
Raphael mengikuti jalannya. Pergi masuk lebih dalam lagi dengan pemuda itu. Raphael yang sedikit tidak paham dengan jalannya ujian, mulai menanyakan lebih detail tentang bagaimana ujian itu akan berjalan.
"Kalau boleh tau.. apa aku akan mengikuti tes tulisnya sendirian?" tanya Raphael.
Pemuda itu pun menoleh ke belakang sambil berjalan ke depan.
"Tidak, kamu akan disatukan oleh beberapa partisipan ujian juga. Kalau boleh tau, ada gerangan apa kamu menanyakan hal itu? Apa kamu memiliki sebuah kondisi mental dimana kamu tidak bisa berada di ruangan yang ramai?" tanya balik dia.
Raphael pun menyanggah kata-katanya yang terlihat seperti mengkhawatirkan. "Ah! Tidak. Aku hanya sedikit gugup saja untuk melakukan ujian tulisnya." dengan menggerakkan kedua telapak tangannya.
Pemuda itu terlihat tersenyum tipis. "Yah.. banyak partisipan yang merasa gugup juga sih. Dikarenakan mereka dilema antara lolos atau tidak lolosnya di ujian ini," balasnya.
"Wajar saja, pekerjaan yang meraup uang banyak adalah Ranker. Banyak dari mereka yang bertaruh untuk kehidupannya di Ujian ini," ungkap Raphael.
"Begitulah.. kebanyakan partisipan bergabung hanya karena mereka menginginkan uang yang banyak dengan cara yang instan. Padahal kalau dipikir-pikir kembali, Ranker memiliki tingkat keamanan yang rendah. Sekali kau lengah maka hidupmu akan usai disitu juga."
"Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga menengah yang bertaruh hidup demi keluarga mereka. Makanya mereka tidak memikirkan tentang bahayanya menjadi seorang Ranker. Tapi aku sedikit kagum dengan mereka yang memiliki pola pikir seperti itu. Setidaknya mereka bisa menjadi Pahlawan bagi keluarga mereka," cetus Raphael.
"Aku juga punya pemikiran sepertimu. Dari banyaknya anggota keluarga terpandang yang pernah kutemui. Mungkin cuman kamu yang berbicara hal ini. Itu sedikit mengubah pemandanganku tentang Keluarga Terpandang di negeri ini." Sambil menatap kagum ke arah Raphael.
"Memangnya bagaimana Pandanganmu tentang Keluarga terpandang sebelumnya?" tanya Raphael.
Raphael sedikit penasaran dengan bagaimana cara dia melihat keluarga terpandang sebelumnya.
"Aku kira semua yang berasal dari Keluarga Terpandang itu tidak memiliki hati nurani kepada kasta dibawah mereka. Mereka sering sekali bersikap semena-mena orang yang lemah dan kekurangan," ungkapnya sambil membayangkan bagaimana seringnya bertemu dengan orang yang seperti itu.
Raphael sedikit paham dengan pandangannya yang sebelumnya. Memang sih. Manusia jika dikasih jabatan yang tinggi, maka dia akan ada dua pilihan. Mau menjadi seorang yang baik, ataupun bersikap semena-mena dengan jabatannya.
Salah satu tujuan Raphael adalah menyatukan bagaimana kasta tinggi serta rendah bisa bersatu tanpa adanya perseteruan. Bayangkan saja jika hal itu terjadi. Mungkin sebuah negara yang kuat akan terbentuk dengan kesatuan itu.
Semangat juang serta dukungan finansial dari kedua belah pihak bisa menghilangkan kemiskinan yang masih merajalela di sebagian tempat. Apalagi ditambah dengan seorang yang memiliki kejeniusan ditengahnya.
Bisa saja negara itu akan berada di puncak segalanya. Dan juga, teknologi akan berkembang pesat menjauhi teknologi negara lain.
Hanya saja, kekurangannya sangatlah bahaya. Apabila ada satu orang yang mempunyai sikap semena-mena, maka dia akan gunakan teknologi itu untuk merusak negara itu. Ibarat senjata makan tuan.
************
Raphael serta pemuda itu pun sampai di depan Ruangan Ujiannya. Banyak sekali pemuda-pemudi dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Ujiannya. Dari sekian banyaknya yang mengikuti, mungkin salah satu dari mereka adalah seseorang dengan potensi tinggi.
"Kalau begitu, saya pergi untuk mengurus hal lainnya," ucap Sang pemuda itu sambil berjalan menjauhi Raphael.
