
Keesokan harinya….
Aku pergi menyelinap di Pagi hari agar tidak diketahui oleh Kak Lily. Bisa repot urusannya kalau dia mengetahui niatku yang ingin pergi ke Kawasan Burlinsen. Oh iya, aku memakai sebuah Hoodie hitam serta Masker putih untuk menutupi Wajahku.
Aku tidak mau seseorang disana mengenali bahwa aku berasal dari Keluarga Ignite. Aku berjalan melewati Kediaman Astroze.
"Hey Raphael!" Seseorang memanggilku dari dalam Kediaman Astroze.
Aku pun menoleh ke sumber suara. Ternyata itu berasal dari Vincent. Bagaimana bisa dia mengetahui bahwa ini diriku? Padahal aku sudah menutupi sebagian wajahku. Vincent pun berlari mendekat.
"Yah.. mau kemana kamu pakai Setelan Hoodie sama Masker kayak gitu?" Tanya dia.
Hmm… apa aku harus memberitahu niatku padanya? Kalau pun dia ikut, dia juga bisa menjadi bantuan untukku disana. Secara skill Mind Controlnya itu sangat dibutuhkan.
"Aku mau pergi ke Distrik Burlinsen.." jawabku dengan suara yang pelan karena tertutup masker.
Vincent cukup terkejut mendengarnya.
"Hah! Emang kamu mau ngapain ke sana? Kalau emang gak penting-penting banget, mending ga usah." balas dia dengan khawatir.
"Bisa dibilang ini sedikit penting. Karena ini menyangkut tentang diriku dan Novaria.." jawabku dengan tangan yang berada di saku Hoodie.
"Memangnya ada masalah apa kamu dan dia?"
Aku pun menjelaskan semuanya kepada Vincent. Kuharap dia bisa sedikit merahasiakannya pada yang lain. Aku memberitahunya bahwa niatku untuk pergi kesana untuk mencari sepasang Anting milik Novaria.
Selesai menjelaskan….
"Seperti itu.." gumam dia dengan tangan tangan yang mendekap dadanya serta kepala yang mengangguk.
"Rahasiakan hal itu! Aku percaya padamu." Sambil mengangkat jari telunjukku sebagai peringatan.
"Hmm… Aku boleh ikut? Kebetulan aku juga belum pernah kesana. Lebih baik juga pergi berdua daripada sendiri," ungkap Vincent.
Memang niatku untuk mengajaknya sebenarnya. Untungnya dia menyadari itu. Tanpa banyak cakap, aku pun menyetujui niatnya.
"Boleh.. tapi rahasiakan Identitasmu Vin. Jangan biarkan seseorang disana mengenali sosok dirimu." dengan intonasi suara yang naik.
"Baiklah, aku pergi mengganti baju dulu. Kamu tunggu di luar sebentar."
Vincent pun pergi memasuki kediamannya lagi. Sedangkan aku, aku menunggu di depan Kediamannya sembari mengecek Smartphone ku. Kebetulan, aku sudah memasang sebuah Alat Teleportasi di Kamarku.
Pagi tadi, aku memberitahu Jack untuk menukarkan beberapa Score. Aku melihat sebuah Alat Teleportasi yang bisa langsung memindahkan untuk sesaat. Tapi itu hanya bisa digunakan satu kali saja. Untuk berjaga-jaga jika sesuatu nanti tidak berjalan sesuai harapanku.
********
Beberapa menit berlalu…
Vincent akhirnya sudah selesai mengganti pakaiannya. Sama sepertiku, dia memakai sebuah Hoodie dan juga Masker untuk menutupi mulutnya.
"Ayo Raph.. kita berangkat sekarang." ucap Vincent sambil membuka sedikit masker penutup mulutnya.
Kami berdua pun pergi ke Jalan Besar dengan berjalan Kaki. Cukup beresiko jika memakai kendaraan kesana. Bisa saja seseorang mencurinya nanti. Apalagi Wilayahnya yang cukup sempit dan juga termasuk ke dalam Wilayah yang kumuh.
***********
Sampai di Stasiun Berlintz.
"Ahh, Akhirnya sampai di Berlintz!!" Vincent dengan mengangkat kedua tangannya.
Kawasan Burlinsen berada di Daerah Berlintz. Kota besar ini menyimpan sebuah Aib tentang Kriminalitasnya. Sebenarnya Pemerintah setempat tidak menganggap Burlinsen masuk ke dalam Wilayah mereka. Tapi karena letaknya memang berada di Kota ini, mau tidak mau masyarakat selalu menganggap Burlinsen bagian dari Berlintz.
__ADS_1
Letaknya yang di Ujung kota, masih cukup jauh dari Stasiun. Kalau berjalan kaki, akan memakan waktu yang lama.
"Vin, bagaimana kalau kita Naik Taxi saja?" tanyaku.
"Memangnya ada Taxi yang berani pergi ke Burlinsen? Kebanyakan dari mereka akan menolaknya demi keselamatan mereka," jawab dia dengan mengangkat kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan mengarah ke atas dan sejajar dengan pundak.
