Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 62 Sedikit Kecurangan tidaklah buruk


__ADS_3

Leona mulai bergerak dengan kecepatan Tinggi. Hingga membentuk sebuah Bayangan semu dirinya.


   TZZZ…


   Dalam sekejap, dia sudah berada di depan ketiga Monster itu. Salah satu King Goblin itu Mengayunkan Tongkatnya ke Arah Leona. Leona mundur ke belakang selangkah, dengan santainya.


   Tongkat yang dia ayunkan itu berdiri di tanah sekarang. Leona menaiki Tingkat itu dan berlari sambil menebas tangan King Goblin itu. Sebuah luka terbuat berkat tebasannya yang terlihat cepat.


   King Goblin itu terlihat kesakitan dengan tangannya yang penuh luka. Dia mengayunkan kembali tongkatnya ke atas. Leona masih bisa bertahan di atas tangan itu dengan seimbang. King Goblin itu menggunakan Tangan kirinya untuk menggenggam Leona.


   Leona langsung menebas kembali jari-jari monster itu hingga terputus satu persatu. Leona berlari di atas tangan yang memegang tongkat dengan cepat. Dia mengarah ke bagian kepala King Goblin itu.


   Akan tetapi, salah satu King Orcs yang tersisa mulai memukul ke arah Leona yang berada di tangan King Goblin.


   Dia mengayunkan Tongkatnya dengan cepat dan kuat. Leona masih dapat menghindari serangannya dengan melompat ke belakang melewati Tongkat itu.


   Yang ada, Malah Tongkat itu mengenai persis di tangan King Goblin itu sampai terpisah dari tubuhnya. Tangannya pun tergeletak di tanah dengan Darah yang mengalir. King Goblin terlihat mengaum kesakitan.


   AAKHHH!!


   Sambil memegangi pundak bahu tangan kanannya. Taring pun ditunjukkan, seolah ingin membalas dendam. King Goblin itu berbalik menyerang ke Arah King Orcs yang memukul tangannya sampai terputus.


   Pertarungan ke dua Raja Spesies mereka dimulai. Namun, tak bertahan lama King Goblin itu dipukul dengan Tongkat oleh King Orcs di bagian Lehernya.


   Saking kencangnya, angin yang dihasilkan sampai bisa terlihat. Kepala King Goblin itu bergerak dengan Paksa ke kanan dengan Leher yang terbelit itu.


   Dengan kepala yang mengarah ke Kanan, King Goblin masih berusaha untuk menyerang King Orcs itu. Leona yang diam sambil melihat ke dua Monster itu bertarung pun, sedikit menurunkan Fokusnya. 


   Dia menoleh ke Arah 1 King Goblin lagi yang mulai bergerak ke Arahnya. Dia berlari mendekati King Goblin itu. King Goblin itu terlihat mengangkat Tongkatnya dengan tinggi. Leona melihat Tongkat yang sepertinya akan Dia ayunkan ke arahnya.


   Dan benar saja, Tongkat itu Diayunkan dengan cepat ke bawah. Leona menggerakkan tubuhnya ke kanan menghindari Serangannya. 


  BUKK!!


   Tongkat itu menghantam ke Tanah sampai menimbulkan bunyi yang kencang. Leona bergerak ke arah celah di bawah Kaki King Goblin itu. Dia menebas Kaki kanan sambil memutari Kaki itu. Sampai pada akhir, dia menancapkan Salah satu daggernya sampai membuat Kaki Goblin terputus.


   King Goblin itu hilang keseimbangan dan mulai terjatuh ke Kanan. Namun, masih bisa diakali olehnya dengan menekuk Kaki kirinya. Leona menyadari hal itu dengan cepat dan langsung menebas kembali Kaki Kirinya. Sekarang, telapak kakinya sudah hilang semua. Dia tersungkur dan terbaring di Tanah.


   Leona menaiki Tubuh King Goblinnya. Dengan hanya tersisa tongkat yang dia pegang, King Goblin itu mulai memukul ke bagian Dadanya yang diinjak oleh Leona. 


   BUKK!!


   Leona masih bisa menghindar.


   AAKKHHH!!


 


   King Goblin itu kesakitan karena serangannya. Dia memukul secara bertubi-tubi ke arah Dadanya sambil mengincar Leona. Saking nahasnya, Leona hanya bergerak menghindar saja sembari dia memukul tubuhnya sendiri.


