Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 40 Sebuah Perasaan berkat Sebuah Senyuman


__ADS_3

Vincent tampak melihat papan-papan ruang sekeliling. 


  "10C…10B…" Sambil menyebut tulisan yang ada di Papan yang ada di depan pintu ruangan.


  Di koridor, banyak sekali orang-orang yang sedang bersandar di dinding-dinding Ruangan. Ada juga yang sedang bercerita dengan rekan-rekan mereka. Dalam pikiranku, "Baru hari pertama sudah seperti akrab saja mereka." Sambil memandangi murid-murid yang berkumpul di samping Jendela koridor.


  Sulit bagiku untuk mengikuti mereka. Jangankan Akrab, aku mendengar suara orang asing yang mendekat ke arahku saja aku langsung ketakutan setengah mati. 


  "Hahh.." Sambil menghela nafas.


  Vincent pun menoleh ke arahku yang berada dibelakangnya seketika.


  "Kenapa kamu? Kayak Hela nafas gitu."


  Aku pun bersikap seolah tidak ada apa-apa.


  "Tidak apa-apa. Cuman pengen ngehirup udara saja." Dengan melirik ke atas.


  Vincent pun kemudian berhenti di depan salah satu Ruangan.


  "Ini Kelas 10-A." Sambil memandangi Papan Nama kelas.


  Pintu Kelasnya tertutup. Vincent yang sepertinya ingin membuka pintunya, segera kuhentikan. Aku menarik tangan kanannya yang hendak membuka pintu Ruangan.


  "Tunggu Vin! Biarkan aku bersiap-siap dulu." Sambil teriak ke arah Vincent.


  Aku pun menarik nafas dengan perlahan serta diiringi oleh kedua tanganku yang bergerak ke atas. Aku kemudian membuang nafas dan diiringi juga dengan kedua tangan yang bergerak ke arah bawah.


  Ini merupakan kebiasaanku untuk menenangkan Perasaan yang lumayan ketakutan. Aku tidak percaya diri untuk bertemu orang lain yang tak kukenal.


  "Dah Belum." Vincent bertanya sambil memasang tatapan serius ke arahku.


  Aku belum siap untuk ini. Hanya saja, aku harus berusaha untuk percaya diri untuk bertemu dengan orang-orang baru.


  "Da-dah.." sambil memasang ekspresi sedikit ketakutan.


  Vincent pun langsung membuka setelah aku berbicara. Di dalam Ruang Kelas, banyak sekali murid-murid yang sedang berbicara satu sama lain. Ada juga yang sedang bermain smartphonenya disana.


  Dan juga, seseorang yang sedang membaca sebuah buku dengan sendirinya. Vincent pun langsung menyapa mereka semua dengan semangat. 


  "Selamat Pagi." Sambil mengangkat tangannya.


  Orang-orang mulai melirik ke arah kami berdua. Vincent sangatlah pandai untuk berbicara dengan orang yang baru ditemuinya. Dia tak segan-segan untuk menyapa seseorang yang baru dia temui.


   "Pagi Juga." Ucap murid-murid yang sedang berkumpul di salah satu bangku.


  {Uwah!} Dalam hatiku. Disana sangat ramai sehingga membuat diriku sedikit merasa ketakutan. Walau begitu, raut wajah mereka sepertinya sangat bersahabat. Vincent pun mencari tempat duduk.


  Dia melewati kumpulan itu sambil berkenalan dengan yang lainnya. Aku yang hanya berdiam di tempat tadi aku berdiri, hanya bisa melihat dia yang sedang berjalan mengarah ke kumpulan itu.


  "Salam Kenal, Aku Vincent Astroze." Sambil mengarahkan tangan ke depan.


  Mereka semua pun langsung membalas ucapan Vincent dengan tersenyum.


  "Salam Kenal Juga. Namaku Luci Rotstein." Sambil menjabat tangan Vincent.


  "Salam Kenal Vin.. Kalau aku Raymond Domenech. Kamu bisa panggil aku Raymond." Sambil tersenyum.


  Melihat Vincent yang sedang berkenalan disana, aku pun mengambil jalan memutar. Aku melewati Kursi yang ada di sebelah kiri ku. Menghindari kerumunan orang yang ada disana. Aku memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di sebelah pojok kanan.


  Tidak terlalu belakang, itu ada di depan yang paling belakang. Aku pun menaruh tasku dan segera duduk di kursinya. Aku langsung membuka smartphone ku untuk menghalau jika ada seseorang yang ingin mengajakku berbicara.


