Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 25 Ruangan Misterius


__ADS_3

Dirasa bahwa ruangannya sudah bersih dan nyaman untuk dipakai, aku mengaktifkan semua teknologi yang ada di ruangan ini.


"Sistem, all technologies can be switched on. I am Raphael Ignite."


-Code Activated! Hi Mr Raphael.


Semua yang ada disini pun menyala. Robot-robot yang tadi hanya diam kini mulai bergerak ke kanan dan ke kiri. Sebuah pistol juga muncul dari bawah meja. Sebuah layar yang menunjukkan Poin-poin untuk membantu latihannya pun menyala juga.


Karena semua yang ada disini sudah bekerja dengan baik, aku mengambil pistol yang ada di atas meja tadi dan berdiri di yang disediakan untuk menembak. Di depanku, ada robot yang hanya berdiam diri karena itu adalah level terendah.


Dari jarak 3 meter, robot itu berdiri. Aku memakai sebuah Headphone untuk menutupi telinga ku dari suara pistol yang dihasilkan. Ruangan ini memiliki sebuah pengedap suara, jadi aman untuk orang yang berada diluar tidak bisa mendengar suara tembakannya juga.


Aku mengarahkan tanganku yang memegang pistol itu ke arah Robot yang berdiam diri itu. Aku menutup salah satu mata agar penglihatan ku fokus dengan targetnya. Aku ingin menargetkan ke bagian kepalanya.


Aku menarik pelatuknya secara perlahan.


"DORRR!" Suara tembakan.


Tanganku sedikit terdorong belakang setelah menarik pelatuknya. Peluru itu mengenai bagian dagu robot itu.


{Sial, meleset sedikit dari target}


Layar yang terpampang jelas itu menunjukkan skor hasil tembakan itu.


「 Raphael Ignite : 50 」


Untuk sekali tembakan mendapat skor 50 tidaklah buruk. Tetapi aku tidak boleh berpuas diri. Karena yang ditembak tadi hanyalah untuk percobaan dengan tingkat kesulitan paling mudab. Hanya dengan target yang berdiam diri tidak akan membuat latihanku terasa maksimal.


Selanjutnya aku sedikit menaikkan tingkat kesulitannya. Kali ini, robot yang berada di jarak 5 meter sedikit bergerak. Bergerak dengan pelan ke kanan. Aku mengokang pistolnya terlebih dahulu.


Kutarik pelatuknya kembali dan mengincar bagian pundak tangan kanan robot yang bergerak itu.


"DOORR!"


Hasilnya lumayan mengejutkanku. Pelurunya tidak mengenai sama sekali bagian dari robot itu. Aku mengulanginya kembali. Akhirnya di tembakan yang kedua, pelurunya tepat mengenai target yang kuincar.


Ini hasil yang tidak bisa dibilang memuaskan sih. Butuh 2 tembakan untuk mengenai apa yang ditargetkan dengan jarak yang hanya 5 meter saja. Aku perlu mengasah kembali akurasinya sesering mungkin. Karena ini adalah Gaya bertarung yang kupilih.


Aku mencoba mengulangi dan mengulanginya lagi dengan banyak sekali percobaan yang kulakukan. Hasilnya, dari 20 kali tembakan yang kulancarkan, 17 peluru mengenai tepat di bagian Pundak tangan kanan.


2 peluru mengenai bagian lengan kanan. Dan 1 peluru meleset tidak mengenai apa-apa. Dorongan yang dihasilkan dari tembakan itu membuat tanganku sedikit merasakan sakit. Padahal aku sudah memegangnya dengan kedua tanganku. Tapi tetap saja dorongannya masih terasa sangat kuat.


Sepertinya memang tidak bisa dengan cepat untuk menahan dorongannya. Skor yang ditunjukkan pada layarnya pun mulai mengalami peningkatan.


「 Raphael Ignite : 20 : MUDAH


Raphael Ignite : 540 : LUMAYAN MUDAH 」


Skor yang kudapatkan untuk tingkat kesulitan yang lumayan Mudah adalah 540. Skor itu masih sangat jauh dengan high score yang dibuat oleh Kak Kaizo. Dia mampu mendapatkan skor 43.877.


*************


Tembakan yang ke 50 kalinya.


{Sudah berapa menit ini berlalu?}


Aku sudah menembak untuk ke 50 kalinya dan belum beristirahat sama sekali sejak tadi. Skor yang kudapatkan pun sekarang sudah lumayan. Aku memutuskan istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi.


Aku mematikan sistemnya terlebih dahulu dan pergi ke luar menemui Vincent dan Roselianne.