   Sampai pada suatu ketika, King Goblin itu akhirnya tewas dengan tangannya sendiri. 


   "Monster yang tak Punya akal," gumam Raphael.


   Di sisi lain, Pertarungan King Goblin dan King Orcs tadi berhasil dimenangkan oleh King Orcs. Dengan leher yang menekuk ke kanan, King Goblin itu tewas di tempat sambil kepalanya dihancurkan oleh Tongkat milik King Orcs.


   King Orcs dan Leona saling melirik satu sama Lain. Ibarat, mereka sedang memperebutkan Tahta siapa yang terkuat di antara mereka.


   Mereka saling maju mendekat ke masing-masing. Sampai, mereka bertemu di tengah Arena. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tajam. Aura yang mereka keluarkan sedikit mengerikan dan Mencekam. Dengan Leona yang berwarna merah kehitaman, serta King Orcs itu berwarna hitam bagaikan sang Raja para Monster.


   "LEONA DAN KING ORCS ITU SALING MENATAP DENGAN TAJAMNYA SEAKAN-AKAN MENGINTIMIDASI SATU SAMA LAIN!" Teriak Ryne.


   "Hahaha… Si Kecil itu boleh juga," Gumam Jimmy.


   King Orcs mulai mengayunkan Tongkatnya ke bawah. Leona menghindar ke kiri dari serangan itu. Melihat Leona yang menghindar ke kiri, ujung tongkat yang berada di tanah itu langsung dia geser mengikuti arah Leona berada. Leona melihat itu dan melompat dengan cepat. 


   Leona melemparkan salah satu Dagger sembari melompat. 


  TUKK!!


  Satu Dagger tertancap tepat di Leher King Orcs. King Orcs merasa kesakitan dengan menjerit sekuat Mungkin.


  AKKHHH!!!


   Suaranya menggelegar memenuhi isi Ruangan. King Orcs langsung menyerang secara membabi buta dengan mengayunkan, menghantamkan, menggeser tongkatnya secara bergantian. Leona menghindar dari semua serangan yang diarahkan padanya.


   Dengan satu Dagger di tangan kanan yang dia genggam, dia berlari dan melompat ke arah Dagger yang tertancap di Leher King Orcs itu. Dia mengambilnya dan mencabut Dagger yang tertancap di sana.


  Sambil mendorong kakinya ke depan untuk membuat King Orcs itu jatuh. Sesuai dugaannya, King Orcs itu terjatuh berkat tenaga dorongan yang diberikan Leona.


  BUKK!!


   Leona berlari memutari tubuh King Orcs yang tergeletak itu sembari menancapkan salah satu Daggernya di tubuh King Orcs. Sebuah luka besetan terbuat berkat tancapan itu yang digerakkan. Luka besar terbuka di Tangan kiri King Orcs. Dengan tubuh yang tersungkur, King Orcs tampak menghantamkan Tongkatnya ke bawah. Leona yang melihat pergerakannya, langsung sedikit menjaga jarak.


  King Orcs itu pun berdiri kembali dengan luka besar yang terbuka di tangan kirinya. Dia terlihat membuka mulutnya sambil menunjukkan gigi taring yang lumayan besar. Terlihat, sebuah Uap muncul dari mulutnya itu.


   Seperti sedang menghela nafasnya. Sedangkan Leona, dia hanya memasang wajah yang dingin tak berekspresi. Seakan-akan, tidak ada yang perlu ditakuti dari King Orcs itu. King Orcs itu menghantamkan kembali Tongkatnya ke bawah.


   Sebuah retakan dan juga guncangan muncul setelah dia menghantamkan Tubuhnya. Retakan itu menuju ke arah Leona yang sedang berdiri dengan menggenggam sepasang Dagger yang dialiri Listrik berwarna merah kehitaman.


    Sebuah lubang hasil retakan terbuat. Arena terpecah belah menjadi 2 bagian. Kekuatan yang mengerikan dari Seekor King Orcs. Leona langsung berlari mendekati King Orcs itu dengan cepat. 


   BZZZTT!!


   Dalam sekejap dia sudah berada di depan King Orcs itu. 

