
*****
Bell tanda masuk berbunyi, kami bertiga kemudian pergi ke Ruang kelas masing-masing. Pelajaran selanjutnya adalah Pelajaran olahraga. Aku dan Vincent mengambil pakaian olahraga masing-masing.
"Masuk ganti dimana Raph?"
"Ya di Ruang Ganti lah. Pake nanya." Sambil memasang nada tinggi sedikit.
"Hahaha, santai aja kali Raph. Yaudah yuk ke Ruang Ganti bareng."
"Yuk."
Kami berdua pergi ke Ruang Ganti yang tersedia. Tampak di depan Ruang ganti, banyak siswa kelasku yang sedang masuk ke dalam Ruang Ganti tersebut. Sontak kami berdua mengikuti dari belakang dan masuk secara bergiliran.
Ruang ganti tampak ramai dengan suara Siswa-siswa yang sedang berganti pakaian mereka. Ada juga yang sedang bercanda dengan temannya.
"Tubuhmu kurus sekali Rein. Hahahha." Ucap siswa Kelasku yang bernama Kroenzi.
"Gak sadar diri. Padahal tubuhmu sama saja denganku. Bisa-bisanya mengejekku."
"Yaelah Rein, Setidaknya tubuhku lebih berisi ketimbang tubuhmu."
"Berbeda sedikit tidak membuatmu terlihat baik. Intinya kau sama saja."
"APAA!! Kau mengajakku bertengkar?". Kroenzi memasang muka Marah.
"Lah kuterima tantanganmu. Sini kalo berani."
Mereka berdua tampak dari luar tidak akur. Namun, aku tau sebenernya bahwa mereka saling peduli satu sama lain. Mereka berdua hanya terhalang oleh gengsi mereka sendiri untuk menggungkapkan kepedulian mereka. Sejujurnya, aku juga tau bahwa mereka sebenarnya adalah teman masa kecil. Soalnya sewaktu aku menginjak bangku SMP, aku pernah sekelas dengan mereka berdua.
Mereka tampak seperti itu sejak dulu. Terlihat tidak akur satu sama lain. Tapi kalau kamu perhatikan dengan baik-baik tingkah laku mereka, maka kau akan tahu bahwa mereka itu saling peduli.
Vincent pun melerai mereka berdua yang ingin bertengkar.
"Sudahlah kalian berdua, kayak anak kecil aja masih bertengkar."
"Dia tuh Vin, tidak terima fakta."
"Ya aku juga berkata fakta tentangmu Enzi, kau malah marah."
Mereka berdua bukannya saling mendinginkan kepala mereka malah yang ada semakin membuat satu sama lain kesal. Aku pun berinisiatif ikut melerai mereka berdua.
"Hei sudahlah kalian berdua, aku tau kalau kalian sebenarnya saling peduli. Kalian berdua hanya gengsi untuk mengakui bahwa kalian saling peduli satu sama lain. Jujur saja, aku sebenarnya tidak ingin ikut campur akan masalah kalian berdua. Tapi kalau kalian membuat kerusuhan di Ruang Ganti, silahkan bertarung di Luar. Tunjukkan kejantanan kalian di Lapangan. Lakukan sebuah pertandingan, jika salah satu dari kalian kalah, maka yang kalah harus membuka isi hatinya dengan jujur."
Aku berbicara panjang lebar mengenai mereka berdua. Seisi siswa yang berada di Ruang Ganti pun tampak terkejut melihat aku berkata seperti itu. Entah apa yang ada di kepalaku hingga muncul kata-kata seperti itu.
Anak-anak yang mendengar hal itu tak lama kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, Raphael-Raphael. Bisa-bisanya kata-kata itu muncul dari mulut seorang murid yang memiliki stats dibawah rata-rata."
"Hahahaha iya tuh. Aduh ini terlalu lucu sih."
Mereka tertawa terbahak-bahak di depanku.
{Tch, inilah mengapa aku tidak ingin ikut campur dalam masalah ini. Omonganku hanya dianggap seperti nyamuk yang lewat.}
Selesai murid-murid berganti pakaian, mereka bergegas pergi ke Lapangan. Sudah ada seorang guru yang berada di Lapangan. Tampak guru olahraga yang bernama Pak Gritz berdiam diri di pinggir lapangan sembari menunggu murid-murid datang.
Para murid pun berkumpul di depannya sambil berbaris rapi. Pak Gritz pun memberikan komando untuk melakukan pemanasan.
"Lakukan Pemanasan SEKARANG!!" Dengan nada tegasnya.