"Tunggu!" Raphael mencoba untuk menahannya. Pemuda itu pun menoleh ke arah Raphael kembali dan memberhentikan langkahnya. "Siapa namamu? Aku sedikit tertarik dengan bagaimana kamu memandang dunia ini," tanya Raphael.
Pemuda itu mengedipkan matanya serta sebuah lengkungan terbentuk di mulutnya.
"Saya Ryne Ychfal."
Pemuda itu pun melanjutkan langkahnya dan pergi kembali.
"Ryne kah… mungkin orang seperti dia lumayan dibutuhkan untuk membuat dunia yang ku inginkan tercapai," gumam Raphael.
Raphael pun memasuki Ruangannya. Lebih dari 100 orang berkumpul disini dengan Ruangan yang sangat luas. Tempat duduk serta mejanya pun terlihat saling bersatu. 1 meja panjang berisi 3 tempat duduk.
Mereka semua terlihat bersemangat menunggu ujiannya dimulai sebentar lagi. Ada juga yang belajar sebelum ujian dimulai. Mereka yang belajar itu memiliki Semangat yang lebih tinggi ketimbang lainnya.
Ada juga yang hanya main-main di Ujian ini. Mungkin bagi mereka tidak penting dengan nilai tinggi di Ujian tertulis. Asalkan di Ujian yang lainnya mereka berhasil menjadi yang tertinggi. Pemikiran bodoh seperti itu yang membuat negeri ini sedikit tertinggal dengan yang lain.
Raphael melihat salah satu kursi yang kosong di bagian belakang. Dengan cepat dia duduk disana dan bersikap tenang menunggu waktu ujian dimulai.
Sambil mengingat-ngingat hal-hal yang berhubungan dengan Ranker ataupun Dungeon yang kemungkinan besar akan memenuhi isi soal yang akan diberikan. Dengan memori buku-buku tentang petualangan orang lain yang telah dia baca, dia mempelajari serta mengingat kembali garis besarnya.
__ADS_1
Saat berpikir serius, wajah Raphael terlihat sangat menyeramkan. Sorot matanya yang seperti hilang, tatapan mata tajam, serta kedua alisnya yang bergerak ke bawah. Dan juga sudut mulutnya yang muncul membuat wajah mengerikan terbentuk.
"Hey siapa Namamu?" salah seorang mendekati Raphael.
Raphael pun menatapnya dengan tajam sehingga mengintimidasi dirinya. Kemudian dia pergi menjauhi Raphael sebelum Raphael berbicara satu kata pun.
Suasananya terlihat mencekam di sekitar Raphael yang menunjukkan Aura hitam yang mengerikan. Sehingga banyak sekali orang yang tidak ingin duduk di dekatnya.
Sampai suatu ketika, salah seorang perempuan yang baru masuk ke ruangan tiba-tiba duduk di samping kanan Raphael. Raphael mengabaikan orang yang berada di sampingnya. Dia saat ini sedang berpikir sekeras mungkin agar dia lulus dalam tesnya.
Dan juga, ekspresi si perempuan itu pun menunjukkan ketidakpedulian pada Wajah Raphael yang terlihat menakutkan. Ekspresinya pun sangat datar dan tak ada sama sekali cahaya di matanya. Dengan sebuah Sweater hitam dan juga Rok hitam selutut yang dia pakai.
Bukannya suasana sedikit tenang, yang ada malah kedua orang ini terlihat tak bersahabat sama sekali.
"Tempat duduk disana Mengerikan.." salah seorang yang ada di Ruangan terlihat ketakutan.
"Aura yang mereka tunjukkan terlihat sangat berbahaya. Sebaiknya kita menjauhi mereka berdua."
Seisi ruangan membicarakan mereka berdua. Yah.. tapi mereka sama sekali tak peduli dengan apa yang dikatakan mereka semua. Dua orang ini sedang serius dalam mengingat sesuatu.
*************
"SELURUH PESERTA DIHARAPKAN DUDUK DI TEMPAT YANG TERSEDIA! TES TULIS AKAN SEGERA DIMULAI!" Suara Pengumuman dari sebuah Pengeras Suara.
Semuanya pun duduk di tempat masing-masing dengan kesigapan. Akhirnya Raphael menunjukkan ekspresi yang normal. Suasananya pun sedikit menurun namun tak terlalu berarti.
Dia menoleh ke arah Kanan. "Ah!" dia sedikit terkejut melihat seorang perempuan berada di sampingnya. Karena terlalu serius berpikir tadi, sampai-sampai dia tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.