__ADS_1


   "Maaf kalau aku mempermainkanmu. Sekarang aku akan mengakhirinya dengan cepat," ucap Leona sambil bersiap-siap untuk menebas.


   Leona mulai berlari memutar dan langsung menaiki tubuh King Orcs itu. Tebasan mulai terlihat di tubuh King Orcs. Memutari lengannya yang besar, Leona tetap menuju sampai ke Atas. 


   Sampai di Bahu King Orcs itu, dia berdiri dengan gagahnya di samping kepala King Orcs yang melihat ke arahnya. Leona langsung menusukkan kedua Daggernya di kedua bola mata King Orcs itu.


   Kemudian dia turun untuk menghindari genggaman King Orcs yang menuju ke arahnya. King Orcs itu terlihat kesakitan sambil memegangi kedua matanya yang tertusuk itu. Leona yang melihatnya tak berpikir panjang dan langsung menyerang kembali. Sekarang, dia melompat dengan tinggi sejajar dengan Dada King Orcs itu yang tingginya sekitar 5 meter. 


   Dia menancapkan kembali Daggernya di tengah Dada King Orcsnya. Lalu dia mencabut Daggernya dan menusuk berkali-kali dengan cepat dan tak pandang bulu. Mereka semua yang melihatnya langsung merasa ketakutan dengan Kesadisan Leona.


   Dia menusuk terus menerus tanpa ampun sampai King Orcs itu mati perlahan karena Kehabisan darah.


   King Orcs itu pun terjatuh ke tanah dengan Luka tusukan sebanyak 50x lebih. Leona menang dalam pertarungan itu…


   Raphael langsung bangun dari duduknya. Dia berdiri sambil memegangi Saku celananya yang berisi Poseidon's Water Potion. Bergerak ke arah Ujung dari Tempat penonton dengan perlahan. Seakan, dia ingin melompat dari situ.


   "PERTARUNGAN YANG MENARIK DARI LEONA!! BERI TEPUK TANGAN KEPADANYA," teriak Ryne sambil menepuk tangannya.


   Semua yang ada di Dalam Ruangan bertepuk tangan atas apresiasi terhadap Leona. 


    "YAH!! POTENSI RANKER DENGAN KEKUATAN TINGGI SUDAH TERLIHAT DI-" Sebelum Ryne menyelesaikan ucapannya, Raphael langsung melompat dari Tempat penonton. Dia terjun dengan cepat tanpa bantuan apapun.


   BUKK!!


   Raphael sudah sampai ke Permukaan Tanah. "Sini…" ucap Ryne sambil terlihat tak menyangka. 


   Semua pandangan tertuju padanya sekarang. Leona pun menoleh ke Arah Raphael. 


   "HAHAHA!! Aku suka dengan cara Anakmu menarik perhatiannya Zircon!" Jimmy dengan bersemangat dan tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Zircon.


   "Anak Itu…" Zircon sedikit kesal melihat Raphael yang tiba-tiba mengambil perhatian yang didapatkan oleh Leona.


   "Yoo!" cetus Raphael sambil mengangkat tangan kanannya.


   Leona terlihat sedikit kesal melihat Raphael yang tiba-tiba melompat. 


    "Mau apa kau kemari? Apa untuk mengambil seluruh perhatian yang kudapatkan?" tanya Leona dengan tatapan kesal ke arah Raphael.


    "Tidak! Aku hanya ingin melakukan Ujiannya," sanggah Raphael.


    "WOW!! KEDUA ANGGOTA KELUARGA NO 2 DAN NO 3 SALING BERHADAPAN. SEPERTINYA AKAN SERU MELIHAT KEDUA ORANG INI SALING BERMUSUHAN!!"


      "Terserah kau saja. Aku akan pergi dengan cepat." ucap Leona.


    Leona pun pergi menuju Lorong dan meninggalkan Raphael serta Arena Pertarungannya. Berkat perhatian yang diambil paksa oleh Raphael, kini semua mata tertuju ke arahnya dengan perasaan yang sama. Yaitu perasaan ketika merasa kesal dengan seseorang yang tiba-tiba menyerobot bagian mereka.


    Raphael terlihat sudah siap untuk bertarung. Dia memunculkan sebuah Pedang dan Juga Pistol. Dia langsung memakai serangan terkuatnya sejak awal. 


