
Di tempat yang Gelap….
KREKK..
Sebuah pintu terbuka. Sebuah langkah Kaki terdengar memasuki Ruangan.
"Bagaimana keadaan bisnis kita?"
Suara dari seseorang yang sedang duduk dengan mata merah yang bersinar di tengah kegelapan.
"Bisnisnya berjalan aman Tuan.. kita mendapatkan banyak sekali Profit dari Bisnis narkotika kita." Salah seorang menggunakan kacamata yang terlihat gelap.
Orang yang sedang itu tampak mengambil sebuah gelas berisi wine.
GUKK..
Dia meneguk Wine itu sekali. "Bagus.. kita bisa melanjutkan rencana kita selanjutnya nanti." Sambil membuka setengah mulutnya dan tersenyum jahat.
"Sebelum itu, ada hal yang ingin saya sampaikan." Sambil membuka buku di tangannya.
"Apa?" tanya dia.
"Aku mendengar kabar dari Divisi no 4 bahwa ada suatu kelompok yang ingin mengganggu bisnis kita.."
Orang yang duduk sambil menyilangkan kakinya dengan tangan yang memainkan gelas yang berisi wine.
"Ahh.. dari dia kah.. kalau memang ada seseorang yang ingin ikut campur dalam bisnis kita, sesuai dengan cara kerja kita. Hapuskan keberadaannya tanpa ada barang bukti di TKP."
"Baik Tuan. Saya akan menyampaikannya ke Divisi 4 nanti."
Orang itu pun pergi meninggalkan Ruangan setelahnya. Si mata merah itu berdiri dari duduknya dengan Wine yang masih dia pegang. Dia pergi melihat ke arah Perkotaan besar dari balik jendela yang besar.
Di luar sana Hujan Deras. Membuat suasana semakin mencekam.
"Tak akan kubiarkan seorang pun mengganggu Rencana yang telah kubuat sejak lama.." sambil mulutnya terbuka Lebar dengan bayangan yang terbentuk di Kaca Besar itu.
BZZTTT!!
***************
Yah.. tak kusangka Hari berlalu dengan cepat. Sekarang sudah masuk bulan September saja. Sudah 2 bulan aku dan Novaria berpacaran. Walaupun banyak sekali masalah yang datang saat itu, untungnya hubungan kami berdua masih terjalin dengan baik.
"Sebentar lagi hari libur.. bagaimana kalau kita Liburan bareng?" ajak Leon.
Ide yang bagus.. sudah lama aku tidak pergi berlibur ke suatu tempat. Biasanya aku hanya menghabiskan waktuku di rumah dan terkadang berjalan-jalan bersama Novaria.
"Boleh tuh Leon.. aku juga udah lama gak liburan nih.." balas Vincent sambil menekuk kan tangan kanannya di belakang kepala.
Hahaha.. Padahal Vincent juga setiap hari berada liburan dia. Tak ada hal yang membuat dia bosan.
"Padahal kamu Tiap hari juga berasa Liburan Vin," balasku.
"Maksudku bukan Liburan yang kayak gitu. Pergi kemana kek gitu, belum pernah kita berlibur bersama sepertinya," ucap Vincent.
Tak ada salahnya sih.. dari awal kita masuk ke sekolah ini, belum pernah kita melakukan yang namanya Liburan bersama. Tahun lalu aku ingat.. aku berlibur bersama Keluargaku ke Jepang.
Tak terlalu seru juga sih disana. Apalagi tujuan keluarga ku pergi ke sana hanyalah Urusan Diplomasi. Jadi tak banyak waktu untuk bepergian untuk berkeliling Kota.
"Masa cuman kita bertiga.. kayaknya kurang seru nih," tutur Leon sambil mengelus dagunya.
"Ya ajak Alice sama Novaria aja sekalian. Masa mereka berdua ga diajak," timpal diriku.
"Kalau mereka berdua mah sudah pasti ikut. Apalagi Novaria, kalau kamu ikut pasti dia juga ikut. Kayak gak tau aja Novaria selalu ikut kalau ada Kamu Raph." Balas Leon dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Terus? Memangnya mau ajak siapa lagi?" tanya ku kembali.
"Kita ajak aja sekelas gak sih? Biar makin rame gitu.." saran Vincent.
Sarannya gak buruk.. tapi juga gak terlalu bagus. Kalau rame malah yang ada Chaos nantinya. Dan juga, kayaknya gak semua orang bakal mau kalau diajak.
__ADS_1
"Saran yang bagus Vin. Mari kita bicarakan nanti di Kelas dengan mereka semua. Yang pasti, kita habiskan dulu makanan dan minuman yang kita pesan. Waktu istirahat sebentar lagi habis," balas Leon sambil memakan sebuah Spaghetti.
Kalau Leon setuju ya.. mau tidak mau aku juga gak keberatan dengan itu. Semoga saja situasi nanti tidak terlalu Chaos karena banyaknya orang yang ikut.
