Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 37 Telat lagi


__ADS_3

Selesai menyiapkan seluruh buku-buku pelajaran hari ini, aku pun bergegas pergi ke luar. Namun, sayangnya jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Kalau aku pergi dengan menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki, yang ada aku telat lagi.


  "Terpaksa harus bawa kendaraan pribadi kalau begini." Gumam diriku yang berada di depan Kamar ku.


  Aku pun pergi menuju Ruangan Joanne untuk meminta Kunci kendaraan yang selalu ku titipkan kepadanya. Aku hanya tinggal bergerak ke arah Kiri karena Ruangan Joanne berada di lantai 2 bagian pojok.


  Di depan, Pintu Ruangannya terbuka dengan sangat lebar. Aku pun mengetuk pintu sejenak untuk memberitahunya kalau ada orang.


  "TUK..TUK." 


  Joanne yang tengah mengurus sebuah berkas itu menyadari bahwa ada seseorang di Ruangannya. Dia pun mulai menoleh ke arahku.


  "Ada yang bisa Dibantu Tuan Muda?" Sambil memegang kuas penanya.


  Sepertinya saat ini dia sedang sibuk. Aku langsung berbicara tanpa basa-basi kepadanya.


  "Aku ingin mengambil Kunci Motorku." Sambil menadahkan telapak tangan kanan.


 Di jam-jam seperti ini, lebih baik untuk membawa sebuah kendaraan yang mudah untuk melalui kemacetan. Motor adalah solusi yang lebih baik ketimbang mobil.


  "Ahh.. maaf Tuan Muda, apa kamu bisa mengambilnya sendiri di Tempat gantungan Kunci?" Sambil menulis sesuatu di berkas yang ada di hadapannya.


  "Tenang saja, aku akan mengambilnya sendiri."


  "Maaf ya Tuan Muda."


  Aku pun berjalan mengarah ke tempat gantungan Kunci. Banyak sekali kunci-kunci kendaraan ku yang terpajang disini. Tapi untungnya Kunci motor ku sangatlah Familiar dan memiliki ciri khas tersendiri.


 Aku pun mengambil sebuah kunci berbentuk seperti sebuah pedang kecil. Aku pun menaruhnya di kantung baju ku.


  {Aku lumayan penasaran dengan apa yang ditulis oleh Joanne. Haruskah aku bertanya padanya ya?} Gumam dalam hati.


  Walau begitu, aku sekarang tengah dikejar waktu. Dan juga Joanne sedang sibuk. Tidak baik untuk mengganggunya ketika dia sedang melakukan tugasnya. 


  "Aku pergi dulu Joanne." Sambil mengarah ke luar ruangan.


  "Hati-hati Tuan Muda." 


  Aku pun pergi ke luar. Tepatnya ke bagian Garasi tempat dimana seluruh kendaraan tersimpan. Garasi berada di Bangunan tersendiri. Karena luasnya tempat itu, sampai-sampai bisa menyimpan puluhan kendaraan mobil di dalamnya.


  Aku pun membuka Garasinya setelah sampai di depan. Ada tombol otomatis yang bisa membuat Gerbangnya terbuka. Gerbangnya pun mulai terbuka dari bawah ke atas secara perlahan.


  Walau baru terbuka sedikit, aku langsung masuk dengan celah yang sudah dibuka oleh gerbangnya. Aku mencari letak Motorku setelahnya.


  "Di Pojok ternyata. Saling ga pernah dipake makanya ditaruh di pojok Ama penjaga-penjaganya." Sambil melihat ke arah motornya yang berada di pojok.


  Sebelum itu, aku mengambil terlebih dahulu helm yang berada di Penyimpanan Helm. Loker yang berisi helm-helm ini pun kubuka. Aku mengambil sebuah Helm Full-Face berwarna Merah serta ada huruf R di sampingnya.


  Aku membawa helm itu dan menuju Motornya. 


 Aku menaiki motornya dan memasukkan Kuncinya. Lalu menyalakan mesinnya itu.


  "TERR..TERRR.." Suara mesin.


  Aku mendiamkan sejenak untuk memanaskan motornya. 


  "Kepake juga akhirnya ini motor." Sambil menepuk body motornya.


  Dirasa Mesin-mesin motornya sudah panas, aku pun memakai Helm ku. Tak lupa juga untuk menguncinya agar aman dan tidak jatuh terkena tekanan angin. Aku pun langsung mengangkat gasnya secara perlahan dan pergi ke luar garasi.


  Karena banyak kendaraan yang terparkir, aku menyetir melalui bagian pojok kiri. Sesampainya di luar, aku berhenti sejenak di dekat tombol garasi untuk menekannya. Setelah ditekan, gerbang Garasinya pun menutup perlahan.