  Namun, Sialnya si Vincent malah menarikku ke arah Kerumunan itu. Aku pun langsung menarik tanganku kembali. "Apa sih Vin!!" Sambil memasang raut wajah kesal.


  Vincent pun tampak memaksa untuk menarik tanganku.


  "Sudah ikut aja sini. Ini bagian dari penyembuhan mental mu." Sambil berteriak.


  Aku pun langsung berdiri karena ditariknya. Kekuatan tarikannya sangat kencang sehingga tubuhku tidak sanggup untuk menahannya. Dengan terpaksa, aku pun terbawa ke arah Kerumunannya.


  Dia menarik tangan ku untuk diarahkannya di depanku. 


  "Kenalin, Dia Raphael Ignite." Sambil memegang tanganku.


  {Sial!} Dengan tubuh yang mencoba untuk memberontak.


  "Halo Raphael." Ucap Luci dan Michael.


  Aku pun mencoba untuk membalas ucapan mereka dengan nada yang pelan.


  "Ha-hallo juga." Dengan kepala yang menunduk ke bawah.


  Aku berusaha untuk menghindari kontak mata dengan orang lain saat ini.


  "Apa?" Sambil memastikan sekali lagi.

__ADS_1


  Sepertinya suaraku sangat pelan sehingga tak terdengar olehnya. Vincent pun langsung mengangkat kepalaku ke atas.


  "Kalau di sapa orang tuh diliat. Jangan menghindar." Sambil memarahi ku.


  Aku pun langsung menutup mataku seketika setelah Vincent mengangkat kepalaku. Aku sangatlah Tidak percaya diri untuk bertatap dengan orang lain.


   "Ha-hallo Juga." Dengan mata yang tertutup dan suara yang lumayan keras.


   "Nah begitu dong. Kalo orang menyapa dibales sambil menatapnya." 


  Sepertinya Vincent tidak melihat mataku yang tertutup.


  "Hahaha… kayaknya kamu ketakutan sama Michael ya."


  "Ih apa sih Ci. Jangan ngomong begitu." 


  Setelah mendengar mereka berdua berkata seperti itu, aku perlahan mulai membuka mataku. Aku melihat ke arah mereka berdua.


  "Yahoo… Aku Luci." Sambil memasang Pose Peace.


  "Aku Michael. Salam Kenal Raphael." Sambil melambaikan tangannya sejajar dengan dada.


  Ahh.. sudah lama sekali aku tidak bertatapan seperti ini dengan orang lain. Ini sedikit membangkitkan rasa percaya diriku. Aku pun membalas melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


  "Aaa-aku Raphael Ignite. Salam Kenal." 


  Ini juga, setelah sekian lama Aku bisa berbicara dengan tanpa ketakutan sama sekali di hatiku. Berkat Vincent, Percaya diriku yang menghilang, mulai kembali. Seseorang menepuk punggungku dengan pelan.


  Aku langsung merespon dengan menoleh ke arahnya.


  "Salken Raphael, Aku Aaron." Dengan kedua tangannya yang mengepal berada di punggungku.


  Aku pun langsung membalas kembali.


  "Salam Kenal juga Aaron." Sambil memasang ekspresi tersenyum.


  "Senyummu membuat aku sedikit ingin tertawa Raphael." Ucap Aaron dengan Mulutnya yang seperti menahan tawa.


  Aku pun terheran dengan perkataannya. Memangnya seperti apa Senyumku sehingga dia ingin tertawa melihatnya. Aku bertanya kepadanya bagaimana Rupa dari senyumku dari pandangannya.


  "Memangnya senyumku seperti apa?" Sambil memasang senyum kearahnya.


  "Ha-.. Hahaha.. maaf Raphael. Aku tidak bisa menahan tawaku." Sambil tertawa terbahak-bahak.


  Aku pun mencoba untuk menanyakan yang lain dengan Senyum yang masih kupasang.


  "Hahaha.. benar Ci. Senyumnya tidak bisa membuatku menahan tawa." Michael.


  Mereka semua malah ikutan tertawa. Aku pun mencoba untuk menanyakan pada Vincent.


  "Memangnya kenapa Dengan senyumku Vin?" Sambil memasang senyum.


  "Ya-yah.. Senyum mu itu tidak seperti senyuman biasanya. Kamu memperlihatkan gigi dengan ekspresi yang serius. Itu yang membuat Senyuman terasa lucu bagi mereka." Sambil sedikit mengangkat alisnya serta tersenyum dikit.


