
Atau.. dia berubah menjadi malu-malu ya sekarang. Perasaan dulu pas kecil dia orangnya berani sekali. Dia selalu memegang tanganku disaat bermain untuk menjagaku yang saat itu masih ada sebuah trauma.
Roselianne selalu menggandeng tanganku ketika bermain bersama. Sekalipun tak pernah melepaskanku sama sekali. Sekarang dia berubah menjadi seorang pemalu ya sepertinya. Wajahnya yang malu-malu itu tak buruk juga.
Aku dan Roselianne pergi bermain ayunan. Duduk secara bersampingan dengan ayunan yang bergerak. Hal ini cukup mengingatkan ku dengan masa kecil kami itu. Hah.. andai saja waktu bisa dikembalikan seperti saat kecil. Aku ingin bermain sampai puas.
Roselianne yang sibuk dengan ponselnya itu memasang ekspresi tersenyum. Rasa penasaranku bergejolak.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu Rose?" Aku bertanya padanya.
"Ini aku lihat sebuah Video lucu di TCV. Coba deh kamu lihat juga."
Roselianne menunjukkan sebuah video yang ada di ponselnya kepadaku. Ketika aku melihatnya…
"Hahaha. Bisa-bisanya orang itu terpeleset ketika sedang suasana serius."
Di video itu menunjukkan seseorang yang awalnya dalam sebuah pertempuran di dalam ring. Ketika semua mata penonton tertuju pada Pertarungannya, tiba-tiba salah satu kontestan terpeleset tanpa sebab. Sontak hal itu jadi bahan tertawaan para penonton yang melihatnya.
"Iya kan. Haha. Padahal lagi serius-seriusnya itu loh. Tiba-tiba terpeselet begitu. Apalagi di depan banyak penonton pula, kalau aku jadi dia sih malu banget itu." Roselianne tertawa kecil.
"Aku gak bisa bayangin kalau kamu yang jadi dia. Mungkin wajahmu sudah kemerahan duluan sih."
"Memangnya wajahku kalau malu-malu kemerahan ya Raph?"
Roselianne menunjukkan wajahnya padaku. Wajahnya sangat dekat saat ini, sial… kenapa detak jantungku seperti berdetak tak karuan.
"Mukamu kenapa Merah Raph."
"Hah?.. ah enggak kok, gak papa."
Aku langsung memalingkan wajahku Karena hal itu. Saat ini, perasaanku sangat tidak karuan. Detak jantung yang berdebar kencang membuatku terkesan ingin menghindari kontak langsung dengan Roselianne.
"Oh iya, sekarang jam berapa Rose?" Aku mencoba mengubah arah pembicaraannya.
Roselianne melihat ponselnya sejenak setelah aku bertanya.
"Jam 7 Raph, memangnya ada apa?"
"Nah, ayok temenin aku Latihan. Tapi aku pulang dulu buat ambil kuncinya."
"Yaudah ayok. Tapi temenin aku pulang dulu juga. Aku ingin menaruh barang belanjaan ku terlebih dahulu dan mengganti pakaian." Sambil melihat barang belanjaannya.
"Oke. Ayok.. aku temenin kamu sekalian saja. Biar gak bolak balik."
Kami berdua pun berdiri. Turun dari ayunan yang kami gerakkan sejak awal. Pergi menjauhi taman dan berjalan secara berdampingan. Sedikit pembicaraan yang terjadi disaat kami berjalan, karena memang ya… aku tidak tahu apa yang ingin ku bahas.
Andai saja ada Vincent disini… ah! Aku lupa, Vincent kan katanya mau ikut juga. Apa aku kerumahnya ya buat samperin dia. Kalau gak disamperin bisa aja dia marah-marah nanti dan ujung-ujungnya kesal denganku.
"Rose, aku ajak Vincent gapapa ya?" Aku mencoba untuk meminta izin nya agar dia tidak merasa terganggu ketika nanti ada Vincent.
"Ajak aja.. lagian ngapain juga kamu minta izin ke aku. Kan kamu yang punya fasilitas latihannya."
