Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 28 Melodi Merdu Bagai di Dunia Fantasi


__ADS_3

Akhirnya aku sudah mengangkat semua Tumpukan kayu yang berada di bawah. Menaruh tumpukan-tumpukan itu secara berjejer. Aku pun mulai menyusun batang kayu kecil secara melingkar.


Roselianne juga membantu menyusunnya. Pekerjaan jadi lebih cepat terselesaikan berkat bantuan yang dia berikan.


Kayu-kayu kecil sudah tersusun menjadi melingkar mengelilingi salah satu Batang kayu besar yang akan kugunakan untuk sumbunya.


"PLUK-PLUK!" Suara tangan yang bergesekan.


"Tinggal nyalain apinya saja sekarang."


Untuk menyalakan apinya, dibutuhkan sebuah alat yang mampu memancarkan sebuah api yang lumayan besar. Atau bisa saja menggunakan cara yang orang dulu pakai. Menggesekkan 2 batu, atau menggesekkan ranting kayu kecil ke Batang besar yang ditengah itu.


Hanya saja waktu yang akan dikeluarkan lebih lama jika memakai metode jaman dulu. Aku mulai memikirkan alat apa yang mungkin bisa mengeluarkan energi api dalam jumlah yang lumayan besar.


"Hmm." Sambil memasang ekspresi kebingungan serta tanganku yang memegang dagu.


"Kenapa gak kamu keluarkan Korek saja Raph?"


Saran yang diberikan Roselianne sih memang bagus. Cuman, api yang dikeluarkan dari korek masih kurang untuk memantik apinya. Aku butuh sesuatu yang lebih bertenaga lagi.


"Hmm… AH! Aku baru terpikir sesuatu." Sebuah ide muncul di kepalaku.


"Apa yang kamu pikirkan Raph?" Roselianne bingung dengan apa yang kupikirkan.


Aku terpikir sebuah alat yang mungkin lebih efektif untuk saat ini. Aku pun membayangkan rupa alatnya seperti apa dan bagaimana cara kerjanya. Alatnya pun muncul di atas telapak tanganku.


TA-RA.. ini adalah Sebuah alat pemantik gas atau yang biasa orang sebut dengan Gas Torch. Tekanan api yang dikeluarkan mungkin bisa dengan cepat membakar batang besarnya.


"Gas Torch kah.. aku kira kamu mau ngeluarin Flamethrower."


"Mana mungkin aku mengeluarkan itu. Yang ada malah kebakar semua nanti."


"Ya kan kali aja. Ide mu kan biasanya di luar nalar."


Aku pun menyalakan apinya menggunakan Gas Torch ini. Mendekatkannya dengan batang besar yang berada di tengah itu. Tak lama, api mulai merembet ke Batang besar itu. Aku pun langsung menjauhkan gas torchnya agar tidak terjadi kebocoran.


Api-apinya mulai merembet ke kayu-kayu kecil yang mengelilinginya. Membuat api itu makin lama menjadi besar. Sebuah Api unggun pun sudah terbuat. Penerangannya menjadi lebih luas karena api unggun ini.


Hari sudah mulai gelap dan Vincent belum kunjung kembali juga. Aku sedikit khawatir dengannya.


{Vincent lama banget dah. Aku jadi khawatir dia kenapa-kenapa.} Dalam hati.


Sambil menggigit jempol kananku untuk sedikit menenangkan rasa khawatir yang muncul ini.


"Tenang saja Raphael, mungkin sebentar lagi Vincent akan kembali kesini." Roselianne mencoba menenangkanku.


Sejak kecil aku mempunyai kebiasaan menggigit jempolku ketika aku sedang merasa khawatir. Mungkin Roselianne menyadari kebiasaanku ini dan mengetahui bahwa aku sedang merasa khawatir sekarang. Aku pun mencoba menenangkan pikiranku.


"Oh iya Raphael, aku baru ingat kalau kamu bisa main Gitar kan? Kenapa kamu gak mencoba memainkannya?"


"Tapi.."


"Sudahlah mainkan saja. Biar suasananya gak sunyi-sunyi banget."


