Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 15 Pertarungan tak terlihat


__ADS_3

Reinhart memulai menyerang terlebih dahulu. Dia melakukan tinjuan yang cukup kencang kepada Kroenzi. Kroenzi menahan tinjuan itu dengan Defence Absolute miliknya. Ditahan dengan baik oleh Kroenzi dengan kedua tangannya yang disilangkan.


Reinhart menyerang terus menerus dengan pukulannya yang memiliki kekuatan yang sangat kuat berkat peningkatan Serangan miliknya. Sedangkan Kroenzi hanya menahan segala serangan yang diberikan oleh Reinhart. Bertahan dengan menggunakan kedua tangannya tanpa bergerak sedikitpun dari tempat dia berdiri.


Mereka berdua sama-sama memiliki kekuatan meningkatkan, hanya saja perbedaannya adalah menyerang dan bertahan. Kroenzi dengan Peningkatan Bertahannya dan Reinhart dengan Peningkatan Serangannya membuat mereka berdua tampak serasi. Ini yang membuat mereka berteman sejak kecil.


Segala serangan dan pertahanan yang mereka berikan tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi mereka berdua. Pertarungannya terasa monoton dan membosankan jika hanya Memukul dan Menahan saja. Apalagi Kroenzi terlihat seperti tidak ingin melancarkan sebuah serangan kepada Reinhart.


Tampak di Layar satu lagi yang memperlihatkan Clara melawan Leon dan Tom. Leon dan Tom yang masih terkena tekanan Gravity Zone itu sepertinya sudah menyerah keduanya. Mereka berdua tinggal menunggu waktu saja untuk kembali ke Dunia Nyata. Clara pun menghentikan Gravity Zonenya karena Leon dan Tom sudah menyerah.


Clara tampak kelelahan setelah menahan Gravity Zonenya dengan cukup lama.


"Gimana rasanya ya kalau masuk ke Dalam Gravity Zonenya Clara?" Alvian bergumam sembari melihat ke Layar.


Kalau memang ingin tahu rasanya ditekan oleh Gravity Zone milik Clara, itu sama dengan diinjak oleh 10 Gajah secara bersamaan sepertinya. Karena kulihat Tom dan Leon yang memiliki Statistik lumayan bagus saja tidak bisa apa-apa dengan itu.


"Rasanya seperti Diinjak 10 Gajah secara bersamaan kalau dilihat." Aku merespon Gumaman Alvian.


"Darimana kau tahu Raphael?"


"Kalau disamakan dengan Situasi ku juga, aku bisa merasakan bahwa tubuh mereka terasa seperti diinjak 10 gajah. Tapi aku juga tidak tahu secara detail karena belum pernah merasakannya."


"Aah.. ternyata menggunakan penalaran darimu ya. Tidak ada salahnya juga sih jika sekedar menebak. Tapi sepertinya memang iya, kalau dilihat dari cara Tom dan Leon yang terbaring di sana. Mereka bahkan tidak bisa menggerakkan tangannya."


"Ya, itulah yang kumaksud. Mereka yang memiliki Statistik lumayan bagus aja tidak bisa berbuat apa-apa."


"Benar juga. Penalaranmu cukup masuk akal Raphael. Sepertinya kau pintar ya."


Alvian memuji penalaranku yang membuatku tampak lumayan senang dengan pujian itu. Jarang-jarang aku dipuji oleh teman sekelas.


"Tidak kok. Hehehe." Menyangkal dengan tertawa.


"Hahaha, ekspresi mukamu sangat lucu ketika mendapat pujian itu. Jangan berlebihan lah Raphael. Tapi memang benar kok menurutku kamu itu Pintar."


"Terimakasih Alvian."


Melihat Pertarungan Isaak dengan Vincent yang sangat-sangat perlu sebuah pemikiran untuk melihatnya. Mereka berdua tidak berhadapan secara langsung, mengandalkan sebuah pemikiran yang dimana jika salah satu dari mereka keluar terlebih dahulu, maka sudah dipastikan akan kalah saat itu juga.