"Ya kan kali aja kamu nanti risih gitu kalau ada Vincent. Kalian berdua kan seperti Kucing dan Anjing. Sifat kalian saling berlawanan. Dan juga kamu kalau ada Vincent pasti ujung-ujungnya kalau nggak ngambek ya.. bertengkar dengan Vincent."
"Itukan dulu.. kalau sekarang sih, aku bisa memaklumi sifatnya. Dia kan emang usil anaknya.. tapi cuman dia yang pintar berbicara di antara kita."
"Kamu memang benar sih Rose.. Vincent memang orang yang paling pandai berbicara di antara kita bertiga. Rasanya kalau cuman berduaan begini, aku gak bisa bahas apa-apa. Aku tidak pandai berbicara soalnya."
"Ya aku juga sama denganmu. Dari kecil juga, kita bermain selalu Dihampiri oleh Vincent. Dia mengajak kita berdua untuk bermain bersamanya. Kalau dikesampingkan Sifat usilnya, Vincent juga tak buruk." Dia memasang muka jutek ketika menyebut nama Vincent.
"Hahaha… sepertinya kamu memang suka kesel sama Vincent ya. Dari kecil masih saja.."
Aku tertawa.
"Kamu jangan sampe jadi kayak dia ya. Suka jahilin aku." Jarinya menunjuk ke arahku.dengan ekspresi juteknya.
"Hahaha.. tenang aja Rose. Aku gak berani jahilin kamu." Sambil mengangkat kedua tanganku.
Aku tidak terlalu berani untuk menjahilinya. Karena aku sudah pernah melihat Roselianne ketika dia benar-benar marah. Itu sangat menyeramkan. Mukanya ketika marah itu seperti Monster dan juga dia sering memukul kepala Vincent yang suka menjahilinya.
Kalau diingat-ingat, aku juga pernah dijitak olehnya saat kecil. Itu rasanya sakit sekali. Sampai-sampai aku menangis. Benar-benar menyeramkan ketika Roselianne marah. Aku tidak akan mengulangi lagi semenjak hari itu.
***********
Sampai di depan kediaman Noble.
__ADS_1
Roselianne masuk ke dalam dan menyuruhku untuk menunggunya di luar.
"Kamu tunggu di luar aja Raph, ga lama kok."
"Sip. Jangan lama-lama ya."
"Iya."
Aku menunggu di depan gerbang kediamannya. Pos penjaga pun berada tak jauh dari tempat ku berada. Aku bersandar di sebelah Pos Penjaga agar tidak terlalu lelah berdiri terus. Si penjaga tampak menyebut namaku.
"Eh.. Mas Raphael lagi ngapain?"
Pak Zoe ternyata yang memanggilku. Pak Zoe merupakan Salah satu penjaga Kediaman Noble yang sudah bekerja lama. Dari aku kecil sampai aku umur 17 sepertinya dia tidak pernah sama sekali memikirkan rencana untuk berhenti dari pekerjaannya. Aku pun membalas perkataannya.
"Eh ada Pak Zoe.. lagi nunggu Roselianne Pak." Aku tersenyum.
"Ohh.. udah lama ga keliatan ya mas Raphael. Kemana aja emangnya?"
"Biasa pak.. sibuk sekolah sama urus urusan keluarga. Jadinya gak punya banyak waktu main deh."
"Oalah, pantes aja ya. Oh iya, mas-mas yang satu lagi kemana? Yang rambut kuning itu."
Yang dimaksud pak Zoe sepertinya Vincent. Kami berdua memang sering pergi ke kediaman Noble saat kecil. Untuk mengajak Roselianne bermain bersama.
"Kalo Vincent sih paling dia masih tidur pak.. biasa anak itu kalau libur bangunnya siang."
"Ohh.."
Pak Zoe tampak pergi ke dalam posnya sejenak. Aku pun melanjutkan bersandar di Pos Penjaga. Tak lama, Pak Zoe memanggilku kembali.
"Mau minum Mas Raphael?" Sambil menawarkan sebuah cangkir kopi di tangannya.