"Baik Pak."
Kami semua melakukan pemanasan yang telah ditunjukkan oleh Pak Gritz. Selesai melakukan pemanasan, Pak Gritz pun langsung menyuruh barisan yang paling kanan untuk memutari lapangan sebanyak 3 kali.
"Dimulai dari yang kanan, Lari memutari lapangan sebanyak tiga kali. Diikuti dengan barisan selanjutnya. Apabila ada yang ketauan tidak berlari, maka bapak akan menambah porsi Lari kalian lagi sebanyak 5 kali."
Barisan paling kanan pun memulai berlari terlebih dahulu. Di lanjut dengan barisan yang berada di sampingnya dan seterusnya. Latihan dari pak Gritz memang sangat efektif untuk siswa-siswi seperti kami, karena latihannya masih bisa kami lakukan dengan mudah.
Aku berlari memutari Lapangan sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Semua murid selesai berlari, mereka tampak kelelahan karena hal itu. Tak terkecuali diriku yang juga kelelahan. Beda dengan Adam yang fisiknya memang kuat, sehingga dia tidak tampak seperti orang yang habis berlari.
Semuanya pun beristirahat dengan Meluruskan kaki mereka ke depan. Sembari semua murid duduk, pak Gritz memberikan hal-hal yang dilakukan dalam sesi olahraga Hari ini.
"Hari ini kita akan melakukan sesi olahraga yang baru ya anak-anak. Kita akan bermain sebuah permainan yang menggunakan segala tubuh kalian mulai dari kaki hingga kepala. Nama permainannya adalah Hit and Run. Sebuah permainan dimana terdiri dari 2 Tim. Salah satu tim akan bertugas menjadi seorang penjahat dan satu tim lagi akan bertugas menjadi penangkap. Permainan ini cukup mudah. Aturannya adalah Penjahat yang tertangkap oleh penangkap langsung dikeluarkan dari permainan."
Penjelasan dari Pak Gritz cukup dapat dipahami. Intinya ini adalah permainan dengan mengandalkan kecepatan dan kegesitan tubuh. Semoga saja aku satu tim dengan Vincent.
Salah satu murid mengacungkan tangannya dan bertanya kepada Pak Gritz.
"Pak, saya ingin bertanya."
"Apa itu?"
"Ada larangan dalam permainan ini?"
"Oh untuk itu larangannya hanyalah tidak boleh membunuh teman kalian. Cukup mudah, kalian diberikan kebebasan menggunakan cara apapun untuk kabur dari tangkapan para penangkap. Dan sebaliknya, para penangkap pun boleh menggunakan cara apapun untuk menangkap si Penjahat. Boleh menggunakan skill kalian. Bapak tidak melarang hal itu selama dalam hal yang aman. Intinya jika sudah melihat teman kalian pingsan/mengaku kalah, maka kalian tidak boleh melanjutkan penangkapan itu.'
Wah, ini permainan yang tidak cocok untukku. Karena sangat mengandalkan kemampuan individu dari masing-masing murid. Aku berharap masuk ke Tim Penangkap saja.
"Ya, karena kalian sudah selesai beristirahat maka bapak akan membagikan isi tim-timnya. Karena murid kelas 11-A berjumlah 28 murid, maka bapak akan membagi menjadi 14-14."
Pak Gritz tampak mengecek buku daftar siswa-siswi murid Kelas 11-A.
"Oke untuk tim Penangkap, bapak pilih Adam Roswell, Reinhart Joen, Vincent Astroze, Novaria Arizen, Joe Sant, Matt Busby, Xavier Tyrant, Gary Moore, Adela Agraze, Frans Muller, Leon Vanser, Tom Kluge, Michael Rotschild dan Luci Rotstein."
Tim Penangkap agak curang. Isinya rata-rata dipenuhi murid-murid berpotensi di Kelas 11-A. Malah aku jadi Tim Penjahat. Hah…
"Dan untuk Tim Penjahat terdiri dari. Kroenzi Zion, Raphael Ignite, Adrianne Rodselweise, Alvian Lucas, Leiva Moura, Isaak Autsterlitz, Norman Ansel, Raymond Domenech, Richard Abend, Alice Berg, Alianne Braun, Joseph Gordon, Aaron Koehler dan Clara Violet."
Wah, aku satu tim dengan Adrianne dan Kroenzi. Bisalah kami setidaknya mengimbangi Tim Penangkap.
"Dah, itu komposisi antar tim masing-masing. Silahkan kalian berkumpul dengan tim kalian masing-masing."