"Okelah, tidak ada salahnya juga bermain gitar di tengah api unggun yang menyala."


Aku pun mengeluarkan Gitar. Sebuah Gitar akustik kubuat agar suara yang dikeluarkan cocok dengan suasana saat ini. Aku pun mulai menyetem gitarnya agar suara yang dihasilkan sesuai dengan kemauanku.


Aku pun mulai memetik senar gitarnya dan mulai memainkan sebuah nada. Nada yang dihasilkan sangatlah halus dan terdengar lembut. Membuat rasa khawatir yang muncul perlahan mulai menenang.


Saat aku memainkan gitarnya, Roselianne bernyanyi sebuah lagu yang sejak kecil kami nyanyikan. Untungnya aku sudah membuat sebuah instrumen musiknya dari gitar beberapa tahun lalu. Aku pun memainkan instrumennya sesuai dengan lagu yang dinyanyikan Roselianne.


♪ Kita bersama menghancurkan batasan. Melihat ke dalam diri, mengisi kekosongan hati. Tak peduli apa yang dikatakan orang lain. Pertemanan kita, kan tetap abadi. ♪


Roselianne bernyanyi dengan merdu sekali. Suara yang dihasilkan sangatlah lembut dan indah. Bagai seorang penyanyi profesional.


♪ Melihat segala sesuatu, dengan pandangan berbeda. Namun tetap kan bersama. Rintangan yang ada, tak menghalau pertemanan kita. Dunia pun tak bisa memisahkan kita yang selalu bersama. Satu kesusahan, maka semua kan merasakannya. ♪


Dia bernyanyi dengan menirukan segala gerakan penyanyi profesional. Menyanyi dengan menjiwainya segenap hati. Hingga dia terlihat seperti ingin menangis ketika menyanyikan lagu ini. Seberapapun rintangan yang ada, seperti lirik yang ada di lagu ini. Kita kan menghancurkan batasannya.


♪ Kita bersama Menghancurkan Batasan. Melihat ke dalam diri, mengisi kekosongan hati. Tak peduli apa yang dikatakan orang lain. Pertemanan kita, kan tetap abadi… pertemanan kita kan te..tap… a….ba…di…….. ♪

__ADS_1


Roselianne selesai bernyanyi. Dia tampak senang ketika menyelesaikan lagunya. Aku pun memuji suaranya yang merdu itu.


"Suaramu sangatlah Indah Rose, good job!" Aku memberikan acungan jempol kepadanya.


Roselianne sepertinya sangat senang ketika aku memujinya. Ekspresi kegembiraannya tampak sekali di wajahnya itu.


"Terima kasih Raph! Aku senang dengan pujian yang kamu berikan."


Aku pun memainkan gitar lagi menyetel lagu yang berbeda. Menggunakan nada-nada seperti berada di negeri Fantasy. Alunan musik yang terdengar enak ini kuberikan untuk semua yang mendengarkan.


Dunia mungkin tak memihak seseorang yang lemah. Namun seseorang yang lemah justru akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Inilah maksud dari Lagu yang kumainkan saat ini. Berkisah tentang seorang pemuda lemah yang merasakan hasil memuaskan.


****************


Disaat sedang memainkan lagu, nampak seseorang muncul dari arah belakang Roselianne. Aku pun langsung menghentikan permainan gitarnya dan segera meminta Roselianne mendekat ke arahku.


"Rose, mendekatlah ke arahku."


"Eh! Memangnya kenapa?"


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja."


Roselianne pun mendekat ke arahku. Seseorang itu nampak mendekat kemari. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena arah dia bergerak lumayan gelap dan tak terkena cahaya api unggunnya.


"Berada di belakangku Rose." Aku menyuruhnya untuk berada di belakangku.


"A-apa itu Raph." Roselianne nampaknya ketakutan.


Seseorang itu pun perlahan makin mendekat dengan cepat. Aku pun mencoba mendekatinya dengan nyali yang kupunya. Aku tidak bisa menyuruh Roselianne untuk mengeceknya, mending aku saja.


"Kamu tunggu disini Rose. Aku akan mencoba pergi ke sana."


"O-oke, kamu hati-hati ya."


