Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 55 Bienen dan Liebe


__ADS_3

"Sebentar lagi memasuki Stasiun Transit Munsen.. bagi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Augsburgert, Ulmaz dan Stuttgarter bisa Transit di Stasiun ini." suara pengumuman dalam kereta.


   Karena sesaat lagi akan masuk stasiun Munsen, aku pun membangunkan Novaria secara pelan dengan menggerakkan pundaknya.


   "Nov..bangun Nov.." sambil menepuk pundaknya.


   Matanya pun terbuka secara perlahan. Dia tampak bingung setelahnya. "Kita dimana Raph?" tanya Novaria sambil setengah sadar.


   "Sudah mau sampai Stasiun Munsen.. kita berdua harus segera transit disana," balasku.


   "Oke.." jawabnya.


   Kereta pun mulai memasuki Stasiun Besar Munsen. Stasiun Transit yang menghubungkan berbagai Jalur ke daerah lain. Stasiunnya terlihat sepi dan tak terlalu ramai. Mungkin karena hari yang sudah mulai sore sehingga banyak orang yang memutuskan untuk pulang lebih awal ataupun lebih akhir.


   Aku pun berdiri dan memegang penyangga yang tersedia agar keseimbangan ku tak goyah. Aku pun membantu Novaria dengan membawa Boneka besarnya. Dia kemudian berdiri setelah aku memegang Boneka besarnya.


   "Pintu Akan dibuka.." 


  Pintu kereta pun terbuka dari 2 arah. Aku dan Novaria turun dari kereta melewati pintu sebelah kiri. Karena kereta menggunakan Energi Magnetik, terlihat bahwa Keretanya sedikit melayang. Jadi aku dan Novaria sedikit berhati - hati ketika turun.


   "Ah!" Ucap Novaria setelah melangkahkan kakinya.


   "Ayo naik ke peron yang atas Nov.. sebentar lagi kereta yang mengarah ke Stasiun Stuttgarter akan tiba." sambil memegangi Boneka Besarnya.


   "Ayoo!!" Novaria dengan semangat.


   Kami berdua pun mengarah ke sebuah Eskalator untuk pergi ke Peron 6 yang berada di atas. Berkat suasana Stasiun yang sepi, kami bisa dengan cepat menaiki Eskalatornya tanpa harus mengantri terlebih dahulu.


   Di hari-hari biasa, terkadang di stasiun ini dipenuhi oleh lautan manusia yang ingin pergi bekerja ataupun sekolah.


   "Kamu gak berat bawa Boneka itu Raph?" tanya Novaria sambil membalikkan badannya sambil berpegangan pada pegangan Eskalatornya.


   "Gak Kok.. ini ringan walaupun terlihat besar," jawabku dengan pandangan ku terhalang oleh boneka besar ini.


   Dengan tak terduga, Novaria pun menggenggam tangan kananku. 


   "Biar aku yang menuntun jalannya."


   "Makasih Nov.." 


   Novaria pun menuntun ku berjalan melewati eskalatornya. Kini, kami berdua sudah berada di Peron paling atas. Untungnya, ketika kami sudah sampai di atas kereta pun juga sudah sampai. Kami dengan terburu-buru berjalan untuk masuk ke dalam kereta.


   Sesaat kami di dalam kereta, pintunya pun langsung tertutup. Kami berdua pun segera duduk di kursi yang masih terlihat banyak yang kosong. Kami duduk secara bersampingan di tempat duduk sebelah kiri.


   Aku menaruh boneka besar ini di samping kananku yang masih kosong. Kereta pun langsung berjalan. 


   "Seru banget ya Raph hari ini.. aku gak nyangka kamu bisa menang Acara itu," ucap Novaria.


   "Semua hal yang kulakukan tampak seru kalau sama kamu. Walau terjebak macet sekali pun juga.. kalau sama kamu juga terasa seru," balasku dengan menggodanya.


   "Haha!! Bisa aja kamu Raph.." dia tertawa. "Tapi kalau manggil nama kayak terkesan seperti biasa aja deh.. gimana kalau kita buat panggilan khusus ketika kita berduaan saja?" saran Novaria sambil melihat ke arahku.