"Benar juga.." sambil menundukkan kepala ke bawah dengan jari telunjuk dan jempol berada di dagu.
Kebanyakan dari Transportasi disini, memutuskan hubungan mereka dengan Distrik Burlinsen. Cukup sulit untuk pergi kesana menggunakan Transportasi yang ada.
"Tapi kita bisa turun di Wriesen kalau memang mau naik Taxi. Sisanya kita tinggal jalan saja," saran Vincent.
"Ide yang bagus! Kita putuskan untuk naik Taxi saja."
Kamu berdua pun segera pergi ke tempat pemberhentian Taxi yang tak jauh dari Stasiun. Sambil menunggu Taxi datang, aku dan Vincent saling berbicara mengenai masalahnya.
"Bagaimana bisa seseorang yang berada di Burlinsen keluar dari distrik ya? Bukankah mustahil?" tanya Vincent.
"Justru itulah yang aku pikirkan. Kalau memang mustahil untuk keluar dari sana, bagaimana seseorang itu pergi ke Kawasan Augsburgert. Kuyakin dia bukan orang yang biasa-biasa saja." jawabku.
Aku cukup yakin bahwa yang membawa Antingnya merupakan seseorang yang memiliki nama di sana. Soalnya hanya orang yang mempunyai kemampuan yang tinggi untuk bisa keluar dari sana. Kalau kamu lemah, maka kamu akan terjebak di sana selamanya.
"Lawan kita kali ini sepertinya seorang yang terkenal di kawasan sana. Ini cukup berbeda dibandingkan melawan Monster di Evilanse World," ungkap Vincent.
"Kita tidak perlu melawannya. Kalau memang ada kesempatan untuk mendapatkan antingnya tanpa pertarungan, kenapa tidak? Jujur saja, aku tak yakin kita bisa mengalahkannya." jawabku dengan sedikit pesimis.
"Sepertinya itu cukup Mustahil Raph. Di tempat itu, di tempat yang semuanya bergantung pada kekuatan. Tidak akan ada yang namanya Ketenangan di sana. Semuanya ditentukan oleh Tingkat kekuatanmu."
Sepertinya memang mustahil untuk terlihat dalam pertarungan. Hah.. aku harus berjuang keras disana nantinya.
Di tengah pembicaraan kami, sebuah Taxi pun berhenti.
Kami berdua pun membuka pintu Taxinya dan Masuk ke dalam Mobil.
"Mau pergi kemana?" tanya sang Sopir.
"Ke Wriesen.. tolong antarkan kami kesana." ucap Vincent yang duduk berada di samping Supir.
"Baik.."
Sang Sopir langsung menancapkan gasnya.
Di tengah perjalanan..
"Ada perlu apa kalian berdua pergi ke Wriesen?" tanya sang sopir sembari fokus mengemudi.
Vincent menjawab pertanyaan itu dengan kebohongan. "Kami berdua ingin mengunjungi rumah saudara kami yang berada di sana. Sekalian main sih.."
"Ohh.. saya kira kalian berdua ingin pergi ke Burlinsen. Kebanyakan orang yang turun disana, rata-rata tujuan mereka adalah Burlinsen."
"Haha! Gak mungkin lah Pak. Kami berdua mana berani pergi ke Distrik itu." Sanggahnya dengan tertawa.
"Hahaha! Mana tau gitu, kalian berdua nekat pergi ke sana. Kudengar dari beberapa supir Taxi, mereka yang mengantarkan ke Wriesen, selalu melihat sebuah bayangan di sekitar Burlinsen. Itu cukup mengerikan bagi kami semua yang bekerja sebagai seorang Supir. Bahkan salah seorang Supir yang sedang mengantarkan seorang Pengunjung, pernah di bunuh dengan sadis disana. Maka dari itu kami semua memutuskan Jalur untuk pergi ke Distrik Burlinsen."
"Begitu ya.. memang sih, cukup berbahaya bagi warga biasa untuk pergi kesana. Lebih baik untuk memutuskan daripada memaksanya." jawab Vincent.
Mereka berdua asyik mengobrol di sepanjang perjalanan. Aku hanya duduk diam sambil mengamati sekitar. Makin lama, kurasa Suasananya makin berat di luar. Entah mengapa jarang sekali melihat seseorang berlalu lalang.
Cukup sunyi dan juga mengerikan.
"Kenapa makin lama jadi makin sepi sekali jalan.. apa ada sesuatu di sekitar sini?" tanya ku kepada sang Supir.
__ADS_1
"Ah! Kalian tidak tau rumor di sekitar sini ya." Sambil melihat ke arah ku yang berada di belakang sejenak.
Aku dan Vincent pun mulai bingung. Rumor apalagi yang menyebar di sekitar sini.
"Memangnya rumor apa pak?" tanya Vincent.
