
Raphael dan Novaria berada dalam Perjalanan menuju ke Taman Hiburan. Mereka berdua saling merasa senang dalam hati mereka. Walau wajah Raphael sangat Fokus saat mengendarai, namun di dalam lubuk hatinya dia mencoba untuk menenangkan dirinya.
(Aa!! Detak jantungku tidak bisa tenang sedikit.) Teriak dalam hati Raphael.
Di satu sisi lagi, Novaria juga sedang mencoba untuk menahan perasaan malunya. Dia mencoba untuk tidak melihat Raphael dengan raut ekspresi seriusnya itu. Kalau dia melihatnya, bisa-bisa saja dia merasakan malu yang berlebihan.
Mereka berdua yang terlihat tenang itu menyembunyikan sisi yang memalukan satu sama lain.
**********
Sampai di Parkiran Taman Hiburannya….
Kondisi Parkiran sangatlah ramai dengan kendaraan-kendaraan. Maklum saja, hari ini merupakan Hari Minggu. Hari dimana sebagian masyarakat meluangkan waktunya untuk Pergi menikmati Liburan.
Raphael pun mencari lahan kosong untuk memarkirkan mobilnya itu. Dia terus mengendarai dengan perlahan sembari mencari lahan parkiran yang masih kosong. Novaria pun membantu Raphael untuk melihat-lihat sekeliling Parkiran.
Sampai Raphael menemukan lahan yang terlihat kosong di tengah-tengah Parkiran yang luas ini. Tanpa banyak waktu, Raphael langsung memarkirkan Mobilnya disana. Dia memarkirkan mobilnya dengan bergerak ke belakang. Sedikit menyulitkan berkat Kendaraan-kendaraan yang terparkir itu sehingga hanya sedikit Ruang yang tersisa.
Raphael pun memarkirkan kendaraannya dengan hati-hati. Selesai memarkirkan Mobilnya, Raphael serta Novaria keluar dari Mobil.
"Ayo Nov ke Tempat Hiburannya." Ajak Raphael sambil membereskan Kerah Blazernya yang berantakan.
"Ayo Raphael." Balas Novaria dengan memegang topi yang dia pakai.
Mereka berdua pun berjalan menuju Pintu Masuk Taman Hiburannya. Sayangnya, Taman bermain sangat Ramai orang. Sehingga Antrian di Pintu Masuk terlihat panjang. Ditambah dengan cuaca yang sedang panas-panasnya karena memasuki Musim Panas.
Tapi, untungnya Tiket yang diberikan oleh Alice merupakan Tiket VIP. Kamu bisa masuk secara langsung tanpa harus mengikuti Antriannya. Raphael pun mengeluarkan 2 Tiket VIPnya dan menunjukkan kepada Penjaga Pintu Masuk Taman Bermainnya.
"Ini Pak Tiketnya." Ucap Raphael dengan memberikan Kedua Tiketnya kepada sang Penjaga.
Novaria yang berada di sampingnya merasa cukup senang karena Dia tidak tahu kalau Raphael memiliki Tiket VIP. Sehingga mereka berdua tidak perlu menunggu lama hanya untuk masuk saja.
Sang Penjaga pun mencoba untuk memeriksa apakah Tiketnya asli atau palsu. Dia memakai sebuah Alat yang dapat mendeteksi Tiket. Dia mencoba untuk melakukan scanning tiketnya dengan alat itu. Alat itu pun menunjukkan Bahwa tiket yang dimiliki Mereka berdua adalah Asli.
"Oke, Tiket Kalian Berdua asli. Selamat Datang di Violand." Sang penjaga menyambut mereka berdua sambil tersenyum.
Setelahnya, kedua penjaga itu tampak memberikan 2 buah Gelang yang terbuat dari Komponen-komponen digital. Raphael dan Novaria pun memakai gelang itu. Mereka memasang di tangan yang saling berlawanan. Raphael memakai di tangan kanan, Novaria memakai di tangan kiri.
Raphael dan Novaria pun memasuki Violand. Novaria dengan perasaan gembira melihat Sebuah Wahana yang besar. Matanya tampak berseri. Raphael yang melihatnya Mencoba untuk menanyakan kegiatan selanjutnya.