"Sistem, all technologies can be switched off. I am Raphael Ignite."


-Code Activated! Bye Mr Raphael.


Aku menutup pintu ruangannya.


"Hahaha, Lian-lian. Wlee."


"Pengen dipukul ya kamu Vin."


Hah.. baru ditinggal saja sudah mulai bertengkar kembali. Entah apa yang terjadi saat aku ada di dalam.


"Ada apaan nih. Ditinggal sebentar aja udah kek gini."


Mereka berdua fokus dengan kejar-kejarannya. Tak mengindahkan kata-kataku itu.


"SINI KAMU VINCENT!!"


Roselianne tampaknya sangat kesal dengan Vincent. Terlihat dari ekspresinya yang sangat marah saat mengejar Vincent.

__ADS_1


"Hahaha, tangkap kalo bisa. Wlee." Vincent menjulurkan lidahnya.


Mau tak mau aku harus menghentikannya. Karena kalau dibiarkan terlalu lama, yang ada hancur ini ruangan dibuat berantakan oleh mereka berdua.


"WOE SUDAHLAH. Nanti berantakan ini ruangan." Aku berteriak.


Mendengar teriakan ku, mereka berdua mulai menyadari diri ku yang ada disini.


"Yoo Raphael. Abis ngapain bro." Vincent mengangkat kedua jari tangan kanannya.


"Hah.. harusnya aku yang bertanya pada kalian berdua. Kalian ngapain Sampe kayak begitu." Menghela nafas.


"Biasalah Raph. Sedikit menjahili Lian."


"Apa? Sedikit? Kamu ngejailin aku banyak banget pas lagi latihan kamu bilang itu sedikit? Wah-wah minta dipukul kamu Vin." Roselianne menggulung lengan bajunya.


Aku lumayan lelah untuk meladeni mereka berdua saat ini. Apa sebaiknya aku membiarkan mereka berdua dengan bebas ya. Tapi kalau kubiarkan, nantinya ruangan ini akan berantakan akibat ulah mereka berdua.


Sebenarnya aku sudah berpikir sebelum menyatukan mereka berdua. Ujung-ujungnya pasti tercipta suatu keributan. Makanya aku meminta izin Roselianne untuk mengajak Vincent. Tapi pikiranku ternyata tak sesuai dengan perkiraan.


Keributannya melebihi ekspektasi ku.


"Sudahlah kalian berdua. Kalian ini sudah besar loh, masa harus ribut begitu." Aku mencoba menasehati mereka berdua.


"Ya.. maaf Raph. Cuman kan memang sudah kebiasaan untuk Menjahili Lian."


"Ya hilangin kek kebiasaannya. Dari kecil gak ilang-ilang itu kebiasaanmu yang suka ngerjain aku. Kirain pas udah gede menurun itu. Malah meningkat." Sambil menunjuk Vincent.


Yah.. tidak ada salahnya dari perkataan Roselianne. Vincent juga harus mengerti bahwa Roselianne risih bila di jailin olehnya. Akan tetapi, melihat ekspresi Roselianne yang merasa kesal ketika di jailin itu lumayan seru. Intinya sih aku berharap mereka berdua akur untuk saat ini.


"Memangnya dia ngejailin kamu kayak gimana Rose?" Aku bertanya mengenai kejadian yang membuat keributan seperti ini.


"Ya seperti biasa Raph. Aku cuman ngejailin seperti merusuhnya ketika latihan. Mencolek bagian belakang lehernya dan ya sekedar mengagetkannya saja." Vincent menyela pembicaraannya.


"Rusuhnya iya kayak biasa.. cuman sekarang lebih sering ngejailinnya. Gak cuman ngagetin aja, kamu bahkan mengganti berat alatnya menjadi lebih besar. Kalau kena cidera gimana coba?"


"Ya kan kamu kuat Lian, gak mungkin juga dong cedera." Vincent menyanggah kata-kata Roselianne.


"Nih orang Ya! Minta dipukul memang." Roselianne kesal dengan ucapan Vincent itu.


Sepertinya aku harus membuat peraturan ketika kami sedang bersama. Tapi kalau hanya peraturan biasa sih sepertinya tidak akan berjalan lancar. Mungkin aku akan sedikit membuat sebuah duel untuk mereka berdua.


"Sudahlah kalian berdua. Daripada kalian ribut begitu, aku ada sebuah ide cemerlang untuk kalian berdua." Aku menawarkan sebuah solusi yang kuharap berguna kali ini.


"Ikut aku kemari."