   Sebuah panggilan khusus ya.. boleh juga. Aku merasa kalau memanggil menggunakan namanya terkesan kayak biasa saja dan tidak ada Romantis-romantisnya sama sekali. Dengan menggunakan panggilan khusus, hubunganku dengannya juga bakal menjadi lebih dekat nantinya.


   "Boleh Nov.. aku juga setuju dengan saranmu," balasku.


   Dia pun berpikir dengan menaruh tangannya di bawah dagu. "Enaknya panggilan apa ya.." sambil memirkan dengan serius.


   "Kalau kamu mau panggilan yang kayak gimana Raph?" tanya dirinya.


   "Aku sih bebas. Terserah kamu aja. Yang penting kamu bisa senang saat memanggilku dengan panggilannya," balasku.


    "Yang membuat aku senang ya.." 


   Selama perjalanan dia berusaha keras memikirkan hal panggilan khusus untuk kami berdua. Sejujurnya aku ada sebuah panggilan yang menurut ku cocok. Cuman aku akan menunggu idenya terlebih dahulu.


   Beberapa saat kemudian…

__ADS_1


  "Aha!" Novaria sambil mengacungkan jari telunjuknya.


   Sepertinya dia sudah menemukan ide tentang panggilannya. 


   "Bagaimana kalau aku panggil kamu Liebe?" cetus Novaria. 


  Liebe? Bukannya itu semacam panggilan kesayangan? Kalau begitu sih aku dengan senang hati menerimanya kalau dia ingin memanggil seperti itu.


    "Boleh Nov.. aku merasa perasaanmu tertuang dalam panggilan itu," balasku. 


    Wajahnya pun memerah. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya yang memerah itu. Berarti saat ini dia merasa malu saat aku berkata seperti itu.


    "Kalau kamu Raph? Mau memanggilku dengan panggilan apa?" tanya dia sambil mendekatkan wajahnya.


   Aku berniat untuk memanggilnya dengan sebutan Bienen. Bienen memiliki Arti yaitu seekor lebah. Maksud dari panggilannya itu merujuk kepada kebiasaan lebah yang selalu menempel pada bunga yang indah. Itu juga berlaku dengan Hubunganku dengan Novaria yang selalu menempel erat.


   Makanya kupikir sebutan Bienen cocok untuknya. Aku pun dengan segera menjawab pertanyaannya. 


   "Bienen.. aku ingin memanggilmu Bienen. Apa kamu suka?" tanya ku sambil memastikan apakah dia suka dengan panggilan yang kuberikan untuknya.


    Wajahnya terlihat terkejut.. aku tidak tahu apakah dia suka atau tidak dengan panggilan yang kuberikan. Dia terdiam sejenak sambil memandangi wajahku. Lalu, wajahnya pun berubah dengan senyuman lebar di wajahnya.


    "Aku Suka Sekali!! Jadi sekarang kita saling memanggil dengan panggilannya ya Liebe!" ucap Novaria.


    "Baiklah Bienen.." 


   Kami berdua pun mulai memanggil satu sama lain dengan panggilan yang telah diberikan. Ini dapat meningkatkan hubungan kami berdua ke tingkat yang lebih tinggi. Aku jadi merasa bahagia sekarang ini..


   Di sepanjang perjalanan.. kami bercanda ria dan tertawa bersama-sama menghiraukan pengguna kereta lainnya. Ya karena gerbong yang kami tumpangi hanya ada sedikit orang saja. Makanya kami berdua berani untuk bercanda ria disini.


   Aku memainkan boneka yang kudapatkan di depannya sambil berakting seolah-olah diriku menjadi bonekanya. Aku menggerakkan tangan boneka itu dan melambaikannya ke arah Novaria. Dia tampak tertawa lebar melihat diriku yang memainkan bonekanya.


   Dia pun juga memegang tangan bonekanya dan mengajak salaman. Aku gerakkan lagi tangan boneka itu dan berjabat tangan dengannya. Sesekali bermain seperti ini tidaklah buruk. Walaupun terlihat seperti anak kecil, selama Novaria merasa senang akan aku lakukan hal apa saja yang terlihat memalukan.


   *************


   Tak terasa perjalanannya sudah hampir usai. Sebentar lagi Novaria akan berpisah denganku karena dia berhenti di stasiun ini. Sedangkan aku beda tujuan dengannya. 