Semuanya pun berkumpul dengan masing-masing anggota timnya. Aku bergabung ke kerumunan tim Penjahat.
Para murid pun telah berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.
Ini dia yang kutunggu-tunggu dari Pak Gritz. Dia memiliki sebuah skill yang dapat membuat sebuah Ruang Dimensi tersendiri dan tidak tercampur dalam tatanan dunia ini. Hanya sebatas untuk melakukan sebuah olahraga di dalamnya.
Pak Gritz pun menjentikkan jarinya. Tempat yang tadinya lapangan sekolah pun sekarang berubah menjadi sebuah Ruangan nan luas yang berbeda. Sebuah markas berdiri di masing-masing tim. Banyak sekali bangunan-bangunan yang memiliki konsep sangat berbeda dengan dunia Asli.
Suara kencang pun bergema mendampingi Ruangan ini.
"Oke, permainan akan dimulai dalam waktu 5 menit, para penjahat boleh mencari tempat bersembunyi yang menurut kalian Aman. Ketika waktu sudah dimulai, maka tim Penangkap boleh mencari tempat para penjahat bersembunyi. Ingat, jika teman kalian sudah pingsan/menyerah, kalian tidak boleh melanjutkan penangkapannya. Karena mereka otomatis langsung dikeluarkan dari Ruang Dimensi ini."
Ternyata suara dari Pak Gritz. Sesuai instruksinya, kami semua pun membahas strategi terlebih dahulu sebelum memulai bersembunyi.
"Jadi siapa yang bakal mengambil alih komando di Tim ini?" Ucap Isaak.
Kami semua pun berpikir siapa yang cocok untuk menjadi Komando di tim ini. Karena komando akan memberikan sebuah perintah kepada yang lain.
"Bagaimana kalau aku saja yang jadi Komando?"
Kroenzi mengajukan dirinya untuk menjadi Komando. Anak-anak pun terlihat setuju-setuju saja bila Kroenzi yang menjadi Komando utama.
"Bagaimana yang lain? Apakah dari kalian ada yang keberatan bila Kroenzi yang mengambil alih komandonya?" Isaak pun menanyakan kepada para Anggota tim.
Seisi tim pun terdiam.
"Oke karena tidak ada yang menyanggah hal itu. Maka sudah disepakati bahwa Kroenzi yang akan mengambil alih Komando tim ini. Sisanya akan kuserahkan padanya."
Isaak mempersilahkan untuk Kroenzi berbicara sepatah kata kepada semua anggota.
"Oke, karena sekarang aku mengambil alih Komando saat ini. Maka aku akan memberitahu strategi yang bagus untuk kalian. Pertama, kau Raphael, aku memintamu untuk membuat sebuah alat komunikasi yang bisa digunakan dengan baik dan tidak terlalu besar."
{Hah.. dia menunjukku untuk membuat sebuah alat komunikasi? Apakah dia waras?} Dalam hatiku.
"Kenapa harus aku?"
"Kan hanya kamu yang mempunyai skill membuat sebuah alat-alat. Tolonglah untuk kali ini, aku ingin menang dari Reinhart." Memohon kepadaku dengan tulus.
__ADS_1
"Hmm, yaudah. Aku akan membuatnya. Tapi aku hanya bisa membuat satu."
"Tidak apa, aku mempunyai skill yang bisa mengcopy segala barang yang kupegang." Alice pun langsung meneruskan pembicaraannya.
Aku pun dengan segera menggunakan skill ku.
{Manifestation Equipment.}
Sebuah alat komunikasi yang kecil pun terbuat. Aku dengan cepat memberitahukan cara kerjanya kepada yang lain.
"Oke, untuk alat ini cara kerjanya cukup mudah. Kalian hanya perlu memasang alat ini di telinga kalian. Untuk berbicara, kalian bisa menekan alatnya dan berbicara saat itu. Karena alat ini sudah dilengkapi dengan recorder suara yang bisa kalian kirimkan kepada yang lain."
"Baiklah, selanjutnya Alice. Copy alat itu untuk kami semua."
Alice pun melakukan skillnya di depan kami semua, tampak salinan dari alat itu pun langsung terbuat satu persatu. Alice menggunakan skillnya dengan menyalin alat itu menjadi 14 untuk kami semua.
Alice pun selesai menyalin alatnya dengan cepat. Kami semua pun langsung memakai alat yang telah kubuat dan disalin oleh Alice.
Waktu tersisa 1 menit, Kroenzi dengan cepatnya memberikan perintah kepada kami semua melalui alat ini sembari menguji coba apakah alatnya bekerja dengan baik.
