
2 hari Kemudian.
"Hoam.." aku menguap dengan kencang.
Aku Hari ini kurang tidur banget. Karena 2 hari sebelumnya aku tertidur seharian dari Minggu siang hingga Senin pagi. Alhasil kemaren aku tidak bisa tidur sama sekali karena sudah tertidur lama.
Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Aku sudah berada di wilayah Holvenheim dan Tak jauh dari sekolah ku. Anak-anak siswa Highschool of Holvenheim lumayan banyak yang berjalan kaki kesini.
Mereka berjalan bersama teman-teman mereka sangat dekat. Mau itu perempuan ataupun laki-laki, mereka sangat berdekatan. Berbeda denganku yang berjalan sendirian saat ini. Omong-omong, Cuaca saat ini sangat cerah.
Tak ada tanda-tanda akan hujan tiba. Mungkin hari ini akan cerah seharian. Banyak mobil-mobil milik siswa Kelas A yang berlalu lalang. Ya.. itu karena Hak Istimewa kelas A sih, Semua Siswa yang berada di kelas A mau itu kelas 10-12, mereka di ijinkan untuk membawa kendaraan pribadi ke sekolah.
Karena Hak Istimewa itulah, perbedaan sosial sangat terlihat disini. Karena Bel masuk yang masih lumayan lama, aku berjalan dengan pelan dan menikmatinya. Sambil berkata.
"Hari Yang Cerah, This is Perfect Day." Dengan bersemangat di pagi hari ini.
Walaupun aku saat ini mengantuk, aku akan menjalani hari dengan semangat yang membara. Layaknya seekor Singa yang sedang mengejar mangsa. Aku melihat Novaria dan Alice yang sedang berjalan Bersama.
"Ahh.. Ada Novaria sama Alice tuh yang berjalan juga. Aku samperin ah."
Aku mendekati mereka berdua yang sedang berjalan bersama itu. Aku pun menepuk pundak mereka berdua.
"Pagi Nov, Alice." Aku menyapa mereka.
Mereka berdua menoleh Ke arahku setelahnya.
"Oh, Pagi juga Raphael." Alice menyapa balik.
"Pa-pagi Raph." Novaria dengan yang terbata-bata.
Hm??? Kenapa dengan Novaria? Perasaan dia Gapernah ngomong terbata-bata gini sebelumnya. Kenapa saat ini dia sering sekali merasa malu kalau kulihat. Mirip sekali dengan Sifat Roselianne.
"Kalian berdua kesini naik transportasi apaan emangnya? Aku ga lihat kalian berdua di stasiun."
Aku tidak pernah melihat mereka berdua memakai transportasi kereta. Makanya aku bertanya tentang transportasi yang mereka berdua naik.
"Aku Naik Bis antar Kota sih.. lagipula itu gratis saat ini. Itung-itung hemat Duit." Alice menjawab.
Novaria hanya diam saat ditanya olehku. Alice pun menepuk pundaknya.
"Nov."
"HAH! Ada Apa?" Novaria langsung terkejut setelah ditepuk oleh Alice.
"Kamu ditanya Raphael tuh."
"Ah.. Maaf, aku lagi gak Konsen. Bisa ulangi pertanyaannya Raphael?" Dengan nada lembut dan pelan.
"Ah gak jadi Nov, udah dijawab sama Alice kok."
Mukanya tampak memerah setelah dia dikejutkan. Apa hari ini dia tidak enak badan? Itulah yang kupikirkan dari dalam hatiku. Novaria persis sekali seperti Roselianne saat berada di dekatku. Hanya saja, Novaria terkesan menghindari bertatap-tatapan denganku.
Yah.. aku tidak terlalu ingin mengurus pribadi seseorang sih.
Saat kami bertiga sedang berjalan bersama, tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klaksonnya.
"TRETT..TREETT."
Ah.. itu mobil Vincent. Aku bisa menebaknya karena Mobil yang dia pakai sama dengan Waktu itu. Dia mulai Membuka kaca mobilnya.
"Pagi Raph, Nov, Alice." Dari dalam mobil.