Sebenernya Raphael sudah mengatur jadwalnya, hanya saja itu akan dia gunakan ketika Novaria tidak mempunyai Jadwal kegiatan.
"Mau main wahana apa dulu Nov?" Tanya Raphael.
Novaria yang sedang dalam perasaan ceria pun menjawab pertanyaan Raphael dengan Tersenyum Manis, "Aku mau bermain Wahana Rollercoaster!" Dengan bersemangat.
Raphael sedikit salah tingkah ketika Melihat Senyum Manis Novaria. Dia mengalihkan Matanya ke arah atas.
"Rollercoaster ya.. bolehlah." Ujar Raphael.
Mereka berdua pun menuju ke Wahana Roller Coaster. Banyak sekali Orang-orang yang sedang bermesraan. Ada pula Keluarga Cemara yang Bersenang - Senang bersama buah hati tercintanya. Itu sedikit membuat Raphael merasa iri.
Karena Raphael ingin bermesraan seperti itu juga dengan Novaria. Cuman dia tidak berani untuk mengungkapkannya secara terang-terangan.
Raphael dan Novaria pun mulai berada di Wahana Rollercoaster. Karena ini salah satu wahana yang sering dikunjungi oleh para pengunjung, antriannya pun membludak. Walaupun dengan Tiket VIP, Raphael dan Novaria juga harus menunggu gilirannya.
Hanya saja tidak sebanyak Antrian Tiket biasa. Teriakan para Pengunjung yang sudah menaiki wahananya itu membuat Suasananya terasa mengasyikkan.
"AAA!!" Teriakan Bahagia dari pengunjung yang menaiki Wahana.
Teriakan itu membuat Novaria semakin ingin cepat-cepat menaiki wahananya. Dia jadi tak sabaran untuk menunggu gilirannya menaiki wahana itu.
Antriannya pun mulai maju secara perlahan. Raphael melihat 2 orang berpasangan yang berada di depannya saling berpegangan Tangan. Tanpa sadar, Raphael hampir ingin merangkul Tangan milik Novaria.
Hal itu pun langsung disadari olehnya. Dia langsung menarik kembali tangannya yang hendak merangkul tangan Novaria itu. Dalam Hatinya, "A-apa yang mau kulakukan tadi." Sambil mengalihkan pandangannya ke arah Kiri.
Raphael merasa bahwa dirinya ingin seperti pasangan yang berada di Depannya. Sayangnya, itu sedikit tidak sopan merangkul tangan Novaria tanpa izin terlebih dahulu. Novaria yang kakinya tidak bisa diam karena Tak sabarnya dia ingin menaiki Wahana, terlihat melangkahkan kakinya di tempat dengan cepat.
Raphael pun mencoba menenangkan Novaria yang terlihat tak sabaran itu.
"Sabar Nov, kita juga harus mengikuti Antrian yang ada." Ucap Raphael sambil melihat ke arah Novaria.
"Aa!! Tapi aku udah gak sabar banget pengen naik itu." Ungkap Novaria.
Raphael yang memahami perasaan ingin menaiki wahana itu pun memakluminya. Hanya saja, Sikap Novaria yang seperti itu bisa mengganggu ketenangan Pengunjung yang lain.
"Aku Paham Novaria. Cuman jangan terlalu tak sabar seperti itu. Kamu bisa mengganggu yang lainnya." Tegur diriku.
Novaria pun melihat sekelilingnya. Para pengunjung melihat ke arahnya saat ini. Dia merasa Malu dengan Tatapan-tatapan itu. Novaria pun mencoba untuk tenang setelahnya. Dengan menahan malunya, dia menundukkan sedikit kepalanya.
Raphael pun merasa bersalah menegurnya seperti itu. Dia pun mencoba untuk meminta maaf padanya.
"Maaf Ya Nov udah negur kamu kayak gitu." Ucap Raphael.
"Ah Iya Raph.. aku juga minta maaf karena sikapku." Novaria sambil merasa menyesal.
Mereka berdua pun sama - sama merasa menyesal.