  Ahh, jadi seperti itu. Alasan kenapa mereka menganggap senyumku lucu hanyalah karena ekspresi ku yang terkesan serius. Aku sudah lama tidak tersenyum secara biasa. Terkadang aku tersenyum dan tertawa karena terbawa suasana.


  Aku pun langsung menutup wajahku Karena Rasa malu itu.


  "Malunya~~.." dengan nada pelan serta muka yang Ku tutupi.


  Mereka pun masih tertawa terbahak-bahak. Aku pun langsung meninggalkan mereka dan kembali ke Tempat duduk ku. Disaat aku ingin kembali ke Tempat dudukku, orang yang kutemui tadi saat berada di halaman sekolah melirik ke arahku.


  "Kamu yang tadi ya?" Dia berbicara dengan menunjuk ke arahku.


  Aku yang menyadari dia berbicara kepadaku, langsung menoleh ke arahnya.


  "Ah!" Dengan sedikit terkejut. Aku pun berhenti di sampingnya yang sedang duduk.


  "Kamu kenal dengannya Nov?" Ucap seseorang disampingnya.


  "Itu loh Lic… yang tadi di bawah Pohon itu." Sambil memasang ekspresi gregetan.


   Seseorang yang disampingnya pun mulai mengingat-ingat kalau dilihat dari raut wajahnya.


  "Ohh.. yang itu. Aku ingat sekarang." Dengan mulutnya terbuka lebar serta kedua alisnya terangkat.


  "Ternyata kamu sekelas juga denganku. Kenapa tapi diam saja?" Dia bertanya kepadaku.


  Aku mulai bingung dengan apa yang harus kuucapkan padanya. Apakah aku harus bilang jujur bahwa saat itu aku tidak bisa berkata sepatah kata pun padanya. 


  "I-iya. Aku tadi bingung mau jawab apa. Soalnya aku juga gatau." Mencoba untuk berbicara dengan lancar padanya.


  "Begitu ternyata… kalau gitu salam Kenal ya. Aku Novaria Arizen." Sambil tersenyum Manis.


  Tiba-tiba Detak Jantungku meningkat setelah melihat senyumannya. Entah kenapa, rasanya seperti aku terpikat dengannya. Kepercayaan diriku meningkat pesat setelah melihat senyumannya itu.

__ADS_1


  Dan juga, Entah mengapa rasanya aku ingin Tersenyum ke arahnya saat ini. 


  "Aku Raphael Ignite." Dengan memasang ekspresi Tersenyum sambil menutup mata.


  Dalam Pandangan Novaria, Dia melihat Raphael seperti melihat seorang Malaikat. Cahaya menyinari disaat Raphael sedang Tersenyum manis itu. Dalam Hatinya, "Wah! Layaknya seorang malaikat yang turun ke bumi." Dia terpesona dengan Senyuman Raphael.


  Alice yang ikut melihatnya juga memasang ekspresi yang sama seperti Novaria. Itu adalah Senyuman Tulus dari Seorang Raphael Ignite yang pernah dia berikan setelah sekian lamanya dia memendam rasa Traumanya.


  Aku pun membuka mataku. Aku melihat ekspresi raut wajah mereka berdua seperti terkesan melihatku. Apakah ada yang aneh? Dalam Pikiranku, aku mulai menyadari bahwa senyuman ku sangatlah memalukan.


  Setelah mengingat kata-kata Michael dan Luci, aku pun mulai merasa malu setelah Tersenyum ke arahnya.


  "Aku Alice Berg. Salam Kenal Raphael." Sambil memasang ekspresi wajah senyum dengan kepala yang sedikit miring ke kanan.


 "Salam Kenal Juga Alice." 


  Aku pun melanjutkan kembali berjalan menuju arah tempat dudukku. Dan segera duduk disana.


  [ Kembali ke Latar Masa Kini ]


  Begitulah pertama Kali aku bertemu dengan Novaria. Saat itu aku masih dikalungi rasa Trauma yang mendalam. Aku suka padanya sejak  melihat senyumannya pertama kali. Kalau diingat-ingat kembali, rasanya aku sekarang ingin kembali untuk mengulang masa itu.


  "Oy Raphael." Sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajahku.


  Aku yang tengah melamun itu pun tersadar. Aku langsung menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan efek melamunnya.


  "Malah Melamun kamu Raphael. Padahal Baru saja mau ngobrol bareng." Luci dengan ekspresi yang datar.


  "Maaf-maaf. Aku lagi mikirin sesuatu." 


  "Kebiasaan banget kamu Raph. Orang lagi ngajak ngobrol malah kamu Melamun seperti itu." Ucap Vincent yang berada di belakangku.


