
***
Keesokan harinya.
Aku bergegas untuk mandi di pagi hari setelah melakukan aktivitas olahragaku. Keringat membasahi tubuh setelah berolahraga selama kurang lebih 2 jam. Membersihkan seluruh tubuh dengan sangat detil. Sesudah membersihkan diri, aku memakai pakaian untuk berangkat ke sekolah.
Setelah memakai seragam sekolah, aku pergi ke Ruang Makan untuk sarapan terlebih dahulu. Disana terdapat kakakku yang sedang sarapan juga. Akupun langsung memberikan pesanan makanannya kepada pelayan yang mengurus bagian dapur.
Menunggu sejenak sembari bermain smartphone. Tak lama, makananku datang. Aku pun menaruh Smartphoneku di Meja untuk menjaga adab saat makan. Orang tuaku selalu menasehati ku ketika aku makan sambil bermain smartphoneku.
Kulihat kak Lily sudah selesai menyantap sarapannya. Dia bergegas pergi dari ruangan. Aku melanjutkan menyantap makananku dengan tenang. Aku melupakan suatu hal yang sangat penting sepertinya dalam pikiranku.
"Ah iya. Uang jajanku belum dikasih sama kak Lily. Aku harus makan dengan cepat dan menyusulnya sebelum dia pergi."
Uang jajanku yang selalu diberi oleh kak Lily belum kuterima hari ini. Aku bergegas makan dengan cepat. Selesainya aku menyantap makanan, tak lupa aku berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan nikmatnya pada hari ini.
"Terimakasih Makanannya."
Aku pun langsung pergi meninggalkan ruangan serta menyusul Kak Lily yang hendak pergi ke Kampusnya. Aku berlari dengan kencang menuju luar.
Kulihat, kak Lily ingin masuk ke dalam mobilnya. Reflek aku pun memanggil Namanya dengan kencang.
"Kak Lily."
Kak Lily pun merespon teriakanku. Niat kak Lily yang ingin masuk ke dalam mobil pun tertunda karena diriku.
"Ada apasih Rap, pagi-pagi udah teriak aja."
"Uang jajannya belum dikasih. Hehehe."
"Yaelah, ternyata hanya itu."
Kak Lily pun langsung membuka dompetnya dan memberikan sejumlah uang cash kepadaku.
"Nih ambil."
"Makasih kak."
Aku Terpikirkan untuk pergi ke sekolah dengan menumpang ke kak Lily daripada berjalan dari sini sampai ke stasiun Stuttgarter. Aku terlalu malas untuk pergi ke sekolah menggunakan mobil pribadiku. Parkiran sekolah selalu ramai dikunjungi oleh kendaraan para pengurus sekolah serta para pengajar.
"Kak, boleh numpang sampe stasiun?" Sambil memasang muka cengengesan.
"Yaudah boleh, cepetan kalau mau numpang. Kakak juga buru-buru ini."
"Oke kak, tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu."
"Yaudah sana."
Aku pun berlari kembali ke arah Kamarku untuk mengambil tas sekolah. Berlari melewati tangga untuk mencapai ke ruanganku terasa melelahkan. Sesampainya di Ruanganku, aku pun langsung membawa tas tanpa memikirkan keadaan barang yang berjatuhan.
Aku berlari kembali ke tempat Kak Lily berada. Kak Lily menunggu dalam mobilnya sambil melihat smartphonenya. Sontak aku langsung membuka pintu dan duduk di sebelah Kak Lily yang mengendarai Mobilnya.
"Pasang seat beltnya."
"Iya ini lagi mau pake kak."
Aku memasang seat belt dengan segera. Seat belt sudah kupasang kak Lily pun langsung menyetir ke Arah Kota.
Di sela-sela menyetir, kak Lily mengajakku mengobrol dengannya.
"Tumben gak jalan kaki kamu. Biasanya juga jalan kaki ke stasiun."
"Hari ini lagi males aja jalan kaki."
"Ohh begitu. Kamu di sekolah gimana? Baik kan?"
"Baik-baik aja kalo di sekolah. Gak ada masalah apa-apa kak. Tenang aja.'
"Awas kamu kalo buat masalah di sekolah. Kakak gak kasih kamu Uang lagi."
"Iya kak. Tenang aja gabakal juga aku membuat masalah di sekolah. Lagipula ada nama baik keluarga yang kujaga."
"Bagus, tanamkan hal itu kedalam dirimu. Jangan memalukan martabat keluarga yang telah dijaga oleh ayah dan ibu. Kak Kaizo juga sih ada pengaruh di Ranker. Apalagi dia termasuk kedalam Top 5 Ranker."
__ADS_1
"Aman." Sambil mengacungkan jempol ke Kak Lily.
***
Sesampainya di Stasiun, kak Lily memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Memudahkan ku untuk mengejar jadwal kereta. Aku keluar dari mobil dan memberi salam kepada kak Lily.
