
Berlari menuju hutan lebat yang berada di depan. Hutannya sangatlah gelap dan sangatlah minim sekali untuk dipandang. Mau tidak mau aku harus membuat sebuah Obor disini.
Aku mulai memikirkan wujud obor dan juga reaksi api agar terbuat sempurna. Sebuah obor dengan Api yang menyala diatasnya pun terbuat.
"Bagus Raph. Kini kita bisa melihat dengan jelas hutan ini." Vincent sangat bersemangat sekali.
"Aku tidak bisa menyerang selagi aku membuat Obor ini. Kuserahkan untuk bagian menyerang kepada kalian."
"Tenang saja Raphael. Aku akan melindungimu." Roselianne menenangkanku.
Kami berjalan perlahan pergi lebih dalam lagi. Melihat ke sekitar arah untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang menyerang secara mendadak. Hutan ini dipenuhi dengan pepohonan besar dan lumut yang menutupi sebagian pohonnya.
Sepanjang kami berjalan, tidak ada satupun spesies hewan yang lewat di sini. Bahkan semut saja tidak terlihat sama sekali. Apa yang terjadi sehingga tak ada spesies di dalam hutan.
"Hey Raphael… apa menurutmu aneh kalau tidak ada satupun makhluk yang terlihat?" Roselianne dengan berbisik-bisik di dekatku.
Aku menoleh ke arahnya. Sepertinya dia ketakutan karena anehnya hutan ini. Dia tampak memegangi pundak kiri ku dengan erat seperti tidak ingin berjauhan denganku. Apa yang dia ucapkan sih memang benar, hutan ini tampak aneh sekali. Umumnya akan ada beberapa makhluk hidup yang terlihat.
Sejak kami berjalan memasuki hutan sampai masuk ke bagian yang lebih dalam lagi, kami tidak melihat satupun makhluk hidup. Itu tampaklah aneh dan tidak masuk akal untuk sebuah Hutan yang lebat dan tampak menyeramkan ini.
"Tenanglah Rose. Untuk berjaga-jaga, jangan jauh-jauh dari aku." Aku menenangkan Roselianne yang tampak ketakutan itu.
Vincent sepertinya biasa saja jika kulihat dari ekspresi mukanya. Dia malah terlalu santai untuk berada di tempat seperti ini. Dia berjalan dengan kedua tangannya ditaruh di belakang kepalanya. Berjalan dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan senangnya. Tak terlihat sama sekali ekspresi ketakutan yang dia pancarkan.
"Kau sepertinya santai sekali ya Vin. Padahal Rose saja sedikit ketakutan." Aku menanggapi kesantaiannya itu.
"Yah.. selagi aku bersama kalian berdua, aku berpikir tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Karena aku tahu betul kekuatan kalian berdua seperti apa. Untuk memikirkan bahwa kita bisa bekerja sama dengan baik. Itu yang membuat ku terasa santai dan tidak merasa takut."
"Hahaha, Vin Vin. Kau benar-benar tidak berubah sama sekali sejak kecil. Pemikiranmu tentang kami berdua membuat kamu tidak merasa takut akan hal apapun ya." Aku sedikit tertawa mendengar apa yang diucapkan Vincent.
Baguslah kalau Vincent merasa santai. Itu cukup untuk kami berdua bertenang diri. Roselianne yang tadi terlihat sangat ketakutan pun perlahan mulai menenang berkat apa yang Vincent ucapkan.
"Ya-yah.. tidak buruk juga untuk bersantai sedikit." Roselianne yang perlahan kian tenang.
Kami bertiga pun terus melanjutkan berjalannya sampai ke bagian terdalam hutan ini. Sesekali juga kami sedikit melakukan obrolan candaan untuk menenangkan suasana agar tidak terlalu menyeramkan.
"Jadi keinget dulu nih. Saat Lian tersesat di gunung yang kita daki." Vincent mulai membahas masa lalu kami bertiga.
