
"Eehm… dimana aku." Sambil membuka mataku.
Kulihat wajah Roselianne berada di atas.
"Syukurlah kau sudah sadar Raphael."
Air mata jatuh ke wajahku. Roselianne terlihat menangis dan bahagia dalam waktu bersamaan. Aku yang melihat itu mengusap air matanya.
"Sudahlah Rose.. jangan menangis seperti itu di hadapanku."
Roselianne pun mengusap air matanya dengan sendiri setelahnya. Dia sudah berhenti bersedih akibat diriku yang tidak sadarkan diri. Aku sangat senang melihatnya mengkhawatirkanku sebegitunya.
Aku sedikit tersenyum saat melihat sedang membersihkan air matanya itu. Kupikir lagi, aku tertidur di tempat yang sangat empuk. Apa yang kutiduri ini.
"Hahh… empuknya." Sambil menikmati empuknya alas yang kutiduri.
Aku melihat Roselianne sedikit memerah karena kepalaku yang digerakkan. Apa yang terjadi? Aku pun menyadari bahwa aku tertidur di pangkuannya. Aku pun bergegas duduk.
"Kenapa ga bilang kalau di Pangkuanmu?" Aku dengan nada tinggi.
"Ya-yah kamu terlihat nyaman seperti itu. Makanya aku biarkan saja." Sambil menyatukan jari telunjuknya.
Untung saja aku tidak keterusan menikmatinya. Kalau seperti itu yang ada aku seperti lelaki mesum yang merasa enak di pangku dengannya. Tapi sejujurnya itu memang terasa nyaman sih untuk tiduran.
Aku melihat sekitar, langit-langit mulai berwarna jingga. Aku bingung sebenarnya aku berada dimana saat ini?.
"Hey Roselianne.. sekarang kita ada di mana?" Dengan ekspresi kebingungan.
"Aku tidak tahu tempat apa ini.. hanya saja ketika aku dan Vincent melihatmu pingsan di atas mayat Wyrm itu, aku mencoba membawamu ke tempat yang jauh dari hutan. Kebetulan Vincent melihat sebuah pegunungan berada di dekatnya sehingga dia memutuskan untuk membawamu kemari."
Ahh.. saat itu ya, disaat aku sudah tidak bisa menjaga kesadaranku. Sepertinya saat ini aku berada di ketinggian. Ini mungkin adalah tempat yang paling aman dari tempat yang lain. Kalau begitu, aku harus pilih dengan secepatnya kali ini.
Aku pun mencoba berdiri. Ketika berdiri, kepalaku mulai merasakan sakit, tenggorokanku terasa gatal dan juga badanku sangat lemas untuk digerakkan. Akhirnya aku pun tumbang setelah berdiri untuk sesaat itu.
"HAHHHH.." dengan ekspresi kelelahan.
"Duduk aja disini dulu Raph. Jangan terlalu memaksakan tubuhmu yang sedang dalam pemulihan itu. Kamu baru aja siuman."
Aku pun mengikuti saran yang diberikan Roselianne. Aku duduk di sebuah Padang rumput hijau nan luas. Angin-angin berhembus dari arah Utara hingga membuat rerumputan hijau itu seakan-akan sedang bergoyang bersama.
Rambut Roselianne yang panjang itupun terhempas oleh angin yang kencang. Rambutnya yang terhempas mengikuti arah angin. Aku yang melihatnya tampak terpesona dengan keindahan rambutnya itu.
{Betapa cantiknya Roselianne dengan rambut yang terhempas angin} dalam hatiku.
Aku yang melihatnya terkesan dengan rambutnya yang harum itu. Dia yang menutupi arah angin yang menuju matanya pun tampak terlihat elok dan enak dipandang. Hah… kupikir saat ini aku mulai menyukai Roselianne.
Tapi sepertinya itu hal yang sedikit mustahil mengingat dirinya tidak terlalu tertarik dalam hal percintaan. Untuk saat ini juga aku masih menaruh rasa pada Novaria. Aku tak bisa memiliki rasa suka kepada Roselianne.