"Dah kak, hati-hati di jalan."
"Iya, dah juga Rapha."
Kak Lily pun pergi. Aku langsung masuk ke dalam Stasiun agar tidak ketinggalan jadwal kereta. Menunggu di peron 5 sembari melihat kereta menuju stasiun Freiburg datang. Suasana di sekitar peron begitu ramai karena dipenuhi orang-orang yang ingin berangkat kerja dan sekolah juga.
Kereta pun datang, aku berebutan masuk ke dalam Kereta. Suasana berdesak-desakan mengiringi seisi Kereta yang tak terlalu banyak rangkaiannya. Sangat sedikit ruang untuk bergerak bebas yang dimana kejahatan seksual lebih banyak terjadi disaat-saat seperti ini.
Pintu kereta pun tertutup, Kereta berjalan menuju stasiun-stasiun berikutnya. Di tengah perjalanan kereta, aku melihat seseorang yang hendak melakukan kejahatan seksual kepada seorang siswi sekolah.
Tanpa banyak basa-basi, aku bergegas memegang tangan si penjahat seksual tersebut.
"Apa-apaan ini. Lepaskan tanganku."
Penumpang lain dengan cepatnya melirik ke arahku. Sontak aku pun langsung memberitahu penumpang lain bahwa pria ini mencoba untuk melakukan sebuah kejahatan seksual kepada seorang siswi.
"Dia ini mencoba untuk melakukan sebuah kejahatan pada perempuan itu. Panggilkan petugas segera biar pria ini diturunkan di Stasiun selanjutnya."
Tampak lirikan sinis penumpang kepada Pria penjahat ini. Siswi tersebut juga nampak sedikit terkejut melihat hal itu. Petugas pun datang. Aku menyerahkan penjahat ini kepada petugas tersebut. Aku diminta untuk ikut sebagai saksi mata.
"Kamu ikut juga ya buat jadi saksi mata nanti."
"Baik pak."
Di Stasiun selanjutnya, aku pun turun bersamaan dengan petugas dan penjahat itu. Kami bertiga pergi menuju kantor kepolisian terdekat. Sebenarnya ini memakan waktu untuk pergi ke sekolah. Kayaknya aku bakalan telat. Aku segera memberi kabar Vincent untuk memberitahu guru nanti bahwa aku telat. Aku menelpon Vincent di sela-sela waktu menuju ke Kepolisian.
"Halo, Raph. Ada apa?"
"Aku bakalan telat Vin. Nanti kabari guru yang masuk ya kalau aku telat. Aku lagi ngurus di kepolisian."
"Ngapain kamu di Kepolisian?"
"Yaudah oke."
Vincent menutup teleponnya. Sesampainya di kepolisian, aku juga ikut menjadi saksi mata disaat penjahat itu diinterogasi oleh pihak kepolisian.
"Coba saksi mata bisa jelaskan secara pandangan anda?"
"Jadi gini pak, awal-awal aku melihat gerak gerik dia seperti aneh. Aku pun curiga bahwa dia ingin melakukan kejahatan. Aku diamkan sejenak untuk melihat apa yang akan dia lakukan. Tak berselang lama, si pria ini ingin memegang bokong siswi yang ada di depannya. Sontak aku langsung mencegah tangannya untuk memegang bokong si siswi tadi."
"Baiklah, kami paham perkataanmu. Terimakasih atas penjelasannya."
"Sama-sama."
Sesi interogasi berjalan selama 20 menit lamanya. Aku diberi pertanyaan dari pihak kepolisian untuk menanyakan segala macam tentang kejadian tersebut.
Interogasi pun akhirnya selesai, kepolisian pun berterimakasih kepada ku karena telah menjadi saksi mata.
"Terimakasih Tuan sudah membantu tugas kepolisian dalam memberikan pernyataan-pernyataan tentang kejahatan tersebut."
"Sama-sama pak, kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Saya buru-buru ingin pergi ke Sekolah."
"Oh iya, maaf menggangu waktu anda yang berharga untuk sekali lagi."
"Tidak apa pak."
Kami berdua pun berjabat tangan setelah itu.
Aku langsung pergi ke dalam stasiun Trossingen. Karena interogasi tersebut memakan waktu sekitar 30 menit lebih aku harus mengorbankan waktuku untuk pergi ke Sekolah. Penjahat sialan.
*****
Sampai di stasiun Freiburg, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mencapai Holvenheim Highschool. Perjalanan dengan berjalan kaki biasanya memakan waktu sekitar 10-20 menitan. Sekarang sudah jam 09.20, sedangkan sekolah dimulai jam 09.00. Aku sudah telat sekitar 20 menit.