Mereka berdua dari tadi hanya diam dan bersembunyi saja menunggu yang lain datang sepertinya.


Kembali melihat ke layar yang menunjukkan pertarungan Kroenzi dan Reinhart. Kali ini Kroenzi yang tadinya hanya bertahan mulai menunjukkan sebuah serangan kepada Reinhart. Kroenzi menggunakan pukulannya untuk melawan Reinhart.


Reinhart yang melihat hal itu, bergerak menghindari pukulannya. Sembari menghindar dia mengayunkan pukulan tepat di Wajah Kroenzi. Karena kerasnya tubuh Kroenzi berkat skill Peningkatan Pertahanannya, pukulan yang mengenai wajahnya tidak berdampak apa-apa. Kepalanya bahkan tidak bergerak sama sekali setelah menerima Pukulan itu.


Kroenzi melihat tangan Reinhart yang menempel pada wajahnya. Dia langsung menangkap tangan itu. Segera menyingkirkan tangan itu menjauh dari Wajahnya. Reinhart yang melihat tangan kanannya ditangkap oleh Kroenzi langsung menyerang kembali menggunakan Kakinya. Mengincar kaki Kroenzi untuk membuatnya terjatuh.


Namun usahanya terasa sia-sia karena yang terjadi malah kaki Kroenzi tidak bergerak. Walau sudah menggunakan Peningkatan Serangannya, skillnya tampak tidak berguna dihadapan Kroenzi yang memiliki Peningkatan Pertahanan.


Kroenzi mengangkat tubuh Reinhart dan melemparnya ke arah depan. Tubuh Reinhart melayang di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh ke Tanah.


"Keren banget Skill Kroenzi. Tubuhnya menjadi sangat Kuat sekali dalam menerima Serangan." Alvian berbicara sendiri lagi.


"Oh iya Alvian, aku cukup penasaran dengan hal ini."


"Penasaran dengan apa?" Sambil meminum teh yang dibeli tadi.

__ADS_1


"Skill milikmu. Apa skillmu?"


"Ah itu. Skill ku sih tidak terlalu bagus dalam pertarungan."


"Memang kamu punya skill apa?" Aku bertanya sembari meminum minuman berkarbonasi yang kubeli.


"Ya… hanya sebuah skill untuk mengendalikan gelombang elektromagnetik sih."


"Ohh.. jadi begitu. Tapi skillmu sangat berguna untuk komunikasi. Kamu bisa mematikan gelombang elektromagnetik dari sebuah radio."


"Ya begitulah. Hanya saja skill ini tidak terlalu berguna untuk bertarung secara langsung."


"Kenapa kamu tidak bertarung di belakang layar? Lebih efektif begitu kan."


"Niatnya sih begitu. Cuman aku tidak terlalu baik untuk bersembunyi, aku merasa seperti tidak memiliki apa-apa kalau begini." Alvian tampak pesimis dengan skillnya.


"Sudahlah Alvian, kita sama-sama memiliki skill yang tidak terlalu baik untuk bertarung secara lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah berlatih sekeras mungkin."


"Kau benar Raphael."


Alvian yang tadinya tampak pesimis pun perlahan berubah menjadi sedikit optimis dengan skill yang dimilikinya.


Aku merangkul pundak Alvian agar dia tampak bersemangat kembali.


"Mau latihan bareng? Kebetulan aku juga lagi latihan agar tubuhku bisa sedikit bertambah kuat."


"Boleh sih Raphael. Tapi jangan sekarang-sekarang. Aku lagi ada kesibukan sekarang-sekarang ini."


"Santai aja, kabarin kalau memang kamu lagi senggang. Aku bisa menemanimu untuk latihan bersama."


"Yaudah nih."


Aku memberikan Ponsel ku pada Alvian untuk di scan nomorku. Alvian pun mengeluarkan ponselnya dan menscan Kode QR nomorku.


"Sudah Raphael. Nanti kalau senggang aku kabarin."