    "Mungkin, ini caranya untuk memulai Ujiannya. Baiklah, sesuai kemauannya, kita akan mulai sekarang." Ucap Ryne.


   Satu Monster tingkat tinggi muncul di hadapan Raphael. Raphael terkejut dengan apa yang muncul di hadapannya itu. Seakan tak percaya.


   "A-APA!!" Sambil memelototkan matanya.


   Lagi dan Lagi.. Raphael harus dihadapkan dengan sebuah Minotaur. Minotaur berada pada Tingkat A dengan tubuh dan juga Kapak besar yang dia pegang. Dan yang lebih mengerikannya lagi, Minotaur memiliki Skill yang mempunyai daya ledak yang besar.


   Hati Raphael sedikit goyah saat ini. Untungnya, dengan sedikit keberanian yang dia punya berkat pengalamannya yang pernah mengalahkan satu Minotaur. Dia masih bersiap Untung menghadapinya.


   Leona pun menoleh ke belakang melihat Raphael dan Minotaur itu dari Lorong keluar. Sepertinya dia ingin melihat pertarungan Raphael. Sambil menyenderkan Bahunya kanannya di dinding, dia melihat dengan fokus bagaimana Pertarungan akan berjalan.


   Raphael tak memasang sama sekali kuda-kuda. Dia mengaktifkan Unique skill miliknya 'Future Sight'. Sebuah cahaya muncul di pupil Mata Raphael setelah dia mengaktifkan Unique Skillnya.


   HUAKKHHH!!


   Minotaur itu Meraum dengan Kencang dengan Kapak yang dia angkat ke atas. Dia pun berlari ke arah Raphael. Raphael hanya berdiam diri disana, mungkin dalam Penglihatannya, dia bisa melihat apa yang akan dilakukan Minotaur itu.


   Minotaur berlari dengan membuat sebuah guncangan di setiap Langkahnya. Raphael menatap ke Minotaur itu dengan tajam setajam-tajamnya. Bagaikan Mata Elang.


     Minotaur itu melayangkan Kapak besarnya. Raphael menekuk sedikit badannya ke kanan menghindari Kapaknya. Sebuah Kapak menghantam tepat di sampingnya. Kemudian, Minotaur mengangkat kembali dan melayangkan ke samping. Raphael masih membungkukkan badannya ke belakang saat ini.


   Kapaknya melayang tepat di atas Tubuh Raphael yang membungkuk itu. Raphael langsung berdiri dan menodongkan Pistol ke arah Tangan kiri Minotaur itu. 


   DORR!!


   Peluru tepat mengenai bahu tangan kirinya. Minotaur itu terlihat kesakitan dengan peluru yang menembus bahunya. Dia menyerang kembali Raphael dengan melayangkan kapaknya lebih cepat dari yang tadi.


   Raphael masih bisa menghindari semua serangan itu. Macam-macam Hasil dari hentakan Kapaknya itu pun terbentuk di Tanah. Raphael berjalan mundur perlahan sambil menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.


   Sampai pada satu situasi, dia terpojok dengan sebuah Dinding di belakangnya. Terlihat, sebuah Kapak akan melayang ke arah Kepalanya. Raphael langsung menahan Kapak itu dengan Bilah pedang yang dipegangnya di tangan Kanan.


   Kapak itu tertahan dengan pedangnya. Raut wajah ekspresi Raphael menunjukkan dia sedang kesulitan saat ini dengan giginya yang terlihat saling bersentuhan dengan alis yang mengerut itu.


   Raphael menodongkan kembali Pistolnya ke arah Minotaur. 


   DORR DORRR DORRR


   Beberapa peluru menancap di Tubuhnya. Tapi, tenaga dari Minotaur itu tak menurun sama sekali. Raphael terlihat tak kuat lagi menahan Kapaknya yang memaksa di layangkan itu. Tangan Raphael bergetar dengan setengah mulutnya terbuka dan tertutup dengan Gigi yang saling terapatkan itu.


   (SIAL!! Aku tidak tahu tenaganya sekuat ini. Andai saja aku tadi tidak mempermainkannya seperti apa yang Leona lakukan tadi. Mungkin aku tidak ada di Posisi yang terpojok begini.) Dalam hati Raphael.