"Ahh nggak pak, buat bapak saja." Aku menolak dengan halus tawarannya.
"Ya sudah, mari mas Raphael." Pak Zoe pergi masuk kembali ke dalam posnya untuk menikmati secangkir kopi itu.
"Mari pak.."
**************
Akhirnya Roselianne keluar dari Kediamannya dan berjalan ke arahku. Aku pun langsung berdiri tegak melihatnya sudah selesai mengganti pakaiannya. Merapikan Rambutku yang lumayan berantakan karena tiupan angin.
Tak lupa juga aku mengelap bagian belakang Tracksuit ku yang kubuat bersandar tadi. Roselianne membuka gerbangnya sendiri dan menutupnya kembali.
"Ayok Raph kita jalan."
Aku dan Roselianne berjalan pergi menuju Kediamanku saat ini. Cuaca sudah mulai terlihat panas. Sinar matahari mulai menyengat kami berdua yang sedang berjalan.
"Sudah mulai panas duh.. kita harus cepat-cepat Raph." Dengan pandangannya yang melihat ke atas dengan tangannya yang menadahkan di alisnya agar tidak silau.
"Makanya kita lari saja.. ayok."
Aku mengajak Roselianne untuk berlari Sebentar untuk sampai ke Kediamanku lebih cepat.
***********
Sampai di Kediamanku.
Kulihat di Area mansion, Ayahanda, Ibunda, Kak Kaizo dan Kak Lily berada disana. 2 mobil terparkir dengan rapi. Sepertinya mereka akan berangkat sekarang. Aku menghampiri Ayahanda dan Ibunda untuk berpamitan dengan mereka.
Roselianne mengikuti di belakang.
"Berangkat sekarang Ayahanda, Ibunda?" Aku berbicara pada mereka berdua yang sedang berada di samping mobil.
"Iya Nak, kamu jaga diri baik-baik ya. Dan juga.. di belakangmu ini siapa?" Ibunda bertanya padaku tentang Roselianne.
Sepertinya Ibunda sudah lupa wajah Roselianne. Hal itu wajar saja, sudah lama sekali Ibunda melihat Roselianne. Apalagi dengan padatnya jadwal mereka berdua sehingga membuat mereka jarang berada di Kediaman ini.
"Ini-"
Ketika aku ingin berbicara, Kak Lily memotong omonganku terlebih dahulu.
"Itu Roselianne loh Ibu. Yang putri keluarga Noble itu."
Kak Lily suka sekali memotong percakapanku dengan Ibunda. Dia ini..
__ADS_1
"Halo Tante.. om.." Roselianne sedikit menundukkan badannya.
"Ara.. Kamu Roselianne ternyata. Sudah lama Tante gak melihat kamu, jadinya pangling deh. Kamu sudah besar juga ya dan tambah cantik pula." Sedikit memeluk Roselianne.
Ibunda tampaknya sangat terkesan dengan Roselianne. Demikian juga dengan Ayah, dia memperhatikan Roselianne saat ini. Ekspresinya itu sepertinya tampak senang ketika Roselianne berada disini.
"Terima kasih atas pujiannya Tante. Tante juga makin lama makin cantik juga." Roselianne tersenyum tipis kepada Ibunda.
"Ayahmu sudah baik-baik saja Roselianne?kudengar Ayahmu itu sedang sakit." Ayahanda menyela pembicaraan mereka berdua.
"Sudah mendingan kok Om. Ayah juga tadi pergi ke Tempat kerjanya."
"Baguslah kalau Oliver sudah baikan. Aku akan memintanya untuk menyelesaikan pekerjaan ku sekalian." Ayahanda membuka Ponselnya dan pergi begitu saja ke dalam Mobil.
"Biarkan saja Om Zircon ya Lianne. Memang seperti itu sifatnya."
"Tidak apa kok Tante.. oh iya, memangnya Tante dengan yang lain ingin pergi kemana?"
Di saat Roselianne dan Ibunda berbicara, aku mendengar suara Kak Lily yang seperti memanggilku.
"Sstt.. Raphael…" Kak Lily dengan Suara pelan.