"Oke." Sambil memberikan Pose dengan jari telunjuk ku membentuk Huruf O menempel dengan jempol.


Melanjutkan melihat pertarungan Kroenzi dengan Reinhart. Reinhart yang tadi terlempar bisa mendarat dengan baik saat ingin sampai di Tanah. Dia melakukan sebuah gerakan yang hampir mustahil dilakukan oleh sebagian orang. Memutari tubuhnya saat berada di Udara.


Alhasil dia dapat mendarat dengan baik berkat tubuhnya yang memutar tadi. Kroenzi langsung berlari menuju Reinhart dengan cepat. Kroenzi melakukan sebuah pukulan tepat di bagian wajah Reinhart yang baru saja mendarat itu.


Reinhart yang melihat hal itu langsung memasang kedua tangannya untuk menahan pukulan Kroenzi. Pukulan itu tertahan, hanya saja kedua tangan Reinhart yang menahan itu tampak terlempar ke belakang dan terbuka. Melihat celah yang terbuka setelah pukulan itu, Kroenzi menyerangnya dengan sekali lagi.


{Kali ini pasti kena.} Dalam hatiku melihat pukulan selanjutnya.


Takdir berkata lain, Reinhart dapat menghindarinya dengan membuat tubuhnya jatuh ke bawah dengan sengaja. Pukulan Kroenzi pun meleset. Melihat Kroenzi yang tubuhnya menjadi tidak stabil karena pukulannya yang meleset, Reinhart langsung menendang perut Kroenzi dengan lututnya.


Kroenzi yang terkena tepat di bagian perut itu tampak terjungkir dengan kencang. Reinhart dengan cepat mendorong kakinya untuk berdiri dengan cepat. Reinhart pun langsung berdiri tanpa duduk dengan dorongan kakinya itu.


Pergi menyerang balik Kroenzi yang sehabis terjungkir berkat Tendangan dengan lututnya itu. Reinhart langsung menginjak bagian badan Kroenzi. Kroenzi menahan injakkan itu menggunakan telapak tangannya.


Mereka berdua sama-sama berusaha dengan kuat untuk menyerang dan menahan serangannya. Injakkan yang Reinhart berikan berhasil di tahan dengan baik oleh Kroenzi itu.


{Kekuatan tubuhnya bukan main-main sepertinya. Dia yang sehabis terjungkir pun masih mampu menahan Kaki Reinhart yang berusaha menginjak tubuhnya.}

__ADS_1


Kroenzi mendorong Kaki Reinhart yang berusaha menginjak dirinya. Reinhart pun terpental tidak jauh darinya. Keseimbangan Reinhart mulai goyah saat ini karena dorongan itu. Kakinya tidak bisa bertumpu dengan baik.


Kroenzi langsung bangun dari jatuhnya dengan cepat. Mereka berdua ini, memiliki tubuh yang sama-sama dilatih dengan baik. Mereka berdua tampak berlari ke arah satu sama lain. Sama-sama melakukan pukulan dengan kencang.


Pukulan mereka saling bertemu satu sama lain. Bisa dilihat dari puing-puing sekitar yang berterbangan karena pukulan mereka berdua yang bertemu satu sama lain. Membuat sebuah efek gelombang kejut yang sangat kencang.


Mereka berdua saling memukuli satu sama lain dengan cepat. Membuat pukulan mereka berdua tidak dapat dilihat dari Siarannya.


"Hey kenapa ini, aku tidak bisa melihat gerakan-gerakan mereka."


"Iya benar, hanya terlihat sebuah bayangan dari mereka berdua."


"Apakah siaran ini Rusak?"


Mereka yang sedang melihat tampak ricuh karena Siarannya yang tidak dapat mengikuti pergerakan mereka berdua yang sangat cepat.


Pertarungan yang cepat itu berlangsung cukup lama, sehingga yang lain sepertinya sudah kesal karena hanya bisa melihat sebuah bayangannya saja. Hingga akhirnya salah satu dari mereka terpental jauh berkat sebuah serangan.