   Kesalahan Fatal terbuat akibat ego Raphael. Minotaur itu Mendorong Kapaknya dengan sekuat tenaganya.


   "AKK!!" Suara Raphael yang terlihat keberatan untuk menahannya kembali.


    Hanya ada 1 cara untuk membalikkan keadaan. Dengan menggunakan Poseidon's Water Potion yang ada di sakunya. Tapi, Raphael tidak tahu dengan pasti apakah Sebuah Ramuan dari luar boleh dipakai saat Ujian. 

__ADS_1


   Terpaksa, Raphael harus mengulur waktu hingga mencari momen yang pas untuk menggunakan Poseidon's Water Potion itu. Raphael pun melepas pedangnya serta Melompat ke kiri secara bersamaan. Kapak itu tertancap tepat di Dinding.


   Raphael yang sudah menghindar itu pun langsung membuat jarak yang cukup jauh. Minotaur menoleh ke Arah Raphael. Dia mengambil kembali Kapaknya yang tertancap itu dan berlari mengejar Raphael.


   "Anakmu terlihat Kesulitan.. apa kau tidak ingin menghentikan Ujiannya?" tanya Jimmy kepada Zircon.


   "Biarkan saja.. biar dia memilih jalan dia sendiri disini. Aku tidak ingin ikut campur agar dia bisa bertambah kuat nantinya," balas Zircon.


   Minotaur itu menyerang dengan membabi buta. Raphael menghindari serangan itu semua dengan cepat dan gesitnya. Andai kata, kesialan menimpa Raphael sekarang. Mungkin dia akan langsung gagal.


   Raphael terlihat kesulitan dengan menepis segala serangan kapak itu dengan pedangnya. Terlihat juga, bilah pedangnya sudah retak dan tak sanggup lagi untuk menahan lagi. Minotaur itu melompat ke arah Raphael sambil mengangkat Kapaknya.


   BUAKKK!!


   Kapak itu menghantam ke Tanah hingga menyebabkan sebuah Gumpalan asam yang memenuhi Arenanya. Asap itu menutupi Penglihatan semua orang.


   "Aku tidak bisa melihat apa-apa.." 


    "Sial!! Bagaimana pertarungannya berjalan." 


    "Pasti Orang itu sudah kalah saat ini."


  


   Segala ucapan terdengar dari arah Kursi Penonton. Mereka semua memikirkan Hal yang sama. 


   "Ini waktunya…" 


   Raphael mengeluarkan Poseidon's Water Potion itu dari saku dan segera meminumnya. Untung saja penglihatan mereka semua terganggu. Walaupun ini dianggap sebuah kecurangan, tak ada yang bisa dapat dilakukannya selain meminum Potion itu.


   Raphael merasa tubuhnya terlihat berbeda. Lebih ringan dan juga lebih bertenaga dibandingkan sebelumnya. Efeknya langsung bekerja secara cepat. Raphael langsung menyerang kembali dengan Asap yang menutupi Pandangan.


   Dia bergerak lebih cepat dan juga, penglihatannya sedikit meningkat. Dengan pedang dan juga Pistol yang dia genggam, dia menebas dan juga menembak tubuh Minotaur itu secara bergantian. Dia juga terkadang menusuk dan juga melayangkan pedang ke arah Kepala Minotaur itu.


   Sampai, Tanduk yang dimiliki Minotaur itu pun patah berkat Tebasan Pedang Raphael. Asap mulai menghilang secara perlahan.. semua orang sekarang dapat melihat bagaimana pertarungannya terjadi.


   "Apa!! Keadaan langsung berbalik? Hanya dengan sebuah Asap." 


   "Apa yang terjadi di dalam sana sampai-sampai keadaannya berbalik arah dan dia mendominasi sekarang.."


   Kejutan diberikan oleh Raphael. Kedua tanduk itu sudah patah dan tergeletak di Tanah. Ekspresi Raphael juga terlihat lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Dia menyerang menggunakan pola yang sama seperti Leona pakai tadi.


   Bergerak ke kanan dan kiri serta memutari tubuh Minotaur dengan cepat. Sembari menebas dan menembak dari berbagai arah. Minotaur itu terlihat memutari tubuhnya mengikuti Raphael. Namun, saking cepatnya Raphael, Minotaur itu terlihat kebingungan dan tak sanggup mengikuti arah Raphael berputar.


