
Keesokan harinya di pagi hari…
"Hah! Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam." Ucap diriku sambil berteriak kegirangan.
Karena aku masih terlarut dalam perasaan bahagia, sampai-sampai itu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku masih teringat tentang diriku yang mengungkapkan perasaanku ke Novaria kemarin sore.
Aku pun berputar ke kanan dan ke kiri di Kasurku. Tak lama, Bunyi Alarm pun menyertai.
"TRRINGG!!"
Aku pun langsung berdiri dan mematikan Bunyi Alarmnya.
"TEK!" Bunyi tangan ku yang menekan Tombol mematikan Alarm.
"Saatnya Mandi dan pergi ke sekolah." Sambil memasang raut wajah ceria.
Aku pun mengambil Handuk dan pergi ke Kamar Mandi… berendam di sebuah Bathtub. Sambil menikmati Air hangat yang tersedia, aku pun menutup mata ku sedikit.
"Nikmatnya berendam air hangat di Pagi Hari.." Ujar diriku.
Mataku pun terlihat sedikit terpejam sedikit demi sedikit..
************
"TUKK..TUKK..TUKK. Oy Raphael bangun."
Mataku pun terbuka secara perlahan karena mendengar suara ketukan pintu. Aku menyadari bahwa diriku tertidur tadi. Aku pun terkejut karena tubuhku yang masih berendam di bathtub nya.
"Sial, berapa lama aku tertidur." Ucap diriku dengan sedikit perasaan terkejut dan kebingungan.
Aku pun termenung sejenak akibat kebingungan yang kurasakan.
"TUKK..TUKK..TUKK.. Oy Raphael!" Teriak Suara Kak Lily.
Aku pun tersadar dan segera memakai handukku. Setelahnya, aku pergi untuk membuka pintu.
"OY! Raphael buka.. TUKK..TUK-" Aku pun membuka pintunya.
"Lama banget sih kamu Mandinya.. ngapain aja Kamu!" Ucap Kak Lily sambil Marah.
Bagaimana bilangnya ya.. kalau aku bilang tertidur nanti dibilangin teledor Ama Kak Lily. Tapi kalau aku mencoba berbohong, nanti dia berpikir yang tidak-tidak.
"Aku ketiduran tadi pas berendam." Sambil menunjukkan Raut wajah menyesal.
"HAH! KETIDURAN? BISA-BISANYA KAMU MALAH TIDUR PAS MANDI." Bentak Kak Lily dengan emosi yang meledak di wajahnya.
Aku hanya bisa termenung ketakutan karena bentakannya itu. Aku pun menyesali keteledoran ku yang tertidur saat sedang berendam. Dengan rasa penuh penyesalan, aku pun meminta maaf padanya.
"Ma-maafin Aku Kak Lily." Dengan kedua tangan berpegangan sambil menunduk ke bawah.
"KAMU INI! Bikin Greget Aja Ah!" Sergah Kak Lily Sambil Menggigit bibirnya.
Sepertinya dia terlalu berlebihan untuk memarahi ku. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya bisa terdiam sambil mendengarkan segala ucapan marahnya itu. Kalau aku ngelawan sedikit saja pasti dia makin tambah marah.
"Yaudah Sana Pakai Baju terus pergi ke Sekolah!. Keburu telat nanti. Biar kakak aja yang nganterin kamu." Ucap Kak Lily yang perlahan tenang.
Aku pun menjawabnya dengan pelan, "Baik Kak Lily." Sambil terburu-buru berlari ke arah Lemari.
Aku pun membukanya dengan cepat dan mulai mengambil Seragamku yang berada dalam lemari. Kak Lily yang keluar dari kamarku itu pun berjalan sambil sedikit menyisakan amarahnya.
Karena aku tidak ingin dia marah lagi, aku pun memakai seragamnya dengan cepat. Selesainya aku memakai seragamku, aku pun langsung berlari sambil menenteng tasku untuk menuju ke bawah.
Sampai-sampai aku tidak sempat untuk menutup Pintu Kamarku. Aku pun berlari menuruni tangganya. Di Lantai Bawah, aku tak melihat Kak Lily. Sepertinya dia sudah berada di Mobilnya. Aku pun bergegas ke Luar.
Benar saja, Kak Lily sudah berada di dalam Mobilnya. Aku berlari menuju mobilnya. Membuka pintu dan duduk di samping Kak Lily yang mengemudi. Aku pun menutup pintunya kembali.
"TUK!" Suara Pintu mobil yang tertutup.
__ADS_1
"Pakai tuh Seatbeltnya!" Ucap Kak Lily.
"Iya Kak…" Jawab diriku. Aku pun langsung memasang Seatbeltnya dengan cepat. Setelahnya, Kak Lily pun menancap gasnya.