   "Yah.. bentar lagi sampai. Gak kerasa ya Liebe…" ucap Novaria dengan suara yang rapuh.


   "Iya Bienen.. sebentar lagi kamu sampai di stasiun tujuanmu. Rasanya jadi kangen lagi kalau berpisah.." dengan suara lembut.


   Entah kenapa rasanya aku sedikit sedih ketika ingin berpisah dengannya sehabis bepergian bersama. Hah… aku sedikit menghela nafasku.


   "Kalau kamu kangen Ama aku…" sambil mengambil salah satu anting bunga di tasnya. "Kamu bisa melihat anting ini kok.. biar rasa rindumu sedikit terobati." Sambil menyerahkan anting bunga yang dipegangnya kepadaku.


   Aku pun menerimanya dengan senang hati dan melihat anting bunga yang ada di telapak tanganku. Yah.. ini bisa menghilangkan sedikit rasa rindu ku sih.. aku akan terbayang raut wajah bahagia Novaria ketika melihat Anting ini.


   Aku pun menggenggam Anting Bunganya. "Aku akan selalu menjaganya.." sambil sedikit menahan tangisku.


   Kereta pun sudah mulai memasuki Stasiun Augsburgert.. sebentar lagi aku dengannya akan berpisah. Novaria pun segera berdiri sambil merangkul Boneka besarnya. Aku pun mencoba untuk membantunya untuk membawa bonekanya. Aku berdiri dengan memegang bagian punggung boneka.


   "Kamu yakin bisa membawanya Bienen?" tanya ku.


   "Bisa kok.." sambil mengangkat kembali bonekanya yang mulai ke bawah. Aku sedikit ragu bahwa dia bisa mengangkat boneka itu sendirian. Aku mencoba untuk menawarkannya bantuan.


   "Boleh aku bantuin kamu bawa bonekanya? Sampai luar stasiun aja," tawarku.


   "Ehh!! Gausah Liebe.. aku bisa kok bawa sendiri. Kamu langsung pulang aja, lagian kalau sore biasanya kereta lama datangnya lagi," tolak Novaria.


    "Tapi.."


    "Sudahlah Liebe.. sekali-kali ikuti permintaanku," jawab Novaria.


   Kalau dia berkata seperti itu mau bagaimana lagi.. aku pun menuruti permintaannya itu. Kereta pun mulai berhenti, pintu di depan kami mulai terbuka perlahan. 


   "Ya sudah, aku pulang dulu ya Liebe.." sambil berjalan mengarah ke luar. "Dah Liebe.." lambaian tangan mengikuti geraknya.

__ADS_1


   Aku membalas lambaian tangannya. "Hati-hati ya Nov.." gumamku. Pintunya pun tertutup setelah Novaria keluar. Novaria tampak berbalik arah ke arah ku dan melambaikan tangannya. Dengan pintu yang tertutup, aku pun membalasnya kembali.


   Kereta pun mulai berjalan perlahan-lahan. Aku kembali duduk di kursi ku semula sambil memperhatikan anting bunga yang kugenggam. Aku pun mengepalkan tanganku dan menaruhnya di dada.


   ************


   Sampai di rumah.. 


   Tumben sekali Ayahanda berada di Halaman Depan. Biasanya kulihat dia selalu sibuk dengan pekerjaannya di Ruang Kerjanya maupun di Kantor. Aku pun pergi mendekatinya. 


   "Sore Ayahanda.." sapa ku.


   Ayahanda yang tengah melihat tanaman itu pun menoleh ke arahku. "Sore juga Nak.." jawabnya. Dia melihat-lihat ke arahku dari bawah ke atas. Entah apa yang dia lihat. "Kamu habis darimana nak? Terlihat rapi seperti itu.." tanyanya.


   "Aku habis pergi bersama pacarku tadi.." ungkap diriku berterus terang kepada Ayahanda. Ayahanda nampak terkejut rupanya setelah mendengar aku memiliki pacar. 


   "Kamu punya pacar? Kok gak beritahu Ayah atau ibumu?" 


   "Aku juga sebenarnya ingin memberitahu Ayahanda dan Ibunda.. tapi kalian berdua terlihat sibuk dengan pekerjaan kalian. Jadinya aku memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu tentang ini.." sambil memasang Ekspresi sedikit gelisah.