Aku berlari menuju Sekolahku agar memotong waktu perjalanan menjadi lebih cepat. Berlari sekitar 2 km. Berlari disekitar trotoar dengan menghindari berbagai orang yang sedang berjalan. Lelah tak menjadi penghalang bagiku untuk pergi ke Sekolah.
5 menit berlalu, aku pun sampai di Sekolahku. Naasnya gerbang sekolah sudah ditutup. Aku mencoba berpikir agar bisa masuk ke dalam.
__ADS_1
Ide muncul di pikiranku. Kebetulan di bagian belakang sekolah ada sebuah tembok yang bisa ku panjat. Temboknya tidak terlalu tinggi, karena itu aku mencoba untuk pergi ke Belakang Sekolah.
Pertama-tama aku mencoba memanjat dengan mengandalkan tangan dan kakiku. Hal itu tidak terlalu membantu sih. Aku melihat-lihat di sekitar apakah ada barang yang bisa kupakai untuk memanjat. Setelah kulihat-lihat di sekitar, ternyata ada sebuah batang pohon yang tumbang. Itu bisa menjadi sebuah tumpuan untukku memanjat.
Aku langsung menata batang-batang pohon tersebut agar dapat di naiki. Akhirnya, aku pun berhasil memanjat berkat batang tumpuan tersebut. Aku menyelinap ke kelasku dengan pelan agar tidak diketahui oleh para pengajar.
Menyelinap sembari bersembunyi agar guru tidak melihatku. Menaiki tangga dengan pelan sembari mengecek keadaan di lantai atas. Suasana tampak sunyi yang membuat diriku mudah untuk pergi ke kelas secara diam-diam.
Aku sampai tepat di depan kelasku. Kulihat sudah ada guru yang mengajar di kelasku. Tak kehabisan ide, aku menunggu guru tersebut menulis di papan tulis agar pandangannya fokus ke papan tulis.
Menunggu beberapa waktu, akhirnya guru pun menulis di papan tulis. Ini kesempatanku untuk menyelinap masuk. Aku berjalan pelan memasuki ruangan. Tampak murid-murid melihat ke arahku tak terkecuali Vincent.
Aku langsung memberi isyarat untuk diem menggunakan jariku.
"HUSSTT!!"
Aku langsung menuju ke tempat kursiku berada. Ahh, tampak lega setelah berhasil menyelinap ke kursiku. Vincent menepuk pundakku dari belakang.
"Hey Raph, nice bung. Kau seperti seorang ninja."
"Berisik ah, nanti ketauan. Aku ingin mencatat materi yang di papan tulis dulu. Biar terlihat aku sudah masuk daritadi."
"Hahaha, sesuai janji ya. Nanti istirahat ceritakan apa yang terjadi."
"Iya tenang aja udah. Fokus ke depan aja."
Aku pun langsung mencatat materi yang diterangkan di depan.
*****
Bell istirahat berbunyi, Vincent langsung mengajakku ke Kantin.
"Ayo Raph, tempat biasa."
"Yuk."
Berjalan menuju Kantin.
Kantin ramai untuk hari ini, membuat kami berdua tampak kebingungan untuk mencari tempat duduk. Kulihat dari kejauhan, Laurencia memberi lambaian kepada kami. Kami pun mendekati Laurencia. Tempat duduk di sampingnya kosong. Kami berdua pun duduk di sebelahnya.
"Udah baikan kah Raph?"
"Udah. Makanya ini masuk sekolah."
"Baguslah kalau begitu. Btw terimakasih ya atas waktu itu."
"Sama-sama."
Kami bertiga memakan pesanan yang kami pesan sebelumnya. Saat sedang makan, Vincent menanyakan kejadian yang membuatku telat masuk.
"Ada apa emang Raph tadi? Sampe telat gitu."
"Ceritanya gini nih."
Aku pun menceritakan secara detail kejadian di Kereta. Menjelaskan dengan bahasa yang enak dipakai, sesekali aku menggunakan gerakan-gerakan tangan.
Sesudah selesai menceritakan kejadian, reaksi mereka berdua tampak terkejut dan memasang muka jijik
"Gila ya tuh orang, bisa-bisanya loh pengen ngelakuin kayak gituan ke Siswi sekolah."
"Iya ren, rada-rada emang itu orang. Kayak gak pernah naik kereta."
"Ya mau gimana lagi Vin, Ren. Orang mah kalau udah dapet kesempatan kayak gitu. Kalau gak tahan bisa aja ngelakuin kayak gituan."
"Iya juga sih. Tapi kan tetap saja perbuatan itu salah." Lauren dengan nada tingginya.
"Ya bagaimanapun juga tetap saja itu salah. Gak ada yang bilang itu benar."
"Yaudah Gak Usah bahas kek gituan. Lanjut makannya aja, daripada keburu bell masuk berbunyi." Aku berbicara
"Oke Raphael."
Kami bertiga makan dengan tenang.
__ADS_1