Aku pun pergi meninggalkan Roselianne dan pergi mendekat ke arah seseorang itu. Makin lama dia makin mendekat. Dia seperti berlari ingin menyerangku, aku pun dengan sigap mempersiapkan diri.


Ketika dia berada di dekatku, aku pun langsung memukulnya tepat di bagian wajah. Ketika aku melihatnya dari dekat, ternyata yang tadi kupukul itu Vincent. Aku terkejut bukan main saat ini.


"Aduh…" Vincent yang terkena pukulanku merasa kesakitan.


"Kamu asal Mukul aja sih lagian. Gak liat-liat dulu yang dipukul siapa." Sambil memegangi pipinya yang habis terkena pukulan.


"Lagian kamu kayak mau nyerang gitu. Aku kan jadi refleks untuk memukul." Aku menjelaskan kenapa aku langsung memukulnya.


"Hah! Nyerang gimana? Orang aku cuman melambaikan tangan kok."


"Lah? Berarti cuman kesalahpahaman ku?" Aku bingung dengan apa yang terjadi.


"Ya iyalah, pake nanya lagi." Vincent dengan wajah sedikit kesalnya.


"Maaf-maaf, aku kira tadi kamu mau menyerang. Yaudah daripada diem disini mending ayok ke tempat Roselianne. Kasian dia nunggu sendirian disana."


"Aku maafin kamu kali ini, kalo memukul lagi aku pukul balik kamu."


"Iya-iya. Tenang aja."


"Yaudah ayok."


Kami berdua pun pergi ke tempat Roselianne yang sedang berada sendirian itu. Roselianne sepertinya panik ketika melihat diriku tadi sempat bertarung dengan Seseorang yang misterius. Seorang yang misterius itu adalah Vincent.


Aku bisa melihat wajah paniknya dari sini. Tempat dia berdiri memiliki pencahayaan yang baik sehingga bisa membantuku untuk melihatnya. Aku pun merencanakan sesuatu kepada Vincent untuk menakut-nakuti Roselianne.


"Vin, mari kita takut-takuti Rose."


"Hah! Tumben banget kamu pengen menakut-nakuti dia. Aku sih Gas aja."


Kami berdua merencanakan untuk membuat sebuah kejutan yang bisa membuat dia merasa takut. Dia tidak bisa melihat dengan jelas kita berdua karena terhalau oleh gelapnya malam. Aku pun berakting seakan-akan aku sedang merasa dalam bahaya.


"TOLONG!!! AKU TIDAK KUAT LAGI UNTUK MENAHAN GIGITANNYA." Berpura-pura.


Vincent pun berakting seolah sedang mencoba mengigitku. Aku menoleh ke arah Roselianne yang sedang kepanikan itu. Hahaha… wajahnya yang sedang panik itu sangat lucu. Aku sedikit menahan tawaku agar tidak ketahuan olehnya.

__ADS_1


"RAPHAEL, AKU AKAN MEMBANTUMU. BERTAHANLAH."


Roselianne pun mendekatiku dengan berlari kencang. Dengan kepanikan yang dia miliki dalam dirinya, mungkin saat ini dia tidak memikirkan bahaya yang akan menghampirinya. Tapi seru juga sih kalau sekali-kali aku menakut-nakutinya.


"Langsung Vin kagetin bersama pas dia udah dekat disini." Sambil berbisik.


"Sip."


Roselianne pun sudah berada di dekat kami. Dengan secara langsung, kami membuat suara yang keras sehingga akan membuatnya merasa terkejut. Aku memasang wajah menyeramkan agar dia tambah merasa takut.


kami berdua pun langsung mengejutkannya tepat di depan pandangannya.


"WAAA!!!" Dengan suara yang kencang dan Ekspresi wajah menyeramkan.


"KYAAAAAAA!!" Roselianne dengan ekspresi ketakutan itu


Dia langsung memasang Pose jongkok dengan matanya yang tertutup dan juga telinganya yang ditutup oleh kedua tangannya. Sepertinya dia sangat terkejut dan sangat ketakutan ketika kami kejutkan dia.