************
Beberapa menit kemudian.
Mereka berdua pun akhirnya dapat bagian menaiki wahananya. Sebelum menaiki sebuah Roller Coaster Nya, ada sedikit pengumuman dari Penjaga Wahananya.
"Pengunjung - Pengunjung sekalian, Harap tenang ketika menaiki wahana."
Mereka berdua pun mengikuti ucapan sang Penjaga Wahana. Mereka dengan tenang tanpa terburu - buru naik ke Kereta Luncurnya. Raphael dan Novaria kebagian dalam Kursi paling depan. Mereka berdua naik secara berdampingan.
"Pengunjung sekalian, Dimohon untuk memasang Alat Pengamanannya untuk menghindari Kejadian yang tidak diinginkan!" Teriak Sang Penjaga.
Alat Pengaman pun secara otomatis terpasang kepada mereka berdua setelahnya.
"Akhirnya aku bisa naik wahana ini lagi!" Ucap Novaria dengan sangat bersemangat.
"Hahaha… Baguslah kalau kamu merasa semangat seperti itu Nov." Sahut Raphael sambil melihat ke Novaria.
Raphael dan Novaria pun memegang Sebuah Gagang Alat Pengamannya. Mereka berdua memegang dengan Erat.
"Baiklah Para Pengunjung sekalian, Wahananya akan segera Dijalankan.."
Rollercoasternya pun secara perlahan bergerak. Sebuah Rel dengan Medan Magnet yang tampak melingkar itu terlihat mengerikan. Lama kelamaan, Rollercoaster bergerak naik ke atas. Ini merupakan sebuah Pembukaan sebelum banyak sekali teriakan yang akan terdengar.
Kaki Novaria pun bergerak menendang - nendang karena kegirangan.
"Sebentar lagi Raph!" Teriak Novaria ke arahku.
Sebentar lagi apanya..
Sebelum aku bersiap-siap, Rollercoaster terjun ke bawah. Seluruh Pengunjung yang menaiki wahananya pun berteriak karena sensasi menurun dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"WAAA!!" Teriakan Bahagia serta Ketakutan.
Saat turun dengan kecepatan tinggi, aku menoleh ke arah Novaria. Dia tampak senang sekali dengan matanya yang tertutup serta mulutnya yang tertawa lebar itu. Raphael merasakan sensasi sedikit mual dalam perutnya karena Efek Terjun dengan kecepatan Tinggi.
Kemudian Roller Coasternya bergerak dengan cepat ke kanan sambil menaik sedikit. Sebelum memasuki sebuah Rel Lingkaran yang ada di depan. Sepanjang Wahana Roller Coaster,Raphael merasakan mual.
Sudah lama sejak dia terakhir kali bermain Wahana ini. Sehingga dia merasakan perutnya Mual. Dia menahan Mual itu selama Wahana masih berjalan. Sedangkan Novaria, dia tidak terlihat kesulitan. Malah yang ada dia makin senang dengan Relnya.
Novaria pun melihat ke Arah Raphael yang sedang merasakan Mual.
"Kamu baik-baik saja Raphael?" Tanya Novaria dengan Keadaan Rollercoaster dalam kecepatan Tinggi.
Raphael yang sedang mual pun tidak ingin berbicara. Dia menunjukkan Gesture aku baik-baik saja dengan tangannya kanannya. Dia sambil menutupi Mulutnya menggunakan tangan kiri.
Novaria yang kebingungan pun mencoba untuk memeriksa keadaannya. Dia memegang tangan Raphael yang menutupi Mulutnya. Raphael yang terkejut karena Novaria memegang tangannya pun sedikit sedikit memerah.
"Tangan kamu dingin gini Raph! Kamu bener baik-baik aja?" Novaria memastikan Keadaannya.
Raphael pun berusaha untuk meyakinkannya agar tak membuat dia khawatir. Dia memegang balik tangan Novaria untuk memastikan Novaria bahwa dirinya aman.
"A-aku Oke." Ucap Raphael dengan wajah yang menahan Mual. Raphael pun mengalihkan Pandangannya karena Mualnya makin terasa. Sedangkan Novaria, dia sedikit terkejut karena Raphael memegang Tangannya dengan erat.