"Ahh.. aku ingat tentang itu. Kalau di ingat-ingat lagi sih menurutku itu lumayan lucu sih." Aku mengingat kejadian itu.
Itu adalah Hal yang tidak bisa kulupakan sampai tua nanti.
"Benar kan.. hahaha. Aku juga mengganggap itu lucu Raph." Vincent tertawa kecil.
"Udah ih jangan dibahas lagi.. aku malu tau." Roselianne terlihat malu ketika kami mulai membahas tentang kejadian itu.
"Ya mau bagaimana lagi, tiba-tiba keinget hal itu saat kita sedang berjalan bersama disini. Apalagi memang suasananya lumayan mirip-mirip."
"Benar juga, kejadian ini memang persis seperti kejadian saat Rose tersesat. Disaat kita sedang berjalan bersama di sebuah pepohonan yang ada di pegunungan Wzvoar. Entah mengapa tiba-tiba Rose tersesat ketika kita berdua tidak melihatnya sebentar saja."
"Padahal cuman Meleng sekitar 3 detik aja. Tapi dia langsung menghilang entah kemana dan akhirnya tersesat. Hahahaha yang lebih lucunya lagi itu ketika pas kita temuin Raph. Dia malah lagi asik bermain sama tupai. Padahal kita berdua udah panik pas dia hilang."
"Ya mau gimana lagi, tiba-tiba aku melihat tupai yang menggemaskan itu. Jadi aku mengejarnya. Tupai itu berlari dengan cepat dan menghilang langsung. Ketika aku sadar bahwa aku terpisah dari kalian berdua. Aku mulai menangis saat itu." Roselianne menceritakan kejadiannya disaat dia tersesat.
Sebenarnya kami berdua sudah mendengarnya saat kecil. Insiden itu terjadi saat kami bertiga berumur 14 tahun. Kami bertiga yang modal nekat mencoba pergi ke pegunungan hanya bertiga saja. Tidak ada satupun pengawal ataupun keluarga kami yang ikut serta. Karena memang kami bertiga saat itu mulai bandel.
Kalau di ingat-ingat lagi, kami bertiga lumayan terpisah lama saat kami memasuki SMA. Karena sekolah Roselianne dengan sekolah ku dan Vincent berbeda, kami tidak memiliki banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama.
"Lalu disaat kamu menangis, seekor tupai mendekati mu kan? Dan saat itu kamu bersenang-senang dengan tupai itu agar kamu tidak merasa kesepian. Itu yang kamu ceritakan dulu pada kami berdua Rose." Aku melanjutkan ceritanya.
"Ya kamu benar Raphael. Itulah mengapa aku lumayan ketakutan ketika menyangkut masalah pepohonan lebat."
"Padahal kami berdua sudah panik dan mencari kemana saja. Tapi yang menghilang malah bermain dengan seekor tupai dengan tenangnya. Itu yang membuat cerita itu menurutku Lucu."
"Ya itukan salahmu yang terlalu panik Vin. Aku mencoba untuk berpikir dengan tenang kemana Rose pergi. Kamu malah pergi-pergi gak jelas tanpa tujuan. Untung saja kita tidak ikut tersesat."
"Ya mau gimana lagi, cuman kita berdua yang ada disana. Kita tidak bisa memastikan keselamatan Lian dengan baik. Makanya aku panik kalau terjadi apa-apa dengannya. Apalagi kita pergi ke Pegunungan tidak berpamitan dengan Keluarga kita. Mau berkata apa jika Lian hilang."
"Kamu melupakan satu hal penting saat itu. Rose kan memang sudah sering tersesat. Makanya aku mencoba untuk tenang agar kita tidak ikut tersesat."
"Dalam keadaan panik aku mana bisa berpikir tenang Raph." Dengan nada keras.