  Aku langsung menancap gas kembali menuju sekolah…


  ***********


  Di sekitar perjalanan, Jalan Raya terasa lancar dan tak ada kemacetan. Aku bisa menyetir dengan Speed 100 km/h. Yah.. dengan motorku ini, sebenarnya bisa saja mencapai top speed 243 km/h. Aku lebih memprioritaskan keselamatan diri dibandingkan dengan kebut-kebutan.


  Aku masih berada di daerah Schremburg saat ini. Masih agak jauh sih untuk sampai di Kawasan Holvenheim yang berada di kota Freiburg. Aku berhenti sejenak karena lampu lalu lintas berwarna merah.


  Sambil menunggu lampu merah berganti warna, aku bermain-main dengan tangki pengisian bahan bakarnya. Ku Pukul layaknya bermain sebuah drum.


  "TAK..TAK..TAK." 

__ADS_1


  Beberapa saat, Lampu lalu lintas berganti warna hijau. Aku langsung mengoper gigi motornya secara cepat dan tancap gas. Orang-orang sedang berlalu lalang di sekitaran jalan. Mereka tampaknya akan berangkat kerja.


  Aku meningkatkan speed ku menjadi 140 km/h karena jalanan lumayan sepi dan tak ada lampu lalu lintas di sekitar sini. 


  ************


  Sampai di Freiburg. Tinggal sedikit lagi untuk sampai di sekolah. Aku pun mulai memperlambat kecepatan motornya. Jalanan disini lumayan ramai. Banyak sekali transportasi umum yang berlalu lalang.


  Aku membuka Kaca Helm ku karena sebentar lagi tiba. Anehnya, kenapa tidak ada satupun murid dari sekolahku yang berjalan di sekitar sini. Aku menghiraukan keheranan ku itu dan pergi menuju sekolah.


  ………


 Sesampainya di sekolah, gerbang sekolah sudah di tutup. Aku lumayan terkejut saat melihatnya.


  "Sekarang sudah jam berapa memangnya?" Sambil menghentikan laju motor di depan gerbang.


  Aku pun membuka helm yang ada di kepalaku dan membuka smartphone.


  "Pantas aja udah ditutup. Udah jam 09.30 ternyata… hah.. telat lagi telat lagi." Sambil menghela nafas.


  Karena sudah seperti ini, mau tidak mau aku harus membujuk penjaga sekolahnya untuk membuka gerbang. Aku turun dari motor dan menaruh helm di atas jok. Aku menurunkan standarnya agar motor tidak jatuh.


  Setelahnya, aku mendekati gerbang dan mencoba untuk memanggil penjaga Sekolahnya.


  "Pak.. Pak." Berbicara lewat sela-sela gerbangnya.


  Penjaga itu tidak mendengar suaraku itu. Lantas, aku pun menaikkan volume suaranya.


  "PAK." Dengan nada tinggi.


  Penjaga itu merespon suaraku. Dia mendekat ke arahku saat ini.


  "Ada apa?" Ucap sang penjaga.


  "Bukain gerbangnya pak. Saya mau masuk." Dengan berbisik-bisik.


  "Wah.. ga bisa mas. Sudah lewat jam masuk soalnya."


  "Tolong lah Pak. Saya pengen belajar loh.." sambil memasang muka memohon.


  "Begitu ya… tunggu sebentar mas."


  Karena hal itu, aku mencoba untuk memberikan pesan kepada Vincent.


 -Vin.. oy.


  Tak berselang lama, Vincent pun membalas pesannya.


 -ada apa?


  -Sekarang Pelajaran siapa? 


 -Pelajarannya Bu Eveline. Memangnya kenapa kamu nanya itu?


  -Tolong Minta Bu Eveline suruh ke Depan Gerbang Sekolah Vin. Aku mau masuk di halang Ama penjaganya ini.


  -Ya lagian, bisa-bisanya baru Datang jam segini. Memangnya kamu kemana aja?


  -Tadi ada urusan keluarga. Makanya aku telat masuk sekarang. Tolonglah Vin coba bicara Ama Bu Eveline. Biar diizinin masuk ini Ama penjaganya.


  -Iya-iya, tunggu sebentar 😔.


  Aku menunggu kabar selanjutnya dari Vincent sekarang. Semoga saja Bu Eveline mau mengizinkan aku untuk masuk. Kalau dari Sifatnya sih, ya mungkin-mungkin saja baginya untuk mengizinkan ku.


  Lagipula pelajaran yang diajarkan lumayan penting. Dia mengajar Pelajaran ekonomi. Sifatnya sih lumayan bersahabat dengan murid-murid. Dia juga disenangi oleh Siswa-siswi disini. Tampangnya juga… lumayan cantik sehingga banyak murid laki-laki yang menyukai dirinya.


  Sesaat berlalu, Vincent akhirnya memberi kabar.


  -Bu Eveline lagi menuju kesana. Kamu tunggu aja Raph.


  -Makasih Vin..😘.


  Akhirnya… aku pun menunggu seperti yang Vincent katakan. 