"Pagi juga Vin. Btw Mobil kamu bagus juga Vin." Alice memuji mobil milik Vincent.
"Hahaha, bisa aja Alice. Makasih loh."
Aku yang menoleh ke arah Vincent yang berada di dalam Mobil itu dengan tatapan tajam karena mata yang mengantuk.
"Ngapain lihat aku setajam itu Raph?" Vincent menyadarinya.
Mereka bertiga kini Melihat ke Arahku.
"Lah iya, tumben tatapan mu lebih tajam dari biasanya Raphael." Alice mulai bertanya soal mataku yang menatap tajam ini.
"Ka-kamu gapapa Raphael? Matamu kayak lagi sakit gitu." Novaria bertanya dengan wajah yang menunduk itu.
"Aku Baik-baik saja Tenang. Aku hanya mengantuk sedikit." Dengan mengucek-ucek Mataku.
"Kalau memang ngantuk kenapa tetap dipaksa masuk Sekolah.."
"Aku tidak ingin Absen lebih banyak lagi Alice. Makanya kupaksakan."
Aku memberitahukan alasanku tetap masuk sekolah meski dalam keadaan ngantuk berat.
__ADS_1
"Pasti gegara Yang hari Minggu ya Raph?"
"Ya begitulah Vin, aku hari Minggu dari sehabis kita pulang dari latihan, tidur sampai Senin Pagi. Pas Hari Senin malah gabisa tidur."
"Oh.. yasudah kalau begitu aku pergi duluan ya."
Vincent pun menancap Gas mobilnya. Kami bertiga pun melanjutkan berjalan ke arah Sekolah dengan mulut yang terdiam.
************
Tepat di Depan Gerbang sekolah, Ada Pak Gritz yang sedang berdiri di sana. Aku mencoba menyapanya.
"Selamat Pagi Pak." Sambil menundukkan kepala sedikit.
"Pagi Juga." Dengan Suara Berat dan tegas.
Aku pun melanjutkan berjalan ke kelas ku.
"Kamu mau Langsung ke Kelas Raphael?" Novaria bertanya padaku.
"Hmm.. ya niatnya sih gitu. Memangnya kenapa?" Dengan mengangkat daguku.
"Ga-gapapa Raphael, cuman Nanya aja."
Dia menundukkan kepalanya lagi. Hah… sebenarnya aku tidak tahan melihat tingkahnya yang tak biasa itu. Tapi sikapnya yang seperti itu tampak menarik perhatianku. Aku merasa malu saat berada di sampingnya.
"Umm." Alice dengan tangan Kanannya menutupi mulut dan tampak tersenyum.
Ada apa lagi ini dengan sikap Alice. Jangan sampai dia bertingkah aneh juga. Alice mulai mendekatkan pundak ku dan Novaria.
"Eh apa-apaan ini Alice?" Aku dengan nada tinggi.
"Alice!!!" Novaria tampak kesal.
"Dah kalian berdua, cobalah untuk lebih akrab lagi." Alice langsung berlari seketika menjauhi kami.
"Hey.." Novaria mengangkat tangannya ke arah Alice.
Sial, situasi ini membuat aku terasa malu.
{AA!!!! Aku berada sangat dekat kali ini dengan Novaria. Nice Alice.} Dalam hatiku.
Situasi ini membuatku merasa bahagia. Namun dalam waktu bersamaan, perasaan ku merasa malu karena tidak terbiasa di dekatnya. Kami berdua saling memalingkan wajah ke arah berlawanan.
Saat ini aku benar-benar tidak bisa menoleh ke Arah Novaria. Jarak kami sangatlah dekat, pundak kami juga saling bersentuhan. Aku mencoba untuk menahan ekspresi malu ini sekeras mungkin.
"Ya-yah, boleh juga Raphael. A-aku juga ingin membeli beberapa minuman." Novaria menerima tawarannya.
Hufft.. dengan keberanianku, aku mencoba untuk menoleh ke arahnya.
Disaat aku menolehkan wajahku, Wajah kami berdua saling menoleh dan berdekatan. Tak lama, Wajah Novaria perlahan memerah. Aku pun memalingkan pandangan ku kembali.