"Sudahlah kalian berdua. Jangan bahas kayak gituan lagi. Kalian yang membahasnya dengan semangat, aku yang merasa dimalukan. Mending kita fokus untuk memburunya saja." Roselianne menenangkan kami berdua yang terlalu bersemangat membahas kejadian itu.
Kami pun akhirnya menghentikan pembicaraannya. Disaat sedang berjalan, di depan sana ada sebuah cahaya terang. Aku beranggapan bahwa itu adalah jalan keluar.
"Lihat disana, sepertinya itu jalan keluar." Aku pun berlari mendekati arah Cahaya itu.
__ADS_1
Mereka berdua mengikuti ku. Aku mendekat ke arah cahaya itu. Aku sempat terdiam sejenak setelah kulihat apa yang terlihat di cahayanya. Aku menyuruh mereka berdua untuk berhenti dan memelankan suaranya.
"Sstt.."
"Kenapa Raphael?"
Aku terdiam sejenak dengan apa yang kulihat itu. Seekor Wyrm yang besar sedang tertidur disana.
"Berbicaralah secara pelan. Kita akan memburu Wyrm itu saat ini juga." Aku menyuruh mereka untuk memelankan segala suara yang dapat mengganggu tidurnya itu.
"Apa kau yakin Raph? Wyrm yang disana itu sangatlah besar. Kita tidak mungkin bisa menang melawannya." Vincent tampak pesimis.
"Percaya diri saja. Wyrm itu cocok sebagai bahan latihan kita saat ini. Semakin kuat lawannya, pengalaman yang kita dapatkan akan sangat berarti." Aku mengatakan kata-kata penyemangat agar mereka berdua tidak terlalu pesimis dengan hasilnya.
"Baiklah Raphael. Aku akan percaya dengan kata-katamu saat ini. Aku akan mencoba untuk percaya diri." Roselianne mulai bersemangat.
"Terserah kamu saja Raph. Aku akan membantu dari belakang."
Aku mulai membicarakan strategi untuk menyerangnya. Menyusun rencana seefektif mungkin agar dapat pengalaman yang berarti.
Setelah menyelesaikan untuk membahas strateginya.
"Apa kau yakin dengan rencana itu Raph?"
"Aku tidak bisa menjamin akan 100% berhasil dengan strategi ini. Tapi ini merupakan strategi yang paling mendekati hasil bagus dibanding yang lain."
"Baiklah, aku akan mengikuti strategi mu." Ucap Vincent.
"Ayo kita maju secara perlahan agar Wyrm itu tidak terbangun dari tidurnya."
Kamu bertiga mulai berpencar dari 3 arah. Aku memerintahkan Vincent untuk pergi tepat dalam pandangan Wyrm itu untuk berjaga-jaga jika dia terbangun. Vincent bisa mengendalikan pikirannya tepat setelah Wyrm itu membuka matanya.
Roselianne pergi ke arah belakang untuk menyerang bagian ekornya. Aku menghilangkan obor yang di tanganku. Membuat sebuah senapan gentel dan berjalan menuju arah samping tubuh Wyrm itu.
Aku akan memberikan aba-aba sesuai instruksi yang kuberikan saat diskusi tadi. Sesampainya di dekat tubuh Wyrm, aku mengangkat tangan kananku sebagai aba-aba untuk menyerangnya.
Setelah aba-aba yang kuberikan tadi, aku langsung menembak bagian samping tubuhnya.
"DOOR!"
"KHAAKKKK." Suara Auman Wyrm.
Vincent langsung bertatapan dengan Mata Wyrm itu. Dia menggunakan skillnya tepat ketika matanya bertatapan dengan langsung satu sama lain. Wyrm itu sempat terdiam sejenak ketika Vincent memakai Skillnya.
Kulihat di bagian ekornya, ada sebuah luka yang sangat dalam terbuat. Itu pasti berkat skill Pengendali Anginnya Roselianne. Kurasa dia memakai sebuah angin yang sangat tajam sehingga membuat luka yang sangat dalam itu.