Aku mengajak mereka berdua untuk pergi ke ruangan tersendiri. Ruangan ini belum pernah aku pakai sejak kecil, tapi aku tahu apa yang ada di dalamnya berkat Kak Lily yang pernah masuk ke Ruangannya. Mungkin ini adalah ide terbaik untuk memecahkan masalah mereka berdua yang sering bertengkar.


Berada di depan Ruangannya. Pintu di ruangan ini sangat berbeda sekali dengan yang ada di ruangan lain. Untuk memasukinya, diperlukan sebuah sidik jari anggota keluarga Ignite. Kuharap Sidik jariku sudah dimasukkan ke dalam Daftar sistemnya.


"Ruangan apa ini Raph?" Roselianne kebingungan.


"Mungkin Ruangan untuk menonton film? Bisa jadi kan Rose." Vincent menjawab pertanyaan Roselianne.


"Apa sih kamu Vin. Asal jawab aja."


"Sudahlah tenang. Aku akan membuka sebentar."


Aku pun mendekati pintunya dan menempelkan telapak tanganku di sebuah kotak yang terpasang di Pintu itu. Sebuah sistem mulai bersuara ketika aku menempelkan telapak tanganku.


-The analysis starts, and it takes a few minutes to find out. Please wait for a moment.


Karena perintah dari sistem itu, aku menempelkan telapak tanganku beberapa menit agar dapat sistem dapat mengetahui lebih detail. 3 menit lamanya, sistem belum juga selesai menyelesaikan tahapan analisisnya.


"Hoam.. lama banget Raph." Vincent sambil menguap.


"Iya nih, tumben lama banget buat ngebuka aja." Roselianne juga sepertinya mulai bosan menunggu.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan sistemnya. Mungkin memang sistem ini dirancang berbeda dengan yang lain. Memakan waktu lama agar tidak ada orang yang bisa asal masuk walaupun memiliki sidik jari keluarga Ignite.


"Tunggu sebentar lagi." Aku meminta mereka berdua menunggu sebentar lagi.


***********


Beberapa menit berselang.


-Analysis has been completed. Welcome Mr. Raphael.


Akhirnya sistem itu selesai menganalisisnya. Pintu besi itu terbuka secara perlahan ke belakang. Sinar matahari menusuk langsung ke arah mataku ketika pintunya terbuka seutuhnya. Aku sangat terkejut ketika melihat isi yang sebenarnya dari Ruangan ini.

__ADS_1


"Wow.. Fantasievoll. Ruangan ini benar-benar memanjakan mata." Mataku terkagum-kagum dengan keindahan Ruangan yang kulihat.


Arsitektur Ruangannya sangat indah sekali untuk dipandang. Buku-buku tersusun rapi di lemari buku. Ruangannya pun luas dan banyak sekali alat-alat yang tersedia. Layar besar pun menyertai langsung di dalam Ruangannya.


Ada juga sebuah alat untuk berpindah secara cepat disini. Ini benar-benar Ruangan yang sangat bagus untuk latihan.


"Mantap banget Ruangannya Raph. Aku bisa melihat secara langsung pemandangan pantai yang terlihat di Dinding itu." Vincent tampak bersemangat sekali.


Entah itu pemandangan asli atau buatan, yang jelas disini jauh dari pantai. Mungkin itu hanyalah sebuah Teknologi yang menyerupai Dinding. Sehingga yang diperlihatkan di sana adalah suasana pantai yang tenang dan sepi. Suara ombak juga terdengar layaknya kita berada di sana.


-Hello Mr. Raphael, I am Jack in charge of this room.


Wah, sebuah hologram berbentuk seperti orang muncul di depanku saat ini. Kami bertiga cukup terkejut dengan munculnya secara tiba-tiba itu.


"Ngagetin aja ini hologram." Ucap Roselianne.


"Iya. Tiba-tiba muncul dan langsung berbicara begitu." Vincent meladeni ucapan Roselianne.


Sepertinya sebuah hologram khusus ditempatkan disini guna memberikan segala informasi yang diperlukan saat pelatihan. Hanya dengan sidik jari keluarga Ignite membuat semua sistem yang disini Aktif. Memang tidak salah aku mencobanya.


"Hello Jack, Nice to meet you. And how to start training in this room?" Aku merespon ucapan hologram Jack itu.


-This is very easy Mr. Raphael, let me lead you to the actual training ground.


Wah, Hologram itu mampu berbicara secara langsung denganku. Hologram Jack pun tampak berjalan masuk ke alat teleportasi yang berada di sudut ruangan. Di luar tampak seperti gelombang-gelombang berwarna ungu menutupinya.