Aku menoleh ke arah Kak Lily. Aku melihat dia seperti menyuruhku mendekat kepadanya.
"Sini.." dengan isyarat tangan menyuruhku ke sana.
Aku pun mendekat ke Kak Lily. Kak Lily merangkul Pundakku dan membisikkan ku suatu hal.
"Kamu sengaja bawa Roselianne kesini ya Raphael?"
"Hah.." aku memasang ekspresi tak mengerti apa yang dia maksud.
"Masa gitu aja ga tau sih. Gimana sih kamu ini." Kak Lily terkesan marah namun suaranya tetap pelan.
"Ya apa yang Kak Lily maksud? Jelaskan kek gitu. Udah tau aku gak pandai yang begituan." Aku dengan nada tinggi.
"Eh.. malah marah kamu. Yang Kakak maksud itu kamu bawa Roselianne kesini buat ngenalin ke Ayah Ama Ibu kan? Ngaku kamu!"
"Mana ada. Aku kesini bawa Roselianne aja pengen ngambil Kunci tempat Latihan. Sok tau Kak Lily." Aku menyangkal kata-katanya.
"Alah.. masih menyangkal aja lagi. Jujur aja udah.. nanti kakak bantuin prosesnya biar di restuin."
Hah! Restu apa yang dimaksud Kak Lily. Dia ini berpikir terlalu jauh dari yang kuperkirakan. Sial, mempunyai Kakak seperti ini membuat kepalaku pusing saja akibat meladeni sifatnya itu. Untung saja dia Kakak ku. Kalau bukan mungkin aku sudah memukulnya saat ini juga.
"Serah Kakak saja lah. Aku sudah pusing ngeladeninnya."
Aku pergi menjauhi Kak Lily dan kembali ke Ibunda dan Roselianne yang tampaknya baru selesai melakukan pembicaraan. Roselianne menoleh ke arahku, wajahnya seperti memerah kembali saat ini.
Dia memalingkan wajahnya ketika aku melihat dia menoleh ke arahku. Aku mendekatinya saat ini. Ketika aku berada di sampingnya, dia menjauhiku dan berdiri di samping Ibunda. Aku terheran, apa yang mereka berdua bicarakan.
"Kamu kenapa ngejauh gitu Rose. Kayak takut gitu sama aku."
"Ga-ga papa Raph. Aku cuman lagi pengen Deket Tante Elizabeth aja." Dengan Terbata-bata.
Dalam pikiranku saat ini, aku penasaran apa yang mereka berdua bicarakan saat aku sedang bersama Kak Lily.
"Haha.. kamu kayak kebingungan gitu Nak. Jangan dipikirin masalah kayak gitu. Yaudah Ibu sama Ayah pergi dulu ya." Ibunda kembali tertawa diimbangi dengan menutup mulutnya itu.
Ciri khas ibunda memang seperti itu. Ketika dia tertawa, pasti dia akan menutupi mulutnya yang sedang tertawa itu dengan tangannya. Itu sudah menjadi kebiasaan Ibunda sejak aku masih kecil.
"Aku juga ingin pergi ke Tempat latihan abis ini. Hati-hati ya."
Ibunda tampak memegangi pundak Roselianne. Dia memberikan sebuah permintaan kepada Roselianne.
"Lianne, Tante minta kamu jagain Raphael ya. Tubuhnya cukup lemah sejak kecil. Tante minta kamu ya buat jagain nanti disaat kami berempat tidak ada." Ibunda berbicara dengan nada serius.
Roselianne yang mendengar itu, meresponnya dengan baik dan cepat.
"Baik Tante, aku akan jaga Raphael untuk Tante."
"Makasih ya Lianne.. yaudah kami pergi dulu ya." Ibunda pun masuk ke dalam Mobil.
Mereka pergi dengan memberikan sebuah Lambaian tangan. Aku dan Roselianne pun membalas lambaiannya itu. Aku pun dengan cepat mengambil Kunci latihan yang berada di Kantor Ayahanda.
Visual Zircon Ignite :
__ADS_1