Vincent berusaha mengendalikan pikiran Wyrm itu. Matanya sangat fokus terlihat dengan ekspresinya itu.
Beberapa menit berlalu.
Sepertinya Vincent berhasil mengendalikan pikiran Wyrm itu. Aku menghela nafas lega ketika itu berhasil dilakukan. Aku pun mendekati Roselianne yang berada di dekatku.
"Syukurlah itu berhasil. Kukira tadi bakalan ada masalah."
"Hahaha, Strategi mu efektif Raphael. Good Job!" Roselianne memberikan acungan Jempol.
Disaat kami berdua lagi berbicara, Wyrm itu menggeliat dengan sangat kencang.
"Apa yang terjadi?" Pikirku.
Wyrm itu mulai bergerak ke arah kami berdua.
"SIAL! AWAS RAPH, LIAN. AKU TIDAK BERHASIL MENGENDALIKAN PIKIRANNYA." Teriak Vincent.
Sial… aku seharusnya tidak terlalu senang terlebih dahulu tadi. Sebuah masalah kini muncul. Wyrm itu bergerak dengan cepat ke arah aku dan Roselianne.
"ROSE.. MENGHINDAR." Aku menyuruh Roselianne untuk menghindarinya.
Namun, Roselianne sepertinya sangat ketakutan hingga dia tidak bisa menggerakkan kakinya.
{SIAL SIAL SIAL… AKU HARUS MENYELAMATKANNYA} Aku berteriak dalam Hatiku.
Aku mendorong Roselianne dengan kuat ke arah Samping.
"BUK!" Suara badan Roselianne yang terdorong itu.
Wyrm menuju ke arahku sangat kencang.
__ADS_1
"RAPHAEL!"
「 Peringatan!
Bahaya mendekat 」
"DAK!" Suara tubuhku yang ditabraknya
Tubuhku ditabrak olehnya. Aku terdorong sejauh 50 meter dari tempat awal aku berdiri. Aku tidak menggerakkan tubuhku. Bahkan aku tidak bisa menghindarinya walau sudah terdorong lebih dari 50 meter.
Wyrm ini tidak berhenti. Hingga disaat pepohonan besar membuat tubuhku berhenti terdorong olehnya.
"KUAK!" Suara ku setelah terbentur akibat dorongan Wyrm itu.
Darah keluar dari mulutku saat ini. Badanku pun mulai merasa gemetar kesakitan akibat benturannya. Aku terjatuh dengan bersandar pada pohon besar di belakangku. Tubuhku sangatlah lemas saat ini.
Aku tidak bisa menggerakkan apa-apa. Aku masih bisa menjaga kesadaranku untuk sebentar saja saat ini.
"Uhuk..uhuk." Suara batuk yang keluar dari mulutku.
Darah keluar ketika aku batuk.
{Sial.. badanku lemas sekali. Apa segini saja kemampuan tubuhku?} Suara lemas dalam hati.
Kesadaranku perlahan mulai menghitam. Pikiranku sudah mencapai batasnya. Kepalaku yang kutegakkan mulai ke bawah.
「 Unconscious Mode, Aktif. 」
Sebuah layar sistem menampakkan dirinya sesaat aku ingin kehilangan kesadaran. Secara tiba-tiba, sebuah Suara muncul di Suaraku.
×aku akan mengendalikan tubuhmu saat ini Tuan. Mohon izinkan saya untuk mengambil alih tubuh anda.
×lakukanlah Vania.
Tubuhku sekarang tiba-tiba bergerak sendiri. Vania tampaknya sudah mengambil alih tubuhku. Hanya kesadaranku yang tersisa disini.
Tanganku mulai membuat Sebuah Pedang. Tubuhku menyerang Wyrm itu dengan melayangkan pedangnya dengan cepat. Pergerakanku pun ikut mencepat berkat diambil alih oleh Vania.
Menyerang bagian bawah kepalanya menusuknya.
"AAAAKKK!" Suara teriakan Wyrm itu.