__ADS_1


  Beberapa menit berlalu, tampak Bu Eveline sedang berjalan menuju Pos Penjaga. Dia tampak berbincang-bincang dengan penjaga itu. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarnya.


  Setelah berbincang-bincang, Bu Eveline serta Penjaga itu pergi ke arahku. Pak Penjaga dengan segera Gerbang Sekolahnya.


  "Masuk Raphael." Bu Eveline dengan nada lembut.


  "Baik Bu." 


  Aku pun pergi ke Motorku dan menaikinya. Akan tetapi, aku tidak menyalakan mesinnya dikarenakan suaranya akan mengganggu proses belajar yang lain. Jadi aku mendorongnya menggunakan kaki untuk sampai ke Parkiran.


  Aku mendorong motorku berdampingan dengan Bu Eveline yang sepertinya ingin kembali ke kelasku.


  "Kenapa Kamu Telat Raphael?" Melihat ke arahku.


  "Tadi aku ada urusan mendadak pagi-pagi. Jadinya ngurusin berkas-berkasnya dulu. Karena terlalu fokus dengan urusannya, aku jadi lupa untuk bersiap-siap ke sekolah." Sambil mendorong motornya.


  "Ohh.. yaudah, kamu taruh aja dulu motor mu di Parkiran. Nanti cepat-cepat masuk ke kelas ya. Ibu mau lanjut kembali ke kelas." Bu Eveline sambil terburu-buru.


  "Baik Bu." 


  Aku pun mendorongnya sampai ke arah Parkiran. 


  Sesampainya di Parkiran, aku langsung memarkirkan motorku di pojokan. 


  "Huff.. berat juga nih motor dorong dari gerbang Sampai kesini." Gumam diriku. 


  Aku turun dari motor dan melihat ke arah spion untuk berkaca. Merapikan rambut yang lumayan berantakan karena memakai Helm. Aku meninggalkan helm ku di atas Jok motor dengan tali yang mengikat.


  Aku rasa aman meninggalkan helm di sini. Kalau pun hilang, itu sangat mustahil terjadi. Motor ini mempunyai Sistem Sensor yang bisa mendeteksi sidik jari orang lain. Itu akan terlihat di Smartphone ku nantinya. Jadi aku bisa sedikit lega meninggalkan Helmnya disini.


  Aku pun bergegas pergi ke Kelas.


  Saat berjalan di lorong lantai 2, aku sedikit merapikan kerah baju ku sejenak sembari membenarkan posisi Dasi merah yang kupakai. Sebelum memasuki Ruang Kelas, aku mengetuk pintu Ruang Kelas.


  "TUKK..TUKK.. Permisi." 


  Seisi kelas melihat ke arah Pintu. 


  "Duduk di tempatmu Raphael." Ucap Bu Eveline yang sedang menulis materi di papan tulis.


  "Baik Bu."


  Aku pun segera duduk mengikuti arahannya. Menaruh tasku di atas meja dan membukanya. Mengeluarkan buku pelajaran Ekonomi serta sebuah bolpoin untuk mencatat apa yang ditulis Bu Eveline di papan tulis.


  *************


Satu setengah Jam Berlalu.


  "TRRINGG…" Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.


  Sebagai ganti ketelatanku, aku mencatat semua yang diterangkan Bu Eveline selama jam pelajarannya. Mulai dari awal sampai akhir.


  "Karena pelajaran Ibu sudah selesai, Ibu pergi dulu ya." Sambil menenteng tumpukan buku.


  "Terima kasih atas pelajarannya Bu." Sorak sorai seisi kelas.


 Ahh.. aku menulis sekitar 4 lembar halaman di buku tulis ku. Sungguh melelahkan sekali mencatat semuanya. 


  "Sekarang kamu jadi sering telat ya Raph." Ucap Vincent dari belakang ku.


  Aku pun menoleh ke arahnya.


  "Ga tau nih Vin. Malah sering telat sekarang. Padahal udah bangun pagi, malah tadi lupa waktu." 


  "Apa mau berangkat bareng aja besok? Biar kamu ga telat lagi." Vincent dengan kedua telapak tangannya saling berikatan dan berada di bawah dagunya.


  Umm.. lumayan bagus sih usulannya. Kalau dia datang ke rumahku, mungkin aku tidak akan lupa waktu. Aku harus menerima usulannya itu.


  "Boleh Vin, besok kamu datang aja ya ke Kediamanku." Dengan bersemangat.


  "Aman.." Tangannya memasang Pose OK.


  Satu masalah mulai terpecahkan.. terlalu banyak telat akan menurunkan reputasiku disini. Apalagi aku termasuk ke dalam Anggota Keluarga Terpandang di Negara ini. Kalau reputasi ku terlihat buruk, itu hanya akan menambah masalah nantinya.

__ADS_1


  Citra keluarga ku akan tercoreng berkat hal itu… aku tidak ingin citra baik keluarga ku yang sudah dijaga selama 100 tahun lamanya, rusak gegara diriku…


__ADS_2