Wajahnya tampak menahan Malu dan memerah kembali. Suasana senang yang dia rasakan bercampur dengan perasaan menahan malunya. Suasana langsung canggung seketika. Mereka berdua saling berdiam-diaman.
Sampai akhirnya Wahananya pun berhenti karena selesai.
"Terima kasih Telah Menaiki Wahana ini, Kami Tunggu Kunjungan anda Lain waktu!" Teriak Sang Penjaga Wahana.
Alat pengamannya pun mulai terbuka otomatis. Wajah Raphael yang terlihat pucat dan tak berdaya itu pun segera berlari menuju luar wahana. Dengan terburu-buru, dia keluar untuk muntah karena adrenalin yang diberikan oleh Rollercoaster.
Novaria pun mulai kebingungan dan mencoba untuk menyusul Raphael yang berlari terbirit-birit itu.
"Tunggu Raphael!".
Novaria pun berlari menuruni sejumlah anak tangga dengan cepat. Raphael sudah keluar dari Tempat Masuk wahananya dan pergi ke Toilet yang berada tak jauh dari wahana. Dia mencoba menahan Mualnya.
Novaria pun mengejar Raphael yang menuju ke arah Toilet.
"Tunggu Raphael! Kamu kenapa?" Teriak Novaria.
Raphael pun tak menggubris teriakannya dan tetap berlari ke arah Toilet yang sudah di Depannya. Kemudian dia Masuk ke dalam Toilet. Dia langsung Memuntahkan Cairan dari mulutnya di Kloset.
"UEK!" Suara Raphael yang sedang Muntah.
Raphael pun menyiram bekas muntahannya itu. Dia mengambil Tissue yang berada di sampingnya dan mengelap Mulutnya.
"Hah..Hah…" Suara Nafas yang terengah-engah.
Raphael merasa tak berdaya dengan Wahana itu. Sungguh Memalukan..
"Kenapa harus Ngerasa Mual sekarang sih.. bikin malu aja." Sontak Raphael pada dirinya sendiri.
Dia memukul Bagian dadanya sendiri sambil mengungkapkan kekesalan karena dirinya yang tak berdaya hanya karena sebuah Wahana Rollercoaster. Dia pun kemudian Menyalakan Kran wastafel dan membasuh mukanya.
Raphael melihat ke arah kaca setelah membasuh mukanya. Dia mulai bergumam, "Bagaimana aku harus menemuinya lagi dengan kondisi wajahku yang seperti ini. Hah.." Raphael menghela Nafasnya.
Novaria yang menunggu di depan Toilet pun merasa khawatir dengan kondisinya.
"Apa Raphael baik-baik saja ya?" Sambil menggigit ujung jari-jarinya.
Tak lama, Raphael pun keluar dari Toilet dengan wajah serta rambutnya yang basah karena air. Novaria pun menanyakan kondisinya, "Kamu bener baik-baik aja kan Raphael?" Dengan raut wajah cemas.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mual karena wahana tadi." Raphael dengan raut wajah baik-baik saja.
"Jangan sedih seperti itu, ini bukan salahmu kok. Memang aku saja yang lemah dengan adrenalin seperti itu." Ucap Raphael.
"Kalau gitu kamu aja yang memutuskan mau pergi ke mana. Aku tidak ingin kamu merasa seperti tadi lagi." Jawab Novaria dengan ekspresi sedih.
"Sudah Gausah terlalu khawatir kayak gitu. Aku sekarang aman-aman saja." Raphael sambil tersenyum.
Novaria pun sedikit ragu dengan ucapannya. Tapi melihat Raut wajahnya yang tersenyum lebar itu membuktikan bahwa sepertinya Raphael memang sudah baik-baik saja. Novaria pun mencoba memperlihatkan sebuah lembaran yang diberikan oleh Pihak Taman. Dia menunjukkan sebuah Peta kepada Raphael.
"Bagaimana kalau kita kesini?" Ucap Novaria sambil menunjuk ke arah sebuah Wahana Gelas yang berputar.