Yang terpental adalah Kroenzi. Terpental menembus bangunan-bangunan yang berada di belakangnya. Sontak semua yang melihat itu memasang ekspresi terkejut. Bayangkan saja bila kalian terpental sejauh 100 meter menembus bangunan-bangunan yang menghalau kalian.


Tapi yang lebih bikin terkejutnya ialah Kroenzi yang masih bisa berdiri setelah terpental itu. Seakan-akan tubuhnya itu memiliki tulang sekuat Baja. Kroenzi dan Reinhart sama-sama berlari menuju arah masing-masing dengan sangat cepat.


Kamera siaran pun tidak bisa mengikuti cepatnya gerakan mereka. Mereka berdua menyerang dan bertahan secara bersamaan. Berkali-kali Reinhart melakukan sebuah pukulan dan tendangan kepada Kroenzi. Begitupun sebaliknya, Kroenzi juga berkali-kali menyerang Reinhart dengan pukulan miliknya.


Kalau begini, hasilnya waktu yang akan menentukan kemenangan mereka. Siapa yang bertahan lebih lama dia yang akan menang. Mereka berdua berpindah-pindah tempat dengan cepat sehingga menghasilkan sebuah angin yang kencang akibat pergerakan mereka berdua.


Di layar, aku hanya bisa melihat sebuah bayangan saja ketika mereka bergerak. Kamera hanya bisa merekam bayangannya saja setelah mereka bergerak. Sehingga menghasilkan sebuah delay dari pertarungan itu.


"Hey Raphael, kamu merasa tegang gak?"


Alvian berbicara padaku disaat aku sedang tegang akan hasil pertarungan mereka berdua.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berbicara untuk menurunkan ketegangan karena Pertarungannya."


"Begitu ya. Memang sih pertarungan Kroenzi melawan Reinhart mempunya tensi yang sangat panas. Sehingga membuat mereka yang menontonnya akan merasakan sebuah ketegangan. Namun sejujurnya, ini adalah pertarungan yang sangat seru bagiku."


Aku berbicara panjang lebar kepada Alvian untuk menurunkan ketegangannya.


"Hahaha, benar juga. Ini adalah pertarungan yang menurutku paling seru dari permainan ini."


"Aku juga berpikiran sama denganmu Alvian."


Ketegangan yang tadi terjadi perlahan berubah menjadi sebuah ketenangan karena pembicaraan itu. Sebuah pembicaraan simpel yang dapat mengubah suasana di sekitar. Kami berdua melanjutkan menonton pertarungannya dengan seksama sampai-sampai tidak peduli dengan siaran yang lain.


{Wow, Vincent menang melawan Isaak. Aku tidak sempat melihat pertarungannya berakhir karena fokus melihat pertarungan Kroenzi dengan Reinhart.}


Pertarungan Vincent dengan Isaak sudah usai. Vincent memenangkan pertarungannya tanpa terluka sedikitpun. Memang benar-benar kuat dia dalam hal pemikiran. Vincent adalah salah satu orang yang memiliki sebuah pemikiran tersendirinya dalam melakukan pertarungan. Kalau dia melihat kesempatan untuk menang dari pertarungannya lebih tinggi daripada kekalahannya, dia akan meladeni hal itu.


Karena pertarungan Vincent dan Isaak sudah selesai, Tampak Vincent pergi dari tempatnya menuju ke Arah Novaria yang tak jauh dari tempat dia berdiri sekarang.


Clara juga yang tadi sedang istirahat mulai bergerak kembali. Sepertinya kekuatannya sudah mulai pulih sedikit demi sedikit.


Akan seru kembali dengan semua yang tersisa sudah menyelesaikan pertarungannya masing-masing. Tim Penjahat dengan yang tersisa hanya Kroenzi dan Clara serta Tim Penangkap yang tersisa Vincent, Novaria dan Reinhart.

__ADS_1


Mereka semua akan menunjukkan kemampuan seriusnya dalam pertarungan terakhir ini.


__ADS_2