannya ke depan.
"Namaku Raphael Ignite. Om bisa panggil aku Raph ataupun Raphael. Sebebasnya om saja mau memanggilku apa." jawab Raphael sambil menjabat tangan Jimmy.
Tampak Jimmy terlihat seperti tidak asing dengan nama Raphael Ignite. Dia mencoba untuk berpikir sejenak dengan Tangan yang berjabatan itu.
"Ahh! Ternyata kamu Raphael Ignite.. aku sering mendengar namamu." Sambil bersemangat menggerakkan tangan Raphael yang dia genggam.
Raphael pun terlihat bingung. Sebelumnya, Raphael juga tak terlalu terkenal di kalangan masyarakat. Dan juga, dia tidak pernah bertemu dengan Jimmy. Bagaimana bisa dia sering mendengar namanya.
Raphael pun sontak bertanya tentang asal dari mana dia mendengar namanya. "Kalau boleh tau, om sering dengar namaku dari siapa? Ayahanda sering berbicara mengenai ku kah?"
"Bukan-bukan, Anakku yang bungsu juga sering menceritakan tentangmu dirumah." Sambil menggerakkan tangannya seolah seperti menyanggah.
"Memangnya nama anak bungsumu siapa Jimmy?" tanya Zircon.
"Adam. Anakku sering menceritakan tentang kehebatan Anakmu saat di sekolahnya. Dan juga katanya Anakmu ini sekelas dengan Anakku."
Raphael tampak terkejut.. ternyata Kakek Tua yang berada di depannya ini adalah Ayah dari Adam dan Juga Kyle. Dan juga, orang ini merupakan Kepala Keluarga Roswell yang terkenal sekali di negara ini.
"Adam ternyata.. dia memang satu kelas denganku Om. Tapi aku jarang berbicara dengannya sih saat di sekolah," balas Raphael.
"Dia juga bilang seperti itu kepadaku. Entah kenapa dia terlihat kagum dengan kehebatanmu saat di sekolah. Sering sekali dia berbicara tentangmu saat sedang berkumpul." ucap Jimmy dengan tangan yang dilipat.
Raphael merasa bahwa dirinya tak sehebat itu. Bagaimana bisa Adam terlihat kagum padanya. Justru kebalikannya, dia melihat Adam sebagai Sosok yang sangat hebat di matanya. Bahkan dia juga ingin melampaui Adam.
"Adam terlalu melebihkan ceritanya om.. aku tak terlalu hebat di sekolah. Justru aku ingin menjadi sepertinya suatu saat nanti. Dia berusaha dengan keras dan pandai dalam berbagai bidang." ucap Raphael dengan wajah serius dan kedua tangannya saling mengepal sejajar dengan dada.
"Hahahaha… Anak itu memang sangat pandai dalam bidang apapun. Berkat Kakaknya yang selalu mengajarkannya. Aku merasa bahwa anak-anakku bisa melampaui diriku suatu hari nanti," balas Jimmy dengan tertawa terbahak-bahak.
"Aku juga berpikir sama sepertimu Jimmy. Aku merasa Bahwa Kaizo dan dia bisa melampaui ku juga di masa depan. Yah.. itu hal yang bagus untuk mereka berdua dan negara." sela Zircon.
"Kita sebagai Orang Tua harus bahagia melihat perkembangan Anak - Anak Kita. Sejak kita disibukkan dengan masalah - masalah yang datang, kita jarang sekali bisa melihat perkembangan Anak - Anak kita."
"Kamu benar Jimmy." balas Zircon.
Mereka berdua terlihat menikmati pembicaraan tentang perkembangan anak-anak mereka. Raphael merasa malu ketika Ayahnya selalu melebih-lebihkan saat membicarakan dirinya. Padahal dia tak terlalu seperti itu.
"Ya sudah.. mari masuk, ga enak kalau berbicara di depan Pintu begini," ajak Jimmy sambil berjalan masuk ke Bangunannya.
"Ayo nak!" ajak Zircon sambil merangkul Raphael yang tingginya hampir sama dengannya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun memasuki Bangunannya itu…