Raphael sedikit ragu apakah dirinya bisa baik-baik saja ketika menaiki wahana itu. Tapi dia pun menerimanya.
"Boleh.." Jawab Raphael dengan sedikit ragu-ragu.
"Tapi kalau kamu sudah enggak kuat kaya tadi bilang aja ya." Tegas Novaria.
"Iya Nov.."
Mereka berdua pun pergi ke sebuah Wahana Gelas Berputar.
Sampai di Depan Wahana…
Antriannya tidak begitu Ramai. Untuk Pengunjung VIP bahkan bisa langsung masuk tanpa ada Antrian sedikitpun. Mereka berdua pun langsung menaiki wahananya. Mereka saling duduk berhadapan.
"Siap Ya, Ready… GO!" Suara Sang Penjaga. Wahananya pun mulai memutar tak terlalu kencang saat ini. Novaria merasakan perasaan senang kembali. Raphael kali ini masih dapat menahannya. Dia masih terasa baik-baik saja setelah menaiki wahananya. Sepanjang Menaiki Wahana, Raphael terus melihat ke Arah Novaria yang Tertawa lebar karena perasaan senang. Dia melihatnya sembari tersenyum.
Dia mulai sedikit menikmati waktu bersama dengannya. Dia pun mencoba untuk bersenang-senang bersama Novaria..
*************
Beberapa Saat Kemudian, Wahana pun sudah selesai berputar. Raphael dan Novaria pun langsung turun dengan perlahan.
"Itu seru sekali!" Ucap Novaria dengan Bahagia.
"Itu memang mengasyikkan. Jarang sekali aku merasakan Momen senang seperti itu." Celetuk Raphael.
"Hahaha… kamu jarang kesini sih.."
"Memang Nov.."
Mereka berdua pun mulai melihat lembarannya lagi.
"Jadi sekarang kita mau kemana lagi nih?" Ucap Raphael sambil melihat ke arah Novaria.
"Umm.. bagaimana kalau istirahat sebentar? Pergi ke Stan Makanan dan Minuman." Jawab Novaria.
"Boleh Nov.. aku juga lumayan Haus dan lapar."
"Yaudah mari kita kesana."
Mereka berdua pun beristirahat sejenak sambil mengumpulkan energi yang terkuras. Duduk di Bangku Taman bermain berdampingan. Sambil memakan sebuah Makanan.
"Hamburgernya Enak Banget!" Novaria dengan lahapnya memakan Hamburger.
"Umm.. apakah memang seenak itu?" Tanya Raphael.
"Beneran Enak Loh! Kamu mau cobain nih?" Sambil memberikan Hamburgernya kepada Raphael.
__ADS_1
Raphael pun menggigit sedikit di bekas gigitan Novaria. Raphael terlihat menikmati Hamburgernya.
"Hm! Bener enak ternyata."
"Aku gak bohong kan!"
Raphael pun Memakan Hotdog yang telah dipesannya setelahnya. Terlihat kembali ekspresi wajah yang tampak menikmati makanannya.
"Ini Juga Enak Nov, Kamu mau cobain?" Raphael menawarkan Hotdog yang dipegangnya kepada Novaria.
"Boleh Raph. Aku cobain sini."
Novaria pun menggigit Hotdog yang dipegang oleh Raphael tanpa mengambilnya. Dia merapikan rambut yang ada menghalangi telinganya. Raphael sedikit terkejut karena dia menggigit Hotdognya secara langsung tanpa mengambilnya.
"Umm! Enak juga yah ini Raph." Sambil melihat ke arah Wajah Raphael.
Wajah Novaria yang melihat ke arah Wajah Raphael yang berada di atasnya pun membuat sedikit ambigu. Wajah Raphael sedikit menahan malu dengan kemerahan. Novaria yang sedikit heran itu pun memasang raut wajah kebingungan. Sampai dia ternyata Sadar bahwa posisinya saat ini sedikit Ambigu.
Novaria pun langsung kembali ke posisi duduknya semula sambil mengalihkan pandangannya dari Raphael. Hatinya dipenuhi dengan Rasa malu karena sikapnya tadi. Suasana canggung pun tercipta di antara mereka berdua.