   Segala serangan mengarah ke bagian Vital Minotaur itu. Minotaur hanya bisa melayangkan Kapaknya tak terarah.


   Di lorong.. Mata Leona terlihat Terbelalak. Dia memelintirkan bibirnya serta mengerutkan alisnya. Seperti Tak Percaya dengan apa yang dia lihat itu. 


    Raphael terus menerus memaksakan tubuhnya dengan Efek Potionnya yang masih tersisa 1 menit saja. Dia terus menerus menyerang dari berbagai arah dan mengincar bagian vital Minotaur itu. Sembari menghindari segala serangan yang mengarah padanya.


   Sambil Giginya saling menggigit satu sama lain, dan juga, mata Raphael yang terlihat memerah lebih gelap dari biasanya. Dia bergerak bagaikan sebuah Suara hingga hanya bisa melihat bayangan semu saja.


   Menyerang sambil terkadang melompat dan juga berlari melewati Celah kaki Minotaur yang terbuka. 


   AAKKHHH


   Minotaur terlihat mengalami sakit yang amat pedih setelah menerima segala serangan yang Raphael berikan. Dia melihat ke atas sembari membuka mulutnya lebar-lebar serta matanya yang terpejam itu. Sambil mengeluarkan suara Auman.


   Sampai pada suatu Momen, Raphael menapaki Pundak Minotaur itu. Raphael langsung melompat ke belakang dengan Dorongan yang diberikan Kakinya. Dalam situasi yang melayang, Raphael menarik pelatuk itu dan mengarahkannya ke bagian Kepala Minotaur itu.


   DORRR…


   Peluru keluar dari pistol dan terbang dengan cepat menuju Kepala Minotaur. 


   TASS!!


   Peluru menembus kepala Minotaur itu. Minotaur terlihat termenung dengan Memegang kapaknya dan juga kepala yang melihat ke atas. Matanya sudah terpejam, darah mengalir dengan derasnya yang berwarna hijau. Perlahan, tubuh Minotaur itu terjatuh ke belakang.


   Raphael berhasil membunuh Minotaur itu. Disaat yang bersamaan, Efek dari Potion itu sudah habis. Nafas Raphael terengah-engah berkat tubuhnya yang dipaksa bergerak dengan cepat. 


   "Sial.. dadaku sakit sekali." Sambil memegangi bagian dada kirinya.


   Raphael sesak Nafas dan juga tak bisa mengembalikan Ritme pernafasan yang baik. 


   "Hem.. kukira dia hanya mengucapkan omong kosong." Leona sambil sambil tersenyum tipis ke arah Raphael.


   Leona pun berjalan kembali melewati Lorong untuk keluar. Raphael menoleh ke arah Leona.


   "Hah..Hah… yang penting aku tidak beromong kosong dan membuktikan ucapan ku," gumam Raphael dengan Nafas yang terengah-engah.


   "WOW, WOW, WOWWWW.. Sang Bintang baru Bersinar. RAPHAELLLLL IGNITEEEE!! Dengan hebatnya dia menunjukkan pertarungan yang spektakuler." teriak Ryne.


   "Hahaha.. Anakmu memiliki Bakat yang tinggi Zircon. Kuharap dia bisa membantu Asosiasi kedepannya."


    Zircon yang melihat anaknya berhasil Lulus itu terlihat senang dengan senyuman lebar terlihat di Wajahnya. "Baguslah Raphael.. aku bangga denganmu saat ini." 


   Suara tepukan terdengar lebih kuat dari sebelumnya. 


   "Kemampuan yang bagus bung!" 


    "Kukira dia hanya seorang yang biasa saja.. ternyata seorang yang terkuat di Ruangan ini." 


    "Nice Brother, aku akan jadi Penggemarmu suatu saat nanti.."


   Teriakan mereka semua membuat Raphael sedikit senang. Walaupun hasil yang dia dapat berkat kecurangan. Namun, apa salahnya menggunakan Sebuah Potion. Toh, Potion hanya meningkatkan sedikit saja. Pengalaman Raphael jauh lebih luas dibandingkan Efek Potionnya.

__ADS_1


   Ini semua Berkat Evilanse World yang dibuat oleh Castrophe…


__ADS_2