***************
Di Perjalanan…
Melihat seisi kota, aku duduk diam sambil melihat ke arah Luar Jendela. Kondisi jalan yang lumayan padat membuat kami berdua sedikit terhambat. Untungnya Kak Lily yang fokus menyetir itu tidak mempedulikannya.
Sepertinya dia masih kesal padaku. Yang biasanya dia sering mengajak ngobrol diriku saat perjalanan, saat ini malah diam saja. Aku pun mencoba untuk menanyakan perihal itu.
"Kak Lily masih marah sama aku?" Tanya diriku sambil melirik ke arah Kak Lily.
"Gak." Jawab Kak Lily dengan singkat, padat dan menyekit.
"Udahlah Kak Lily.. aku juga sudah meminta maaf tadi. Jangan marah gitu dong!" Cetus diriku sambil sedikit kesal.
"Berisik kamu Raphael!, Kakak lagi fokus mengemudi ini."
"Ya makanya Maafin dulu. Masa ga mau Maafin cuman gegara kayak gitu doang. Kenapa sih emangnya?" Tanya diriku dengan Nada Tinggi.
Aku sedikit kesal karena ulahnya itu. Tidak biasanya dia marah terlalu lama kepadaku. Aku heran dengan sikapnya yang saat ini.
"Yaudah iya Kakak Maafin. Tapi jangan ulangi lagi yang kayak gitu. Kalau ada kejadian apa-apa gimana nanti? Kan Kakak juga panik." Jawab Kak Lily sambil menoleh ke arahku sedikit-sedikit.
"Nah gitu dong.. kalau kayak gini kan enak. Berasa liat Kakak Sendiri yang biasanya ceria."
Aku pun sedikit senang karena dia memaafkan ku. Ini baru Kak Lily yang kukenal. Bukan Kak Lily yang memasang ekspresi marah seperti itu.
"Hahaha… Bisa aja Kamu. Makasih ya udah ngehibur Kakak." Ucap Kak Lily sambil tertawa.
"Aku juga minta maaf buat yang tadi."
"Udah Ga Usah inget-inget lagi."
*************
Sesampainya di Depan Gerbang sekolah..
Kak Lily pun memberhentikannya tepat di Depan Gerbang. Aku pun bergegas keluar dari mobil.
"Belajar yang Bener Raph. Jangan main-main loh."
"Iya Kak.. Kakak gak bosen apa ngomong gitu terus setiap nganterin aku Sekolah?" Ucap diriku.
"Ya enggak lah. Itu kan memang harus. Biar kamu gak bandel nanti di Sekolah." Sanggah Kak Lily.
"Iya deh terserah Kakak aja. Yaudah aku Masuk dulu ya kak." ucap diriku sambil membuka pintu Mobilnya.
"Inget loh kata-kata Kakak. Jangan sampai lupa!" Ucap Kak Lily sambil menasehati ku.
Hah.. sudah sering sekali mendengar itu. Tapi lebih baik seperti ini dibanding Kak Lily yang hanya diam saja.
Aku pun melambaikan tangan ku kepada Kak Lily, "Dah Kak Lily." Sambil tersenyum.
"Dah Juga adikku yang imut!" Ujar Kak Lily sambil melambaikan tangannya.
Hahahha.. aku sedikit tertawa mendengar dia menyebutku seperti itu. Sepertinya aku juga jadi Asik yang imut dimatanya. Walaupun kelakuan ku kadang membuatnya kesal. Dia pun pergi meninggalkan kawasan sekolah setelahnya.
Aku pun merapikan Seragamku dan berjalan menuju Ke Kelas. Karena sekarang musim panas, sinar matahari hari ini sedikit menyengat. Membuat kulit ku terasa kepanasan dan terbakar.
"Panasnya!" Aku mengeluh soal sinar matahari yang menyengat ke diriku.
Aku menadahkan tanganku sejajar dengan dahi untuk menutupi silaunya. Aku berjalan dengan pelan di Halaman Sekolah. Daun-daun Pohon yang tampak berwarna kecoklatan itu berjatuhan seperti halnya mengalami kematian.
Disaat aku sedang berjalan pelan di Halaman Sekolah. Aku mendengar sebuah suara dari seseorang. Seseorang yang kukenali dan tampak Familiar.
__ADS_1
"Raphael.." Suara Milik Novaria.
Aku pun menoleh ke arahnya. Ahh.. aku merasa sedikit senang melihatnya menyapaku sambil melambaikan tangannya dan tersenyum. Ini situasi yang selalu kubayangkan saat aku berpacaran dengannya.
"Halo Nov.." Teriak diriku sambil melambaikan tangan.
Wajahnya yang tampak bersinar itu membuat hatiku nyaman. Cahaya matahari tak buruk juga sepertinya. Dia berlari menuju diriku saat ini. Aku pun mendekatinya juga.
"Hah..Hah.. kamu tadi kesini sama siapa Raph?" Ucap Novaria dengan nafas yang terengah-engah.