(Sejak kapan dia duduk di sampingku?) dalam hati Raphael dipenuhi pertanyaan.
(Terserahlah.. yang penting aku harus mengerjakan soalnya dengan benar) sambil mengedipkan mata dan menaikkan bahunya sejenak.
Sebuah kertas beserta pena muncul dari dalam meja. Seisi ruangan sedikit terkejut melihat kertas itu dengan perlahan bergerak ke atas di meja mereka.
Raphael pun mengambil secarik kertas ya dan membaca satu persatu soal yang diberikan. Hanya ada 10 soal yang menurutnya terlihat mudah.
"WAKTU YANG DIBERIKAN HANYALAH 30 MENIT.. KALIAN HARUS MENYELESAIKAN SEMUA SOAL DENGAN BENAR SEBELUM WAKTU SELESAI!"
Pantas saja hanya 10 soal, waktu yang diberikan juga hanya 30 menit. Apalagi jika disuruh menjawabnya dengan benar semua.
"BAGI SIAPA YANG BELUM SELESAI SAMPAI WAKTU BERAKHIR!! MAKA AKAN DINYATAKAN TIDAK LOLOS TES TULISNYA!"
Dengan kalimat itu, seluruh perasaan peserta tesnya langsung menjadi berat. Ada 3 tes saat ingin menjadi seorang Ranker. Dan kamu harus lolos 2 tes dari 3 tes yang diselenggarakan. Mereka terlihat gelisah dan berpikir apa jadinya kalau mereka tidak lolos di tes ini dan tes selanjutnya. Maka harapan mereka akan sedikit tertunda.
Raphael mulai mengambil pena yang ada di depannya.
"Skill terbagi menjadi berapa tipe? Dan sebutkan semuanya," ucap Raphael dengan suara yang pelan. "Untung saja aku tahu berapa tipe skill yang sejauh ini diketahui. Mungkin aku akan menjawab soal ini dulu."
Raphael pun mulai menuliskan jawabannya di lembaran.
[ Skill terdiri dari 6 Tipe. Air, Api, Tanah, Angin, Cahaya, Kegelapan ]
Raphael selesai menulis jawaban untuk soalan itu. Sejauh ini, hanya ada 6 tipe itu yang diketahui. Untuk yang lainnya, masih belum jelas skill mereka tipe apa. Dan juga, Raphael memiliki skill yang tak diketahui apa tipenya. Skill milik Raphael tidak termasuk ke dalam 6 tipe yang resmi diberikan oleh Asosiasi.
"Soal selanjutnya.." sambil melihat ke soal nomor 2. "Bagaimana cara efektif untuk melakukan Raid Dungeon?" Raphael sedikit bingung dengan pertanyaannya.
Sepertinya ini soalan untuk menentukan kepribadian masing-masing. Raphael memikirkan bagaimana cara yang efektif untuk melakukan Raid Dungeon. Sebelumnya, dia tidak pernah masuk sekalipun ke dalam sebuah Dungeon.
Jadi dia sedikit bingung dengan cara yang efektif untuk melakukan sebuah Raid. Raphael mulai menoleh ke kanan ke perempuan itu. Dia sedikit terkejut saat melihat perempuan itu sudah menjawab sampai nomor 9. Padahal Tes baru saja dimulai.
(Hebatnya!!) dalam hati Raphael.
Si perempuan itu mulai melirik ke arah Raphael. Dia segera menutup lembaran jawabannya dengan tangannya. Raphael pun kembali melihat ke arah soal yang dia punya berpura-pura tidak melihatnya.
__ADS_1
*************
20 menit berlangsung….
Kini Raphael hampir menyelesaikan Tesnya. Hanya tersisa 1 nomor lagi yang belum dia isi. Terlihat juga, yang lainnya juga cukup kesulitan dengan Tesnya. Mustahil untuk mencontek jawaban orang lain karena seluruh sudut ruangan dilengkapi oleh CCTV.
Perempuan yang berada di samping Raphael juga sudah selesai dari tadi. Dia sudah keluar dari Ruangannya sejak 10 menit yang lalu.
[ Metode apa yang paling efektif untuk meningkatkan skill milikmu dalam waktu singkat? ]
"Ini soal apalagi?? Kenapa dipenuhi dengan pertanyaan yang sama sekali belum ku mengerti," keluh Raphael.