"Hahahaha, Posenya Rose sangat lucu sekali ketika ketakutan." Akupun menertawakannya ketika melihat Pose yang dia tunjukkan ketika ketakutan itu.


"Hahaha, KYAAA! Dia berteriak seperti itu Raph. Itu sungguh membuat ku tertawa." Vincent pun juga tertawa.


Kami berdua tertawa lepas melihat gelagat Roselianne yang ketakutan itu. Perutku sampai sakit menertawakannya. Hah… jarang-jarang aku merasa mood sekali untuk mengerjai Roselianne. Sebaiknya aku meminta maaf sehabis ini.


Roselianne mulai melihat ke arah kami. Dia membuka matanya perlahan dan membuka telinga yang tangannya tutupi. Ketika dia sadar bahwa kami berdua yang ada di depannya dia langsung berbalik memasang ekspresi kesal.


"Hahaha, maaf Rose. Aku hanya ingin menakut-nakutimu saja." Aku meminta maaf kepadanya dengan tulus.


"Wkwkwkw, teriakannya itu aku tidak bisa berhenti mengingatnya." Vincent masih tertawa setelah melihat Wajah Roselianne yang merasa kesal itu.


{Aahh.. pasti langsung dipukul ini Vincent. Aku sudah yakin dengan 100% bahwa dia akan dipukul oleh Rose.} Ujar dalam hatiku.


Aku pun memperingati Vincent yang tertawa terbahak-bahak belum berhenti juga.


"Oe Vin, hentikan tertawamu itu." Dengan membisikkan tepat di dekat telinga Vincent.


"Hahaha, aku tidak bisa berhenti tertawa Raph ketika mendengar teriakannya."


Sial.. Roselianne sudah memasang ancang-ancang untuk memukul itu. Aku tidak ingin ikut campur dengan ini. Aku pun membiarkan Vincent yang masih belum berhenti tertawa itu. Aku berharap bahwa Tuhan akan mengampuninya.


"Hahahaha."


Roselianne pun mulai mendekat ke Vincent.


"TAK! TAK!" Bunyi pukulan tepat di kepalanya.


Roselianne memukul Vincent seperti yang kuduga. Mana mungkin dia akan membiarkan Vincent tertawa sepuasnya. Vincent pun langsung berhenti tertawa dan memegangi kepalanya yang terkena pukul itu.


"Aww… ini sakit loh Lian. Aku kan cuman bercanda."


"Biarin aja. Hem!" Dengan memalingkan wajahnya.


Sepertinya dia ngambek karena jadi bahan tertawaan. Setelah dia sudah memukul Vincent, tiba-tiba sekarang dia mengarah padaku. Sial.. sepertinya aku juga akan mengalami hal yang sama seperti Vincent. Aku harus meminta pengampunan padanya.


"Ro-Rose, aku sudah meminta maaf Loh. Ampuni aku kali ini." Memasang ekspresi Memohon dengan sangat.


Roselianne tak merespon kata-kataku dan tetap mengarah kepadaku.


{Habislah… Aku berharap padamu Tuhan untuk kali ini.}


Akupun mulai berdoa dalam hati dengan berharap pada Tuhan agar dia mengampuni segala kesalahanku.


"TAK! TAK!"


Aku pun terkena pukulannya juga. Kalau seperti ini, mending aku tadi tidak merencanakan untuk menakut-nakutinya. Hah..


"Oke sekarang kita semua impas. Kalau kalian menakut-nakuti ku lagi, jangan harap kalian masih hidup nanti." Roselianne mengancam kami berdua dengan sorot tatapan tajamnya itu.


Kami berdua yang merasa terintimidasi berkat aura yang dia keluarkan itu langsung ciut dan ketakutan.


"Ba-baik! Aku berjanji tidak akan menakut-nakutimu lagi." Aku dengan terbata-bata karena ketakutan akan intimidasi yang diberikan.

__ADS_1


"A-aku juga."


Mungkin ini hari terakhir kami menakut-nakuti Roselianne. Kalau mengulanginya, justru kita akan tertidur di dalam Lubang tanah yang akan dia buat. Kami bertiga pun pergi berjalan ke Tempat Api Unggunnya menyala.


__ADS_2