{Ekspresinya yang Sangat Cantik itu…aku tidak bisa menahannya.} Aku berteriak dalam hatiku dengan menutup wajahku dengan kedua tangan.
Jujur, ini merupakan kali pertamanya aku bisa sangat dekat seperti ini dengannya. Aku mulai menjaga Jarak agar rasa malunya kian menghilang. Kami berdua berjalan dengan pelan menuju arah Kantin.
Dalam hatiku kini sangatlah bahagia bisa bersamanya.
************
Sampai di Kantin.
Kondisi kantin tak begitu Ramai saat ini. Novaria mulai mendatangi toko minuman Kekinian. Aku mengikutinya dari samping.
"Selamat Datang, Mau pesan apa?" Suara Penjaga toko itu.
Novaria melihat menu-menu yang terpampang jelas di layar. Dia tampak bingung memilih rasa dari minuman-minuman itu. Ekspresinya yang sedang kebingungan itu membuat detak jantung ku berdebar-debar.
"Aku pesan 1 Vanilla Milk dengan Campuran Topping Boba dan Sebuah Cream diatasnya." Novaria dengan mengangkat Jari Telunjuknya untuk gestur dia memesan 1.
"Baik, kalau mas yang ini mau pesan apa?"
Eh.. aku niatnya tidak ingin memesannya sih, cuman kalau aku tidak memesan rasanya sayang sih. Apalagi bisa berduaan seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut memesan juga.
"Umm.. aku Choco Hazelnutnya saja 1. Pakai Topping Wafer Stick dan Choco chips ya." Aku sambil menunjuk menu-menunya.
"Baik, Mohon ditunggu sebentar ya. Ini nomor antriannya, nanti kalau sudah jadi akan kami panggil." Sambil memberikan 2 nomor antrian kepada kami berdua.
"Makasih." Novaria dengan tersenyum.
Kami berdua pun mencari tempat duduk untuk menunggu pesanannya. Yah, banyak kursi kosong sih disini. Cuman aku lebih baik bertanya pada Novaria ingin duduk di sebelah mana.
"Mau nunggu dimana Nov?" Aku sambil menoleh ke arah Novaria.
__ADS_1
Novaria juga tampaknya sedang memilih untuk menunggu pesanannya dimana. Aku tunggu sejenak untuk dia memutuskan tempatnya.
"Disana aja Raphael. Kayaknya enak duduk sambil ngeliat ke arah jendela." Novaria menunjuk ke arah 2 Kursi yang saling berhadapan di sebelah Jendela Besar.
"Okelah."
Kami berdua pun pergi ke Kursi yang ditunjuk olehnya. Kami sempat berbincang-bincang sejenak mengenai kehidupan Keluarga masing-masing.
"Jadi, bagaimana keluargamu Nov? Kamu punya saudara kandung kah?" Dengan menaruh tanganku di atas meja.
"Aku anak yang paling Tua sih di keluargaku. Ada 2 adik ku laki-laki dan perempuan. Yang Perempuan mungkin saat ini berumur 14 tahun. Kalau yang Laki-laki hanya beda setahun dengan Yang perempuan. Oh iya, bagaimana dengan keluargamu juga?" Novaria melontarkan pertanyaan balik.
"Yah.. kalau ditanya sih, aku punya 2 Kakak Laki-Laki dan perempuan. Mungkin yang Laki-laki kamu sudah familiar dengannya."
"Top 3 Ranker Saat ini kan? Kaizo Ignite."
"Benar, kalau kakak ku yang perempuan saat ini sedang di bangku Kuliah. Dia ingin mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang Dokter."
"Enak berarti kamu ya. Kalau ada apa-apa tinggal minta ke Kakak mu saja."
"Sebenarnya enak gak enak sih. Karena aku yang paling muda, Kakak perempuan ku sering menjahiliku. Kalau Kak Kaizo entah kenapa dia selalu menghindari ku." Dengan ekspresi wajah Datar.
"Menghindar darimu? Maksudnya gimana tuh?" Novaria dengan Raut wajahnya yang sedang bingung.