"Oke, kita langsung bersembunyi di tempat yang agak terpojok saja. Kita harus berkelompok untuk bersembunyi. Jangan ada yang berpisah sendiri-sendiri, aku yakin bahwa tim Penangkap akan mencarinya dengan berkelompok juga. Oke mulai sekarang langsung bersembunyi."
Kroenzi pun langsung pergi dengan Isaak. Semuanya pun juga langsung bersembunyi dengan berkelompok, Kecuali aku. Aku sendiri karena memang tidak ada yang bisa kulakukan selain membuat sebuah alat. Jadi tidak ada yang tertarik untuk berkelompok denganku.
Ya hal ini menjadi lebih mudah ketika aku sendirian. Aku bisa dengan bebasnya membuat sebuah jebakan di tempat persembunyianku. Aku bersembunyi di sebuah bangunan bertingkat tinggi.
Permainan dimulai, aku masih menaiki tingkat per tingkatnya untuk mencapai ke atas. Saat menaiki pun aku membuat sebuah jebakan menggunakan Skill ku di lantai paling bawah. Aku menaruh sebuah Landmine yang kubuat, jika ada seseorang yang menginjak Landmine itu, itu akan meledak tanpa waktu.
Aku mencapai di lantai atas, aku pun membuat sebuah teropong untuk memudahkan diriku dalam melihat gerakan-gerakan para Penangkap.
Di sebelah kanan, kulihat Alice, Alvian dan Alianne sedang bersembunyi di sebuah bangunan kecil. Kulihat mereka tampaknya bergegas dengan posisi yang siap untuk menyergap Penangkap yang masuk ke dalam bangunan itu.
Kulihat ke sebelah kiri , ada Aaron dan Joseph sedang menggunakan skill mereka untuk bersembunyi. Aaron memakai skill 'Transparency Ultimate' dan Joseph menggabungkannya dengan skill 'See-throught' agar mereka masih bisa melihat ketika di dalam sebuah ruangan transparan milik Gordon.
Kulihat juga dibawah ada Joe dan Matt yang sedang mencari para Penjahat. Mereka berlari sambil melihat sekeliling bangunan.
Aku pindah ke bagian belakang untuk mengecek area sekitarnya. Di belakang, ada Isaak dan Kroenzi yang sedang bersembunyi di reruntuhan bangunan. Tak jauh dari posisi mereka, ada Raymond, Richard, Clara, dan Norman sedang berjalan mencari sebuah tempat persembunyian.
Aku melihat ke arah memutar tampak juga terlihat Adrianne dan Leiva sedang mengumpulkan sebuah barang-barang yang bisa jadikan mereka senjata bila terdesak.
Melihat dari bangunan yang tinggi sangat seru sekali, disini kamu bisa melihat berbagai macam gerakan-gerakan yang lain. Tapi disisi lain aku heran, kenapa di Tim Penangkap hanya Joe dan Matt yang Mencari para Penjahat?
Kulihat ke Markas mereka, tampak para tim Penangkap masih berdiam disana. Seakan-akan menunggu Momentum untuk mereka maju.
Aku mencoba membuat sebuah teropong yang lebih tinggi kualitasnya.
Teropong yang kualitasnya lebih tinggi pun terbuat. Sebuah teropong yang menggunakan sinar inframerah di lensanya. Kulihat sekeliling lagi dengan cermat.
Astaga!! Di bawah jalanan ada 2 orang yang sedang menggali jalan di bawahnya. Aku pun dengan segera memberitahukannya pada anggota timku melalui Alat komunikasi yang kunamai 'Vicantroseo'.
(Ada yang bisa dengar suaraku?)
(Aku dengar, ada apa?)
(Dibawah jalanan ada 2 orang dari tim Penangkap yang menggali lubang di bawahnya.)
(Apa kau bilang?)
(Aku bilang ada 2 orang dari tim Penangkap yang sedang menggali lubang di bawah jalanan.)
(Baik, terimakasih infonya.)
Entah siapa yang berbicara itu. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas suaranya. Kulihat di markas tim Penangkap tiba-tiba ada satu orang yang menghilang dari sana.
Firasat buruk menghantuiku, seakan ada sebuah kejadian yang terjadi setelahnya.
Tiba-tiba Suara terdengar dari belakangku tiba-tiba.
"Menyerahlah Raphael."
Aku menoleh ke belakang. Adam menodongku dengan sebuah pedang yang berada tepat di belakang kepalaku.
__ADS_1