"A-ah, bagaimana kalau kita lanjut bermain Wahana lagi Nov?" Raphael mencoba mengalihkan suasananya.
"Y-ya kamu benar Raphael. Kita lanjut bermain saja yuk." Novaria dengan ekspresi salah tingkahnya.
Mereka berdua kemudian Berdiri dan melanjutkan bermain Wahananya.
****************
Mereka berdua tampak menikmati setiap wahana permainan yang ada disini. Mereka bermain di Rumah Hantu yang sedikit menyeramkan membuat situasi horor yang membuat Novaria takut. Di dalam Rumah Hantu, Novaria selalu memegang dengan erat Lengan kanan Raphael.
"WAH!" Suara Hantu yang mengejutkannya.
"AAA!" Teriak Novaria yang ketakutan.
Dia pun mencoba menutup matanya setelahnya. Raphael yang melihat itu pun sedikit tertawa karena Ekspresi takutnya yang menggemaskan. Raphael tidak takut hal yang seperti ini, menurutnya Hantu itu hanyalah Mitos yang dibuat-buat. Novaria pun berjalan dengan mengandalkan Lengan Raphael yang dia pegang.
Mereka berdua pun keluar bersama-sama dengan Novaria yang menutup matanya sambil menggandeng lengan Kanan Raphael.
************
Mereka pun menikmati segala macam Wahana lainnya seperti Pertunjukkan Seni Theater, Hysteria, Kora-kora, Komedi Putar, Boom-Boom Car, dan Wahana Lainnya yang tersedia. Mereka berdua saling bersenang - senang bersama menikmati wahananya. Ekspresi bahagia yang mereka berdua tunjukkan pun sangat bersinar dengan sangat terang..
************
Sore hari Tiba..
"Ayo kita Pulang Raph." Ucap Novaria.
Aku harus menahannya lebih lama lagi. Ada 1 wahana yang sangat ingin aku coba.
"Bentar Nov. Kita main 1 Wahana lagi ya? Pliss!" Raphael dengan wajah memelas.
Novaria yang melihat Ekspresi Raphael yang seperti itu pun tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, janji ya cuman 1 aja." Tegas Novaria.
"Iya Nov."
Raphael pun mencoba mengajak Novaria ke Wahana Bianglala. Terlihat sangat sepi dikarenakan sebagian pengunjung sudah pergi meninggalkan taman bermain. Sehingga Raphael dan Novaria bisa langsung menaiki Wahananya.
Sebelum menaiki, ada sebuah penjaga Bianglala yang berdiri di depan. Penjaga itu pun menyambut mereka berdua yang ingin menaiki wahana.
"Selamat Datang.. silahkan!" Dengan ekspresi tersenyum sambil mengarahkan ke dalam Bianglalanya.
Saat Melewati di depan Penjaga itu, Mata kiri Raphael berkedip seolah-olah memberikan kode kepada sang penjaga. Sang penjaga pun tampak menyadari Kedipan yang diberikan oleh Raphael. Dia mengacungkan jempolnya kemudian.
Raphael dan Novaria pun masuk ke Area Bianglala. Sang Penjaga pun menutup pintunya setelahnya. Bianglala pun bergerak secara perlahan memutar.
"Ternyata Wahana ini yang ingin kamu mainkan Raphael.." Novaria sambil melihat ke arah Luar Jendela.
"Hehe.. iya Nov, aku ingin menaiki Wahana ini untuk mengakhirinya." Ucap Raphael sambil tertawa dikit.
"Kalau kamu merasa senang aku juga ikut senang. Aku tidak enak kalau aku saja sendiri yang merasa senang bermain di taman Hiburan ini." Balas Novaria sambil tersenyum dengan memiringkan kepalanya ke kanan sedikit.
Dalam lubuk hati terdalam Raphael, kini dipenuhi dengan rasa gugup yang amat dahsyat. Karena dia merencanakan bahwa dia ingin mengungkapkan perasaanya pada Novaria di wahana ini. Dia menatap-natap ke arah Novaria yang sedang melihat - lihat ke arah Luar.