Rasa suka yang kutunjukkan padanya hanyalah sebatas teman saja. Kalaupun aku memang jatuh cinta dengannya, mungkin hal ini akan ku pendam demi hubungan yang telah lama dijalin sejak kecil. Aku tidak ingin pertemanan ku dengannya hancur hanya karena rasa cinta yang ku ungkapkan.
Oh iya, aku terlalu fokus melihatnya sehingga lupa untuk menanyakan keberadaan Vincent.
"Rose, Vincent kemana?"
"Dia pergi mencari Jack. Jadi aku yang menjagamu ketika kamu sedang pingsan. Vincent tampak panik ketika melihatmu Pingsan Raph. Bahkan dia yang paling panik saat kamu berada di atas mayat Wyrm itu."
"Hahaha.. aku bisa memperkirakan ekspresinya yang sedang panik saat itu."
Aku sedikit berbincang-bincang dengan Roselianne sembari menunggu Vincent kembali ke sini. Membahas segala hal apa saja yang mungkin bisa kubahas dengannya. Sesekali juga ketika kami sedang berbicara, ekspresi beragam dikeluarkan guna memperoleh suasana yang bagus.
Mulai dari Tertawa, tersenyum manis, dan bersedih juga. Roselianne yang terlihat nyaman berkat pembicaraannya membuatku merasa sedikit lega. Karena disini kita hanya berdua saja di sebuah Dunia yang asing bagi kami.
Jujur saja, disaat aku melihatnya ketakutan tadi di hutan, aku merasa cemas. Aku berharap dia tetap santai dengan Dunia asing yang kita tempati sekarang ini.
***********
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu.
Sebuah Matahari yang tampak di Dunia ini sudah mulai ingin terbenam. Dari atas pegunungan, aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Di tepi Barat ada sebuah lautan luas disana. Sedangkan untuk bagian Utara terlihat sebuah Tempat gelap disana.
Sedangkan di bagian selatan hanya tampak hutan yang tadi kami masuki. Karena ketinggian yang lumayan tinggi, aku tidak bisa melihat dengan jelas yang ada di bawah. Aku duduk di tepi tebing sambil melihat Matahari yang sebentar lagi terbenam.
Disampingku ada Roselianne yang sedang duduk bermain dengan Rerumputan yang ada di depannya. Matahari sudah mulai ingin terbenam, Vincent belum juga kembali kesini. Aku sedikit khawatir bila dia tersesat.
Tapi Vincent belum pernah kuketahui dia tersesat. Itu yang membuatku sedikit tenang. Kalau Roselianne yang ada di Posisi Vincent saat ini, mungkin aku akan panik dan segera mencarinya. Tapi untungnya yang menemui Jack adalah Vincent.
"Langitnya sungguh Indah.. Dunia yang asing ini memiliki suasana yang nyaman. Bulan yang mulai tampak akan menerangi malam kita." Aku sambil melihat ke arah langit yang mulai berwarna kehitaman.
"Hahahaha… kata-katamu seperti Orang Tua saja Raph." Roselianne tersenyum.
"Tapi sungguh, langit yang kita lihat disini sangatlah berbeda. Mungkin karena itu yang mirip seperti Matahari di Dunia kita. Dan juga bulan yang mulai berwarna merah dan biru itu mulai menampakkan dirinya. 2 bulan yang ingin tampak itu membuat warna langitnya terasa seperti berwarna." Sambil menunjuk Sesuatu dilangit yang ingin terbenam berbentuk Oval.
"Kalau kamu bilang seperti itu juga sih. Yah, aku juga tidak bisa menyangkalnya. Pemandangan ini terasa unik dan berbeda dari Dunia yang kita tinggali. Disini tampak lebih aman dan nyaman tanpa ada bangunan-bangunan megah yang berdiri. Seperti berada di sebuah Dunia dengan tema-tema jaman dulu."
"Ini persis seperti Dunia yang kuimpikan. Sebuah Dunia yang damai tanpa adanya Dungeon ataupun menara yang ada. Makhluk hidup dengan bebasnya bergerak kesana kemari tanpa ada gangguan. Disusul dengan tumbuhan-tumbuhan yang masih terjaga indahnya tak tersentuh sama sekali."