Pergerakan ku sangat cepat sehingga aku sendiri tidak bisa melihat dengan jelas. Melayangkan pedang dari berbagai arah. Sampai-sampai Wyrm itu berteriak semakin kencang dan mulai menggunakan Ekornya untuk menyerangku.
Di penglihatan ku, Gerakannya itu sangatlah lambat. Sehingga tubuhku yang sedang diambil alih oleh Vania bisa menghindarinya dengan sangat mudah. Selepasnya, tubuhku menyerang ke bekas luka dalam di ekornya itu.
Tubuhku memotong ekornya itu dengan lihainya. Membuat ekornya itu terputus. Wyrm itu mulai bergerak tanpa arah dan menyerang secara membabi-buta. Pohon-pohon di hutan itu banyak yang bertumbangan akibat pertarungannya.
Tubuhku menghindari segalanya dengan cepat. Membuat Wyrmnya kebingungan. Dia melihat ke tubuhku yang sedang berputar di langit seperti menari. Tubuhku menyerang dari atas.
"SREEK!" Suara tebasan pedang.
Tebasan yang tubuhku lakukan dari atas mengenai bagian matanya. Wyrm itu mulai kesakitan dan bergerak tanpa arah. Dia sepertinya ingin kabur menjauh dari tubuhku. Sontak tubuhku yang sedang dikendalikan mengejar dirinya yang berlari dengan cepat itu menuju ke bagian dalam hutan.
Pohon-pohon disekitar jalan yang dia lewati hancur dan tumbang. Bahkan beberapa makhluk hidup yang lewat di depannya dilahap dengannya tanpa sisa. Entah kenapa tubuhku sekarang berlari dengan sangat cepat melewati kecepatan Wyrm itu.
Perlahan tubuhku mulai mendekati Wyrmnya. Persis di belakang ekornya yang sehabis terpotong itu, darah berwarna hijau berceceran di jalan. Tubuhku melompat naik ke atas tubuh Wyrm yang sedang berlari.
Menusuk dengan pedang ku sangat dalam ke bagian tubuhnya. Pergerakannya langsung terhenti ketika aku menusuknya. Kepalanya kini mulai menyerang tubuhku dengan sebuah gigitan yang tajam. Tubuhku dengan lihainya melompat ke atas kepalanya.
Menebas bagian mata yang satunya lagi agar dia tidak bisa melihat apa-apa.
"SREEK!" Bunyi tebasan yang tepat mengenai mata kirinya.
Wyrm itu mulai menggerakkan kepalanya karena kesakitan. Tubuhku melompat dengan sigap dengan sangat tinggi. Di ketinggian, tubuhku seperti terhenti di atas sebelum akhirnya tubuhku mulai memasang ancang-ancang untuk menusuk dari atas ke bawah.
Tubuhku jatuh ke bawah tepat di bagian kepala Wyrmnya. Dengan posisi pedang yang siap untuk menusuk ketika terjatuh, tubuhku kini mulai terbaik dan melancangkan pedangnya ke depan.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, pedang itupun tepat menusuk ke kepalanya. Wyrm itu pun mulai terbaring ketika terkena tusukannya. Sepertinya tusukannya tepas menembus ke bagian otaknya.
「 Bahaya sudah Menghilang, Unconscious Mode di nonaktifkan」
Kini tubuhku yang tadi diambil alih oleh Vania mulai bisa kurasakan. Aku sudah mengambil alih kembali tubuhku. Aku berdiri di atas mayat Wyrm dengan memegang gagang pedang yang tertusuk tepat di kepalanya.
"RAPHAEL!"
Itu sepertinya suara mereka berdua. Kalau aku pingsan disini kemungkinan sudah aman. Kesadaranku yang tadi kujaga mulai menghilang. Tubuhku lemas dan tidak sanggup untuk berdiri lagi. Aku terjatuh dengan kepalaku bersandar pada gagang pedangnya
__ADS_1