"Bersama Kakak ku. Dia memintaku untuk pergi bersamanya, aku jadi tidak bisa menolak permintaannya." Jawab diriku dengan memasang ekspresi tersenyum.
"Oh.. pantas saja kamu tadi pagi gak jawab chat aku." Tegur Novaria.
"Hahaha.. Maaf-maaf, aku gak sempat melihat Smartphone ku tadi." Jawab aku dengan permintaan maaf dan sedikit tertawa.
Disaat kami berdua sedang mengobrol, Alice dan Leon pun mendekat ke arah Kami.
"Wah-wah.. Pasangan baru nih." Tutur Alice.
Aku terlihat senang dengan hubunganku dan Novaria saat ini.
"Ini semua berkatmu Alice. Aku mau berterima kasih padamu tentang Tiketnya." Ucap diriku.
"Sama-sama. Oh iya, Kalian jangan terlalu Romantis-romantis ya, nanti aku jadi sedikit iri." Ungkap Alice sambil menggoda kami berdua.
"Bisa aja Kamu Lic. Lagian kamu kan udah lama berteman sama aku." Ucap Novaria.
"Selamat buat Kalian Berdua. Aku sudah lama menunggu Kalian pacaran. Kalian berdua sama-sama malu-malu untuk mengungkapkan perasaan kalian satu sama lain." Celetuk Leon dengan senyuman manisnya.
"Kamu tahu dari mana memangnya kalau aku suka Novaria?" Tanyaku pada Leon sambil memasang ekspresi heran.
Padahal aku tidak membocorkannya pada siapapun. Kenapa dia bisa tahu kalau aku memiliki perasaan pada Novaria.
"Justru aku yang heran melihat kalian berdua saling tidak sadar. Padahal Ekspresi dan raut wajah yang kalian keluarkan saat saling mengobrol sangat mudah ditebak. Mungkin semua orang yang di kelas juga sudah tahu." Ungkap Leon dengan panjang lebar sambil menjelaskan.
Hah! Aku baru tahu mengenai hal itu. Masa dari Ekspresi yang aku keluarkan bisa bikin orang lain tahu aku punya perasaan pada Novaria.
"Heh!! Jadi semua orang yang di kelas sudah tahu?" Teriak Novaria dengan raut wajah Terkejut.
"Ya Jelaslah.. kalian berdua aja yang gak saling sadar." Jelas Leon.
Yah.. padahal sebenarnya aku ingin mengejutkan Vincent.. pasti dia sudah tahu sejak lama. Tapi dia menyembunyikannya biar aku saja sendiri yang menyadari. Memang dia itu.. sifatnya yang suka menyembunyikan sesuatu membuatku sedikit kesal dengannya.
"Aku jadi Malu Sekarang!" Ucap Novaria sambil Memegang lengan baju ku.
Aku pun langsung menenangkannya. Wajahnya yang seperti itu memang sangat imut dan menggemaskan. Rasanya aku ingin mencubit pipi manisnya itu. Aku pun mengelus kepalanya sambil berkata, "Hahaha.. Pacarku yang satu ini memang sangat pemalu ya." Ucapku sambil tertawa.
Wajah Novaria pun tampak memerah lagi. Untuk kali ini, aku dapat menyadari bahwa ketika wajahnya memerah, berarti dia sedang merasa malu. Hatiku merasa nyaman dan tentram saat melihatnya yang seperti itu.
"Kalian berdua jangan romantis begitu dong di kami berdua. Bikin para Jomblo ini iri aja." Alice melontarkan kata-kata dengan ekspresi yang sedikit cemberut.
"Ya sudah Ayo kita masuk ke kelas. Bentar lagi Bel masuk berbunyi." Ucap Leon.
Kami berempat pun berjalan menuju ke Kelas…
Novaria selalu menempel padaku saat ini. Ekspresinya juga terlihat bahagia, jadi aku tidak mempermasalahkannya. Justru seperti ini bisa membuat kedekatan kami semakin terasa.
"Senangnya berjalan bersama Ra..Pha..El." Ungkap Novaria sambil tersenyum lebar. Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil berjalan. Dengan Ekspresi Ceria yang terselimuti dalam dirinya.
Aku pun mencoba untuk merangkul pundaknya. Seperti pasangan - pasangan pada umumnya. Di dalam Koridor lantai 1, banyak Anak - Anak Kelas 10 yang melihat ke arah Kami berdua. Tatapan-tatapan sinis mulai meneror kami berdua. Namun aku tak terlalu memperdulikan itu.
Yang penting aku bisa bermesraan dengan Novaria. Toh, Novaria juga masih ceria seperti pada umumnya. Tatapan sinis yang mengarah ke kami itu hanyalah sebuah Nyamuk yang sekedar numpang Lewat.
"Hah.. Kalian Berdua ini," Celetuk Leon.
Kami berempat pun akhirnya Sampai di Depan Kelas setelah Menaiki tangga menuju Lantai 2….
__ADS_1