"Ya intinya kalau aku mendekatinya, pasti dia akan menjauhi ku langsung. Sudah berapa kali seperti itu terus. Aku juga ga tau alasannya apa." Sambil memasang wajah tak tahu.
"Mungkin Kakakmu Mempunyai sifat Tsundere kalau dalam Bahasa Japan."
Hahaha, hal itu sih gak memungkinkan sekali. Kak Kaizo tidak pernah sekalipun menampakkan raut wajah yang konyol. Dia selalu memasang ekspresi datar yang membuat siapapun yang mendekatinya akan segan dengannya. Terkadang tatapannya juga menukik tajam.
Bahkan aku belum pernah melihat Kak Kaizo tertawa. Walaupun dia berada dalam Televisi, dia tak pernah menunjukkan ekspresi selain datar. Aku rasa mustahil untuknya mempunyai Sifat Tsundere.
"Mana Mungkin Nov, kamu lihat aja di Televisi kalau ada tentang dia. Ekspresi yang ditunjukkan di Televisi atau Kamera, itulah ekspresi aslinya saat berada di Kediaman." Aku memasang gesture tidak mungkin.
"Yah siapa tahu gitu. Kaizo yang dikenal dingin itu mempunyai sifat Tsundere kepada Adiknya. Hahaha." Sambil tertawa manis.
"Ya kalau seperti itu malah aku dan Kakakku yang perempuan yang kaget. Sampai saat ini juga dia belum menikah juga. Padahal umurnya sudah menginjak 29 tahun." Dengan kedua tanganku berada di bawah dagu dengan saling bergenggaman.
Saat kami berdua tengah asik berbincang-bincang, Nomor antrian kami berdua sudah disebut oleh Sang Pelayan.
"Pesanan Atas Nomor 21 dan 22." 2x.
Novaria yang ingin berdiri itu aku suruh untuk duduk kembali dan menunggu.
"Kamu tunggu sini aja Nov, biar aku yang mengambilnya." Dengan telapak tanganku memasang gestur untuk dia berhenti.
Aku pun mengambil Pesanan kami berdua di Meja Resepsionis.
"Jadi Berapa mas?" Aku bertanya kepada Kasirnya.
"Ini Keduanya Mas yang bayar?" Kasir itu bertanya padaku.
"Iya, langsung totalin aja itu 2 Minuman."
"Baik Mas, Totalnya jadi 135 Roux aja. Mau dibayar pakai Cash atau Pembayaran Digital?"
"Pembayaran Digital, Tolong ya." Sambil mengambil Smartphone ku yang berada di Kantong Celana.
"Baik Mas."
Sang Kasir pun menunjukkan Kode QRnya. Aku langsung mengarahkan Kamera Smartphone ku ke Kode QR itu untuk membayar. Aku menulis jumlah harga di Smartphoneku. Pembayaran pun sudah berhasil, aku menunjukkan pada sang kasir.
"Baik sudah terbayar semua, ini pesanannya ya mas." Sambil memberikan Minuman Vanilla Milk dengan Topping Boba serta Cream Diatasnya dan Choco Hazelnut dengan Wafer Stick serta Choco chip.
Aku pun segera pergi menemui Novaria yang sedang menunggu di tempat duduknya.
"Ini Nov pesananmu." Sambil menaruh Minuman yang dipesan Novaria di atas meja.
"Makasih loh Raphael udah sekalian bayarin juga." Dia mengambil minumannya yang kutaruh diatas meja.
"Santai saja." Sambil menggerakkan tangan kananku.
Kami berdua pun meminum Minuman yang kami pesan. Novaria sepertinya sangat menikmatinya. Raut wajahnya yang tampak senang dengan Rasa minumannya itu sangat manis.
**************
Selesai meminum Minuman.
"Ayo ke Kelas Raphael, bentar lagi udah masuk jam pelajaran." Dia berdiri dari duduknya dan merapikan Kursinya.
"Ayo." Dengan Minuman yang masih tersisa di tanganku.
Aku pun mengikuti Novaria dari belakang pergi menuju ke Kelas….
__ADS_1