"Beberapa hari yang lalu, terjadi kejar mengejar Polisi dengan sebuah Organisasi Kriminal di daerah Burlinsen. Mereka keluar untuk melakukan sebuah Transaksi obat-obatan illegal. Polisi menyadari bahwa ada aktivitas illegal yang telah dilakukan sebuah Organisasi. Akhirnya banyak polisi yang menyergap kemari untuk menangkap Organisasi Illegal itu." sang Supir cerita dengan panjang lebarnya mengenai suatu Kejadian beberapa hari lalu sambil melihat ke arah Jalanan di sampingnya.
"Apa yang terjadi dengan Organisasinya?" tanya ku.
"Organisasi itu masih kokoh berdiri. Sedangkan di Pihak Kepolisian merenggut banyak sekali Korban Jiwa. Tragedi Berdarah itu membuat Pihak Kepolisian akhirnya mundur dari Penyelidikan dan Penyergapannya."
Sekuat apa Organisasi itu? Sampai-sampai pihak kepolisian saja harus menerima Korban Jiwa dengan jumlah banyak. Ah! Aku baru teringat.
"Kenapa hanya Pihak Kepolisian saja yang banyak korban berjatuhan?" tanya ku kembali.
Pasti ini ada hubungannya dengan seseorang bertato mawar di pipinya serta Angka 05.
"Kudengar, dari Pihak Organisasi Kriminal itu hanya ada 3 orang saja. Sedangkan Kepolisian, berjumlah 50 orang lebih. Itulah mengapa Korban Banyak berjatuhan di Pihak Kepolisian. Sedangkan Organisasi Kriminal itu, tidak mengalami kerusakan yang berarti."
{ 3 orang melawan 50 orang? Dan 3 orang itu menang. Aku tidak bisa membayangkan sekuat apa Organisasi itu }
"Gila!! Bagaimana bisa mereka mengalahkan Pihak kepolisian yang sangat menang jumlah. Apa mereka semua seorang Ranker?" gumam Vincent.
Kami berdua mulai berpikir-pikir bagaimana cara mereka melakukan itu semua.
"Oh iya, kudengar mereka menyebut organisasi mereka itu dengan sebutan Rosenbluten. Di wajah mereka terdapat Tatto yang melambangkan sebuah Mawar Merah dan juga ada Sebuah Angka yang berbeda-beda."
Sudah kuduga.. pasti ada hubungannya dengan seseorang yang mengambil Anting Novaria. Sejujurnya aku cukup Ragu-ragu ketika mendengar bagaimana organisasi itu melawan Kepolisian.
"Hey Raphael, bukankah itu ciri-ciri dari orang yang kau cari?" tanya Vincent sambil menoleh ke arahku.
"Benar Vin. Itu ciri-ciri dari orang yang mengambil antingnya Novaria."
"Kalian berdua sedang mencari orang itu?" Ucap Sang supir sambil melihat ke arah Kami Berdua.
"Benar pak, kami berdua mencari orang dengan ciri-ciri itu."
Setelah aku menjawabnya, sang supir itu mengerem mendadak menghentikan laju mobilnya. Aku dan Vincent pun sedikit terpental akibat supir yang mengerem mendadak itu. Kepala Vincent juga terjedot oleh Dashboard mobilnya.
"Sakit!" Sambil memegang kepalanya. "Kenapa ngerem Mendadak sih pak? Jadi kejedot kan jadinya!" ucap Vincent dengan nada Tinggi.
"Kalian berdua.." sambil menoleh ke arah Kami. "Sebaiknya kalian berdua mengurungkan niat kalian untuk mencari Organisasi itu. Atau tidak Hidup kalian akan terancam!" sang Supir memberikan peringatan kepada kami berdua dengan matanya yang melotot itu.
"Maaf pak! Aku tidak bisa menurutimu. Aku mencari dia karena ada sebuah kepentingan." Balasku.
"Kalau begitu, aku tidak bisa mengantarkan kalian sampai Wriesen. Aku tidak ingin nyawaku juga ikut terancam karena mengantarkan kalian berdua."
Sang supir terlihat sangat ketakutan. Aku pun memakluminya karena memang itu cukup berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berhenti di tengah jalan. Akhirnya aku pun memutuskan untuk keluar dari Mobil.
Sambil mengeluarkan sebuah Uang dari saku Hoodie ku, aku memberikannya pada sang Supir. "Ini pak Ongkosnya. Lebihnya ambil saja." Sambil memberikan uang. "Ayo Vin! Kita lanjutkan dengan berjalan kaki."
"Baiklah Raph." jawab Vincent. Dia pun keluar dari mobil setelah aku memintanya.
"Maaf! Aku tidak bisa mengantarkan kalian berdua sampai tujuan," ucap sang Supir dengan sedikit menyesal.
"Tidak apa Pak, aku paham dengan posisimu. Sekarang, kembalilah ke Pusat kota. Sebelum mereka menyadarinya," balasku sambil memerintahkan sang Supir untuk kembali. Aku tid
ak mau melibatkan orang asing di masalahku ini.
Sang supir pun berputar arah untuk kembali ke Pusat kota. Aku dan Vincent berjalan melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi tiba…
__ADS_1