Aku pun meminum sebuah Minuman Coklat dengan Choco chips di atasnya dengan sedotan…
************
Di kelas…
"Baiklah.. itu saja yang bapak berikan. Untuk pertemuan berikutnya, semoga semua sudah mengerti dengan pelajarannya. Bapak permisi dulu." Ucap Pak Gritz yang Memberikan materi tulis di Kelas.
Pak Gritz pun pergi meninggalkan Ruangan kelas.. aku berdiri dari tempat dudukku dan menuju ke arah Leon.
"Gimana yon? Jadi kah Rencana yang tadi kita bahas di kantin." Aku bertanya padanya Yang sedang memasukkan Bukunya ke tas.
"Pasti jadi lah Raph.. aku kan orangnya selalu menepati kata-kataku." Sambil memasukkan Bukunya.
"Yaudah, terus gimana cara ngajak yang lain?" aku bertanya kembali padanya.
Dia tampak memegang dagunya dengan mata yang melirik ke atas.
"Hmm.. gimana ya? Aku juga gak tau sih." Balasnya dengan respon seperti kebingungan.
Aku memegang kepalaku sambil menghela nafas. "Hah.."
Disaat kami berdua sedang berbicara, Vincent, Novaria dan juga Alice mendatangi kami.
"Kalian lagi bahas apa?" tanya Alice yang berada di samping Novaria.
"Iya! Kayaknya lagi bahas sesuatu yang serius banget," lanjut Novaria.
Kami berdua melihat ke arah Mereka.
"Ini Leon.. katanya ngajak kita liburan bareng satu kelas. Tapi dia ga tau cara mengajak yang lain gimana," balasku.
Dia kira mudah untuk berbicara di depan.. hah, harus seseorang yang punya kharisma yang besar di kelas ini. Biar yang lain juga tertarik untuk ikut.
"Memangnya mau liburan ke mana?" tanya Novaria.
"Belum tahu sih Nov.. baru rencana aja. Kalau emang jadi, kita tentuin aja bareng mau kemana," balas Leon.
Hmmm.. kalau memang jadi, aku sebenarnya ingin pergi ke Pantai. Menikmati birunya lautan dan juga berenang bersama. Walaupun yang aku incar sebenarnya adalah Novaria yang memakai pakaian Renangnya. Pasti terlihat imut.
"Oh iya Raph, ada yang mau aku bicarakan denganmu," ungkap Novaria.
"Apa Nov?" tanya ku.
Dia tampak mendekat ke Arahku. "Ikut aku sebentar!" sambil Berbisik di telingaku.
Apa yang mau dibicarakan sebenarnya? Sampai dia tidak ingin membahasnya ketika ramai orang. Aku pun menuruti perkataannya.
"Baiklah!"
Aku meminta izin pada yang lain untuk pergi berdua bersama Novaria. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
"Aku izin pergi sebentar ya sama Novaria. Gak lama kok." Sambil tersenyum ke arah Mereka.
"Ya udah, jangan lama-lama ya," balas Leon.
"Iya."
Aku dan Novaria pun pergi meninggalkan Ruangan Kelas. Dengan Novaria yang berjalan di depanku.
Hmm.. aku lihat penampilan dia sedikit beda hari ini. Biasanya dia selalu memakai sebuah Anting bermotif bunga di telinganya. Tapi hari ini dia tidak memakainya. Aku sedikit penasaran mengapa dia mengganti penampilannya begitu.
"Mau ngomong dimana Bienen?" tanya ku.
__ADS_1
"Di Taman belakang sekolah aja Liebe.. sepertinya disana lumayan sepi. Aku tidak ingin orang lain mendengar percakapan kita berdua."
Tumben sekali.. biasanya selalu dia tolak saat aku mengajaknya ke Taman di belakang sekolah itu. Aku jadi makin penasaran apa yang ingin dia bicarakan padaku. Semoga saja bukan hal buruk yang ingin dia bicarakan.
Kami berdua pergi ke Taman di Belakang Sekolah. Walaupun sekarang masih dalam Jam Pelajaran, mungkin tak ada salahnya pergi kesana berdua.
****************
Di Taman Belakang…
Kami berdua duduk di bangku taman sambil ditemani Kupu-kupu yang beterbangan di sekitar kami. Bunga-bunga juga sedang mekar dengan indahnya dan terlihat berwarna. Harum bunga membuat suasana yang tenang ditambah Taman yang hanya ada kami berdua disini.
Sambil menadahkan tanganku yang diatasnya ada kupu-kupu yang sedang berdiam, aku bertanya mengenai apa yang ingin dia bicarakan. "Hal apa yang kamu ingin bicarakan Bienen?"
Wajahnya terlihat gelisah.. terlihat juga, mukanya sedikit lesu dan tak bersemangat. Apa yang terjadi dengannya?