  Aku pun bersandar pada kaca yang berada di sampingku. Agar percakapan dengan keduanya dapat enak. Aku tinggal melihat ke kanan dan ke kiri ke arah mereka berdua.


  "Yah.. gimana ya, cuman keinget memori dulu aja. Pas Luci bilang ingin membahas soal Percintaan." Dengan kepala bagian belakang kuelus.


  "Jadi gimana nih? Mau lanjut pembahasannya?" Luci dengan memasang wajah seriusnya.


  "Aku sih ikut obrolannya aja. Cuman kalo nanti aku sering diam saja, itu karena aku kurang paham dengan materi obrolannya." Ucap diriku.


  "Aman Kalau itu mah Raph. Kamu Vincent? Bagaimana?" 


  "Sama seperti Raphael." 


  Luci pun langsung memasang tatapan tajam dan serius ke arah kami berdua. Dia berkata sebuah kalimat dengan Tatapan yang menyorot tajam. "Jadi, siapa yang kalian suka di kelas ini?" Dengan tangan yang menjadi tumpuan di Kursinya.


  Baru mulai saja sudah langsung menanyakan inti obrolannya. Luci ini.. aku pun menggelengkan kepalaku karena mendengar apa yang dia ucapkan.


  "Orang yang Kusuka ya… Mungkin Leiva. Aku suka dengan sifatnya." Vincent dengan ekspresi sedikit bingung.


  Hah!! Baru kali ini aku tahu Vincent tertarik dengan seseorang. Aku pun terkejut bukan main ketika dia menyebut orang yang dia suka secara blak-blakkan.


  "Jujur sekali Kamu Vin. Kukira kamu akan mencoba untuk menjawab tidak ada." 


  Luci pun langsung memasang ekspresi tersenyum setelah mendengarnya. Tatap sorot matanya yang tajam kini kembali menjadi seperti biasa. 


  "Ngapain juga aku mencoba untuk menyembunyikannya. Lama kelamaan juga bakal ketahuan." 


  "Aku baru pertama kali loh tahu kamu suka perempuan Vin. Kukira kamu sudah hilang nafsu dengan perempuan." 


  "Ngasal aja kalau ngomong. Aku memang dulu tidak tertarik dengan perempuan. Cuman untuk sekarang ini, kupikir tidak ada salahnya untuk berhubungan secara mendalam dengan perempuan." Sambil menyanggah kata-kataku.


  "Hahaha, lucu sekali kalian berdua. Memang tepat untuk membawa bahan obrolan ini dengan kalian berdua." Luci sambil tertawa-tawa. "Hah… sudahlah. Kalau kamu Raphael?" Luci bertanya kepadaku sekarang.


  Hmm.. aku harus menjawab apa ya. Apa sebaiknya aku berterus terang kepada mereka berdua? Tapi kalau tiba-tiba mereka membocorkannya kepada Novaria, bisa gaenak nantinya hubungan yang telah lama kujalin.


  Sebaiknya aku sedikit berbohong kepada mereka.


  "Tidak. Tidak ada yang Kusuka saat ini." Dengan mengalihkan tatapan ku ke luar Jendela.


  Mereka berdua pun menatap ke arahku sambil tersenyum. Dalam hati.


  {Kenapa mereka tersenyum seperti itu}


  "Raphael sih sudah pasti tidak ada yang dia sukai ya Vin?" Luci sambil melirik ke arah Vincent.


  "Betul sekali. Raphael mana Mungkin suka Ama Orang Lain." Dengan Nada Tinggi.


  Ada apa dengan mereka berdua? Kok tiba-tiba jadi aneh gini. Ah biarkanlah sesuka mereka saja. Setidaknya mereka tidak tahu rahasiaku yang kusimpan selama ini. Karena aku dan Vincent sudah menjawab pertanyaan Luci, kini aku yang menanyakan balik kepadanya.


  Aku memasang wajah serius dengan tangan yang saling berpegangan berada di mulut.


  "Sekarang, Siapa yang kamu sukai Luci?" Dengan menatap ke arahnya.


  "Tidak-tidak, kamu salah menanyakan itu padaku. Tidak ada satupun yang Kusuka. Berhentilah kamu menatapku seperti itu Raphael." Luci menyanggahnya sambil memasang wajah yang tersenyum.

__ADS_1


  Aku pun memasang raut wajah biasa kembali. Setelahnya, Guru Matematika pun masuk ke kelas. Aku pun langsung membenarkan posisi dudukku melihat ke arah depan. Luci juga langsung berbalik arah ke papan Tulis…


__ADS_2