Kami berdua mulai memahami isi hati masing-masing. Bagai lebah yang paham bahwa bunga itu indah. Kami sangat memuji hasil Dunia yang dibuat oleh Castrophe. Dunia yang indah, nyaman, damai dan sejahtera ini adalah sebuah Dunia yang sempurna.
Tanpa adanya gangguan yang memicu perseteruan antar Manusia. Ekosistem sangat terjaga dan juga Rantai makanan berjalan dengan semestinya. Spesies-spesies asing yang tampak imut dan menyeramkan dalam bersamaan.
Karena hari yang sudah malam, aku memutuskan untuk menebang beberapa pohon untuk membuat api unggun. Penerangan disini tampak kurang dan hanya mengandalkan cahaya bulan. Aku berdiri dari tempat aku duduk. Membersihkan celana olahraga yang masih kupakai.
"Kamu mau kemana Raphael?" Roselianne menoleh dan bertanya ke arahku.
Aku pun memberitahu bahwa aku ingin menebang beberapa pohon.
"Aku ingin menebang beberapa pohon untuk membuat api unggun. Kamu mau ikut atau tunggu disini saja?"
Aku pun pergi berjalan menuju arah hutan yang mulai gelap.
Kami berdua sampai ke tempat pepohonan yang ada di luar hutan lebat itu. Aku membuat sebuah gergaji mesin yang akan kupakai untuk menebang pohonnya. Pohon yang lumayan besar dan tampak kokoh itu aku tebang menggunakan dua sisi berbeda. Dari kanan dan kiri.
Setelah batang pohon yang besar itu mulai menipis berkat gergaji mesin yang kupakai, aku mendorong pohon itu agar jatuh ke belakang.
Disisi lain, Roselianne tampak lihai dalam menebang pohon-pohon yang ada. Dengan menggunakan skillnya yang memanfaatkan tekanan angin, dia mulai menebang pohon-pohon secara cepat.
3 pohon sudah dia tebang menggunakan skill anginnya. Sepertinya angin yang dia kendalikan itu membuat tekanannya menjadi sangat padat dan membuatnya terlihat tajam sekali. Itu tampak memudahkannya dalam menebang pohonnya.
**********
"Kurasa sudah cukup pohon yang kutebang."
Aku pun memotong bagian per bagian secara kecil-kecil agar mudah untuk dibawa. Total 3 pohon kutebang untuk membuat api unggun. Memotong ranting-ranting kecil untuk awalan. Lalu untuk bagian batang yang besar, mungkin aku akan membaginya secara 4 bagian.
Aku pun mulai memotong batang-batang itu menjadi 4 bagian. Memotong secara Vertikal dan rapi.
"Fiuh~. Lelah juga memotong batang-batangnya." Dengan mengelap keringat yang keluar.
Aku menoleh ke arah Roselianne.
"Hey Roselianne.. sudah bera…paa pohon yang kamu tebang." Aku shock dengan apa yang kulihat.
Di tempat Roselianne banyak sekali pohon yang sudah terpotong-potong. Ini melebihi jumlah yang kita butuhkan.
"EHE!" Dengan mengedipkan satu matanya tangan kanannya yang tertutup berada di dahi.
Ekspresi apa yang dia tunjukkan itu. Apa dia bermaksud untuk pamer karena pohon yang dia tebang lebih banyak dariku?
"Hentikan pose sok imut itu. Tidak cocok denganmu yang galak." Aku kesal melihat ekspresinya yang sok imut itu.
Pose yang dia tunjukkan berkebalikan dengan sifat aslinya. Walaupun punya tampang yang cantik, Roselianne memiliki sifat galak. Dia saja tidak segan-segan untuk memukul Vincent yang menjailinya.
__ADS_1
"HAH!" Roselianne memasang Ekspresi kesal dengan Tangan yang dia kepal itu sudah siap untuk memukul.
Aku yang melihatnya sudah dengan posisi siap memukul ku itu segera meminta maaf kepadanya. Aku tidak ingin dipukul lagi saat ini, aku saja baru merasa enakan setelah pertarungan tadi.
"Ma-maaf Rose. Aku hanya bercanda." Dengan nada ketakutan.