{Tenanglah wahai diriku. Ini merupakan kesempatan terbaik untuk mengungkapkan perasaanmu} Dalam hati Raphael.
Bianglalanya pun bergerak perlahan menuju bagian paling atas. Raphael mencoba melihat ke arah luar ke arah sang Penjaga. Sang penjaga itu melambaikan Tangannya pada Raphael. Wajah Manis Novaria yang terkena cahaya senja itu tampak membuat hatiku merasa gugup.
Detak jantungku berdebar dengan kencang. Keringat mulai menetes tanpa henti. Raphael mencoba untuk menenangkan dirinya untuk kali ini.
Sambil melihat cahaya senja yang menerangi, Perasaan Raphael yang tadi gugup dengan kencang mulai tenang dengan perlahan. Dia mengatur tempo nafasnya agar dirinya merasa sedikit Rileks.
Cabin Bianglala yang mereka berdua naiki pun sudah sampai di tempat yang paling atas. Tiba-tiba, Bianglalanya berhenti saat berada di ketinggian.
"Eh ada apa ini?" Ucap Novaria yang terkejut.
Raphael yang menyadari bahwa ini adalah kode yang diberikannya untuk Sang Penjaga itu pun mulai memberanikan dirinya. Dia mencoba untuk berkomunikasi secara serius dengan Novaria.
"A-anu Novaria… ada yang mau aku bicarakan." Ucap Raphael sambil sedikit terbata-bata.
Novaria yang melihat Tatapan serius Raphael itu pun langsung meresponnya. Entah kenapa dia seakan-akan merasa malu padahal Raphael hanya ingin bicara.
"A-apa Raphael?" Muka Novaria sedikit memerah.
Raphael pun melirik ke arah Cahaya Senjanya dengan keberanian di dadanya.
"Kamu lihat Cahaya senja itu Nov?" Ucap Raphael sambil menunjuk ke arah Cahaya Senjanya. Novaria pun melirik ke arah Cahaya senja yang ditunjuk oleh Raphael.
"Lihat Raph, memangnya kenapa?" Jawab Novaria dengan sedikit keheranan.
"Bagaimana Rasanya aku melihat senja seperti itu setiap hari bersamamu?" Ungkap Raphael menggunakan semacam isyarat untuk mengungkapkan perasaannya.
Novaria pun bingung sejenak. Tapi, akhirnya dia mulai menyadari bahwa kata-kata itu adalah Sebuah Pengungkapan perasaan. Dia mulai menanyakan kepastian agar dia tak salah Paham.
"A-apakah yang kamu maksud kamu sedang menembak ku saat ini?" Tanya Novaria dengan ekspresi yang serius dengan nada terbata-bata.
"Ya." Raphael tersenyum Lebar sambil menutup matanya sejenak dan memiringkan kepalanya.
Dalam perasaan Novaria, kini dia merasa bahagia. Mendapatkan sebuah Ungkapan Perasaan dari seseorang yang dia sukai sejak lama. Air mata mulai mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya, dia merasa sangat bahagia.
"Jadi, apa kamu mau jadi Pacarku Nov?" Raphael sambil menawarkan tangannya.
Itu adalah sebuah kepastian yang dia tunggu. Jika Novaria mengambil dan menggenggam tangannya, berarti itu adalah Penerimaan. Begitupun sebaliknya.
Dengan Air mata yang menggenangi wajahnya, Novaria pun menggenggam Telapak Tangan Raphael. Raphael pun tersenyum dengan lebar dengan Kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Ya, aku mau!" Novaria dengan Senyum Bahagia serta air mata yang tersisa di wajahnya.
Mereka berdua sama-sama merasa bahagia. Sebuah Kembang api mulai meluncur di arah Langit. Mereka berdua pun saling mendekatkan wajahnya satu sama lain. Mereka saling mendekatkan bibir - bibir mereka setelahnya.
__ADS_1
Kedua bibir saling bertemu untuk berciuman. Mereka berdua pun berciuman dengan telapak tangan yang saling memegang erat ditemani sebuah Kembang api yang menyala di sekitar mereka….