Jack masuk ke dalam kumpulan gelombang itu dan menghilang. Aku dan yang lainnya pun mengikut Jack dari belakang. Aku memasuki gelombang itu dan cukup terkejut ketika berada di dalamnya.


Sebuah Dunia paralel tercipta menggunakan alat itu. Gunung-gunung terlihat berjejer disini. Hutan-hutan lebat pun terlihat di depan ku. Ada beberapa hewan-hewan yang tak kuketahui spesies berjalan kesana kemari.


-Welcome to the Parallel World of Evilanse. Where the laws of the real world don't apply here. You are free to do anything here because this is a world created by Castrophe Ignite.


Kami semua tampak terkagum dengan keindahan dunia ini. Aku lebih terkagum lagi dengan mendengar siapa yang membuat Dunia Paralel ini.


"Sial, aku bersyukur mempunyai Leluhur seperti dia di Keluargaku."


Aku menangis bahagia setelah tahu siapa yang membuat ini. Dunia ini kemungkinan sangat berguna sekali bagi Keluarga Ignite selanjutnya.


"Kamu mempunyai Leluhur yang sangat kuat ya Raphael." Roselianne menenangkanku yang sedang menangis bahagia.


Aku mengelap air mataku saat ini. Aku harus melanjutkan tekadnya itu dan juga perjuangannya. Agar dia merasa bahwa semua yang dia lakukan untuk Keluarga Ignite tidak sia-sia.


{Kuharap kau tenang dialam sana Castrophe.} Sambil memegangi dadaku untuk menghormatinya.


"Apa yang harus kami lakukan di sini." Vincent bertanya pada Jack.


-Good question young man, you have to hunt like in the real world. This can awaken your fighting instincts faster. There are so many monsters here and they were all created by Castrophe to support the Ignite Family's abilities.


Berburu monster di Dunia ini kah? Sepertinya memang lebih bagus seperti itu. Mengasah pengalaman bertarung sama seperti di Dunia Nyata. Hanya saja, aku belum tahu secara pasti apakah di tempat ini sepenuhnya aman.


"Jack aku ingin bertanya." Aku mengajukan pertanyaan kepadanya.


-Please Mr. Raphael. What would you like to ask?


"Apakah di dalam dunia ini sepenuhnya aman bila terjadi hal-hal yang membuat nyawa kami bertiga terancam?"


Aku harus memastikan terlebih dahulu apakah tempat ini aman untuk kami bertiga. Karena saat ini kami bertiga hanyalah seorang Pelajar dan tidak mempunyai pengalaman bertarung. Jika nantinya kami mungkin akan mati saat diserang oleh monster, itu sangatlah tidak lucu hanya untuk latihan.


-As I said earlier, in this world the laws of the real world are not affected at all. You could say that if you die, then you will come back to life here. But there may be consequences such as drained energy, accompanying dizziness and pain that is still felt from the attack that was directed at you.


Aku mengerti maksudnya. Jadi kalau kita terbunuh di Dunia ini, maka kita akan hidup kembali. Tapi dengan syarat bahwa akan ada konsekuensi yang menyertai ketika terbunuh. Ya.. itu sedikit aman sih. Dengan hukum seperti itu, aku tidak perlu mengkhawatirkan kondisi ku. Hanya saja aku harus mendapatkan konsekuensi jika aku terbunuh nanti.


Aku dan yang lainnya pun berdiskusi apakah mau berburu disini. Kami bertiga berdiskusi secara berbisik-bisik sambil merangkul pundak bersamaan.


"Bagaimana, mau mencobanya Vin, Rose?" Aku bertanya kepada mereka berdua.


"Hmm.. tidak ada salahnya sih mencoba. Apalagi disini kalau terbunuh bisa hidup kembali. Setidaknya aku merasa aman." Roselianne setuju untuk berburu disini.


"Aku ikut saja lah. Yang penting hal itu seru." Vincent juga setuju.


Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk berburu disini.


"Oke Jack, aku dan yang lainnya sudah siap untuk berlatih saat ini."


Kami bertiga sangat bersemangat untuk melakukan perburuan.


-Okay, I will start directly after the count of three. You are free to go wherever and however you want to find the monsters you want to hunt. Every monster you hunt will be given a coin that you can spend later outside.


Oke, aku paham sepenuhnya apa yang diucapkan Jack. Jack pun langsung memulai hitungannya.

__ADS_1


-1…..2…..3… GO.


Kami bertiga pun berlari bersama pergi menuju ke arah Hutan lebat


__ADS_2