"Anu.. sebenarnya hari ini aku kehilangan Anting yang biasa aku pakai. Aku rasa dengan hilangnya anting itu, sifatku tidak seperti biasanya." Dengan air mata yang menggenang di matanya.
Pantas saja, dia tidak memakai Anting itu. Dia terlihat sangat sedih dengan Anting kesayangannya yang hilang. Aku mencoba untuk mengelus pundaknya sembari menenangkannya.
"Yah.. nanti aku akan membantumu mencarinya. Kamu jangan terlihat sedih begitu dong Bienen. Aku jadi ikutan sedih nanti," ucapku.
"Tapi Liebe… itu Anting yang diberikan oleh Ayahku pas kecil. Kalau dia sampai tahu, dia pasti merasa sedih akibat aku yang tidak menjaga barang pemberiannya dengan baik.." dengan suara yang Rapuh.
Aku sedikit paham dengan apa yang dia pikirkan. Aku juga akan sedikit sedih kalau barang pemberian orang tua ku sejak kecil tiba-tiba hilang. Serasa bahwa kita tidak menjaga barang pemberiannya dengan baik. Apalagi barang yang kita sayangi sejak kecil, sedikit sedih bila itu hilang dan tak dapat ditemukan.
"Aku tahu Bienen.. nanti sepulang sekolah, kita cari bersama ya. Sudah, jangan terlihat sedih begitu dong.." aku sambil mengusap air mata yang hendak mengalir jatuh.
"Hiks.. terima kasih Liebe. Cuman kamu yang bisa aku minta bantuan. Aku tidak enak kalau melibatkan yang lainnya."
Ternyata dia orang yang baik.. dia tidak ingin merepotkan temannya yang lain hanya untuk mencari sepasang antingnya yang hilang. Aku sedikit senang dengan apa yang dia lakukan.. kuharap nanti antingnya dapat ditemukan dengan cepat.
Kami berdua melihat ke arah Air mancur di tengah taman. Semoga saja dengan suasana taman yang seperti ini, bisa menenangkan Novaria yang sedang dipenuhi perasaan sedih itu. Dia juga masih memasang wajah yang Lesu tak bersemangat.
Mungkin dia masih kepikiran tentang Antingnya itu. Aku memberikan dia waktu untuk menghening sambil melihat ke arah Air Mancur. Aku sedikit bermain dengan Kupu - kupu yang berkumpul di dekatku.
Tak jarang juga, kupu-kupu itu hinggap di tangan atau pun Pundakku. Dengan motif sayapnya yang indah itu.
Aku melihat ke arah Novaria. Dia mengelus tangan kirinya yang berada di pahanya dengan Kepala yang menunduk itu. Hah.. dia terlalu memikirkannya. Kalau dia memikirkannya secara mendalam, yang ada nanti pikirannya berantakan.
Bisa-bisa, nanti dia sakit. Sebisa mungkin, aku harus mengalihkan pikirannya agar dia tidak memikirkan Antingnya yang hilang lagi.
"Bienen, apa kamu tau tanggal 9 ada apa?" tanya ku.
Pandangannya teralihkan, sekarang dia melihat ke arahku. "Memangnya ada apa di tanggal 9?"
"Aku ingin mengajakmu nanti ke Festival Rhein in Flammen. Apa kamu mau?"
"Mau Liebe. Aku ikut denganmu nanti." Dengan nada yang tak begitu semangat.
Walaupun terlihat tidak berarti, semoga saja itu dapat sedikit mengalihkan pikirannya. Dan juga, Festival Rhein in Flammen adalah salah satu festival yang ditunggu Masyarakat Jermuntz.
Di festival itu, akan ada sebuah pertunjukan kembang api di tepi Sungai Rhine yang berada di Daerah Koln. Aku tertarik dengan pertunjukkan Kembang apinya. Makanya sekalian saja, aku mengajak Novaria sekalian melakukan sebuah kencan dengannya.
Aku pun berdiri dan mencoba melakukan sebuah peregangan. Menekuk tanganku ke kanan dan ke kiri. Setelahnya, aku mengajak Novaria untuk kembali ke kelas.
Dikarenakan masih dalam Jam pelajaran dan juga Janji yang kubuat dengan Leon tadi.
"Bienen, ayo kita masuk ke kelas. Kayaknya sudah ada guru yang masuk," ajak ku.
Dia masih terlihat lesu dan gelisah dan juga tampak termenung disana. Dia menghiraukan ajakan ku. Aku pun mencoba untuk memegang pundak kanannya. "Bienen."
Novaria pun langsung terkejut ketika aku memegang pundaknya. "A-apa! Ada apa Liebe?" Dia bertanya.
"Ayo kembali ke Kelas." Sambil menggerakkan jari jempol ku ke belakang.
Novaria pun berdiri setelahnya. "Ayo Liebe." Masih dengan nada Yang rapuh.
__ADS_1
Kami berdua pun berjalan pergi ke Kelas…