   "Seperti itu.." Ayahanda pun tampak mendekat ke arahku. "Kalau boleh tau, siapa pacarmu itu? Putri Keluarga Noble kah?" sambil berbisik di dekat telingaku.


   Haha.. Ayahanda ternyata penasaran dia siapa pacarku saat ini. Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya itu. Aku pun memberitahunya dengan berbisik juga. "Bukan Ayahanda.. pacarku itu Putri Keluarga Arizen.. dia teman sekelasku sih." 


   Ayahanda terlihat bingung ketika aku menyebut nama Novaria. Reaksinya itu wajar karena Keluarga Arizen masih asing di telinganya. Tapi setahuku, Keluarga Arizen Memiliki sebuah bisnis besar di Kota Augsburgert. Makanya mereka bisa disebut keluarga terpandang melalui tingkat Ekonomi yang mereka punya.


   Tak seperti keluargaku yang mendapatkan Titel Keluarga Terpandang dengan Memberikan Kontribusi menyelesaikan masalah-masalah Abnormal seperti Dungeon. 


    "Percuma saja Ayahanda berpikir keras seperti itu.. lagipula Ayahanda juga tidak mungkin mengenalnya," sahutku.


    "Ya sudah, kebetulan Ayah juga ingin berbicara denganmu mengenai Masa Depanmu nantinya." Ayah tampak memasang wajah seriusnya.


   Apa yang ingin dia bahas denganku? Aku pun bertanya mengenai itu.


   "Berbicara mengenai masa depanku? Maksudnya bagaimana Ayahanda?" 


    Ayahanda pun berjalan sambil berbicara mendekati Bunga Lily yang sedang mekar. "Keluarga Ignite terkenal berkat Kontribusi mereka sejak dahulu dalam menangani Dungeon. Apa kamu juga tertarik untuk menjadi seorang Ranker nantinya?" tanya dia.


    Aku sangat tertarik malah untuk Menjadi Ranker. Itu impianku sejak kecil yang harus kugapai. 


   "Tentu saja Ayahanda. Bagaimana bisa aku yang seorang Keluarga Ignite tidak tertarik untuk menjadi Seorang Ranker. Bahkan hampir mustahil untukku mengambil jalan lain selain menjadi Ranker meneruskan silsilah keluarga kita." Aku menjawabnya dengan suara Jernih.


   "Baguslah.." sambil memegang salah satu tangkai bunga Lily di hadapannya. "Kalau begitu Ayah minta kamu besok untuk ikut denganku ke tempat Asosiasi Ranker." Ayahanda berbalik menoleh ke arahku setelahnya.


   Besok? Besok aku ada Ujian Tengah Semester. Apa tidak masalah untukku melewatkannya?


   "Tapi Ayahanda.. besok akan diadakan Ujian Tengah Semester di sekolahku. Apa tidak masalah?" tanyaku.


   "Tidak masalah. Ayah akan meminta izin dengan kepala sekolahmu atas ketidakhadiranmu dalam Ujian besok." dengan raut wajah serius.


   Kalau Ayahanda sampai berkata seperti itu, berarti memang aku harus ikut dengannya besok. Mungkin disana aku akan diminta melewati ujian untuk menjadi seorang Ranker.


   "Baiklah kalau begitu Ayahanda.. aku akan ikut denganmu besok. Kalau itu yang Ayahanda minta." Sambil menaruh tangan kananku di dada sembari membungkukkan kepalaku.


   Ayahanda pun mendekat ke arahku dan memegang Pundakku. 


    "Maaf kalau Ayah terlihat sedikit memaksamu. Sebenarnya Ayah juga tidak ingin terlalu memaksakannya, tapi ini semua demi kebaikanmu dan juga kebaikan Keluarga Ignite." dengan suara yang rapuh seolah-olah sedih.


   Aku pun menegapkan kepalaku.


   "Tidak apa Ayahanda, aku juga paham dengan apa yang Ayahanda inginkan untukku. Kalau itu semua demi kebaikanku, 


aku rela untuk memenuhi permintaanmu." 


   Ayahanda pun memelukku seketika dengan erat. Aku pun memeluknya juga sembari menahan sedih dengan Ayahanda yang sangat memikirkan masa depanku…


   

__ADS_1


   


__ADS_2