Dia pun akhirnya lega dan menurunkan tangannya itu. Dia mulai merapikan batang-batang pohon yang sudah dia potong-potong kecil itu. Aku yang melihatnya sedang merapikan potongan-potongan kecilnya, berusaha untuk membantunya.
"Sini Rose aku bantu bawa punyamu saja. Kau bawa yang punyaku. Tukeran."
"Ga usah Raph, biar aku yang bawa bagian ini aja. Ini banyak loh, kamu kan baru aja sembuh."
"Udah lakukan apa yang kusuruh aja. Tanganmu itu tidak cocok untuk mengangkat kayu-kayu ini dengan jumlah banyak." Aku memaksa untuk membawa yang bagian Roselianne.
Tumpukan potongan-potongan kecil ini sungguh banyak sekali. Aku mulai bingung membawanya bagaimana. Apalagi harus mendaki pegunungan tadi. Mungkin aku akan mencoba membawanya secara sedikit-sedikit.
Aku pun menghilangkan Kapak yang kupegang dan kuganti dengan seutas tali untuk mengikat batang kayu kecil ini. Aku mengikat batang-batangnya secara melingkar agar dapat membawa banyak sekaligus.
Tapi tetap saja, aku harus membagi tumpukan ini secara 2. Kalau disatukan yang ada akan menonjol ke samping melewati batas yang bisa kubawa. Aku pun mengangkat 1 bagian batangnya terlebih dahulu.
Kutaruh tepat di pundak kananku yang memiliki tenaga yang lumayan kuat.
"Emkk." Suara ketika aku menaruh tumpukan batang kayu.
Lumayan berat juga tumpukan kayunya. Roselianne pun sepertinya sudah merapikan hasil potongan ku itu. Aku pun mengajaknya untuk pergi bersama mendaki pegunungan.
"Ayok Rose. Barengan aja, aku tidak mau kamu tersesat dalam keadaan seperti ini."
Bisa repot kalau Roselianne tersesat. Vincent saja belum kembali, masa Roselianne harus tersesat. Apalagi dia itu buruk dalam membaca arah.
"Oke Raph. Tunggu sebentar aku mengangkatnya dulu."
Roselianne pun mengangkat tumpukannya dan menggendongnya di samping tubuh. Sepertinya cukup ringan untuk Roselianne. Kami pun pergi bersama mendakj pegunungan yang ada di arah Utara.
Cukup mendaki secara lurus dengan Padang rerumputan yang terasa empuk itu.
"Ga berat itu Raph?"
"Ga kok, aman. Kamu tenang aja."
Sebenarnya ini lumayan berat sih. Cuman, aku tidak bisa memperlihatkan ekspresi ku yang keberatan ini. Aku tidak ingin Roselianne berpikir yang tidak-tidak.
"Yakin kamu? Kalo keberatan ngomong aja ya. Biar aku bantu mengangkat dari belakang."
"Iya, aman kok ini. Aku bisa mengangkatnya sendiri." Aku berusaha meyakinkannya.
Tidak baik untuk menerima bantuan dari seorang perempuan. Aku tidak boleh menunjukkan sisi lemah ku di hadapannya kali ini.
"Ya sudah."
***********
Sampai di Atas, aku pun menaruh tumpukan yang berada di pundakku ini. Rasa lelah yang kurasakan setelah Mengangkat tumpukan yang berat itu ditambah dengan jalan yang menarik.
"Hahh..hahh.." suara nafas yang terengah-engah.
"Kamu baik-baik saja Raph?" Roselianne menaruh tumpukan yang dia bawa itu.
"Aku.. oke." Dengan nafas yang masih terengah-engah itu.
Hanya seperti itu saja nafasku langsung terengah-engah. Berbeda sekali saat Vania mengendalikan tubuhku. Berlari kencang saja aku tidak merasa bahwa tubuhku ini merasa kelelahan. Malah justru ketika aku mengambil alih kembali, aku baru merasa kelelahan.
{Apa Unconscious mode itu meningkatkan stamina ku juga ya?} Berpikir dalam hati.
Entahlah, aku tidak ingin berpikir terlalu keras untuk saat ini. Mending kutanyakan saja nanti ke Vania. Aku pun beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya.
__ADS_1