Untuk meningkatkan sedikit skill saja, diperlukan waktu dan tenaga yang terkuras banyak. Bagaimana bisa untuk meningkatkan Skill dalam waktu singkat. Kira-kira itulah yang ada di isi kepala Raphael saat ini.
"Metode yang paling efektif ya… aku terpikir sebuah cara yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan oleh orang lain." Sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan. "Melakukan sebuah kontrak dengan sebuah Monster. Hanya itu satu-satunya yang terpikirkan dariku," ungkap Raphael.
Dia pun menulis jawaban itu di lembar jawabannya. Sebenarnya.. apa yang dia bicarakan tidak salah. Hal yang paling efektif untuk meningkatkan skill bisa melalui sebuah Kontrak dengan sebuah Monster. Tapi tak seperti Monster yang mempunyai sikap jahat, ada pula Monster yang bersikap baik.
Yang dimaksud monster disini adalah yang bersikap baik. Biasanya, ketika bekerjasama dengan baik, sang monster ini bisa memberikan kekuatannya kepada sang Majikannya. Sehingga hal itu bisa meningkatkan skillnya walau hanya sementara.
Salah satu dari sekian banyaknya orang yang menjalin kontrak dengan Monster adalah Euphiliane Ceroline Ansteilweise. Seorang Ranker yang melakukan sebuah Kontrak kerjasama dengan sebuah Griffin besar.
Dengan skill miliknya yang dapat menjinakkan monster, dia mempunyai banyak sekali monster peliharaan di rumahnya. Dan juga, ada beberapa Monster yang menjadi bawahannya. Walaupun hanya 1 yang bisa dikontrak. Dan itu hanyalah sang Griffin besar.
Raphael pun selesai menyelesaikan soalnya.
"Selesai juga.. kukira tadi Tes ini hanya seperti ujian biasa. Ternyata sangat menguras energi ku untuk berpikir," Cetus Raphael sambil melihat lembar jawaban serta soalnya.
Dia pun menaruh Lembaran itu di depannya. Ketika sudah selesai, otomatis Lembar itu akan diambil kembali dan ditaruh di dalam meja yang tak tahu kemana arahnya.
Raphael pun berjalan keluar dari Ruangan. Beberapa orang juga sudah menyelesaikan Tesnya sejak tadi. Mungkin diluar sudah banyak orang yang menunggu tahap selanjutnya.
Di Luar…
Beberapa orang berkumpul membentuk suatu koloni. Tak ada gunanya bagi Raphael mengikuti semacam itu. Menurutnya menyelesaikan seluruh rangkaian ujian secara sendiri lebih baik daripada membentuk suatu kolonisasi.
Tapi… ada beberapa orang yang membuat Raphael tertarik. Salah satunya adalah Perempuan yang tadi berada duduk di sampingnya. Sekarang dia tengah menyendiri dengan menyandar di dinding belakangnya.
Dengan kedua tangan disilangkan dan tatapan mata yang cukup tajam serta raut ekspresi yang serius menyelimutinya.
"Mungkin kalau disuruh membentuk kelompok, aku akan memilihnya untuk pertama kali," gumam Raphael.
Tak tahu seberapa potensial fisiknya dalam tahapan sebelumnya, melihat dia yang dengan cepat dapat menyelesaikan ujiannya itu membuktikan bahwa dirinya memiliki pemikiran yang cepat. Mampu berpikir kritis dalam sebuah pertarungan adalah suatu kemampuan mengerikan. Tak ada yang tahu orang seperti dia melakukan apa di tengah-tengah pertarungan.
Salah satu kelompok mendekati Raphael.
"Hey.. apa kamu mau bergabung dengan kelompok ku? Aku dengar di Tahapan selanjutnya akan menguji kekuatan melawan sebuah Monster replika." Salah seorang mengajak Raphael bergabung.
Raphael dengan cepat menolaknya karena tidak tertarik. "Maaf, aku cukup senang dengan tawaran mu. Tapi aku menolaknya," ungkap dengan telapak tangan diangkat sejajar dengan kepala nya.
"Baiklah.. kalau begitu semoga beruntung di Ujian selanjutnya."
Mereka semua pun pergi. Mendengar bahwa ujian selanjutnya akan ada pertarungan dengan Monster replika, Raphael mulai ragu kalau dia bisa menyelesaikannya sendiri.
"Sepertinya memang aku harus membentuk sebuah kelompok." Sambil melirik ke arah Perempuan yang bersandar itu.
"Aku akan mencoba untuk mengajaknya terlebih dahulu."
Raphael pun mendekati perempuan itu….
__ADS_1